'HEAVEN Spa'






















Badan kita akan merasa 'gerah', apabila kita seharian telah beraktifitas, apalagi aktifitas tersebut berada di luar rumah. 

Tentunya, kita akan bersegera membersihkan badan kita dengan aktifitas yang kita namakan 'mandi'. Maka perasaan pun berubah, kita merasakan segar dan merasa nyaman. 

Ini adalah salah satu aktifitas rutin seorang manusia yang telah biasa dilakukakannya, tanpa harus ada pemaksaan . 

Ada juga orang yang memang 'malas' mandi, dan itu memang diluar kebiasaan. Tetapi pada umumnya setiap diri, ingin dalam keadaan bersih dan suka dengan yang namanya kebersihan. Lingkungan bersih, akan memberikan rasa nyaman dan tentram. Begitu juga badan kita yang bersih, akan memberikan kesenangan pada diri kita dan orang-orang yang ada disekitar kita.

Sesungguhnya tidak banyak berbeda antara badan atau lahiriah kita, dengan batin kita yang bersih, yang akan memberikan kenyamaan dan ketentraman jiwa kita dan sekitar kita. Manfaatnya selalu ada pada diri kita sendiri juga lingkungan kita.

Secara fitrah manusia selalu ingin membersihkan diri baik itu lahir maupun batin. Tetapi, sayangnya, kebanyakan manusia hanya senang dan 'concern' pada sesuatu yang lahiriah saja. Mereka begitu 'concern' pada penampilan fisik saja. Tandanya seperti hampir semua teman apabila bertemu yang dikomentari pertama adalah fisik alias badan kita. Tambah gemuk, jadi kurusan, tambah cantik dsb....Jarang mereka berkomentar, tentang kualitas dari batin atau jiwa kita. Karena batin kita memang tak terindrai oleh panca indra kita. Oleh karenanya, manusia terdorong hanya 'concern' atau memperhatikan bentuk-bentuk lahiriah saja, yang dapat terindrai.

Tetapi sayang seribu sayang, kita semua mengetahui bahwa 'kematian' itu sesuatu yang PASTI, dan akan mendatangi siapapun tak terkecuali. Sungguh sayang seribu sayang juga, bahwa badan kita yang wangi dan kita jaga setiap hari apabila kita mati, akan menjadi bangkai yang nantinya bau dan habis termakan oleh cacing-cacing tanah serta kalajengking yang kita sekarang jijik untuk melihatnya...Justru yang akan 'awet' dan abadi dan menghadap Tuhan kita adalah batin atau jiwa kita alias ruh nya saja. Bentuk ruh itupun akan sesuai dengan bagaimana kita membersihkan ruh atau batin kita pada saat kita hidup di dunia. 

Semakin bersih 'dirinya' ( ruh kita) semakin cantik penampilan kita dihadapan Sang Kholik. Dalam hal membersihkan badan (lahir) kita, banyak cara yang harus kita tempuh, ada yang dengan 'lulur spa' ada yang di'body scrub' dan banyak lagi, kita akan mencoba semua demi menjadi 'bersih' dan sehat, bukan. Adapun untuk membersihkan batin (ruh/jiwa) kita, kita pun harus menempuh berbagai cara atau tips untuk dapat selalu dalam keadaan 'bersih'. 

Seperti kita semua ketahui, bahwa panca indera kita nanti akan bersaksi dihadapanNYA; mata kita akan ditanya, apakah kita selalu melihat sesuatu yang disukaiNYA atau dilarangNYA, kuping, mendengar sesuatu yang diridhaiNYA atau dibenciNYA, mulut, apakah berbicara yang diperintahkanNYA atau menyakitkanNYA, tangan dan kaki juga sama, apakah digunakan untuk menjalankan perintahNYA atau melakukan yang dikutukNYA. Semua akan bersaksi dan semua anggota badan ini yang kita di suruh bergerak menujuNYA, akan bersaksi, apakah benar berjalan menujuNYA atau menjauh dari jalanNYA, bahkan bumi yang kita injak pun akan bersaksi.

Oleh karenanya, kita diharuskan selalu membersihkan yang ada di batin kita, dan SADAR serta ALERT selalu dengan tujuan kita berada di bumiNYA. Untuk itulah 'pembersihan jiwa' dan taubat adalah resep ampuh untuk menjaga 'keindahan' serta 'kecantikan' batin ( jiwa) kita. Oleh karenanya, Allah memberikan kita AKAL untuk selalu menyadari akan pentingnya 'pembersihan jiwa' ini. 

Apa yang ada di diri kita adalah 'ilmu pengetahuan dan amal' yang kita ketahui dan telah kita kerjakan.Itulah yang menjadikan diri kita seperti diri kita sekarang, makanya kita harus selalu mencari ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk dapat membentuk diri kita agar dapat tampil cantik di hadapanNYA

Amal disini, bukan hanya aktifitas fisik tetapi ilmu pengetahuan yang telah melekat pada diri kita juga, sehingga kita ber'acting' seperti yang kita ketahui sekaligus menjalankannya ( misalnya, sifat rajin= kita belum disebut rajin apabila kita belum bertingkah laku 'rajin', walaupun kita paham apa itu rajin. Jadi sesuatu yang kita sering melakukannya, sehingga kita menjadi seperti apa yang kita telah kerjakan tersebut). 

Semua yang kita lihat dan dengar akan terrekam dalam indra kita, sehingga apabila itu sering dilakukan, akan menjadi bagian dari diri kita, baik itu yang baik maupun yang buruk. Oleh karenanya 'dengan aset yang Allah berikan pada kita yaitu AKAL, kita harus menyeleksi, mana yang membawa kita padaNYA mana yang sebaliknya .

Adapun tips untuk membersihkan jiwa kita yang Insya Allah akan mendekatkan kita padaNYA :

1. Mulailah untuk melupakan keburukan & kekurangan serta dosa-dosa yang ada pada orang lain, berkonsentrasilah hanya pada kekurangan , keburukan dan dosa-dosa diri kita. Berhentilah berbicara tentang orang lain. Stop berghibah!!

2. Percaya dan katakan pada diri kita selalu bahwa orang lain lebih baik dari diri kita

3. Cek dan 'update' pengetahuan diri kita, tentang hal-hal yang penting terutama yang di maksud dengan'GHAIB' i.e. tentang ; Allah, Tauhid, Nubuah, Imammah, Kitab suci, Malaikat, Surga, Neraka, Kiamat dsb. Perhatikan dan lihat serta konfirm pada Alim Ulama, apakah pengetahuan kita itu sudah 'benar' tentang hal-hal yang 'ghaib' itu , atau masih sesuai dengan 'khayal' kita.

4. Mulailah untuk menghilangkan 'imaginasi'/khayal' tentang hal-hal 'ghaib' seperti diatas dengan bertanya pada ahlinya- Alim Ulama untuk mendapatkan pengetahuan yang 'benar' (kros cek apakah pengetahuan 'ghaib' yang kita ketahui sudah sesuai dengan makna yang sesungguhnya, i.e; gambaran tentang Kenabian, apakah para nabi itu maksum/suci atau sama seperti diri kita dapat berbuat kesalahan-nauzubilah , atau Allah SWT mempunyai tangan dan kaki?? - belajar kritis dan selalu bertanya pada yang ahli)

5. Pikirkanlah selalu tentang kematian dan kunjungi makam-makam sesering mungkin, sehingga akan menghilangkan angan-angan panjang kita.

6. Ingatlah selalu Imam Zaman atfs sebanyak dan sesering mungkin dimanapun kita berada, ini cara terbaik dalam proses pembersihan diri ( that's why to get to know HIM profoundly is a MUST, not only knows His name )

7. Selalu bersemangat dalam belajar serta bersungguh-sungguh memahami sesuatu itu, jangan hanya belajar di kelas atau di majelis taklim saja, lalu merasa puas dengan pengetahuan kita itu. Kita harus memahami dengan pendalaman pengetahuan dari kacamata Tauhid (kemanunggalanNYA), sehingga kita dapat merasakannya pada diri kita pengetahuanNYA dan dapat menularkan pada sekitar kita.

8. Luangkan waktu 20 menit dari 24 jam yang ada pada setiap harinya, dengan duduk menghadap kiblat ( sebelum subuh ), untuk merenung - berkonsentrasi pada suatu spesifik issue. Pilih topik yang baik untuk berkonsentrasi
.

(* the no1-8 tips from tebyan net from lecturer Saeed Bassam- New Zealand with title Ma'rifat al Nafs - Thaharat of khiyal)

Wallahualam bishawab...Kenalilah Imam Zaman atfs!!! be curious of who HE is?? don't be late...keep knowing deeply and searching ...remember... hadist Nabi saww : Barang siapa meninggal tanpa mengenal Imam Zamannya, maka dia akan mati dalam keadaaan 'jahiliah'... be aware of how important the ma'rifah of Imam Zaman atfs for all of us !!!! so your choice is in your hand!!! Adrikna ya MAHDI...Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum

