
Seorang Nasrani bertanya pada Imam Muhammad al Bagir as : "Siapakah Muslim yang sebenarnya? Imam menjawab : " Orang yang lidahnya membuat umat Islam selamat"
Begitu banyaknya di negeri ini yang mengaku kaum Muslimin, tetapi pada saat yang sama banyak kaum Muslimin yang tercederai oleh lidah-lidah sesama muslim. Saling memfitnah sudah hal yang biasa....padahal dalam kesehariannya selalu bersimbolkan Islam, minimal seminggu sekali mendengarkan Firman-firman Allah SWT, tetapi si LIDAH tak dapat ditahan, terus berbicara yang tidak penting dan berakhir dengan ghibah serta fitnah..Puluhan tahun hadir di pengajian....lidah tetap tak terdidik...apakah puasanya dari sejak kecil hanya puasa lahir hanya menahan lapar dan dahaga?? kelihatannya banyak dari kita yang tidak naik kelas...dari sejak kecil hingga hampir menenemui ajalnya, pengetahuan tentang yang paling dasarpun tidak pernah berkembang....apakah tidak pernah mendengar Sayidah Mariam as pernah tidak berbicara pada saat melakukan nazarnya ketika datang kembali ke kampung halamannya membawa putranya Isa as..semua ini untuk mendekatkan diri pada Rabb nya, sehingga segala sesuatunya diserahkan akan keputusanNYA.
Kenyataan yang ada disekitar kita, pada saat ada yang sedang berbicarapun , sibuk berbicara sehingga mengganggu orang sekitarnya yang sedang mendengarkan si pembicara....tetapi karena selalu cenderung mengeksplor nafsu keinginannya semata, tidak merasa mengganggu dan apabila menerima teguran akan langsung mengemukakan nafsu amarahnya terdahulu dari pada berfikir bahwa dirinya tidaklah sendirian dan sedang berada di tempat umum, yang kaidah mementingkan yang lain dari dirinya harus diutamakan. Tak merasa dirinya sedang mengganggu ketenangan orang yang datang ketempat itu untuk mengambil manfaat dari si pembicara...Pengetahuan yang sempit akan hal-hal seperti pernyataan diatas, mereka berfikir hanya ada dalam peperangan atau di luar sana yang jauh dari lingkungan kesehariannya.....yang anehnya mereka itu yang paling rajin mengikuti pengajian di berbagai tempat...sehingga selalu apa yang ada pada pernyataan-pernyataan yang di dengarnya hanya sebagai pernyataan semata......jadi apa sesungguhnya yang sudah dipelajari di pengajian apalagi di kajian-kajian yang sering didatangi?...datang ke suatu tempat dan belajar bukan berarti semata-mata otomatis kita menjadi seperti yang kita dapati di pelajaran itu.... apabila hanya mengejar pahala saja, pasti dapat...tetapi yang dinginkan Allah SWT adalah dapat mengamalkan apa-apa yang sudah dipelajari, tentunya ini dapat diraih setelah memahami apa yang telah dipelajari dan diresapi sehingga pengetahuan yang di dapat itu menjadi bagian dari dirinya. Tentu itu setelah adanya pemahaman yang utuh serta latihan-latihan diri dengan mempraktekan ilmu tersebut hingga pada akhirnya akan menjadi bagian dari diri. Dan ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Oleh karenanya ilmu yang dipelajari itu tidak hanya sebatas pada TEORI semata, harus ada perwujudan dari apa yang diketahuinya. Karena apabila demikian itu bukannlah ajaran ISLAM....Imam Ali as dalam Nahjul Balaghahnya mengatakan :
" Semakin bijak seseorang, semakin sedikit bicaranya "
Pernahkan kita melihat para urafa, alim sibuk berbicara , mereka bicara pada saat memberikan ceramah-ceramah saja, pada saat diperlukan. Dan orang dengan sendirinya akan mendatanginya untuk mendapatkan nasihatnya.Memberikan rasa aman pada setiap orang yang ada disekelilingnya adalah sejatinya seorang Mukmin. Wallahualam bishawab....shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum.....Adrikna ya MAHDI









