Imam Khomeini & Xmas


French physician, Dr. Louie, who was in his teens in the closing months of 1978, when the Imam made the Paris suburb of Neuphal Le Chatoux  as his temporary residence prior to his historic return form exile to Tehran, says, "That day when my father returned home from work he angrily took off his coat, sat on the sofa and said, “This year I have been stalked by misfortune. On one hand the company is facing bankruptcy and on the other, our suburb has lost its peace." My mother consoled him saying, "Don’t worry, it is said that Ayatollah Khomeini will leave within some days to Iran, so this place will become tranquil soon.”

Louie adds, "I was curious to see this great religious leader of Iran who was in our neighbourhood. I joined reporters who were daily converging on the area and went to the edge of the orchard where Imam Khomeini was staying. I saw an old but enlightened man in robes sitting cross-legged under a shady tree and talking in cool and calm voice. An aura of spirituality oozed from him. I did not realise how quickly that hour passed. I returned home in state of ecstasy and enthusiasm on having seen this divine person."

Dr Louie continues, "I told my father that if he wanted to see a personality, who inspired the same feelings as Jesus (PBUH), than he should come and hear Ayatollah Khomeini." My father was at first indifferent and said there was no difference since all priests have the same resemblance. I finally managed to convince my father and the next day we went together to see this great spiritual leader from Iran.

Ayatollah Khomeini's punctuality very much impressed me. He came on time and sat at the usual place where he used to meet the press. All stood up as a sign of respect to this great Ayatollah. He soon started speaking. Translators were on hand to render his speech into French. Minutes later, I looked at my father’s face. He was listening carefully. There was a glint in his eyes and it was apparent that he was very much impressed by Ayatollah Khomeini.

A few days later it was Christmas. We sat for the celebrations, when the doorbell suddenly rang. My father went towards the door and I followed him. A man with a bouquet of flowers and package of confectionery was standing at the door. He greeted us cheerfully and handed to my father the bouquet and the confectionery, saying, "This is a present from Ayatollah Khomeini." He congratulated us on the birthday of Jesus (PBUH) and asked forgiveness in a courteous manner if he had disturbed our Christmas celebration. My father thanked the man and stood amazed at all this love and affection from a Muslim divine."

Kenalkah kita pada diri kita?


" Barangsiapa yang mengenali dirinya , maka dia menjadi 'imaterial' "   ( Imam Ali a.s )

Mencoba memahami hadis ini, sungguh menggugah hati dan membuka mata hati kita, sehingga diri ini mulai tersadarkan, bahwa sesungguhnya apabila kita sudah dapat mengenal diri kita, kita sudah tidak tertarik lagi dengan hal-hal yang berbau materi. Oleh karenanya di hadis yang lainnya Imam Ali a.s berkata bahwa :

 ' barangsiapa yang mengenal dirinya , maka dia mengenal Tuhannya '.  

Apabila kita mengambil benang merah  dari kedua hadis ini,  terlihat bahwa jika kita telah mengenal diri kita , kita akan dapat mengenal Tuhan, dimana Tuhan itu berada di alam non materi, dan Tuhan itu sendiri adalah sesuatu yang imaterial ( abstrak )

Jadi ini dapat menjadi tolok ukur kita untuk mengetahui apakah kita sudah mengenal diri kita?, apakah kita sudah mengenal Tuhan? Karena apabila kita sudah mencapai  derajat pengenalan diri atau Tuhan ( Marifat al nafs / Marifatullah ) , kita dengan sendirinya akan menjadi 'immaterial' atau tidak menginginkan sesuatu yang bersifat materi lagi.

Sebagaimana yang pernah dikatakan Imam Ali a.s tentang dunia, seperti beliau a.s  telah menalak dunia sebanyak tiga kali. Dan masih banyak lagi hadis-hadis Imam Ali a.s tentang hinanya dunia di mata beliau a.s. 

Dunia bukan hanya berarti alam yang kita tempati sekarang, ya kita berada di alam dunia , tetapi dunia yang dibenci Imam Ali a.s adalah sifat keduniaannya, sifat kebendaannya, yang tidak abadi dan hanya sementara. Kita tidak membenci alam yang Allah SWT telah ciptakan untuk kita, tetapi dikarenakan akan sifat kebendaannya yang dapat membuat kita terpana dan terikat sehingga kita tidak dapat menanjak ke alam- alam berikutnya , kita tak dapat menjadi seperti yang Tuhan inginkan, yaitu sebagai insan yang sesungguhnya kita berasal dari alamNYA yang non materi , alam ruh. Yang di karenakan kita berada di alam materi bukan berarti kita harus tetap menjadi materi. Tuhan ciptakan kita dengan 2 dimensi yaitu dimensi materi ( fisik/badani dan non materi ( ruh/batiniah ). Manusia itu diciptakan dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan (alam ruh/malakut - alam dunia/materi - alam ruh) yang disebut dalam firmanNYA  " Inna lillahi wa inna ilaihi rajiiun ".

