Be aware of your actions...



Bulan Puasa ini, saat yang terbaik untuk bertafakur... berkontemplasi sudah sejauh mana pengetahuan yang kita ketahui kita implementasikan pada keseharian hidup kita. 

Mengejar dan mengumpulkan banyak ilmu apabila niatnya hanya untuk memperoleh kepuasan diri dalam memperolehnya, sungguh hal yang tidak bermanfaat. 

Karena Tuhan sungguh tidak melihat banyaknya atau hebatnya kita dengan perolehan ilmu kita, yang DIA lihat hanyalah apa yang ada di lubuk hati dan bagaimana dia berusaha untuk mengaplikasikan ilmunya pada dirinya maupun masyarakat sekelilingnya...Tuhan tidak melihat titel seseorang...atau prestige nya dia mendapat gelar... tetapi apakah yang diraihnya itu ada manfaatnya untuk dirinya dan orang lain? Ilmu itu ibarat pisau, apabila di gunakan pada tempatnya dan niatnya baik maka hasilnya pun akan baik...

Segala sesuatu yang diletakan pada tempatnya itulah KEADILAN... Keadilan inilah yang sangat fundamental dalam ajaran ISLAM, karena pada akhirnya KEADILAN inilah yang akan di tegakan oleh SANG RATU ADIL. 

Kenapa sampai sedemikian harus ada yang menegakannya , karena kebanyakan dari kita sangat menganggap sepele hal yang satu ini... Adil ini BUKAN dilihat secara KUANTITAS, apabila diberikan harus sama 50:50, tetapi lebih pada kesesuaian yang di butuhkan oleh setiap diri ( yang mana tidak mungkin sama satu dan lainnya ) Contoh: seorang ibu mempunyai dua orang anak yang satu berumur 7 tahun yang lainnya 3 tahun. Seorang ibu yang adil tentu tidak mungkin memberikan sama jumlah atau jenis makanan yang diberikan pada keduanya, akan tidak adil bila si ibu memberikan porsi makanan anaknya yang 3 tahun sama dengan anaknya yang 7 tahun. Diberikan sesuai dengan kebutuhan masing2 diri itulah adil. Kitapun tidak adil pada diri kita apabila kita bertindak mengikuti keinginan orang lain atau masyarakat ( ingin di sebut 'trendy' ), sedangkan diri kita tidak layak dan patut seperti mereka... 

Jadi jelas konsep harus ikut2an trend itu sungguh tidak sesuai dengan konsep keadilan dirinya.....Kebanyakan dari kita memaksakan diri kita untuk dapat berbuat, bertindak seperti pada masyarakat pada umumnya... dalam konsep Islam hanya ISLAM yang harus diikuti bukan yang lain.... semuanya dalam keseharian kita, dari bangun tidur , mandi, berpakaian, bergaul , belajar dan bermasyarakat harus sesuai dengan ajaran Islam.

Sekali lagi bulan puasa ini, saat yang tepat untuk bertafakur... sudah sejauh mana penerapan ilmu kita pada yang seharusnya kita harus laksanakan... Hanya mengikuti apa yang diperintahkanNYA, di ajarkan oleh RasulNYA dan WaliNYA... terdengar mudah , tetapi pikirkan lebih dalam lagi...tafakuri apakah kita sudah benar2 mentaatiNYA? 

Seperti jawaban Ayatulah Bahjat ra pada murid2nya yang selalu bertanya bagaimana agar dapat amalan kita diterimaNYA dsb...beliau ra hanya menjawab, kalian telah mengetahui jawaban2nya, karena jawaban saya tidak ada yang baru dan menakjubkan... hanya praktekanlah apa yang kalian sudah ketahui...sudah sekian lama anda banyak ketahui tentang tafsir2 Al Quran, Hadis Nabi saww dan Aimah as, sekarang sudah sejauh mana anda mempraktekannya.... Lalu beliau ra pun menyatakan, itu karenanya mengapa AL HUJJAH SHAHIB AL ZAMAN atfs belum kembali muncul??... 

Sungguh kita lah yang memperlambat kedatangan Beliau atfs dengan tidak pernah mempraktekan apa yang di katakanNYA, RasulNYA dan para Aimah as... So, bila kita sangat menginginkan kemunculan Al Mahdi atfs, berbuatlah sesuai dengan keinginganNYA ( Imam Mahdi atfs ). 