the POWER of LOVE


Ditengah badai fitnah dan tekanan-tekanan kezaliman yang melanda dunia ini, ada suatu harapan yang sangat menyejukan jiwa bagi setiap diri yang mendambakan 'cahaya'NYA. Kekuatan yang sangat tak terkendali dari setiap jiwa yang 'hanya' menginginkan yang 'sejati', yang 'hakiki'. Kegetiran diri dengan melihat buruk rupa wajah dunia yang makin terpuruk dan teraniyaya, tak dapat dibandingkan dengan besarnya harapan dan cinta para pencinta sejati. Sehingga kegetiran itu hanya dianggap sebagai penghubung antara dia dengan Sang Kekasih. Setiap tekanan dan kezaliman yang dirasakannya malah menambah kekuatan dan keyakinannya pada Sang Kekasih.
Ini bukannya hanya dongeng semata, tetapi kenyataan yang terjadi di negara-negara Islam yang penuh tekanan dengan tuduhan agama 'teroris'. Semakin para tyran itu ingin menghina dan menghapuskan Islam dari muka bumi ini, menjauhkan para pengikutnya dari ajaran Islam, semakin Islam berkembang pesat di seantero dunia. Pengikutnya semakin banyak bahkan dari kalangan sekuler Barat sekalipun.
Tentulah, ini karena ajaran Islam adalah ajaran yang sangat sesuai dengan 'fitrah' manusia. Semua manusia dimanapun mereka berada, pasti ingin menuju 'cahaya'. Tidak ada manusia yang 'normal' dan 'merdeka' yang ingin menuju pada kegelapan. Cahaya Ilahi hanyalah satu-satunya jalan menuju kesempurnaanNYA, yang dibawakan oleh para nabi dan wali-wali pilihanNYA. Nabi penutup terakhir MUHAMMAD bin ABDULLAH saww adalah manusia sempurna yang ditunjuk untuk membawa misi mulia, memperbaiki umat sekaligus membawa mereka dari gelap menuju 'cahaya'.
Hanya diri-diri yang merdeka dan berakal lah yang akan menyambut ajakan para Kekasih Allah tersebut. Mereka sungguh meyakini bahwa untuk menuju CAHAYA tidak ada jalan lain dengan mengikuti dan menyambut ajakan para pilihanNYA yang ada dimuka bumi ini, yang sifat-sifat mereka telah termaktub di dalam kitab suci terakhir yang merupakan mukjizat Baginda Rasul Muhammad saww.
Perhatikanlah para peziarah makam Nabi Muhammad saww dan keturunan pilihanNYA, mereka rela sehingga apapun di korban untuk dapat sampai dan berdekatan dengan Sang Kekasih. Diri mereka hampir tidaklah diperhatikan, terkadang mereka berjalan beratus-ratus KM dan tantangan apapun mereka pikul dengan dada terbuka, tak banyak dari mereka yang mengorbankan jiwanya, hanya untuk dapat berdekatan dengan manusia-manusia suci pilihanNYA. Karbala, yang begitu sangat berbahaya buat para penziarah Al Husain bin Ali as dan keluarganya, tetapi jumlah pengunjung kian hari, kian tahun terus bertambah. Arbain tahun ini mengumpulkan 10 juta pengunjung, walau banyak dari mereka yang syahid terbunuh oleh orang-orang jahil yang terbelenggu. Semua itu karena mereka 'sadar' bahwa apapun untuk menujuNYA akan ditempuh. Nabi Muhammad saww dan keluarga sucinya adalah jalan menujuNYA, jalan cahaya . Tekanan, siksaan tak berarti apa-apa dibanding berjumpa dan mempersembahkan diri-dirinya untuk Sang KEKASIH. Mereka bagaikan laron-laron yang membakarkan diri mereka menuju api 'cahaya'. Itulah KEMENANGAN yang sesungguhnya. Musuh yang bodoh akan terus menumpas Islam, tetapi apakah mereka berhasil memadamkan semangat-semangat para pencinta??? Ya Rasulullah....mungkin engkau sedih dan sering menangis melihat kekacauan dunia ini....tetapi tersenyumlah wahai KEKASIH...engkau menyaksikan sendiri betapa para pencinta sejatimu semakin menggelora menunjukan kecintaannya padamu ya Rasulullah , pada Ahlul Baytmu yang engkau wajibkan kami untuk mencintai mereka seperti mencintaimu....Engkau pun berkata, kecintaan padamu dan keluarga sucimu akan mendekatkan kami padamu dan sangat memberatkan timbangan kami nanti....karena amalan kami sangatlah akan mengecewakanmu...hanya gelora cinta kami ya Rasulullah yang akan terus menerus kami nyalakan untuk dapat bertemu denganmu di Al Kautsar sana....Ya Nabi Allah...Ya Muhammad....hati ini sangat merindukanmu....semoga kerinduan kami yang sangat mendalam dapat terobati dengan kehadiran al Mahdi al Muthazhar atfs.....Beri kami kekuatan diri ya Rasulullah untuk dapat mempersiapkan kehadiran Sang Kekasih atfs...Ya Mahdi, sampaikan rindu dan duka citaku yang mendalam untuk yang tercinta Rasulullah saww, Imam Hasan al Mujtaba as, Imam Ali ar Ridha as....Assalamualaika ya habib Allah, Assalamualaika ya Nur Allah, ...Assalamualaika ya Syafaat umati...Assalamualaika ya Muhammada ibn Abudullah, Assalamuaalaika ya Al Hasan ibn Ali al Mujtaba, Assalmualaika ya Ali ibn Musa ar Ridha......Assalamualaika ya al Qaim al Mahdi atfs...
Al ajal al ajal ya Maulaya ya Shahib al Zaman..Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajaum...

Refleksi DIRI


Terlalu sering saya mendengar pernyataan-pernyataan di sekitar kita, yang sesungguhnya hanya ingin membenarkan hasrat keinginannya untuk tetap tidak menjalankan peraturan yang telah ditetapkan. Memang telah menjadi fitrah manusia, untuk menghamba pada hawa nafsunya dan membela diri untuk membenarkan apa yang di yakininya menurut pandangannya. Untuk itulah para Nabi dan Wali Allah SWT datang diutus ke bumi ini. Adapun peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta itu untuk menjaga keharmonisan manusia agar dapat hidup selaras dengan alam sekitarnya.
Manusia sendiri pun membuat peraturan-peraturan untuk dapat hidup aman dan tentram, sehingga tatanan masyarakat terlahir masyarakat yang sehat dan bermoral. Untuk masalah ini, mereka setuju dan sangat patuh pada peraturan yang ada. Dan, apabila banyak yang melanggar, terjadilah kerusakan tatanan tadi, contoh peraturan lalu lintas yang sering kita saksikan setiap hari. Rambu-rambu lalu lintas, apabila tidak ada atau dilanggar, sudah terbayangkan apa yang terjadi. Semua ingin lebih dulu, tidak ada yang mau mengalah dan saling menyalahkan. Kita sangat sadar, apabila tatanan itu dirusak, maka rusak pulalah rasa tentram dan aman yang telah direncanakan oleh pencipta peraturan.

Formula ini pun, kita jalankan untuk menjalankan peraturan-peraturan Tuhan yang tertulis di Kitab suciNYA. Allah Sang Kholik, Sang Pencipta, Pengatur seluruh Alam Semesta ini sangat tahu sedetail-detailnya akan kebutuhan makhluk-makhlukNYA, dan cara mengatur alam semesta ini agar terjadi keharmonisan serta keamanan di bumiNYA.
Bagaimana tidak, daun yang jatuhpun Allah mengetahuiNYA, karena DIA lah yang memegang kunci-kunci dari rahasia-rahasia yang GHAIB ( QS 6 : 59 ). Dengan itu pula ALLAH sang KHOLIK sangat berhak untuk menentukan dan memerintahkan makhluk-makhluk untuk tunduk dan patuh padaNYA. Untuk menjaga peraturan-peraturanNYA itu yang terdapat di dalam kitab suciNYA dan mengawasi peraturan-peraturanNYA tersebut, Allah pasti mengandalkan makhluk-makhluk terpilihNYA untuk dijadikan sebagai WaliNYA di muka bumi ini. Wali-wali pilihanNYA yang ditunjuk sendiri oleh DIRINYA itu pasti sangat kompeten dan kredibel untuk mengetahui segala macam persoalan yang ada, dan yang pasti akan terjadi di bumi ini. Dan mereka itu karena pilihanNYA berarti harus mempunyai sifat-sifatNYA, seperti sempurna & suci dari segala kotoran dosa dan kesalahan ( QS 33:33), karena apabila pilihNYA itu pernah berbuat dosa, bagaimana kita dapat mengikuti mereka.Siapapun tidak ingin mempunyai pemimpin yang sama atau lebih rendah darinya. Jadi jelas, mereka para utusanNYA haruslah berbeda dari kita dan mereka lah manifestasiNYA di bumi ini. Mereka-mereka itu lah para nabi dan waliNYA. Dan selama bumi ini masih ada, Allah SWT tidak mungkin meninggalkan makhlukNYA tanpa pemimpin. Bayangkan lagi, apabila di dalam suatu perusahaan atau negara tanpa pemimpin, maka sudah kita ketahui apa yang akan terjadi. Jangankan manusia, binatangpun, seperti burung apabila bermigrasi, selalu ada pemimpinnya di depan yang memimpin pasukannya; semut, ikan salmon, lebah, kuda, semua selalu terlihat beriringan dengan pemimpin di depannya. Allah SWT lebih peduli dari pada para petinggi negara atau pemimpin perusahaan, bahkan lebih peduli dan sayang dari pada seorang ibu pada anaknya. Allah dengan IlmuNYA yang MAHA MENGETAHUI tentu akan memilih manusia-manusia pilihanNYA yang diperlukan di bumi ini( QS 6: 124).

Di zaman sekarang ini, dimana manusia mengaku dirinya telah 'beradab', tidak ingin diatur, ingin bebas, tetapi sangat menuntut keamanan dan ketertiban umum?? Lihatlah, betapa kontradiksinya manusia 'civilized' ini. Nilai kebebasan dan demokrasi lah yang di usung tinggi tetapi pada saat yang sama, tidak ingin 'ribet' dengan aturan-aturan yang tidak sesuai dengan dirinya, sehingga mereka selalu membuat baru peraturan-peraturan yang hanya sesuai untuk diri mereka sendiri dan kelompoknya?? Inilah penyakit masyarakat di zaman ini!!! Apabila kebebasannya terganggu ( yakni dia tidak dapat mengerjakan sesuai dengan keinginan nafsunya sendiri, tidak peduli akan kepentingan umum ), maka mereka akan marah sehingga menjadi merasa terancam dan akan balas mengancam. Sungguh absurd, dengan perilaku mereka yang demikian, mereka merasa dirinya 'beradab'??? Bukankah, manusia beradab itu yang akan mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku dengan kesadaran sendiri dan pengetahuannya, tanpa pemaksaan??