Perjalanan yang manusia harus lalui adalah demikian, dari alamNYa di turunkan ke alam materi ( dunia) lalu akan kembali ke alamNYA, sehingga untuk menyempurnakan dirinya manusia di himbau untuk tidak terikat oleh alam dunia ini agar dengan mudah dapat kembali ke alam asalNYA yang non materi. Ini adalah penyempurnaan wujud agar manusia dapat menyerupai wujud mutlakNYA, menjadi insan, manusia yang di inginkanNYA, yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, sebagai 'manusia', bukan selain insan ( hewan, tumbuh2an ataupun tanah ) .

Selama kita masih berkutat dengan 'hanya' memenuhi kebutuhan2 duniawi, maka jelaslah bahwa kita sesungguhnya belum mengenal siapa diri kita sebenarnya. Juga apabila kita mengklaim sedang melakukan pemenuhan kebutuhan akhirat, tetapi masih selalu disibukkan dengan segala kebendaan, asesoris dunia, berarti kita masih jauh dari mengenal siapa diriNYA, berarti masih harus terus melakukan penyucian diri ( tazkia al nafs ) dan banyak memohon ampun atas segala dosa2 yang kita ketahui maupun yang tdk ketahui ( utk hal ini perlu kiranya kita mengetahui 'ahkam'/ fiqih' yang karena tak mengetahuinya dapat menjauhkan tujuan kita dari mendekatiNYA ) .

Yang akan menjauhkan kita dengan Sang Pencipta kita adalah keasyikan mencintai dunia, sehingga kita menjadi 'addicted to ' dunia, sehingga melupakan segalanya, bahkan Tuhan yang menciptakan dunia dan diri kita. 

Kita tidak pernah dilarang memiliki dunia ( benda-benda materi) , malah kita diharuskan untuk keberlangsungan kehidupan kita di alam ini, yang di larang dan di benci Tuhan adalah mencintai dan terikat oleh dunia sehingga kita dapat lupa diri. 

Lupa diri , hanya di perbudak oleh mencari sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan duniawi semata yang sangat tidak kekal dan mudah hilang. Hanya dibatasi dengan waktu tertentu semua yang kita miliki di dunia ini dapat hilang begitu saja, sedangkan yang tersisa adalah 'diri kita' ( ruh kita ) yang akan nantinya membentuk wujud kita untuk dapat menghadap kembali kepada Sang Pemilik Diri kita.

Banyak dari kita sibuk mencari barang-barang kita yang hilang, tetapi apabila diri kita yang telah hilang kita jarang sekali mencarinya. Dan inilah musibah terbesar dalam hidup ini. Bagaimana kita dapat melakukan perjalanan menujuNYA apabila kita selalu disibukkan dengan alam materi ini, sehingga kita seperti jalan di tempat, sibuk, lelah , tetapi tak pernah akan mencapai tujuan. 

Begitulah gambaran kita yang masih sibuk dengan sesuatu selainNYA, berkutat di alam material yang seperti fatamogana, sejauh manapun kita telah mencapainya, masih saja kita merasa belum terpuaskan, seperti kita meminum air garam, semakin banyak air yang diminum semakin dahaga kita meningkat, dan itulah kita, yang masih belum mengenal diri kita, yang masih harus terus mencari diri kita yang hilang. Sayangnya kita tidak merasa diri kita hilang, karena pengetahuan kita tentang diri adalah badan kita ( yang sangat fragile ini, yang mudah rusak ini ), ruh kita terus menangis tetapi jarang dari kita yang mendengar tangisan ruh kita yang tak pernah kita pedulikan itu, yang tak pernah masuk asupan2 ruhani yang baik. 

Apabila alat pengukur ( spt : spedometer pada setiap mobil - itu telah rusak,  kita tidak pernah tahu kapan harus ganti oli, isi bensin dsb ) sudah tidak berfungsi, maka kita seperti zombi yang masih hidup. Alat pengukur itu dapat kita dapati dan kenali dengan melihat, apakah kita masih heboh dengan dunia materi? karena ukuran dari kita dapat mengenal diri atau Tuhan apabila kita telah menjadi tidak materi menganggap segalanya tdk penting kecuali Allah SWT ( sbgmna hadis diatas ) , tidak tertarik lagi pada yang berbau kebendaan, kesementaraan.

" Ya Allah, perkenalkanlah Engkau kepadaku , karena apabila tak KAU kenalkan MU pada ku, akan tak akan dapat mengenal NabiMU. Ya Allah , perkenalkanlah aku pada NabiMU, karena apabila tak KAU kenalkan aku pada NabiMU, akan tak akan mengenal HujjahMU ( argumenMU - waliMU). Ya Allah, perkenalkanlah aku pada HujjahMU, karena apabila tak KAU kenalkan aku pada HujjahMU, aku akan tersesat dari agamaku "

Smoga dengan segala keikhlasan kita dalam membaca doa tsb, kita mengharap Allah akan membantu kita menemukan diri-diri kita yang telah hilang dan dapat menemukan kembali sehingga kita dapat mengenalNYA dan berjalan di jalanNYA, sehingga dapat kembali padaNYA dalam keadaan yang di inginkanNYA inshaAllah.

Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. Adrikna YA MAHDI