Bayangkan, apabila kita yang awaw ini masih suka kesal dan greget dengan para pembangkang sunah Rasul saww, begitulah Imam Zaman atfs pada kita yang selalu membangkang ( walaupun Imam atfs jauh dari seperti kita )dan sibuk dengan ijtihadnya sendiri-sendiri.... 

Bagaiman kita dapat dibilang siap untuk menunggu Sang Ratu Adil, tetapi pada saat yang sama diri-diri kita masih jauh dari keadilan itu sendiri.... Wallahualam bishawab...YA MAHDI adrikna.....Bulan ampunan ini, nan suci dan mulia Ramadhan...semoga permohonan taubat dan ampunan diri ini menghantarkan kita pada perbaikan diri yang di inginkanNYA....shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum....Adrikna ya MAHDI

The Last Friday Sermon of Shaban by Rasululllah saww


The Sermon Given By the Prophet (s) On the Last Friday of Sha'ban on the Reception of the Month of Ramadhan


“O People!

"Indeed ahead of you is the blessed month of Allah. A month of blessing, mercy and forgiveness. A month which with Allah is the best of months. Its days, the best of days, its nights, the best of nights, and its hours, the best of hours. It is the month which invites you to be the guests of Allah and invites you to be one of those near to Him. Each breath you take glorifies him; your sleep is worship, your deeds are accepted and your supplications are answered. So, ask Allah, your Lord; to give you a sound body and an enlightened heart so you may be able to fast and recite his book, for only he is unhappy who is devoid of Allah’s forgiveness during this great month. Remember the hunger and thirst of the day of Qiyamah (Judgment) with your hunger and thirst; give alms to the needy and poor, honor your old, show kindness to the young ones, maintain relations with your blood relations; guard your tongues, close your eyes to that which is not permissible for your sight, close your ears to that which is forbidden to hear, show compassion to the orphans of people so compassion may be shown to your orphans. Repent to Allah for your sins and raise your hands in dua during these times, for they are the best of times and Allah looks towards his creatures with kindness, replying to them during the hours and granting their needs if he is asked...

"O People! Indeed your souls are dependant on your deeds, free it with Istighfar (repentance) lighten its loads by long prostrations; and know that Allah swears by his might: That there is no punishment for the one who prays and prostrates and he shall have no fear of the fire on the day when man stands before the Lord of the worlds.

"O People! One who gives Iftaar to a fasting person during this month will be like one who has freed someone and his past sins will be forgiven.

Some of the people who were there then asked the Prophet (s): "Not all of us are able to invite those who are fasting?"

The Prophet (s) replied: "Allah gives this reward even if the Iftaar (meal) is a drink of water."

"One who has good morals (Akhlaq) during this month will be able to pass the ‘Siraat’...on the day that feet will slip...

"One who covers the faults of others will benefit in that Allah will curb His anger on the day of Judgment...

"As for one who honors an orphan; Allah will honor him on the day of judgment,

"And for the one who spreads his kindness, Allah will spread His mercy over him on the day of Judgment.

"As for the one who cuts the ties of relation; Allah will cut His mercy from him...

"Who so ever performs a recommended prayer in this month Allah will keep the fire of Hell away from him...

"Whoever performs an obligator prayer Allah will reward him with seventy prayers [worth] in this month.

"And who so ever prays a lot during this month will have his load lightened on the day of measure.

"He who recites one verse of the holy Quran will be given the rewards of reciting the holy Quran during other months.

"O People! Indeed during this month the doors of heaven are open, therefore ask Allah not to close them for you; The doors of hell are closed, so ask Allah to keep them closed for you. During this month Shaytan (Satan) is imprisoned so ask your Lord not to let him have power over you."

Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad.....MARHABAN YA RAMADHAN...be HIS GUEST and try & enjoy His Banquet with your pure heart...I personaly ask you all forgiveness for the inappropriate words & deeds I might have....Adrikna ya MAHDI

The Unseen which is count..