Entah mengapa pula, karena merasa dirinya 'civilized', agama dan yang berhubungan dengan Tuhan itu mereka jadikan sampingan apabila dibutuhkan saja. Sehingga mereka merasa tabu untuk memegang suatu agama ( karena bertentangan dengan 'nilai kebebasan' yang di anut ), dan apabila perlu, mereka mencari sesuatu yang 'ringan' yang tidak terlalu terpaku pada peraturan yang baku, seperti 'Budha', yoga, ayuverdic dsb, yang sedikit berbau mistik dan berkesan spiritual dan ada nilai-nilai ideologinya. Pengikut agama samawi pun terpengaruh oleh mereka, sehingga menjadikan agamanya hanya untuk upacara-upacara sakral saja. Intinya, manusia beragama pun, hanya ingin menjalankan kehidupan ini yang sesuai dengan keinginan hawa nafsunya saja, tidak mau yang banyak peraturan. Apabila maupun, dia akan mengikuti yang sesuai dengan keinginannya dia saja. Apabila, melihat gejala ini, sepertinya mereka sungguh meremehkan Tuhan yang telah mengutus para nabi-nabiNYA yang berjumlah ratusan ribu itu untuk memberitakan pesan-pesan Tuhan yang sesungguhnya untuk kebaikan dari pada manusia itu sendiri. Nilai-nilai agama suci pun memudar sesuai dengan keinginan manusia. Sungguh, mereka tahu persis bahwa TUHAN itu MAHA MENGETAHUI, dan akan ada hari PENGADILAN- hari KIAMAT, dan dia tidak akan hidup selamanya.Lucunya lagi, mereka sering beragumen untuk membenarkan ketidak taatannya pada kitab suciNYA. Contoh klasik, masalah 'jilbab', tidak perlu di zaman sekarang berjilbab, yang penting hatinya, kan kita juga ingat Allah, dengan mengerjakan shalat, puasa , zakat bahkan haji. Allah kan hanya melihat hati kita, lalu mereka menuduh para pemakai jilbab yang belum paham dijadikan sebagai alasan untuk menguatkan argumennya. Allah memang melihat hati kita, tetapi tanda-tanda diri kita ini tunduk dan taat padaNYA HARUS dengan zahir kita. Karena, apabila batin kita tunduk & taat maka secara otomatis lahirpun(zahir) kita pun akan taat & tunduk pada perintahNYA. Ketaatan batin akan diikuti dengan ketaatan lahir( zahir). Gerakan hati akan terefleksi dengan perbuatan yang sesuai dengan hatinya. Kasus lain, masalah shalat, tak perlu yang penting hati selalu ingat padaNYA, dan yang lebih penting saya tidak pernah berbuat buruk dan selalu menolong orang, serta tidak pernah menzalimi orang. Sesungguhnya, dia sedang mezalimi dirinya sendiri dengan melalaikan perintahNYA, dia peduli pada orang lain tetapi lupa pada dirinya sendiri, dan dirinya lah yang perlu pertolongan. Apabila prinsip itu benar, buat apa para nabi yang suci dan shaleh masih harus tiap hari shalat bahkan bangun malam untuk shalat?? Tatanan dunia memang sudah kacau balau....karena mereka tidak percaya, apalagi mengenal baik sesuatu yang GHAIB - Allah SWT Sang Kholik Pencipta Alam Semesta dan tidak mengakui pemimpin-pemimpin pilihanNYA, sehingga karena Allah SWT tidak terlihat , mereka bebas melakukan apapun tanpa ingat bahwa akan ada hari PEMBALASAN- pada hari kiamat nanti, dan lupa bahwa mereka tidak dapat menghindar dari KEMATIAN. Secanggih-canggihnya zaman, pasti akan datang padanya kematian, yang dapat menolong dirinya hanyalah dirinya sendiri, suami, istri tercinta hanya mengantarkan sampai di kubur setelah itu mereka pun tidak lagi peduli pada kita. Bekal harta dan segala perniknya pun, hanya untuk mereka yang ditinggalkan. So, apakah akan ada yang datang menolong diantara mereka orang-orang tercinta kita, yang ada mereka akan menjadi beban kita, karena kita harus mempertanggung jawabkan mengapa kita memiliki barang-barang tersebut. Penyesalan tidak pernah datang terlebih dahulu, memang, oleh karena itu perhitungkanlah semua dari sekarang, selama masih diberi kekuatan untuk dapat hidup di bumiNYA. Menabunglah, seperti kita menabung di dunia ini, untuk bekal nanti....be smart in everything....Wallahualam bishawab...Shalawat ala Muhammad wa aali Muhamammad wa ajil farajahum....Adrikna ya Mahdi..

Be aware of your self


Terkadang, kita kagum pada seorang yang dapat mengerjakan sesuatu yang kita tak pernah membayangkan diri kita dapat mengerjakannya. Tetapi, tahukah anda, bahwa itu hanyalah masalah kebiasaan, sehingga akan menjadikan hal tersebut bagian dari dirinya. Sangatlah berbeda, apabila kita hanya mengetahui sesuatu, tetapi kita tidak pernah melakukannya, dan itu hanya menjadikan hal tersebut pengetahuan umum diri saja. Pernahkah, anda dalam keadaan yang sedang terdesak, sehingga anda harus melakukannya walaupun dengan terpaksa, tetapi akhirnya anda berhasil mengerjakannya. Seperti anda yang tidak pernah bangun malam, tetapi karena hobby anda menonton acara tertentu atau sepak bola dunia misalnya, anda akan dengan memaksakan diri anda untuk bangun, sehingga keinginan anda untuk menonton tercapai. Tetapi, bila itu bukan sesuatu yang anda inginkan, maka anda tidak akan memaksakan diri untuk berbuat sesuatu itu, sehingga anda hanya sekedar mengetahui saja.
Sesungguhnya ini adalah hukum alam, bahwa anda akan mengerjakan sesuatu itu apabila anda menginginkan sesuatu untuk dapat memenuhi kebutuhan anda, ada suatu dorongan yang membuat diri anda bergerak, bangkit untuk memenuhi kebutuhan anda yang anggap sebagai prioritas hidup anda.

Jadi, untuk menjadikan sesuatu itu terbiasa sehingga hal itu menjadi bagian dari diri kita, pertama, kita harus berbuat untuk mengerjakan sesuatu itu dan menjadikan sesuatu itu suatu prioritas dalam hidup kita. Seperti orang yang mengaku beragama, dia tahu sekali bahwa dia, di haruskan untuk mengerjakan sembahyang untuk mengingat pada Sang Kholik, sebagai tanda syukur. Dia pun tahu ada syarat-syaratnya untuk mengerjakan sembahyang tersebut. Disini, dia harus menentukan pilihannya, apakah sembahyang itu dianggap sebagai prioritas atau hanya sesuatu yang untuk diketahui saja. Sikap orang tersebut terhadap sesuatu itu akan selaras dengan kebutuhan dan prioritas hidupnya. Dan sikapnya terhadap sesuatu itulah yang akan menjadikan dirinya seperti itu. Inilah , yang akan membentuk karakter seseorang. Karena dengan terus menerus mengerjakan yang dia kerjakan itu, hal tersebut akan menjadi bagian dari dirinya.

Oleh karena itu, terdapat perbedaan apabila seseorang itu hanya sekedar mengkaji ilmu dan menambah ilmu dengan seseorang yang mengamalkan ilmunya yang dia telah ketahui. Seperti,misalnya, seorang meraih gelar Arsitek tetapi tidak pernah membuat rumah, dengan seorang tukang bangunan yang pekerjaan sehari-harinya membangun rumah.

Kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa untuk menjadikan sesuatu itu melekat dan menjadi bagian dari kita, haruslah dengan ilmu dan pengamalan. Apabila hanya salah satu saja, tidak akan sempurna, sehingga kita tidak menjadikan sesuatu itu bagian dalam diri kita. Karena, tujuan hakikat diri kita ini adalah menuju kesempurnaan, apabila masih setengah jadi, berarti belum jadi....( ingat perumpamaan kupu-kupu dan kepompong ). Itulah proses pembentukan karakter diri...Diri kita adalah akumulasi pengamalan dan pengetahuan selama kita hidup. Ya, kita semua berjalan menuju kesempurnaan....kenalilah diri kita sebaik-baiknya....sehingga kita dapat berjalan selamat menuju kesempurnaan. Untuk itu kita sebaiknya mengetahui krikil-krikil yang dapat menghambat jalan tersebut. Krikil-krikil itu tak lain, salah satunya adalah 'nafsu' diri ... yang sangat menjebak. Oleh karenanya Be aware with them !!! and be what you have to BE....wallahualam bishawab...Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum....Adrikna ya Mahdi!!!

'Cadaux' for the LOVE one


Apabila kita sedang jatuh cinta, terlihat banyak sekali perubahan pada diri kita. Biasanya kita bertingkah laku di luar dari kebiasaan kita. Kata-kata yang terucap dari mulut kita hanyalah sesuatu tentang 'si dia '. Terlihat ada suatu dorongan yang begitu kuat dalam diri kita , ingin berbuat sesuatu yang dapat menyenangkannya. Ingin diri kita terlihat 'indah' di hadapannya. Oleh karena itu, kita selalu ingin mencari tahu, apa yang di inginkan dia dari kita dan apa yang dia tidak suka dari kita. Kita akan mencari banyak informasi tentang si dia, apa yang dia suka dan dia apa yang di bencinya, agar kita di sukai dan dicintainya. Agar kita tidak mengecewakannya, agar kita tidak di benci dan di jauhinya. Agar kita menjadi pilihannya. Dan secara otomatis perlahan-lahan , diri kita akan menjadi seperti dirinya. Karena, dengan kita mencintainya, otomatis kita akan mengorbankan semua kesukaan kita, demi mendapatkan apresiasi darinya sehingga kita dicintainya.Dan apapun harganya, kita akan berikan padanya. Begitu pula dengan apa yang di bencinya, kita akan menjauhkan diri kita dari segala apa yang dibencinya. Apabila ada yang berbicara buruk tentang dia, kita akan marah dan membela dia. Apalagi sampai ada yang menghinanya, kita tentu akan bangkit dan rela berkorban untuk dia...Wow, itulah tanda-tanda kita jatuh cinta padanya....sangat indah dan romantik. Setiap hari, selalu memikirkan apa yang akan di berikan padanya sebagai hadiah yang dapat membuatnya senang dan bangga pada apa yang kita berikan padanya.
Sungguh berbeda dengan keadaan kita yang tidak mencintai dia. Kita tidak perlu berbicara tentang dia, tidak perlu memikirkan dia, serta ingin di apresiasi olehnya, apalagi ingin memberikan sesuatu padanya....

