
" Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana yang telah di wajibkan atas orang-orang yang terdahulu dari kamu agar kamu berTAKWA "
( QS 2 : 183 )
Sebuah panggilan Sang Maha Pencipta pada hamba-hambaNYA yang benar-benar mengimaniNYA untuk berpuasa agar dapat menjadi hamba-hambaNYA yang di ciptakan sesuai dengan maksud utama penciptaan diri-dirinya, sebagai khalifahNYA di muka bumi ini, yang berarti dirinya dapat menjadi manifestasi atribut-atributNYA - memakai nama-namaNYA, inilah gambaran seorang yang ber TAKWA.
Menyandang dirinya agar dapat merekflesikan nama-namaNYA adalah upaya seseorang yang dapat mengelola hawa nafsu sesuai dengan kehendakNYA, sehingga dirinya layak meraih derajat Muwahid- seorang yang berTauhid.
Takwa adalah buah dari seorang Muwahid. Seorang Muwahid sudah pasti berTakwa.
Di bulan suci Ramadan inilah manusia di beri kesempatan oleh Allah untuk dapat meraih kedekatan dirinya dengan Sang Penciptanya, dengan mencoba 'menyerupai' DIRINYA. Sebuah pertanyaan 'menyerupai' Tuhan?
Perhatikanlah bahwa puasa adalah sebuah ibadah dimana seorang hamba TIDAK melakukan sesuatu yang biasanya di lakukannya dalam waktu yang ditentukan. Tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan dengan pasangan dll yang semua ini TIDAK ( nauzubillah ) dilakukan Sang Pencipta Alam Semesta ini.
Jadi, apabila kita menyamakan diri kita dengan kondisi NYA, berada di alamNYA, kita di harapkan dapat menyandang sifat-sifatNYA. Kita dapat menjadi pengasih dan penyayang, kita dapat menjadi pemaaf, kita dapat menjadi penyabar, dst... Menyadang predikat-predikatNYA hingga telah menyatu di dalam diri-diri kita. Bukan hanya kita mengetahui sifat-sifatNYA tetapi sifat2 tsb ada di dalam diri kita dan menjadi bagian dari diri kita. Untuk itulah puasa di wajibkan untuk orang-orang yang telah beriman sebagaimana telah di lakukan oleh orang-orang terdahulu.
Inilah hidangan Allah untuk para mukminin di bulan suci Ramadan, dengan melatih diri-diri mereka agar dapat terus menggali potensi-potensi diri mereka untuk dapat teraktualisai sesuai dengan yang seharusnya manusia di ciptakan- menjadi seorang 'manusia' .
Subhanallah, bulan suci ini adalah madrasah untuk mukminin agar dapat terus meningkatkan kemampuannya untuk dapat terus mengaktualisasikan potensi-potensi dirinya yang asli yang berasal dari Rabbnya...sehingga di harapkan makhluk yang bernama manusia ini dapat kembali seperti yang original yang Rabbal alamin ciptakan semula seorang makhluk mulia yang bermarifah padaNYA, seorang muwahid sejati.
Manusia apabila dapat lulus dan berhasil meraih gelar takwa lah yang patut merayakan hari kemenangannya pada 1 Syawal di hari nan fitri ( berhasil kembali ke fitrah semula - back to the orginal Allah's plan ), sehingga dia akan dapat terlahir kembali seperti bayi yang baru lahir.
Semoga kita semua dapat meraih tujuan mulia yang Allah SWT telah rencanakan untuk makhluk termulianya, agar kembali menjadi 'manusia'.
Selamat menikmati hidangan jamuanNYA, dan menjadi tamu-tamuNYA yang 'tahu diri' agar di ridhaiNYA. Amin
Wallahualam bishawab. Salawat ala Muhammad wa aali Muhamad.....wa ajil farajahum. ADRIKNA YA MAHDI