" Segala amal perbuatan itu tergantung dari niatnya "

Semua ajaran yang ada di muka bumi ini, selalu menyuruh untuk selalu berbuat kebaikan. Apapun bentuk kebaikan itu, akan terlihat indah dan baik, sehingga si pelaku kebaikan itu otomatis akan mendapatkan 'pahala', baik itu berupa pujian dari orang yang melihatnya atau appresiasi dari yang merasakan kebaikan si pelaku kebaikan itu, atau catatan 'baik'/'buruk' dari malaikat pesuruhNYA...
Pandangan kita dalam melihat manifestasi dari kebaikan yang dilakukan seseorang, hanyalah sebatas lahiriah semata, sungguh kita tidak dapat melihat apa tujuan dari si pelaku kebaikan tersebut. Memang itu yang kita hanya lihat pada setiap keseharian kita. Kita hanya dapat berprasangka baik terhadap si pelaku kebaikan itu, dan itulah yang harus kita lakukan.... tentunya ada manusia-manusia pilihan Tuhan dan para wali Allah yang dapat melihat bentuk kebaikan itu secara 'batiniah'nya...dan inilah yang Allah SWT lihat sesungguhnya. Makna batin itu tergantung dari NIAT masing-masing diri.
Sayangnya, niat itu tak dapat dilihat dengan panca indera kita, hanya dengan hati-hati yang bersih dan ikhlas yang dapat melihatnya, yang mana mata batinnya yang melihat.Sungguh sangat berbeda, 'pahala' kebaikan yang kita ketahui ( dan yang kita harapkan ) dengan 'pahala' yang diterima sebagai kebaikan oleh Sang Maha Pencipta.
Tentunya semua dari kita, apabila mengerjakan kebaikan ingin dicatat sebagai sesuatu kebaikan.... inilah cara kerja langit yang mempunyai prosedur yang berbeda dengan prosedur bumi... oleh karena itu , kita diharuskan mengenal bagaimana prosedur langit yang 'tak terlihat' itu agar kita dapat mengikuti sesuai dengannya. Tidaklah sinkron bila kita yang sesungguhnya harus berurusan dengan Sang Kholik hanya mengetahui sesuatu yang ada di bumi saja.... benar, karena kita di bumi kita harus menjalankan sistem bumi, tapi disinilah perbedaan orang yang 'tahu' dan yang tidak tahu, bahwa kita tidak akan selamanya di bumiNYA, kita akan kembali padaNYA, maka mau tidak mau kita harus mengenal alamNYA. Ini pulalah yang membedakan orang-orang yang menamakan dirinya 'beragama' tanpa percaya pada WAHYU ILLAHI.. Karena bagi yang mempercayai adanya sistem Kewahyuan- Kenabian, tentu akan mengetahui bahwa jalan menujuNYA harus menempuh jalan-jalanNYA ( syariat-tarikat-hakikat) . Semua jalan itu harus ditempuh dengan urutan tingkatan yang benar. Dengan mengimani apa-apa yang tertera dalam Wahyu Illahi ini, akan menghantarkan kita padaNYA. Apabila kita hanya diwajibkan untuk berbuat baik, tanpa harus melakukan yang diperintahkanNYA, tentu untuk apa agama itu diturunkan yang dimana Tuhan menurunkan WahyuNYA pada para nabiNYA yang berjumlah ca 124.ooo. Orang-orang yang menghindar dari syarat-syarat yang Tuhan tentukan dalam kitab suciNYA, beralasan bahwa berbuat baiklah tanpa harus menyembah Sang Kholik yang menurunkan para nabiNYA, adalah cukup yang penting kita tidak membunuh atau berbuat keburukan di bumi ini.
Baik yang mengimani Wahyu Illahi ataupun yang tidak, selama masih hidup dan tinggal di bumiNYA, haruslah mengikuti tata caraNYA.... ini logika yang sangat simpel..
Dalam ajaranNYA, kita diwajibkan beribadah yang ujung-ujungnya harus sampai padaNYA, untuk sampai padaNYA kita diwajibkan mengetahui cara-caranya dengan benar ( adanya syariat ) , untuk dapat mendekatiNYA ( tarikat ) dan agar dapat diterimaNYA ( hakikat ). Tentunya ini hanyalah pengertian penulis yang minim (karena ingin berbagi apa yang dipahami-masih dangkal benar sih ), tetapi, yang akan ditekankan disini bahwa seluruh ibadah akan naik padaNYA dengan tingkatan2 yang kita harus ketahui untuk dapat menjalankannya. Karena hanya benar secara syariat pun belum tentu diterimaNYA. Perjalanan suatu ibadah untuk dapat diterima, kita harus percaya pada yang 'ghaib', karena alamNYA adalah alam yang 'ghaib'.
Contohnya, dalam hal shalat, kita secara syariat melaksanakan shalat dengan gerakan-gerakan lahiriah yang benar.Sah secara syariat, tetapi apakah Allah SWT menerima shalat kita? itu suatu pertanyaan lain... Di alamNYA, sesuatu yang lahir tidak dapat 100%dihitung 'unless' ada makna batiniahnya, seperti NIAT, HATI yang HADIR serta IKHLAS yang semua itu tak dapat dilihat dengan panca indra. Karena sempurnanya suatu ibadah harus ada unsur lahir & batin.. ( contohnya, kita selalu bicara mohon maaf lahir & batin, karena mungkin saja kita mengucap tetapi hatinya tak bermaksud demikian).Tidak semudah yang kita duga bahwa bila kita beribadah, kita pasti akan diterima... Yang lahiriah itu sifanya sementara, terlihat apabila dapat terindrai, tetapi yang batin itu hanya diri kita dan Tuhan yang mengetahui. Disitulah letaknya suatu rahasia ibadah... Oleh karenanya, kita sering mendengar hadis yang mengatakan bahwa :" Bertafakur satu jam lebih baik dari shalat seribu rakaat ".

