Leader’s Hajj message to Muslims

Pesan Haji Rahbar 1433 H

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين و صلوات الله و سلامه علي الرسول الاعظم الأمين و علي آله المطهّرين المنتجبين و صحبه الميامين.
Musim haji yang penuh dengan rahmat dan berkah telah tiba dan kembali menyinari mereka yang beruntung hadir di tempat-tempat nurani itu dengan pancaran anugerah Ilahi. Di sini, waktu dan tempat mengajak Anda semua yang tengah melaksanakan ibadah haji untuk beranjak menaiki tangga menuju ketinggian maknawi dan materi. Di sini, dengan hati dan lisan, muslim dan muslimah bersama-sama memenuhi panggilan Allah Yang Maha Besar untuk melangkah ke arah kebaikan dan kejayaan. Di sini, semua orang mendapat kesempatan berlatih persaudaraan, kesamaan dan ketaqwaan. Di sinilah kamp pendidikan dan pengajaran; ajang pentas persatuan, keagungan dan keanekaan umat Islam; kancah bergumulan melawan syaitan dan thaghut. Inilah lokasi yang ditetapkan Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa sebagai tempat bagi kaum mukminin untuk bisa menyaksikan kepentingan dan kebaikan mereka. Sesaat ketika membuka mata akal dan ibrah, kita saksikan bahwa janji samawi ini meliputi seluruh sisi kehidupan individual dan sosial kita.

Keistimewaan syiar haji terletak pada kombinasi urusan dunia dan akhirat atau sisi individu dan sosial di dalamnya. Ka'bah yang tanpa hiasan namun megah; tawaf fisik dan hati mengelilingi satu poros yang berdiri kokoh dan abadi; gerak dan usaha yang berkesinambungan dan teratur antara satu titik awal dan titik akhir; perpindahan kolosal ke Arafah dan Masy'ar yang mirip kondisi hari kiamat dengan kekhusyukan di tempat konsentrasi agung itu yang memberi kejernihan dan kesegaran pada setiap kalbu; serbuan serentak melawan simbol syaitan; dan berikutnya adalah kesamaan semua orang yang datang dari semua tempat, dengan aneka warna dan jenis untuk bersama-sama mengikuti ritual yang penuh rahasia dan sarat dengan nuansa spiritual dan tanda-tanda hidayah… Semua itu adalah keistimewaan yang hanya ada pada ibadah yang penuh makna dan kandungan ini. Ritual seperti inilah yang mengikat hati dengan dzikir kepada Allah dan menyinari kalbu dengan cahaya taqwa dan iman. Ritual ini mengeluarkan orang dari kekangan diri dan meleburnya dalam kumpulan umat Islam dengan keberagamannya, membungkusnya dengan pakaian ketaqwaan yang melindungi jiwanya dari serangan anak-anak panah dosa yang beracun, serta membangkitkan semangat melawan syaitan dan thaghut dalam dirinya.

Di sini, dengan mata kepala sendiri, jemaah haji menyaksikan miniatur dari umat Islam yang besar dan menyadari akan kapasitas dan kemampuannya. Dengan itu, tumbuh optimisme akan masa depan dan kesiapan untuk berperan aktif di dalamnya. Selain juga, -jika mendapat taufik dan inayah dari Allah- ia akan mengikat baiat dengan Nabi yang agung dan memperkuat janji setia dengan Islam yang tercinta serta memperkuat tekad untuk memperbaiki diri dan umat serta meninggikan Islam. Kedua hal ini, yakni perbaikan diri dan perbaikan umat adalah dua kewajiban yang tak pernah dihapuskan. Bagi orang yang suka berpikir, dengan menggunakan akal budi dalam melaksanakan kewajiban agama dan dengan memanfaatkan logika dan kearifan, tidak sulit untuk menemukan cara untuk melaksanakan kewajiban ini.