Sekarang, dimanakah posisi kita dengan Tuhan kita, dengan Rasulullah saww, dengan para WaliNYA as Yang telah memberikan dan mengetahui seluruh keingingan dan kebutuhan kita. Apakah, kita telah jatuh cinta padaNYA??? Sehingga, kita telah memberikan yang terindah untukNYA??

Al Husain bin Ali as telah mempersembahkan diri sucinya bahkan keluarga dan hartanya untuk Sang KEKASIH, demi langgengnya 'Din al HAQ'. Persembahan yang terindah dan termulia yang beliau as persembahkan untuk Sang KEKASIH. Dengan 'cadaux' al Husain as, hingga sekarang kita dapat mendapatkan 'cahaya'NYA, dan keluar dari belenggu 'kebodohan'. Dengan 'cadaux' al Husain as, kita diajarkan untuk menjadi manusia yang "MERDEKA"...Ya HUSAIN...jadikanlah kami seperti yang Engkau inginkan...dan didiklah kami hanya untuk Sang KEKASIH...ajarkan kami untuk dapat selalu berjalan di jalanMU, serta bangkit melawan musuh-musuhMU dengan seluruh jiwa raga dan harta kami......'Cadaux'MU yang abadi akan selalu bergelora di hati para pencintaMU.......LABBAIKA YA HUSAIN !!!! Kami sungguh berduka atas 'cadaux' terindah al Husain bin Ali as , dan keluarga serta sahabat-sahabatnya di Karbala, Ya Muhammad, Ya Ali, Ya Fatimah, Ya Hasan, Ya Husain, Ya Ali, Ya Muhammad, Ya Jafar, Ya Musa, Ya Ali, Ya Muhammad, Ya Ali, Ya Hasan, Ya Qaim al Mahdi al Muntazhar Ya Shabib al Zaman atfs....Terimalah duka kami....Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farojahum....


* 'my special 'cadaux' for al Husain bin Ali as at the night of Arbain 20 Saffar 1430H'

LOVE, Beauty & Perfections bring to Harmony & UNITY



Semua yang ada di dunia ini akan ada, apabila ada lawannya. Kebaikan tidak mungkin kita ketahui apabila tidak ada yang namanya kejahatan. Lawan dari sesuatu itu lah yang menyebabkan kita bergerak ke arah kesempurnaan. Obat tak mungkin akan ada apabila kita tak pernah sakit. Keharusan untuk berilmu pengetahuan di karenakan oleh adanya kebodohan yang membuat manusia sengsara. 

Itulah hukum yang berlaku yang diciptakanNYA untuk berlangsungnya kehidupan menuju kesempurnaanNYA. Banyak sekali contoh-contoh yang ada, yang paling jelas, seperti, manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dua lawan jenis ini tercipta untuk melestarikan kehidupan dunia ini. 

Ketertarikan dari kedua lawan jenis ini harus mengarah kepada 'kesatuan' (unity). Dan semua pasti mengarah kepada elemen yang positif - menuju kesempurnaan

Untuk dapat adanya saling tarik menarik ini, harus ada unsur kesamaan, yang dapat menyatukan (misalnya , seorang yang senang nonton, akan selalu senang berteman dengan orang yang mempunyai hoby menonton juga, agar dapat 'ngobrol' asyik dan berdiskusi tentang film yang mereka tonton). 

Tetapi, semua ketertarikan itu harus pada unsur yang positif, contohnya, orang yang bodoh pun tidak mungkin senang bergaul dengan sesama orang bodoh, dia akan senang bersama dengan orang yang berilmu, karena dirinya pun menginginkan untuk menjadi seorang 'alim' ; seorang pencuri tidak akan senang apabila dia berada di komunitas dengan para pencuri, karena pasti akan was was bahwa miliknya pun akan dicuri, tentu apabila dia harus memilih, dia lebih senang bergabung dengan orang baik-baik. Karena hukum alam selalu menuju kepada kesempurnaan. Seorang yang dzalim tidak akan mau di dzalimi, dia pun ingin hidup dalam lingkungan adil, aman dan tenang.

Apa itu kedzaliman? Mungkin kebanyakan dari kita membayangkan kedzaliman itu , sesuatu yang 'horor', 'sadis' dan sebagainya, Ya, itu pun kedzaliman, tetapi itu hanyalah manifestasi dari kedzaliman itu sendiri. 

Sesungguhnya, apabila kita tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya (tidak bertindak sesuai dengan yang seharusnya, itulah kedzaliman. Menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya atau kebutuhannya adalah kebalikan dari kedzaliman yaitu keadilan. 

Seorang perempuan yang tidak menuntut ilmu yang wajib (ilmu yang berhubungan antara dirinya dan Tuhannya), berarti dia sedang mendzalimi dirinya sendiri, karena hak dia sebagai perempuan Islam untuk mendapatkan ilmu tidak dimanfaatkannya, seorang yang mengkonsumsi makanan lebih dari porsinya, berarti dia tidak sayang pada badannya, sehingga dapat menyebabkan keracunan, karena usus di perutnya tidak sanggup menampung makanan yang di konsumsinya, dan akan mengakibatkan kelebihan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh. 

Seorang yang hanya tenggelam dalam dunia khayalnya, dengan mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan meminum yang memabukan, berarti dia sedang mendzalimi dirinya sendiri dan bersikap tidak adil pada dirinya.

Orang-orang yang terdzalimi itu sama sekali tidak merdeka, mereka terjajah dengan kebiasaan hawa nafsunya, dan mereka senantiasa memanjakan hawa nafsunya sehingga merusak dirinya sendiri ....Inilah kejahatan yang terselubung, yang secara tidak sadar kita terlena. 

Mereka mengatakannya ini adalah masalah pribadi, menurut mereka orang lain tak boleh ikut campur, tetapi pada saat yang sama, mereka tidak mengenal pengaruh dari sikap tersebut. Dampak dari sikap yang demikian akan menciptakan masyarakat menjadi tak acuh pada masalah sekitarnya sehingga masyarakat itu akan semakin terpuruk . Dan terjadilah dekadensi moral. Mereka menjadi egosentris, sibuk dengan merusak diri-diri mereka, dan lebih hebatnya lagi mereka menamakan itu sebagai 'kebebasan'??

Lucunya mereka yang sudah terbius dengan paradigma tersebut, tidak menamakan itu sebagai 'kedzaliman', tetapi menamakannya sebagai 'kebebasan' berekspresi??

Islam mengajarkan bahwa kebebasan yang sesungguhnya adalah apabila kita dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan kita . Dan yang sangat mengetahui segala kebutuhan kita tidak lain dan tidak bukan hanyalah Sang MAHA PENCIPTA diri kita yaitu Allah SWT. Jadi kebebasan itu adalah apabila kita mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan keinginanNYA

Logika yang normal akan mengiyakan hukum ini bukan?

Sudah menjadi ketentuan hukum alam bahwa kita akan tertarik pada keindahan & kesempurnaan. Seperti telah kita ketahui, sesuatu yang sempurna itu haruslah datangnya dari yang MAHA SEMPURNA. Ketertarikan kita pada sesuatu yang sempurna itu akan membawa kita pada kesempurnaan itu sendiri, serta penyatuan dengan Sang Maha Sempurna. Sikap ini, mendorong kita untuk berusaha menjadi seperti yang "MAHA SEMPURNA". 

Dan itulah tujuan Sang Maha Sempurna untuk membangkitkan makhlukNYA untuk berperilaku sepertiNYA. Refleksi dari meniruNYA, dengan selalu berusaha untuk meniru perilaku para nabi dan wali-waliNYA yang diutus mendidik manusia menjadi yang diinginkanNYA sesuai dengan perintahNYA. 

Persamaan berperilaku dengan apa yang telah dicontohkan para nabi dan para wali Allah itu, adalah ciri dari seorang yang mengaku mencintaiNYA. Apabila kita mengaku mencintai Allah, tentu kita akan mencintai RasulNYA, dan tentu kita akan mencintai WashiNYA, dan pasti kita mencintai para AuliaNYA, kekasihNYA, Mukminin...itulah tingkatan-tingkatannya.

So, anehlah apabila kita mengaku mencintai Allah tetapi tidak mencintai WashiNYA, dan mengaku mencintai RasulNYA tetapi tidak mencintai yang dicintainya, yang kita diperintahkan untuk mencintainya.

Begitu juga apabila kita mencintai WashiNYA (A'imah as) tetapi kita tidak mencintai pengikutnya yang setia (Mukminin). Ini adalah suatu logika yang sangat mudah dipahami. 

Dan bentuk dari kecintaan itu adalah dengan adanya keinginan untuk dapat meniru 'life style' mereka. Sangat tak masuk akal, apabila kita mengaku mencintainya tetapi kita berperilaku yang tidak sesuai dengan gaya hidup mereka? Ini namanya gombal only 'lip service'.

Seorang yang mencintai ingin dilihat dan diperhatikan oleh yang kita cintai, dengan cara berperilaku seperti yang mereka cintai, agar mendapatkan perhatian mereka dan apresiasi dari mereka. Apabila kita berperilaku sebaliknya berarti kita sedang menantang dan ingin dibenci oleh mereka?? 

Mengerjakan apa yang mereka kerjakan dan membenci apa yang mereka benci tentu itulah bentuk kecintaaan yang sesungguhnya

Cinta pun ada tingkatannya, dari yang hanya mencintai kebenaran secara umum, hingga prinsip dari kebenaran itu sendiri. 

Seseorang yang selalu berada pada kebaikan-kebenaran , kita akan menghormatinya dan mencintainya. Terlebih lagi kita akan lebih sangat mencintai & menghormati orang-orang yang selalu mempertahankan prinsip nilai -nilai kebenaran itu dengan harta, jiwa dan raganya. 