Para urafa belajar selama hidupnya hanya untuk dapat mengerti bagaimana cara dapat dekat denganNYA dengan makrifat yang sesungguhnya...bukan bermaksud mengecilkan hati...tetapi apakah kita yang baru sering dengar majelis taklim lalu mengklaim diri kita sudah seperti para urafa yang belajar sungguh-sungguh dan menghabiskan hidupnya untuk mengerti persoalan 'ghaib'?? Belajar dengan serius untuk dapat mengenalNYA dengan hati yang bersih adalah kata kunci untuk dapat meraih kedekatanNYA, juga dengan menapak tilasi para urafa, mempelajari bagaimana mereka dapat meraih tingkatan yang mereka miliki sangatlah membantu siapa yang bersungguh-sungguh melangkah kearahNYA, melakukan perjalan menujuNYA. Bulan suci Ramadhan hampir datang. Saatnya kita memperbaiki diri kita dengan membersihkan segala kotoran diri, serta meningkatkan kualitas puasa kita dengan NIAT yang murni hanya untuk dan karena Allah SWT....Insya Alah dengan pertolonganNYA, kita dapat menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya... Berpuasa adalah TIDAK melakukan sesuatu yang dilarangNYA. Hubungan antara makhluk & KHOLIK disini terjalin, karena puasa hanya untukNYA, hanya kita & DIA yang tahu, apa yang kita NIAT kan, entah itu untukNYA atau selainNYA...
(remeber only the unseen will count) do not waste your time only for thirst & hungry...reach more higher position.... berpuasa secara hakikat... hanya dengan bantuan Allah SWT kita dapat melaksanakannya, Insya Allah... Ya Allah, tolonglah hamba hina & fakir ini untuk mendapatkan kekuatan memperbaiki ibadah shaum yang biasanya hanya menahan lapar & dahaga, bantulah untuk dapat meningkatkan kualitas shaum kami , semua ini hanya untuk mendekatkan diri padaMU....wallahualam bishawab... Mohon Maaf Lahir & Batin...shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad...ADRIKNA YA MAHDI

The Choice is yours...( II )


" Barangsiapa yang mengenal dirinya berarti dia mengenal Tuhannya " .