Memperbaiki diri dimulai dari perang melawan hawa nafsu syaitani dan upaya untuk menjauhi dosa, sementara memperbaiki kondisi umat dimulai dengan mengenal musuh dan agendanya lalu berjuang untuk meredam dampak pukulan dan tipudayanya. Pada tahap berikutnya, keterikatan hati, tangan dan lisan antara umat Islam dan bangsa-bangsa Muslim akan terjalin.

Saat ini, salah satu masalah terpenting Dunia Islam yang berhubungan langsung dengan nasib umat Islam adalah revolusi-revolusi yang terjadi di kawasan utara Afrika dan kawasan kita. Sampai sekarang, transformasi ini sudah menggulingkan beberapa rezim bejat yang tunduk kepada Amerika Serikat (AS) dan bersekutu dengan zionisme, dan tengah mengguncang kekuasaan beberapa rezim yang lain. Rugi besar jika kaum muslimin tidak memanfaatkan kesempatan agung ini untuk memperbaiki nasib umat Islam. Sekarang, kubu istikbar agresor yang suka intervensi tengah menguras tenaga untuk menyimpangkan gerakan agung umat Islam ini.

Dalam gerakan-gerakan yang besar ini, muslim dan muslimah bangkit untuk melawan kediktatoran para penguasa dan menentang hegemoni AS yang berujung pada pelecehan dan penistaan bangsa-bangsa lain serta kedekatan dengan rezim zionis yang haus kejahatan. Dalam perjuangan hidup dan mati ini, faktor penyelamat bagi mereka adalah Islam serta ajaran dan syiar-syiarnya. Dan, inilah yang mereka nyatakan dengan suara lantang. Pembelaan kepada bangsa Palestina yang tertindas dan perjuangan melawan rezim perampas Zionis menjadi tuntutan utama mereka. Mereka mengulurkan tangan persahabatan kepada bangsa-bangsa Muslim dan menuntut persatuan umat Islam.

Inilah pilar-pilar utama yang menopang gerakan rakyat di negara-negara yang sejak dua tahun lalu mengibarkan panji kebebasan dan reformasi dengan partisipasi rakyat yang hadir di tengah medan revolusi dengan jiwa dan raga. Dan, inilah yang bisa menjadi pilar utama untuk menopang proses reformasi di tubuh umat Islam yang besar ini. Syarat yang harus dipenuhi untuk meraih kemenangan final dari gerakan kebangkitan rakyat di negara-negara itu adalah resistensi dalam memegang prinsip.
Musuh terus berusaha menggoyang pilar-pilar utama ini. Tangan-tangan keji AS, NATO, dan rezim zionis berusaha memanfaatkan celah-celah kelengahan dan pemikiran dangkal untuk memalingkan gerakan para pemuda Muslim yang mengalir deras ini lalu mengadu domba antara mereka dengan mengatasnamakan Islam. Mereka mengubah jihad anti imperialisme dan anti zionisme menjadi terorisme buta jalanan di Dunia Islam untuk menumpahkan darah umat Islam di tangan Muslim. Dengan demikian, musuh Islam akan terbebas dari kebuntuan dan citra Islam serta para mujahidnya akan tercoreng di mata dunia.

Setelah kecewa dan putus asa karena gagal menghapuskan Islam dan syiarnya, kini dengan menebar fitnah di tengah kelompok-kelompok Muslim dan dengan mengusung agenda Syiahphobia atau Sunniphobia mereka berusaha mencegah terwujudnya persatuan umat Islam.

Dengan bantuan kaki tangannya di kawasan, mereka menciptakan krisis di Suriah untuk memalingkan bangsa-bangsa lain dari krisis di negara masing-masing dan bahaya yang mengancam mereka. Itu semua dilakukan dengan menciptakan drama berdarah. Perang saudara di Suriah dan pembunuhan para pemuda Muslim di tangan saudaranya sendiri adalah kejahatan yang dimulai dan dimarakkan oleh AS, Zionis dan rezim-rezim dependen. Siapa yang bisa percaya bahwa negara-negara pelindung para diktator di Mesir, Tunisia, dan Libya kini tampil membela aspirasi rakyat Suriah yang menuntut demokrasi? Kisah Suriah adalah kisah balas dendam terhadap sebuah pemerintahan yang selama tiga dekade tampil sendirian melawan rezim perampas Zionis dan membela faksi-faksi perjuangan Palestina dan Lebanon.