Oleh karenanya, kita sangat mencintai para Nabi dan A'imah as seperti Imam Husain as di Karbala, yang mempertahankan ajaran Allah setinggi mungkin, dengan membayar diri dan keluarganya demi terjaganya prinsip kebenaran itu. 

Itulah Islam, yang mempertahankan prinsip-prinsip dasar fitrah manusia yang sesungguhnya, bukan hanya nilai-nilai yang terlihat dipermukaan. 

Semua prinsip dasar itu harus lah terdidik dan datang dari setiap rumah seorang yang mengaku mencintai Allah, para nabi dan WaliNYA. 

Prinsip dasar ini akan sangat berpengaruh pada apa yang terjadi di masyarakat. Misalnya ; seorang yang terdidik baik di rumahnya, akan dapat menciptakan masyarakat yang berpendidikan dan bermoral. 

Maka dari itu, kaum perempuan sebagai pendidik fundamental, haruslah mengajarkan pendidikan dasar yang sesuai dengan keinginan Tuhan, untuk menciptakan masyarakat yang berketuhanan, adil, beradab dan berakhlak mulia. Pendidikan sekolah atau di luar rumah adalah komplimentari dari pendidikan dasar yang telah diajarkan di dalam rumah. 

Seorang anak akan melihat, meniru hal-hal yang pertama di lihat di rumah. Mereka secara fitrah mencari 'role model' dalam segala perbuatannya, dan yang paling pertama di lihatnya, adalah orang tuanya, terutama ibunya. Apabila tidak mendapatkannya dirumah, tentu mereka akan mencarinya di luar rumah. 

Disinilah awal dari ketimpangan, ketidak harmonisan yang akan terjadi di masyarakat. Sehingga ini adalah menjadi kewajiban yang dibebankan kepada orang tua, khususnya, kaum ibu, sebagai anggota dari masyarakat.

Semua itu ada ditangan kita wahai para kaum perempuan yang dimuliakan Allah. Mencintai berarti mendidik diri kearah kesempurnaan yang harmonis nan sejati...

Untuk ingin dicintaiNYA, kita harus melakukan yang DIA cintai, dengan menyerupai diriNYA melalui sifat-sifatNYA yang kita kenal...Jadilah pencinta sejati, bukan 'penggombal sejati... Wallahuallam bi sawab....Allahhuma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum....Adrikna Ya Mahdi

Imam Mahdi v.v the Matrix


Dari blog sebelah....patut disimak & renungkan...tulisan Frank Julian Gelli *)

Dalam naskah ini, saya bermaksud menantang paradigma sekularis Barat yang dominan melihat politik dan agama, atau kepercayaan, sebagai sama-sama eksklusif (saya selanjutnya menamakannya “the Matrix”).

Saya mengemukakan argumen bahwa itu tidak diinginkan oleh manusia dan secara teologi tidaklah niscaya. Untuk menunjukkan itu, saya melakukan penelitian terhadap beberapa halaman utama Injil. Locus classicus (kata yang berasal dari bahasa Latin; locus berarti ‘tempat’) dari pandangan yang salah dan bersifat separatis—firman Tuhan tentang hubungan antara Kaisar dan Tuhan (Matius 12:vv.13-17)—pantas dikritisi.

Suatu perspektif sejarah dikemukakan dengan mempertimbangkan visi-visi tentang sebuah Negara yang adil dalam sejarah Kristen, seperti Kerajaan Romawi Suci dan Persekutuan Suci. Pemikiran dari penulis Rusia bernama Vladimir Solovyew dijadikan referensi. Pemikiran-pemikiran filsafat diungkapkan. Dimensi-dimensi eschatology dan messianis dalam tradisi Kristen dibahas dan relevansinya dengan persoalan vital tersebut diperdebatkan—kebutuhan politik teologi global yang urgen—dianalisis. Akhirnya, saya mengemukakan contoh-contoh mengenai wilayah-wilayah dimana kepentingan-kepentingan umum Islam dan Kristen seharusnya mendorong kita untuk saling memperlakukan satu sama lain sebagai sahabat dan bekerjasama dalam perjuangan besar.

Wacana Pengantar

“The Matrix”, bagi Anda yang bukan penggemar film, adalah judul sebuah film fiksi ilmiah yang mendapat banyak pujian. Pahlawannya, seorang pemuda yang bernama Neo, seorang programer komputer, mulai menerima pesan-pesan misterius dari cyberspace (ruang kerja serba otomatis). Secara bertahap, ia mempelajari kebenaran yang mengejutkan. Realitas bukanlah hal yang terlalu disukainya. Sesungguhnya, realitas sama sekali tidaklah riil. Sebuah program komputer yang berbahaya, universal, dan mudah menyebar telah menggantikan ras manusia. Seluruh persepsi, pemikiran, dan kesan-kesan dari Neo tentang dunia luar sesungguhnya merupakan ilusi-ilusi; rekayasa-rekayasa; dan manipulasi-manipulasi digital. Ia, bersama dengan berjuta-juta dan bermilyar-milyar manusia lain, sesungguhnya terkuburkan dan tersumbat seperti dalam baterai-baterai yang menuju kerangka utama “Matrix” tersebut, yang merakit dan mengendalikan semua kehidupan mentalnya. Di sana, di dalam “Matrix” tersebut, ia bermimpi bahwa ia terbangun, aktif, dan bebas, padahal ia tertidur, pasif, dan diperbudak. Cerita film tersebut pertama-tama tentang terbangunnya Neo dari segala mimpi buruk yang begitu nyata, dan selanjutnya tentang perjuangannya, bersama dengan beberapa teman revolusionernya, untuk melawan “Matrix”tersebut dan pada akhirnya menyelamatkan umat manusia dari cengkeraman sangat kuat program jahat tersebut.

(Sebagian orang mengemukakan bahwa Neo melambangkan seorang Penyelamat seperti Yesus. Untuk sahabat-sahabatku kaum Muslimin, saya kira, saya dapat mengemukakan bahwa Neo sama-sama tampak sebagai figur seperti Mahdi as)

Realitas dan Tuhan

Marilah kita bersikap dengan sangat tegas. Saya ingin mengemukakan kepada Anda bahwa hari ini dunia Barat—apa yang senantiasa disebut, secara terhormat, Christendom (Umat Kristiani)—juga menjalani realitas palsu dan ilusif; sebuah kebohongan. Sebuah kebohongan yang dengan tekun diberi gizi, dikemukakan terus, diperkuat, dan diyakinkan, berulang kali, dengan cara yang keras, oleh media, bahasa wacana publik, para pembentuk opini, dan pastinya oleh setiap orang. Sebuah kebohongan yang dikemukakan dengan sangat sederhana namun sedikit kasar, bahwa Tuhan itu tidaklah relevan. Bahwa Tuhan itu bukanlah apa-apa. Bahwa Tuhan dan kehidupan adalah sama-sama eksklusif. “The Matrix”—bukanlah entitas fantastis yang ditampilkan melalui film tapi sebuah konspirasi aktual, nyaris universal, dan sangat mudah menyebar—telah mengkondisikan pemikiran Barat untuk percaya bahwa Tuhan itu tidak relevan dengan lingkup publik, dengan persoalan-persoalan sosial, moral, ekonomi, dan finansial—persoalan-persoalan yang benar-benar berhubungan dengan jalan dimana manusia hidup.

Tapi bagaimana bisa demikian? Tuhan itu sendiri, sebagai pencipta alam semesta dan realitas, merupakan puncak realitas, Ens Realissimus, menggunakan bahasa teologi skolastik, Tuhan Yang Mahatinggi, Mahatampak. Lantas bagaimana Tuhan dapat disingkirkan dan dikucilkan dari struktur-struktur publik yang membentuk kehidupan normal kita? Apakah hal itu tidak sama dengan menyatakan bahwa realitas itu tidaklah riil/tampak? Bahwa dunia bukanlah apa yang kita jalani? Bahwa umat manusia melakukan sebuah kebohongan?

(Catatan: adalah signifikan dimana Lenin berkata, “Sejauh yang berkenaan dengan Negara, maka agama merupakan urusan pribadi.”)

Seandainya saya ingin mengubah metafora, maka saya ingin mengatakan bahwa “The Matrix”telah merekayasa sebuah paradigma, sepasang kacamata konseptual yang bersifat sangat universal yang telah ditusukkan ke dalam hidung setiap lelaki, wanita, dan anak-anak di Barat. Paradigma itu, lagi-lagi, adalah bahwa agama dan politik ibarat kapur dan keju. Keduanya tidak cocok. Keduanya tidak selaras. Orang-orang yang adakalanya berani untuk menantang paradigma tersebut, dengan memerangi “the Matrix”, seperti Neo, secara ritual dicaci-maki, dilaknat, dan ditolak dengan berbagai julukan seperti ‘fundamentalis’, ‘teokrat’, ‘fanatik agama’, ‘pelaku jihad’, ‘mullah’, dan sebagainya.

Kecil tapi memberi contoh. Konsep European Charter of Fundamental Rights (Piagam Eropa tentang Hak-hak Asasi) yang baru-baru ini dibuat sama sekali tidak menyebutkan ‘Tuhan.’ Bahkan sekali pun tidak. Walaupun adanya permintaan dari Paus, John Paul II, namun nama ‘Tuhan’ dengan sengaja dikeluarkan dari dokumen yang sangat buruk itu.

Tuhan: Yang Mahasempurna

Menentang arogansi, kedengkian, dan penipuan dari “the Matrix”, saya ingin mengungkapkan kata-kata dari Injil. Yang pertama dari sepuluh perintah Tuhan, yang diberikan-Nya kepada Musa as di atas lembaran-lembaran batu di Bukit Sinai, berbunyi:

“Aku adalah Tuhan kamu. Kamu tidak memiliki tuhan-tuhan lain selain Aku.1

Pernyataan ini merupakan sebuah pernyataan absolut. Sebuah pernyataan, perintah, yang tidak mengakui adanya pengecualian-pengecualian. Tidak relatif dan tidak juga komparatif. Tidak pula subjektif. Tidak membiarkan adanya kualifikasi, tidak lebih dan tidak kurang, tidak minus dan tidak plus, tidak ‘kecuali’ atau tidak ‘bergantung.’ Tidak ada pengkondisian kultural atau permainan sulap dari jenis itu. Ia adalah sebuah nilai tanpa syarat, sebuah standar absolut dan objektif yang menyatakan apa yang berbunyi: ‘Aku adalah Tuhan kamu. Kamu tidak memiliki tuhan-tuhan lain selain Aku.’