Sepertinya, sudah menjadi sesuatu yang baku, bahwa , semua yang ada di bumiNYA WAJIB mengenal Siapa Yang Menciptakannya. Bagaimana kita mengenalNYA, yaitu dengan mengenal segala ciptaanNYA, termasuk diri kita ini... jelaslah apabila seseorang tidak mengenali siapa sebenarnya dirinya, maka celakalah dia... bukannya apa-apa, karena orang yang tidak tahu mengapa dia berada di bumiNYA, dan tidak mengetahui untuk apa dia ciptakan, tentu akan mengerjakan sesuatu yang 'tak pasti' dan berakhir dengan kesia-siaan... dia akan mengerjakan sesuatu hanya dengan keinginan hawa nafsunya saja, meraih kesenangan dirinya saja tanpa mempedulikan yang lain. Tentunya orang yang demikian akan berbuat baik pada yang menguntungkan dirinya dan akan marah dan melawan pada sesutu yang menghalangi dirinya dari kesenangan diri yang HANYA menjadi tujuan utama hidupnya... 'yang penting saya dapat, saya berhasil '. Apapun akan dia lakukan untuk dapat meraih keinginannya, keinginanan khayalnya, dan ini tentu akan terus menagih hingga tak terhingga.... dan ini memang fitrah kita... ingin selalu memiliki, dan setelah satu ingin dua terus hingga dia akan lelah dengan keinginannya sendiri... laksana minum air garam... Tuhan Sang Maha Pencipta Alam Semesta ini sangatlah 'Rahman'..dia akan memberikan kasih sayangNYA kepada seluruh ciptaanNYA, siapapun dan apapun dia. Dan hukum alam ( yang kita kenal dengan sunatullah )berlaku, siapa yang rajin menginginkan sesuatu dengan usahanya pasti akan terjadi... semua itu sesuai dengan usaha atau ikhtiar dari diri kita. Dan sesungguhnya makhluk yang bersyukur akan karuniaNYA yang berlimpah ini, seharusnya mempunyai rasa 'syukur' pada yang memberinya segala kenikmatan itu, yaitu dengan TAAT & PATUH akan segala perintahNYA yang itu sendiri untuk kepentingan diri kita sendiri.... lagi-lagi manusia bebas menentukan pilihannya...Anehnya, manusia cenderung menuruti keinginan dirinya saja, dia akan taat apabila ada unsur-unsur yang menguntungkan dirinya secara instan dan nyata di dunia ini....beribadah hanya untuk melaksanakan kewajiban dengan penuh harapan akan segera keinginan duniawinya di kabulkan...hanya itu...apabila belum juga keinginannya terpenuhi walaupun ia telah beribadah siang dan malam, maka mulailah dia meragukan Tuhannya...inna lillahi.. seolah Tuhan kita adalah pemuas kebutuhannya dan akan melakukan perintahNYA bila keinginannya terpenuhi...

Mengeluh dengan setiap cobaan yang diberikanNYA... diberikan kekurangan rizki dan kelebihan rizki itu pun cobaan...banyak yang mengira yang kurang saja yang sedang merasa di uji, padahal tidaklah demikian, sesuatu kelebihan pun itu ujian, apakah kita dapat menjadikan diri kita zahid & wara... malahan diberikan kelebihan itu ujian yang lebih berat karena akan dengan mudah tergelincir apabila tidak 'sadar' untuk apa kita berada di bumiNYA yang semuanya serba sementara ini... Mengenal kemampuan diri serta terus menerus mengaktualisasikan potensi diri ini yang diberikanNYA dengan pengetahuan yang irfani lebih dapat mengatasi segala persoalan diri.... again the choice is yours....wallahualam bishawab ...shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum....adrikna ya MAHDI

The Choice is yours.... ( I )




Ketika Tuhan menurunkan hujan ke bumiNYA, seluruh air yang jatuh ke bumi turun merata...penerimaan yang di dapat untuk setiap yang ada di bumi tergantung pada masing-masing diri atau seluruh makhluk, apakah dia menginginkan sedikit, banyak atau bahkan menghindar darinya .... Ini hanyalah salah satu perumpamaan akan sifat-sifat JamalNYA pada seluruh makhlukNYA. Pemberian Tuhan pada makhlukNYA adalah sama ketika manusia dilahirkan ke bumiNYA. 

Kemampuan yang diberikan pada manusia itu sama, setelah itu terserah manusia itu untuk dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada yang telah Tuhan berikan, untuk dapat menjadi wakil-wakil Tuhan di bumiNYA. Yang paling jelas, para Nabi, para Rasul dan Aulia Allah merekalah yang telah berhasil memanfaatkan kemampuan-kemampuannya untuk dapat terpilih seperti yang apa yang mereka sandang... 

Dari nabi Adam as hingga nabi Muhammad saww, yang dari segi pemanfaatan kemampuan diri itu Rasul Mulia saww yang paling sempurna, sehingga menjadikan dirinya sebagai seorang Insan Kamil. Perkembangan dari diri-diri para nabi sejak nabi Adam as hingga Rasulullah saww sesungguhnya adalah suatu proses evolusi... Inilah yang menjadikan nabi Isa as sebagai Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saww sebagai nabi Muhammad saww. 