Kami memihak rakyat Suriah dan menentang segala bentuk provokasi dan intervensi asing di negara itu. Reformasi apapun di Suriah harus dilakukan sendiri oleh rakyat di sana dan dengan cara-cara mereka sendiri. Adalah bahaya yang besar ketika kubu hegemoni internasional yang dibantu oleh rezim-rezim dependen di kawasan campur tangan dengan menciptakan krisis di suatu negara dan dengan alasan krisis, mereka merasa berhak melakukan kejahatan apa saja di negara itu. Bahaya besar ini harus disadari oleh rezim-rezim di kawasan. Jika tidak, maka mereka harus menanti giliran untuk dipermainkan kubu istikbar dengan cara seperti itu.

Saudara dan saudari! Musim haji adalah kesempatan untuk merenungkan dan memikirkan secara mendalam isu-isu penting di Dunia Islam. Nasib revolusi-revolusi di kawasan dan upaya yang dilakukan kubu adidaya untuk menyimpangkannya adalah bagian dari isu-isu penting itu. Agenda pengkhianatan dalam bentuk tebaran fitnah perselisihan di tengah umat Islam dan upaya menciptakan sangkaan buruk pada sebagian negara Islam terhadap Republik Islam Iran; isu Palestina dan pendeskriditan para pejuangnya serta upaya memadamkan gelora jihad; propaganda anti Islam yang dilakukan rezim-rezim Barat dan pembelaan mereka kepada para penista kesucian Nabi Muhammad Saw; agenda menciptakan perang saudara dan upaya memecah belah di sejumlah negara Islam; skenario menakut-nakuti negara dan bangsa-bangsa revolusioner akan bahaya melawan hegemoni Barat dan penyebaran anggapan bahwa masa depan mereka bergantung pada ketertundukan kepada kaum agresor… semua itu adalah isu-isu penting yang perlu direnungkan dan dipikirkan secara mendalam oleh Anda semua, jemaah haji, dalam suasana persaudaraan dan keakraban.

Tak diragukan bahwa hidayah dan bimbingan Ilahi akan menunjukkan jalan keamanan dan keselamatan kepada umat mukmin yang berjuang.

«و الذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا ..»

Dan mereka yang berjuang di jalan Kami maka Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…



Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sayyid Ali Khamenei

30 Mehr 1391 HS (21 Oktober 2012)

Gaya Hidup Islami



Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menilai generasi muda memiliki banyak poin positif dan menjadi harapan negara. Rahbar dalam pertemuan dengan ribuan mahasiswa, pelajar dan pemuda Khorasan Utara yang digelar pada hari Ahad (14/10) menyebut gaya hidup sebagai bagian terpenting dan hakiki bagi sebuah kemajuan dan upaya membangun peradaban Islam yang baru.   

Di pertemuan ini Rahbar berusaha menjelaskan kepada generasi muda soal gaya hidup sejati guna menemukan kehidupan ideal. Dalam pandangan Rahbar tujuan utama Revolusi Islam Iran adalah membangun peradaban baru Islam dan gaya hidup merupakan salah satu bagian utama dari revolusi ini. Terkait hal ini Rahbar mengatakan, "Peradaban baru memiliki dua unsur: Unsur pertama adalah sarana dan kedua adalah unsur pokok dan dasar... Kita harus menggapai keduanya."

Seraya mengajak para cendekiawan dan kaum pemikir untuk mengulas masalah ini dan membahas patologi bagi gaya hidup yang ada saat ini di Iran serta memikirkan cara penanganannya, beliau mengatakan, "Kemajuan di ranah ilmu, industri, ekonomi dan politik yang merupakan komponen penting bagi peradaban Islam adalah sarana untuk memperoleh gaya gaya dan budaya hidup yang benar sekaligus jalan untuk meraih kedamaian, keamanan, ketinggian dan kemajuan yang hakiki."