Hak-hak asasi manusia, demokrasi, persamaan hak, parlemen, partai-partai politik, raja-raja, penguasa-penguasa, presiden-presiden, perdana menteri—seluruh institusi, konsep, dan segala sesuatu yang mungkin baik atau kurang baik atau tidak begitu baik—itu tidaklah mengapa. Bukanlah itu persoalannya. Apa yang menjadi persoalannya adalah bahwa tidak ada satu pun dari semua itu yang absolut. Semua itu merupakan nilai-nilai relatif dan kondisional. Semua itu tergantung pada kondisi-kondisi sejarah, kultur, etnik, dan sosiologi. Walaupun hari ini di dunia Barat semua itu diagungkan—atau saya harus katakan disembah—sebagai kategori-kategori mirip Tuhan —atau sebagai tuhan-tuhan di samping Tuhan Yang Mahaesa—namun semua itu tidaklah demikian. Semua itu tidak memiliki validitas absolut. Tidak demikian halnya dengan Tuhan. Sebab Tuhan adalah Zat yang absolut—Mahasempurna. Karena Zat Yang Mahasempurna itulah, segala sesuatu, setiap orang, setiap nilai, dan setiap diri harus dibuat tunduk dan harus tunduk.(Islam=ketundukan)

Sebuah konsekuensi. Jika Tuhan itu Mahasempurna, Mahatampak, Mahatinggi, dan Puncak Realitas—Tuhan semesta alam—maka tidaklah dikehendaki oleh manusia bahwa Dia tersembunyi dari lingkup publik—tanpa mempedulikan bagaimana kehidupan yang menarik di dalam “the Matrix”, kehidupan di dalam realitas yang salah dan palsu. Lagi pula, kehidupan itu diinginkan oleh Neo, pahlawan yang memimpin perjuangan melawan “the Matrix”, dimana ia harus tetap terbius-hidup dan terpenjara dalam kerangka utama “the Matrix”, yang secara subjektif berbahagia namun secara objektif sangat menyedihkan dan benar-benar diperbudak. Tuhan, Zat yang menggenggam kehidupan dan kematian, Pencipta Yang Mahaperkasa dan Mahatampak, tidak dapat dikucilkan dari kehidupan, politik, jual-beli, perbankan, kesehatan, pendidikan, keluarga, dan dunia nyata dari manusia. Teologi—theo+logos: ilmu tentang Tuhan—merupakan ilmu pengetahuan global. Ia mempengaruhi, mencakupi, dan meliputi seluruh realitas sebab objeknya yang tertinggi, yaitu Tuhan, Sang Realitas Tertinggi, dan Realitas itu sendiri.

Satu Keberatan Teologi yang Utama

Saya kini harus menghadapi keberatan standar untuk jalan yang saya sedang tempuh—bahwa Tuhan tidak dapat dan tidak harus disingkirkan dari lingkup publik.

Dalam Injil menurut Markus 12:13-17, kepada Yesus diajukan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang maknanya telah mengumandang pada abad tersebut dan masih berkumandang hingga hari ini. Pengabar Injil meriwayatkan bahwa para Farisi (Pharisee=sekte Yahudi zaman dahulu yang sangat patuh kepada ajaran Yahudi) dan beberapa pengikut Raja Herod menemui Yesus, dengan berusaha untuk memasang perangkap baginya. Mereka bertanya kepadanya, “Guru, kami tahu Anda benar namun Anda tidak mempedulikan orang; karena Anda tidak memandang kedudukan orang per orang namun dengan sungguh-sungguh mengajarkan jalan Tuhan. Apakah sah untuk membayar pajak kepada Kaisar ataukah tidak sah? Apakah kami harus membayar mereka ataukah tidak harus?” Markus selanjutnya mengatakan bahwa Yesus, karena mengetahui kemunafikan mereka, memberikan jawaban, “Mengapa kalian menguji aku? Berikan aku satu uang logam dan biarlah aku mengamatinya!” Mereka memberinya sebuah uang logam dan ia berkata, “Milik siapa uang ini?” Mereka menjawab, “Milik Kaisar.” Yesus berkata kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” Markus berkata, “Dan mereka merasa kagum dengan peristiwa ini.”

Sesungguhnya musuh-musuh Yesus, yaitu orang-orang munafik, yang sungguh-sungguh tidak peduli terhadap hukum Tuhan, telah berusaha untuk menjebaknya. Itu bukanlah permintaan tulus untuk mendapatkan petunjuk spiritual. Itu adalah sebuah tipu-daya. Seandainya Yesus menjawab, “Ya, sah untuk membayar pajak kepada Kaisar, pemegang otoritas Romawi,” maka berarti mereka akan menjadikannya seorang kolaborator, seorang kafir, seorang Yahudi yang tidak benar, yang bersedia untuk berkhidmat kepada para penguasa asing penyembah berhala yang terkutuk, yaitu para penguasa Romawi. Sebaliknya, seandainya Yesus menjawab, “tidak, itu tidak sah,” maka mereka akan mengabarkan tentang Yesus kepada bangsa Romawi dan menuduh Yesus sebagai seorang pemberontak, seorang revolusioner, seorang penghasut yang mengobarkan kerusuhan untuk menentang negara. Korelasinya, Yesus berarti telah melemahkan misi tertentu dari Tuhannya. Namun, Yesus “menghantam” mereka melalui permainan mereka sendiri. Yesus memberikan jawaban dialektis yang cemerlang, sebuah jawaban cepat, tepat, dan keras yang menimbulkan buah simalakama. “Berikanlah kepada Kaisar—Negara—apa yang menjadi milik Negara, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.”

Keberatan yang Disangkal

Namun perhatikanlah! Apakah jawaban ini tidak memiliki makna? Jawaban ini tidak bermakna, bahkan untuk sesaat, bahwa Kaisar dan Tuhan berada di atas pijakan yang sama, memiliki kedudukan yang sama. Pikirkanlah ini! Dapatkah Yesus, yang ditahbiskan dengan upacara pemberian minyak oleh Tuhan, Pembawa wahyu yang ditunggu-tunggu, Penyelamat bangsa Israel, Sang Penebus yang dijanjikan, telah menyamakan negara dengan Tuhan? Tolong saya! Betapa menggelikannya! Betapa ini sebuah kebohongan! Kebohongan psikologis, spiritual, dan teologis! Tentu saja, Yesus, Sang Putra Manusia—bagi orang-orang Kristen memang Putra Tuhan—mengetahui bahwa Tuhan itu Mahatinggi. Bahwa Tuhan itu Zat yang tertinggi. Bahwa Tuhan itu merupakan Realitas Mutlak. Bahwa Kaisar, negara, bagaimanapun Anda menafsirkannya, adalah lebih rendah dan tunduk kepada Tuhan. Bahwa Yesus, Orang yang ditahbiskan dengan upacara pemberian minyak oleh Tuhan, mustahil memaksudkan sesuatu yang berbeda.

Kekuasaan Kerajaan Tuhan

Tidak menjadi masalah bahwa Yesus berniat untuk membagi realitas menjadi dua kekuasaan yang berbeda, terpisah, dan tidak berhubungan, yaitu spiritual dan duniawi. Walaupun terdapat beberapa perbedaan seremonial dan ritual—pada masa Israel dahulu, sebagai contoh, suatu suku khusus diasingkan untuk tugas-tugas kependetaan, sebagaimana terhadap para pendeta Gereja Kristen sendiri. Perbedaan klasik di antara spiritual dan duniawi tidaklah sama dengan perbedaan modern antara relijius dan sekuler. Perbedaan klasik mengasumsi konsepsi realitas dan konsepsi masyarakat manusia bergantung pada Tuhan, ditentukan oleh Tuhan, diberikan informasi oleh Tuhan, dan diperintah oleh Tuhan.

Dalam hubungan ini, penulis Rusia Vladimir Soloviev telah mengemukakan argumen berupa gagasan tentang sebuah negara Kristen, sebuah gagasan yang kembali pada Kaisar Konstantin, sebagai sebuah gagasan yang merupakan deduksi dari kategori utama Injil Kristen—yaitu gagasan tentang Kerajaan Tuhan. Kerajaan yang demikian, di bumi, akan terdiri dari tiga konsep terkait: Gereja Kristen, Negara Kristen, dan Masyarakat Kristen. Tiga dimensi yang memiliki esensi yang sama: Kerajaan dan kekuasaan kerajaan Tuhan di bumi. Gereja yang mengabdi kepada Tuhan sebagai kebenaran mutlak. Demi kepentingan-Nya, maka gereja melayani umat manusia. Negara dalam lingkup relatifnya melayani dan meratakan keadilan suci Tuhan untuk umat manusia. Masyarakat Kristen, dibantu oleh Gereja dan negara, berusaha untuk membangun dan memenuhi Kerajaan Tuhan melalui lembaga-lembaga solidaritas sosial, yang memfasilitasi realisasi kemerdekaan yang sesungguhnya.