Menurut riwayat para Imam Ahlul Bayt as tercatat ketika nabi Isa as dapat berjalan di atas air, mereka berkata, andaikan Nabi Isa Ruhullah as lebih sabar dan berfokus sedikit, maka ia akan mampu terbang... lalu ada juga riwayat yang mengatakan mengapa nabi Yusuf as, tidak diberikan keturunannya sebagai penerus kenabian, karena pada saat nabi Yakub as akhirnya dapat bertemu dengan Nabi Yusuf as dengan mendatanginya di Mesir ketika ia menjabat sebagai pembesar di Mesir, beliau nabi Yusuf sedang berada di kudanya dan tidak segera turun menyambut ayahnya nabi Yakub as.. walaupun semua nabi as semua maksum , hanya kadarnya bervariasi tergantung tingkatan ketahanannya masing-masing... oleh karenanya Muhammad ibn Abdulah saww nabi penutup itulah puncak dari kesempurnaan- Sayyidul Anbiya. Beliau saww telah mampu melampaui berbagai ujian dan hadis beliau saww sendiri mengatakan : "Akulah nabi yang paling sangat menderita " . 

Dengan demikian jelaslah bahwa untuk menujuNYA, itu murni usaha / ikhtiar kita bagaimana kita akan menyempurnakan diri kita ( yang Allah telah menurunkan ruhNYA yang suci untuk pertama kalinya, dan untuk kembali kita diharapkan untuk dapat menjaganya kembali dalam keadaaan semula..) 

Semakin kita berusaha keras untuk dapat mengembalikan pada keadaan aslinya ( yang tentunya sangat sulit - hanya para Anbiya & Aimah as serta Aulia Allah yang telah berhasil ) dengan mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada pada diri kita. Oleh karenanya, seorang Abu Jahal dan seorang Abu Dzar ra untuk menjadikan diri-diri mereka demikian adalah hasil dari usaha masing-masing diri mereka, sehingga mereka seperti yang kita kenal.... so the choice is yours...

Mau seperti apa kita ini, semua tergantung diri kita masing-masing, karena potentsi diri yang Allah berikan adalah sama, tinggal bagaimana keinginan dari kita untuk mengaktualisasikannya sesuai dengan kemampuan kita. Kebanyakan dari manusia, secara tidak sadar, tidak menginginkan dirinya menjadi sempurna ( bukan lahirnya!! ), dan sudah merasa puas dengan keadaan dirinya, yang sebenarnya mereka sendiri tidak mengenali diri mereka juga.. dan ini sudah barang tentu tak mungkin dapat mengenal Tuhannya, jadi bagaimana mereka dapat mengaktualisasikan potensi dirinya yang mereka sendiri tidak mengetahuinya. 

Semua ini perlu kesadaran diri, tekad dan ilmu yang menghantarkan pada pengetahuan tentang diri kita, dengan mengenali diri kita, karena dengan mengenal diri kita, kita akan mengenal Tuhan kita... Karena, sungguh yang dilihat oleh Allah SWT bukan zhahir/lahir kita ( semua orang telah mengetahui tentang ini ) tetapi usaha kita untuk dapat mengembalikan Ruh yang dulu pernah di titipkan Tuhan kita dalam keadaan utuh dan baik... siapapun apa bila dipinjamkan barangnya apabila waktu pengembalian tiba, ingin mengingkan barangnya dalam keadaan baik seperti semula, bukan?.... 

Begitulah sesungguhnya yang Tuhan inginkan dari diri kita... Agar kita selalu memanifestasikan diri kita sepertiNYA.... So, again..the choice is entirely yours!!! Wallahualam bishawab... Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajum. ADRIKNA ya MAHDI

Preparing for the Return




Ever since the Holy Prophet (peace be upon him and his progeny) began his proclamation of Islam, the system of a perfect society that would elevate humans on a social and religious platform has been existent. But a system that perfects humanity requires two things: Divine leadership and obedience of the Divine rules set forth for humanity. For the past 1400 years, the Divine system that would propel humanity to the next level has had the Divine leadership available but humanity has proved multiple times that it is not ready for such a transition.

Within those 1400 years, the first eleven Imams have dealt with communities that have said one thing and done another. The perfect example of this was at the time of Imam Hussain (peace be upon him), who received thousands of letters from the people of Kufa pledging their allegiance to him and calling him to Kufa. The people of Kufa were not ready to make the sacrifices that were necessary in establishing Imam Hussain as the leader of the Muslim world, and as a result, the Imam and his companions were slaughtered on the plains of Karbala.