Kemajuan, kata Ayatollah al-Udzma Khamenei, mengandung makna gerakan, jalan dan perubahan. Beliau menambahkan, "Dalam kesimpulan apapun yang diambil dari kemajuan yang tak kenal kata henti (baik kesimpulan materi maupun spiritual) gaya hidup, perilaku sosial, dan metode kehidupan punya signifikansi yang besar."

Mengenai gaya hidup dan kaitannya dengan peradaban baru Islam, beliau menandaskan, "Jika kemajuan universal diartikan dengan membangun peradaban baru Islam, maka peradaban ini akan memiliki dua unsur, yaitu sarana dan hakikat. Dan masalah gaya hidup adalah unsurnya yang hakiki."

Seraya menyatakan bahwa kedua unsur itu harus diwujudkan dalam peradaban Islam, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, "Unsur sarana atau perangkat keras peradaban ini berhubungan dengan hal-hal yang dalam kondisi dunia saat ini disebut sebagai lambang kemajuan seperti sains, penemuan, ekonomi, politik, wibawa di pentas internasional, dan semisalnya."

Beliau menambahkan, "Dalam kaitan ini, kita sudah membukukan kemajuan yang cukup bagus. Tapi harus diingat bahwa semua prestasi itu terkait dengan unsur sarana untuk meraih unsur hakiki dan piranti lunak bagi peradaban Islam, yaitu gaya hidup."

Berbicara mengenai gaya dan budaya hidup, Rahbar menyinggung berbagai masalah seperti keluarga, pernikahan, model rumah, jenis pakaian, gaya konsumsi, hiburan, pekerjaan serta perilaku individu dan sosial di berbagai lingkungan. Beliau mengatakan, "Gaya hidup kembali kepada semua permasalahan yang membentuk kehidupan manusia."

Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan aturan Islam dalam masalah gaya hidup. "Dalam Islam ada istilah akal kehidupan yang maknanya sama dengan gaya dan budaya hidup, dan al-Qur'an dalam banyak ayat sucinya membahas masalah ini," kata beliau.

Menurut beliau, tanpa kemajuan pada unsur hakiki peradaban Islam yaitu gaya hidup, maka tujuan dari proses membangun peradaban yang besar ini tak akan bisa tercapai. "Sayangnya, dalam masalah ini kita tidak berhasil mengukir prestasi yang signifikan seperti yang kita raih di bagian pertama yang berhubungan dengan ranah keilmuan, industri dan semisalnya," imbuh beliau.

Rahbar menyebut patologi dan penelitian untuk mencari faktor penghalang kemajuan menyangkut gaya hidup sebagai satu keharusan. Beliau mengajak para cendekiawan, pemikir dan pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan untuk membahas masalah ini dan mencarikan jalan keluar terbaik.

Menyebut masalah gaya hidup sebagai topik pembahasan yang baru di Iran, Pemimpin Besar Revolusi Islam memberikan permisalan bahasan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan. Mengapa di Iran budaya kerja berkelompok lemah? Mengapa dalam hubungan sosial hak orang lain sering dilanggar? Mengapa angka perceraian di sejumlah daerah tinggi? Mengapa para pengemudi kendaraan tidak terlalu mengindahkan aturan lalu lintas? Apa saja aturan hidup di apartemen dan apakah aturan itu diindahkan? Apakah model yang ideal bagi hiburan yang sehat? Apakah dalam keseharian kita selalu berbicara jujur? Sejauh manakah masyarakat tercemari kebiasaan berbohong? Apakah yang memicu tindakan brutal dan ketidaksabaran dalam hubungan bermasyarakat?