Konklusi

Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa kami semua di Barat yang peduli tentang Tuhan dan kerajaan-Nya di bumi menyampaikan terima kasih yang sangat besar kepada Islam. Terima kasih untuk kehadiran Islam di antara kita hari ini hingga kita mulai bangkit dari tidur kita yang terbius “the Matrix”. Islam membantu kita untuk menemukan kembali fakta bahwa model politik Barat yang kontemporer bukanlah model politik satu-satunya. Bahwa paradigma mutakhir, tidak seperti Ten Commandments (Sepuluh Perintah Tuhan), tidaklah tertulis di atas lembaran-lembaran batu. Demikianlah, sebab Islam mempersembahkan kepada kita model pemahaman politik dan hubungan-hubungan yang berbeda, alternatif, dan hidup, di antara sekuler dan agama, Gereja dan negara, duniawi dan spiritual. Islam menganugerahi kita kebutuhan dan visi yang saya telah perjuangkan: kebutuhan, yaitu kebutuhan mendesak dalam hal politik global dan politik teologi universal. Suatu politik yang diinformasikan oleh teologi, oleh ilmu pengetahuan tentang Zat Yang Absolut, pencipta seluruh realitas—Tuhan. Gagasan tentang Imam Mahdi terutama adalah signifikan. Karena begitu banyak orang Kristen, atau saya harus mengatakan “orang-orang Kristen gadungan”, telah benar-benar berhenti untuk mempercayai “Kedatangan Kedua” Kristus di bumi, maka kaum Muslimin mengingatkan kita tentang figur eschatology yang utama ini, Imam Mahdi, yang akan merealisasikan kekuasaan kebenaran dan keadilan di bumi. Betapa dahsyat ajaran yang memberikan inspirasi ini! Betapa harapan yang besar dan luar biasa! Semoga Islam memberikan inspirasi kepada kita semua untuk melakukan apa yang saya telah kemukakan dalam naskah ini: memerangi “the Matrix”.


*) Frank Julian Gelli adalah pendeta Anglikan di London sekaligus pendiri Arkadash Network for Religions and Cultural Dialogue. Tulisan ini di kutip dan di sarikan dari Buku Pemerintahan Akhir Zaman ( Al Huda, 2005)

Get to know your SELF, Ladies....


Sudah sering kita mendengar, baik itu yang di klaim para orientalis barat ataupun para teolog, yang sesungguhnya datangnya dari Ali bin Abi Thalib as ( sumber utama dari Rasulullah saww ) : "Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya". Kenapa, saya sering dan senang mengutip ini, karena ini adalah hal yang sangat fundamental untuk dapat melaju dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan selamat sampai di tujuan. Tuhan Alam Semesta ini menyuruh kita untuk menyembahNYA, karena tidak ada tujuan kita dilahirkan ke dunia ini, sesungguhnya untuk menyembahNYA. Lalu, bagaimana kita akan menyembahNYA, apabila kita tidak mengenalNYA?Keberadaan kita ini adalah manifestasiNYA di dunia ini, jadi jalan satu-satunya untuk mengenalNYA adalah dengan mengenal diri kita. 

Sebagai seorang muslimah, kita sangat sering menjadi tertuduh mereka yang tidak mengenal ISLAM, dan kaum muslimin yang tidak mengenal dirinya ( otomatis dia tidak mengenal Islam yang sesungguhnya ). Oleh karenanya, setiap muslimah, harus lah mengenal dirinya yang sesungguhnya sehingga dapat mengenal Islam seutuhnya. 

Islam, mendudukan posisi kaum perempuannya begitu tinggi. Para teolog dan ahli irfan sekaliber Imam Khomeini ra ( semoga Allah merahmati ruhnya yang mulia ) sangat menjunjung tinggi kedudukan kaum perempuan. Imam Khomeini ra, sering mengulang-ngulang perkataannya bahwa kedudukan perempuan dalam Islam sama dengan kedudukan para nabi, karena pekerjaan para nabi sesungguhnya adalah sebagai pendidik manusia, dan tugas perempuan yang sesunguhnya pun adalah mendidik anak-anaknya

Dari ibu-ibu yang baik dan taat padaNYA lah lahir manusia-manusia yang terbaik. Dengan pendidikan yang diberikan seorang ibu yang berakhlak mulialah - yang secara konsisten menjaga kesucian dirinya, akan terbentuk bibit-bibit bangsa yang diinginkan Tuhannya, sebuah masyarakat yang berkualitas.

Lihatlah, apa yang terjadi pada masyarakat sekitar kita?? Peran seorang perempuan begitu sangat esensial, oleh karenanya, tugas mereka disejajarkan dengan para nabi. Pernyataan kaum orientalis barat sering tidak konsisten dan tak berdasar akan kedudukan perempuan dalam Islam . Mereka sendiri mengatakan bahwa : 

"Dibalik kesuksesan seorang pria terdapat 'smart woman'". Jelaslah, segala tindak tanduk perempuan sangatlah berpengaruh pada masyarakat dan bangsanya.

Ini adalah panggilan untuk kita semua wahai kaum muslimah....jadilah apa yang dinginkan Allah SWT, kenalilah potensi diri kalian , sebagaimana Islam mengenal potensi kalian. Jadilah seorang pendidik manusia! Dari pangkuan kalianlah manusia-manusia pilihan Allah yang diinginkan masyarakat dan bangsa akan terlahir. 

Never underestimate your self...sebagai yang mereka musuh-musuh Islam inginkan. Dimata Allah kalian sangatlah mulia, so be as HE wants you to be..... Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum...Adrikna ya Mahdi

Just find & follow the BEST...


Sudah menjadi fitrah diri, untuk selalu mencari yang terbaik dan menuju pada yang utama. Apabila diri kita sakit, kita akan mencari obat. Diluar sana banyak sekali ditawarkan obat-obat yang mujarab, tetapi tentu kita akan mencari yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Untuk mengetahui obat mana yang dibutuhkan oleh tubuh kita, tentunya kita akan menanyakan pada ahlinya, dokter yang mengerti akan keluhan tubuh kita. Dokter pun sangat banyak, kita pasti akan mencari yang terbaik dari dokter-dokter yang ada yang ditawarkan pada kita. Sikap yang demikian itu sudah selalu kita praktikan dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita pun akan ragu apabila si dokter itu hanya dapat mengobati sebagian dari penyakit kita, atau penyakit kita tambah parah atau tidak ada perbaikan atau tidak ada penyembuhan sama sekali. Sebagai seorang yang normal kita sungguh mengingkan yang TerBAIK dan memilih harus yang paling BAIK. Jarang, saya mendengar orang senang pada yang sedang-sedang saja, atau yang standard saja. Walaupun tidak mampu pun manusia itu, selalu ingin memilih yang paling baik dalam hidupnya. Fitrah manusia memang selalu berusaha untuk menuju pada kesempurnaan. Menuju pada kesempurnaan itulah sesungguhnya adalah menuju pada yang 'abadi'(ALLAH SWT). Fatal, apabila kita tidak mengenal dan mengetahui jalan ini, karena jalan menujuNYA ini haruslah yang benar-benar dapat menghantarkan kita padaNYA, yaitu jalan 'shiratal mustaqim'. Jalan yang lurus ini haruslah kita kenal dengan baik, untuk dapat sampai padaNYA. Di dunia pun kita akan tersesat apabila kita tidak mengetahui jalan menuju tempat yang diinginkan, akibatnya kita tidak akan sampai pada tempat tujuan tersebut. Nah, begitu juga dengan jalan menuju Allah SWT, kita harus mengetahui dengan baik, agar tidak tersesat dan sampai padaNYA 'dengan selamat'. Sekarang bagaimana, kita mengetahui jalan 'shiratal mustaqim'itu? Dalam kehidupan keseharian kita, kita selalu menggunakan 'map' serta 'kompas' untuk dapat mengetahui jalan menuju suatu tempat. Map yang kita harus gunakan untuk menujuNYA adalah Al Qur'an al Karim, serta kompasnya adalah Nabi Muhammad saww beserta keluarga beliau as yang telah disucikan Allah ( QS 33: 33) . Ini sesuai dengan wasiat Nabi Muhammad saww yang memerintahkan agar umat Islam untuk berpegang teguh kepada 'tsaqalain' ( dua pusaka yang berharga ), yaitu Al-Quran dan keluarga suci Nabi Muhammad saww ( AhlulBayt as ) sebagai satu-satunya jaminan kemurnian ajaran agama Islam ( hadis Tsaqalain - hadis yang mu'tawatir), ini pun sejalan dengan Firman Allah dalam QS. Asyuara : 23 : " Aku tidak meminta upah kepadamu atas seruan itu kecuali mencintai keluargaku " ( ayat Mawadah; Mawadah= cinta dengan ketaatan; di ayat ini tidak disebut 'mahabah' yang artinya hanya cinta saja)
Jadi jalan yang terbaik untuk menuju Allah SWT adalah jalan yang ditunjuk oleh Nabi Muhammad saww. Sebab beliau saww adalah yang paling mengetahui dan mengenal Allah SWT. Dalam wasiat terakhirnya beliau saww, yang sesuai dengan Firman Allah di surat Asyuara ayat 23 tadi, apabila kita tidak ingin tersesat haruslah kita mencintai dan mentaati keluarga Nabi Muhammad saww yang telah ditunjuk dan disucikan Allah SWT seperti dalam firmanNYA di surat Al Azhab ayat 33. Hanya mengikuti yang terbaik dan yang sangat di cintai & dipercaya Allah lah, yang dapat menghantarkan kita padaNYA dengan selamat, Insya Allah....waulahuallam...Allahuma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum.....Adrika ya Mahdi

Have a faith to 'the UNSEEN' is the greatest power of all...


" Kitab (Al Qur'an) itu tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu mereka yang berIMAN kepada yang GHAIB, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah Kami karuniakan kepada mereka" ( QS 2 : 2-3 )

Menarik untuk di teliti tentang ayat diatas, bahwa urutan untuk beriman pada yang 'ghaib' lebih dahulu dari pada mendirikan shalat dan rukun Islam lainnya. Pengertian 'ghaib' disini adalah sesuatu yang tak terlihat, yang tak dapat ditangkap oleh panca indra, tetapi mengandung makna yang sakral atau sesuatu yang 'tinggi' dan 'suci' ( disini, saya tidak ingin menerangkan, karena bukan lah ahlinya, ini hanya pengetahuan sedikit saya untuk mencoba memahami apa yang telah dipelajari )
Ternyata, sebelum kita melaksanakan ibadah wajib kita, yaitu mendirikan shalat, puasa, zakat, haji, kita diwajibkan untuk beriman pada yang GHAIB. Sayangnya, dinegeri ini, pengertian 'ghaib' sering di salah artikan dengan sesuatu yang berbau 'mistis' yang akhirnya menjadikan kabur makna sesungguhnya. Dan yang paling buruk dari itu menjadikannya sesuatu yang 'ghaib' itu menjadi perbuatan 'syirik'.