This leaves us with the 12th Imam, Imam al-Mahdi (may Allah hasten his reappearance), who began the Major Occultation in 941 AD for the purpose of protecting the Imam from any potential attacks on his life. The aim of Imam Mahdi is to eradicate oppression and injustice throughout the world and establish a global government of peace and justice. In order for this to occur, the Awaited Savior must have the necessary support from the believers, which the first eleven Imams (perhaps with the exception of Imam Hussain) did not have. Yes, the Major Occultation served as a way of protecting Imam Mahdi but also as a message to the Muslims that if the believers wish to see the global government of peace and justice established, then the believers must themselves be the change they wish to see. The question now is about the role of the believers during the Major Occultation. The answer to this question is much simpler than one may expect. The answer lies in bettering ourselves as believers and the believers around us.

Bettering ourselves as believers in anticipation of the return of the 12th Imam begins with one thing and one thing only, which is Salat – the foundation of every Muslim. If a house is built with a weak foundation, it is bound to collapse. The same applies to Salat. If a Muslim is inconsistent with his/her daily prayers, then (s)he will collapse when the temptations of this world are presented. Establishing consistency with the five daily prayers includes not skipping any of them. This includes waking up on a daily basis for the Fajr prayer. The key to establishing consistency with the daily prayers begins with praying as soon as the time sets in and understanding why this is so important.

As Muslims, we have been blessed with so many bounties by Allah, yet we don't thank Allah enough. Praying on time is a way of thanking Allah for all that has been given to us. Does it make sense for believers to delay our Salat after all that Allah has given us?

Secondly, Salat is the means of communication between the believer and Allah. Strengthening the communication that the believer has with Allah by praying on time allows the believer to become more God conscious, which then leads to the advancement of the Muslim. The purpose of Salat when performed correctly is to instill God-consciousness in the believer that will prevent the believer from indulging in the actions that are prohibited by Islamic law. Becoming more God conscious as an individual is the first step in preparing for the reappearance and that is done by performing Salat properly, attentively, and on time.

Learning to control out worldly desires is essential. At the crux of the failures of the believers of the first eleven Imams were their worldly desires. At the time of Imam Ali (peace be upon him), Muawiya was able to pay supporters of the Imam top money to abandon their posts. Controlling worldly desires is not an easy task but one that takes time and understanding. Controlling worldly desires allows a Muslim to increase his/her God-consciousness. By increasing God-consciousness, a Muslim is then able to understand his/her roles and responsibilities to Allah and the 12th Imam. God-consciousness can be increased by praying on time, reading Qur'an, reciting supplications, fasting on recommended days, and increasing one's Islamic knowledge.

Intidhar (waiting) for the appearance of the Awaited Savior is an important role of the Muslims. This does not mean waiting idly for the reappearance; rather, it means to actively pursue the change that will pave the way for the reappearance. Intidhar is a state that requires efforts and actions to better ourselves as individuals our Muslim communities on a social level. On a personal level, we must be exemplary leaders that make people around us better as Muslims. As Muslims we must also cater to the needs of our Muslims communities by being more active on a social front.

At the end of the day, only praying and not actively pursuing the reappearance will not allow us to see the Twelfth Imam in our lifetime. We must actively pursue the change we wish to see by bettering ourselves and the believers around us.
*article from Islamic Insights vol 3 issue 28

Iedullah al- Akbar



" Dialah yang akan memenuhi bumi dengan KEADILAN sebagaimana bumi telah dipenuhi kezaliman "

Manusia di zaman sekarang ini sesungguhnya sedang dalam penderitaan yang sangat besar. Disetiap penjuru dunia sangat banyak kita saksikan hak-hak dari manusia dipaksa dipisahkan dengan asasnya, suatu rencana berskala global dengan meniadaan KEADILAN. Manusia telah tedera dengan kezaliman, baik itu kezaliman terhadap dirinya sendiri, maupun kezaliman yang dilakukan oleh orang lain padanya. Pertanyaan selalu datang pada setiap diri, dimanakah Sang Penolong Sang Juru Selamat yang telah di janjikan Allah...

" Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka " ( QS 7 : 157 )

Janji Allah untuk umat manusia ini akan dipenuhi oleh kekuatan Ilahi melalui sosok manusia agung yang berhubungan langsung dengan semesta alam gaib, alam yang tidak tertangkap oleh keterbatasan indera yang dimiliki oleh orang-orang seperti kita.

Memperingati hari lahir Sang Juru Selamat yang di janjikan Allah SWT merupakan suatu penenang jiwa tersendiri bagi yang sangat mendambakan kedatangannya.. Ini sungguh sangat berpengaruh pada jiwa dan proses spiritual kita yang berusaha untuk mendekatkan diri ( taqarub ) kepadaNYA serta perjalanannya menuju kesempurnaan( takaamul). 

Sayid Ali Khamanei : " Orang yang meyakini masalah ini akan lebih berpeluang menikmati wahana untuk terbang menuju ketinggian spritual dan menjalani proses pendekatan kepada Allah SWT. Oleh karenanya, para ruhaniawan sejati selalu menajamkan perhatiannya kepada Imam Mahdi atfs dalam bertawasul. Mereka senantiasa bertawasul kepada beliau atfs "

Dengan berfokus pada manusia suci yang menjadi cermin kebesaran rahmat, kekuatan dan keadilan Allah SWT itu dapat menerbangkan manusia menuju ketinggian spiritual.

Selain dapat berpengaruh pada setiap diri, mengenal serta meyakini sosok Sang Juru Selamat ini juga akan sangat berpengaruh pada kehidupan sosial serta nasib umat manusia. Dengan keyakinan yang sangat teguh pada adanya sosok Sang Juru Selamat, umat manusia yang meyakini ini akan menjadi umat yang tangguh, apapun derita yang mendera diri-diri mereka sebesar apapun penderitaan itu, mereka akan setia menanti dengan terus menerus bertawakal padaNYA....Janji Allah SWT adalah sebaik-baiknya janji dan tidak mungkin terpungkiri. Eksistensi Imam Mahdi atfs adalah realisasi dari janji Ilahi dan kasih sayang Allah pada umat manusia. Beliau atfs adalah cerminan dari para wali, hamba-hamba yang suci, para nabi dan para abdi sejati Allah SWT. Imam Mahdi atfs juga pintu anugerah Ilahi kepada manusia.

Hari ini adalah hari Raya yang sesungguhnya, hari kelahiran untuk segenap manusia dan sejarahnya. Ini bahkan merupakan hari Raya untuk orang-orang yang hidup sebelum kita. Dari zaman dahulu orang-orang dahulu pun tertindas oleh kaum tiran seperti Firaun, Namrud, Abu Jahal, Muawiyah, Yazid, Bani Abbas dlnya. Mereka hidup dalam kemiskinan , kezaliman, diskriminasi...oleh karenanya ruh-ruh mereka di barzah sana juga ikut merasakan kebahagiaan menikmati anugerah akan hari kelahiran manusia suci terakhir yang ditunggu-tunggu akan membawa KEADILAN di muka bumi ini.

Assalamualaika ya Baqiatullah fil ardhi....Assalamualaika ya Muhammad ibn Hasan al MAHDI al Muntadhor atfs...sungguh kami sangat berbahagia akan hari kelahiran mu...ya yabna Rasulullah...terimalah pemberian yang sangat mungil ini, yang hanya sebuah ucapan.....dengan ketaktahuan diri, kami malah yang memohon untuk di berikan segala kebaikan yang dapat membawa kami bersamamu...sungguh ya Shabib al Zaman...kami sangat merindukanmu....air mata ini sudah hampir kering merasakan jauhnya Engkau dari kami.....dada in sesak melihat yang sungguh akan membuatmu sakit....Ya Shabib al Tadbir...tetapkan kami sebagai penolongmu dan pengikutmu yang sejati....berikan kekuatan kepada kami hingga kami selalu dan selalu bersamamu...di sisimu....di sampingmu, jangan pernah pisahkan kami denganmu walau sedetikpun...LOVE YOU so MUCH...

Sampaikan salam kami untuk Rasulullah saww dan para Aimah as serta yang teragung nan mulia sayidah Fatimah AZ Zahra as dan ibunda tersayangmu Sayidah Nargees Khatun ra, serta nenek tercintamu sayidah Hakimah binti Muhammad al Jawad ra ...Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum....ADRIKNA ya MAHDI