Rahbar juga mengajukan pertanyaan mengenai, Selogis apakah model pakaian dan tatanan kota yang ada saat ini? Apakah hak-hak masyarakat dijaga di internet dan media massa? Apa penyebab munculnya penyakit berbahaya berupa kecenderungan melanggar hukum pada diri sebagian orang? Seberapa besar dedikasi kita dalam bekerja? Sejauh manakah kepedulian kepada kualitas produksi lokal? Mengapa masih banyak ide cemerlang yang hanya bertahan di tahap kata-kata dan impian? Berapa jamkah kerja manfaat yang dilakukan di kantor-kantor? Apa yang harus kita lakukan untuk memberantas riba'? Apakah hak-hak suami, istri, dan anak-anak diindahkan secara penuh dalam keluarga? Mengapa sebagian orang bangga dengan konsumerisme? Apa yang harus kita lakukan supaya perempuan bisa tetap menjaga kehormatan keluarganya dan di saat yang sama dapat melaksanakan tugas sosialnya dengan baik?

Di kesempatan tersebut, Rahbar juga menyinggung peradaban Barat. Budaya Barat dibentuk atas dasar meterialisme dan hanya memperhatikan sisi luar kehidupan manusia. Ideologi ini tidak terlalu mementingkan ajaran mendalam kemanusiaan. Namun di sini pertanyaan yang muncul adalah apakah manusia di kehidupannya hanya membutuhkan sarana dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan. Apakah sisi batin manusia juga menuntut hal-hal materi, ketenangan jiwa manusia apakah dapat dipenuhi dengan harta dan uang?

Di sini Ayatullah al-Udzma Khamenei menandaskan, "Esensi budaya Barat adalah gaya hidup meterial, pemenuhan tuntutan syahwat dan bergelimang dosa. Budaya Barat anti spiritualisme... Oleh karena itu, syarat utama untuk membentuk  budaya baru Islam adalah tidak mengikuti budaya Barat." Beliau menjelaskan, pada dasarnya budaya Barat adalah budaya agresi. Jika menyebar di sebuah negara, dengan alasan apapun, maka budaya tersebut akan menghancurkan budaya dan jatidiri bangsa itu. Di negara-negara Barat dan masyarakat yang mengekornya, perilaku dosa besar seperti praktik homoseksual, fenomena kehancuran rumah tangga, dan berbagai problema besar lainnya dipandang sebagai hal yang biasa.

Lebih lanjut Ayatollah al-Udzma Khamenei mengungkap skenario Barat dalam mengenalkan dan menyebarkan budayanya di dunia khususnya di Dunia Islam dengan berbagai cara, yang salah satunya dan yang terpenting adalah seni sinema. Mereka melibatkan para pakar untuk membantu mengenal kelemahan bangsa-bangsa di dunia khususnya umat Islam, sebelum akhirnya membuat dan menyebarkan film-film yang mengenalkan budaya dan gaya hidup ala Barat.

Beliau menegaskan, "Dalam hal ini, para pejabat negara dan rakyat secara umum harus mempertahankan budaya bangsa dan negara ini." Pemimpin Besar Revolusi Islam menyayangkan adanya sebagian kalangan yang meniru gaya hidup Barat di tengah masyarakat Iran. "Fenomena ini harus diperbaiki secara perlahan dengan cara sosialisasi," kata beliau.

Rahbar juga  mengimbau untuk sepenuhnya menolak gaya hidup ala peradaban Barat, Rahbar menggarisbawahi, "Kami tidak menginginkan konfrontasi dengan Barat. Yang kami katakan adalah bahwa sesuai penelitian yang sudah dilakukan, mengikuti Barat tidak mendatangkan manfaat bagi bangsa manapun."(IRIB Indonesia)


Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menilai generasi muda memiliki banyak poin positif dan menjadi harapan negara. Rahbar dalam pertemuan dengan ribuan mahasiswa, pelajar dan pemuda Khorasan Utara yang digelar pada hari Ahad (14/10) menyebut gaya hidup sebagai bagian terpenting dan hakiki bagi sebuah kemajuan dan upaya membangun peradaban Islam yang baru.   
Di pertemuan ini Rahbar berusaha menjelaskan kepada generasi muda soal gaya hidup sejati guna menemukan kehidupan ideal. Dalam pandangan Rahbar tujuan utama Revolusi Islam Iran adalah membangun peradaban baru Islam dan gaya hidup merupakan salah satu bagian utama dari revolusi ini. Terkait hal ini Rahbar mengatakan, "Peradaban baru memiliki dua unsur: Unsur pertama adalah sarana dan kedua adalah unsur pokok dan dasar... Kita harus menggapai keduanya."
Seraya mengajak para cendekiawan dan kaum pemikir untuk mengulas masalah ini dan membahas patologi bagi gaya hidup yang ada saat ini di Iran serta memikirkan cara penanganannya, beliau mengatakan, "Kemajuan di ranah ilmu, industri, ekonomi dan politik yang merupakan komponen penting bagi peradaban Islam adalah sarana untuk memperoleh gaya gaya dan budaya hidup yang benar sekaligus jalan untuk meraih kedamaian, keamanan, ketinggian dan kemajuan yang hakiki."
Kemajuan, kata Ayatollah al-Udzma Khamenei, mengandung makna gerakan, jalan dan perubahan. Beliau menambahkan, "Dalam kesimpulan apapun yang diambil dari kemajuan yang tak kenal kata henti (baik kesimpulan materi maupun spiritual) gaya hidup, perilaku sosial, dan metode kehidupan punya signifikansi yang besar."
Mengenai gaya hidup dan kaitannya dengan peradaban baru Islam, beliau menandaskan, "Jika kemajuan universal diartikan dengan membangun peradaban baru Islam, maka peradaban ini akan memiliki dua unsur, yaitu sarana dan hakikat. Dan masalah gaya hidup adalah unsurnya yang hakiki."
Seraya menyatakan bahwa kedua unsur itu harus diwujudkan dalam peradaban Islam, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, "Unsur sarana atau perangkat keras peradaban ini berhubungan dengan hal-hal yang dalam kondisi dunia saat ini disebut sebagai lambang kemajuan seperti sains, penemuan, ekonomi, politik, wibawa di pentas internasional, dan semisalnya."
Beliau menambahkan, "Dalam kaitan ini, kita sudah membukukan kemajuan yang cukup bagus. Tapi harus diingat bahwa semua prestasi itu terkait dengan unsur sarana untuk meraih unsur hakiki dan piranti lunak bagi peradaban Islam, yaitu gaya hidup."
Berbicara mengenai gaya dan budaya hidup, Rahbar menyinggung berbagai masalah seperti keluarga, pernikahan, model rumah, jenis pakaian, gaya konsumsi, hiburan, pekerjaan serta perilaku individu dan sosial di berbagai lingkungan. Beliau mengatakan, "Gaya hidup kembali kepada semua permasalahan yang membentuk kehidupan manusia."
Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan aturan Islam dalam masalah gaya hidup. "Dalam Islam ada istilah akal kehidupan yang maknanya sama dengan gaya dan budaya hidup, dan al-Qur'an dalam banyak ayat sucinya membahas masalah ini," kata beliau.
Menurut beliau, tanpa kemajuan pada unsur hakiki peradaban Islam yaitu gaya hidup, maka tujuan dari proses membangun peradaban yang besar ini tak akan bisa tercapai. "Sayangnya, dalam masalah ini kita tidak berhasil mengukir prestasi yang signifikan seperti yang kita raih di bagian pertama yang berhubungan dengan ranah keilmuan, industri dan semisalnya," imbuh beliau.
Rahbar menyebut patologi dan penelitian untuk mencari faktor penghalang kemajuan menyangkut gaya hidup sebagai satu keharusan. Beliau mengajak para cendekiawan, pemikir dan pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan untuk membahas masalah ini dan mencarikan jalan keluar terbaik.
Menyebut masalah gaya hidup sebagai topik pembahasan yang baru di Iran, Pemimpin Besar Revolusi Islam memberikan permisalan bahasan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan. Mengapa di Iran budaya kerja berkelompok lemah? Mengapa dalam hubungan sosial hak orang lain sering dilanggar? Mengapa angka perceraian di sejumlah daerah tinggi? Mengapa para pengemudi kendaraan tidak terlalu mengindahkan aturan lalu lintas? Apa saja aturan hidup di apartemen dan apakah aturan itu diindahkan? Apakah model yang ideal bagi hiburan yang sehat? Apakah dalam keseharian kita selalu berbicara jujur? Sejauh manakah masyarakat tercemari kebiasaan berbohong? Apakah yang memicu tindakan brutal dan ketidaksabaran dalam hubungan bermasyarakat?
Rahbar juga mengajukan pertanyaan mengenai, Selogis apakah model pakaian dan tatanan kota yang ada saat ini? Apakah hak-hak masyarakat dijaga di internet dan media massa? Apa penyebab munculnya penyakit berbahaya berupa kecenderungan melanggar hukum pada diri sebagian orang? Seberapa besar dedikasi kita dalam bekerja? Sejauh manakah kepedulian kepada kualitas produksi lokal? Mengapa masih banyak ide cemerlang yang hanya bertahan di tahap kata-kata dan impian? Berapa jamkah kerja manfaat yang dilakukan di kantor-kantor? Apa yang harus kita lakukan untuk memberantas riba'? Apakah hak-hak suami, istri, dan anak-anak diindahkan secara penuh dalam keluarga? Mengapa sebagian orang bangga dengan konsumerisme? Apa yang harus kita lakukan supaya perempuan bisa tetap menjaga kehormatan keluarganya dan di saat yang sama dapat melaksanakan tugas sosialnya dengan baik?
Di kesempatan tersebut, Rahbar juga menyinggung peradaban Barat. Budaya Barat dibentuk atas dasar meterialisme dan hanya memperhatikan sisi luar kehidupan manusia. Ideologi ini tidak terlalu mementingkan ajaran mendalam kemanusiaan. Namun di sini pertanyaan yang muncul adalah apakah manusia di kehidupannya hanya membutuhkan sarana dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan. Apakah sisi batin manusia juga menuntut hal-hal materi, ketenangan jiwa manusia apakah dapat dipenuhi dengan harta dan uang?
Di sini Ayatullah al-Udzma Khamenei menandaskan, "Esensi budaya Barat adalah gaya hidup meterial, pemenuhan tuntutan syahwat dan bergelimang dosa. Budaya Barat anti spiritualisme... Oleh karena itu, syarat utama untuk membentuk  budaya baru Islam adalah tidak mengikuti budaya Barat." Beliau menjelaskan, pada dasarnya budaya Barat adalah budaya agresi. Jika menyebar di sebuah negara, dengan alasan apapun, maka budaya tersebut akan menghancurkan budaya dan jatidiri bangsa itu. Di negara-negara Barat dan masyarakat yang mengekornya, perilaku dosa besar seperti praktik homoseksual, fenomena kehancuran rumah tangga, dan berbagai problema besar lainnya dipandang sebagai hal yang biasa.
Lebih lanjut Ayatollah al-Udzma Khamenei mengungkap skenario Barat dalam mengenalkan dan menyebarkan budayanya di dunia khususnya di Dunia Islam dengan berbagai cara, yang salah satunya dan yang terpenting adalah seni sinema. Mereka melibatkan para pakar untuk membantu mengenal kelemahan bangsa-bangsa di dunia khususnya umat Islam, sebelum akhirnya membuat dan menyebarkan film-film yang mengenalkan budaya dan gaya hidup ala Barat.
Beliau menegaskan, "Dalam hal ini, para pejabat negara dan rakyat secara umum harus mempertahankan budaya bangsa dan negara ini." Pemimpin Besar Revolusi Islam menyayangkan adanya sebagian kalangan yang meniru gaya hidup Barat di tengah masyarakat Iran. "Fenomena ini harus diperbaiki secara perlahan dengan cara sosialisasi," kata beliau.
Rahbar juga  mengimbau untuk sepenuhnya menolak gaya hidup ala peradaban Barat, Rahbar menggarisbawahi, "Kami tidak menginginkan konfrontasi dengan Barat. Yang kami katakan adalah bahwa sesuai penelitian yang sudah dilakukan, mengikuti Barat tidak mendatangkan manfaat bagi bangsa manapun."(IRIB Indonesia)