Dengan kita mengimani Al-Quran dan ayat surat Al Baqarah itu, kitapun mengetahui, bahwa segala bentuk perbuatan yang kita kerjakan selalu dalam pengawasan Sang KHOLIK, dan malaikat akan selalu mencatat dengan rapih dan detail perbuatan kita tersebut. Dan catatan-catatan tersebut setiap dua kali dalam seminggu akan di laporkan pada Imam Zaman atfs. Kita pun mengetahui, bahwa setiap perbuatan baik sekecil apapun akan mendapatkan ganjaran, begitu juga sebaliknya. Keyakinan inilah yang diminta Allah SWT kepada makhlukNYA. Karena dengan meyakini hal-hal tersebut, Insya Allah kita akan selalu dalam keadaan 'sadar', sehingga kemungkinan untuk berbuat yang tidak diinginkan Allah SWT dapat tereliminasi. Dampak dari keyakinan yang benar dan kuat ini akan menghantarkan kita pada tingkat keTAQWAan, dan selalu dalam keadaan 'sabar' dan selalu 'pasrah' akan segala ketetapanNYA (tentunya setelah kita berusaha semaksimal mungkin, sesuai dengan hukum sebab akibat). Inilah yang dimaksud, dengan beriman pada yang 'ghaib', yakin bahwa yang didapatinya sekarang ini adalah yang terbaik yang telah diberikan oleh Rabb nya.
Setelah mendapatkan keyakinan tersebut, Allah pun mewajibkan kita mendirikan shalat. Bayangkan, apabila kita tidak meyakini yang 'ghaib', bagaimana kita dapat mendirikan shalat. Kita shalat untuk Allah, menyembahNYA dengan keyakinan bahwa ALLAH Azzawajala melihat dan menerima ibadah kita. Dan kita diwajibkan selalu dalam keaadaan sadar bahwa kita sedang menyembahNYA. Untuk dapat menyembahNYA, kita tentu harus tahu siapa yang kita sembah? harus kenal siapa DIA? Inilah, keyakinan tingkat tertinggi. Oleh karena itu mengapa ALLAH menyuruh kita meyakini yang 'ghaib' (=mengenal Allah, para RasulNYA, para malaikatNYA dan para ImamNYA) dulu, baru turun pada mengerjakan ibadah-ibadah wajibNYA lainnya. Dasar untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban yang diperintahNYA adalah harus 'kenal' atau 'meyakini' yang 'ghaib' itu ( WAHYU ILLAHI )

Para Nabi, Rasul dan Imam as telah membuktikan pengaruh akan hal itu, juga para pengikutnya yang setia dari zaman dahulu hingga masa kini. Revolusi Islam Iran yang di pimpin oleh seorang ulama alim Ayatullah Khomeini ra yang pada saat itu berusia 79 tahun adalah contoh nyata dari keberhasilan dengan berkeyakinan pada yang ghaib( = keimanan yang kuat akan pertolongan AL HAQ). Beliau ra sama sekali tidak memanggul senjata, untuk menjatuhkan musuhnya yang di dukung oleh sesuatu kekuatan besar dunia ( dilengkapi dengan senjata berteknologi canggih). Dengan keyakinan yang TOTAL pada Rabb nya dan kekuatanNYA yang termanifestasi pada rakyat Iran tersebut, beliau ra berhasil menggulingkan sesuatu kekuatan besar musuh. Begitu juga, rakyat Gaza di Palestina, dengan keyakinan yang kuat akan Rabb nya, dan yakin yang HAQ itu pastilah yang menang, itulah mengapa mereka dapat berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.

Inilah kekuatan dahsyat yang dapat mengalahkan sesuatu yang makhlukNYA menganggap besar (senjata canggih, teknologi modern, negara Adikuasa) padalah tidak ada yang lebih besar dari kekuatan orang-orang yang berkeyakinan pada YANG MAHA BESAR. Dengan keyakinan yang sedemikian kuat itu, mereka dapat bertahan dalam derita, siksaan dan ancaman nyawa melayangpun tak menjadi penghalang, karena senantiasa berpegang teguh pada ajaranNYA, menerima segala keputusanNYA). Semua ini adalah manifestasi dari peristiwa Karbala yang telah dicontohkan oleh penghulu para syuhada al Husain bin Ali as, cucunda tercinta Rasulullah saww yang mulia. Itulah mengapa betapa pentingnya memperingati peristiwa Karbala yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh Allah, karena akan berdampak kekalahan di pihak mereka...Jelaslah musuh takut karena tidak percaya pada yang 'ghaib', mereka hanya percaya bahwa kedudukan dan harta dunia sangatlah berarti dan penting bagi kesejahteraan mereka. Apapun cara untuk mendapatkannya akan dilakukannya, tidak takut akan hukum Allah SWT, karena mereka tidak mempercayainya. Hidup buat mereka adalah hanya di dunia saja, tidak ada hari Pengadilan, tidak ada kehidupan setelah kematian. Padahal di dunia saja sekecil apapun yang kita kerjakan harus dipertanggung jawabkan, dan mereka tahu itu. Mereka hanya percaya dengan apa yang dapat di lihat saja, padahal mereka tahu bahwa ada sesuatu yang tidak dapat dilihat yang dapat mempengaruhi hidup mereka. Angin, misalnya, mereka tahu ada angin tapi tak dapat dilihat. Tetapi Sang KHOLIK- SANG MAHA PENCIPTA, karena tak terlihat dianggap tidak ada dan dapat berbuat sesukanya? Nauzubillah Padahal mereka juga pandai membuat sistem-sistem untuk diterapkan di kantor atau negaranya, agar semua teratur dan siapa yang melanggarnya dan tidak tunduk pada aturannya akan mendapatkan hukuman. Jadi sebetulnya siapa yang akalnya lemah?? Yang tidak mempercayai yang Ghaib atau yang mempercayai yang Ghaib?? Itulah kemenangan yang sesungguhnya, berpegang teguh pada Allah SWT, ajaranNYA, perintahNYA, dan segala keputusanNYA...Allahu Akbar!!! Adrikna ya Mahdi..

In Memorial to our beloved Imam Khomeini ra


Dalam rangka mengenang seorang Alim Agung yang berhasil meruntuhkan simbol kebatilan, saya sebagai pencinta dan pengagum beliau ( semoga ruhnya selalu dirahmatiNYA ) ingin bertabaruk dengan nasihat seorang Ayatullah Khomeini ra kepada anaknya, Sayyid Ahmad Khomeini ra. Nasihat ini adalah salah satu dari nasihat-nasihatnya yang berharga yang kita semua patut merenungkan dan menjalankannya.

" Anakku! Janganlah menghindari tanggung jawab kemanusiaan, yakni melayani Allah dalam bentuk melayani manusia. Setan tidak akan lebih kendur dalam bidang ini dari pada para pegawai dan orang-orang yang menangani urusan masyarakat. Dan jangan berusaha untuk meraih kedudukan, baik itu kedudukan ruhani ataupun duniawi dengan dalih-dalih ingin mendekati pengetahuan Ilahi atau melayani hamba-hamba Allah, karena menaruh perhatian kepada kedudukan semacam itu sendiri adalah bersifat setani, apalagi berjuang memperolehnya. Dengarlah kepada peringatan Allah dengan sepenuh hati dan laluilah arah tersebut : Katakanlah : "Sesungguhnya aku mengajarkan kepada kamu dengan satu ( pengajaran), bahwa kamu berdiri karena Allah berdua-duaan atau sendiri-sendiri.. ( QS Saba:46). Ukuran permulaan perjalanan adalah meninggikan Allah, baik dalam tugas pribadi (perorangan) maupun dalam kegiatan masyarakat; cobalah supaya berhasil dalam langkah pertama ini yang lebih mudah dan lebih banyak dapat dicapai pada saat muda. Janganlah dirimu menjadi tua seperti ayahmu, sehingga engkau akan berjalan di tempat atau bergerak mundur; hal ini menuntut kewaspadaan dan latihan diri. Jika seseorang memiliki atau dia adalah pemilik pengetahuian Ilahi dan zahid di dunia; apapun yang dia raih, sekalipun jika selalu bertasbih, maka dia akan tetap jauh dari Allah"(disadur dari buku the elexir of love hal 239-240)

Subhanallah, seorang Alim , Zahid dan Muwahid seperti Imam Khomeini ra selalu merendah walau sedang menasehati anaknya sendiri. Pesan tersebut dalam rangka mengingatkan kita akan melayani orang di jalan Allah, haruslah hanya untuk Allah. Dengan itu pula beliau ra telah berhasil meruntuhkan simbol-simbol kebatilan dunia hanya dengan keimanan yang teguh, konsisten serta dukungan seluruh rakyatnya. Sebuah revolusi nan agung beliau persembahkan untuk Rabb nya sehingga rakyat Iran & dunia muslim telah mendapatkan manfaatnya... Salam untuk mu ya wali Allah, doakan kami disini untuk dapat sekuat mu.... ayat Al Qur'an tentang kekuatan IMAN yang sempurna untuk melawan segala kebatilan telah engkau buktikan!!! Semoga Allah selalu merahmati mu pada saat engkau disana dan hari kebangkitan nanti....tengoklah kami ya Khomeini....love you sooo much!!! Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad

Ladies....kibarkanlah bendera Islam





Isu-isu diskriminasi yang paling sering diangkat oleh Barat tentang Islam adalah kaum perempuannya. Menurut pandangan mereka, hak serta kebebasan perempuan Islam di pasung sehingga mereka menjadi tidak berkembang. Dan opini ini juga banyak dianut oleh kaum sekuler bahkan yang orang-orang yang mengaku dirinya Islam. Memang isu ini telah sengaja dibuat oleh musuh-musuh Islam dari sejak zaman Bani Umayah. 

Sayangnya, banyak kaum perempuan yang merasa 'minder' sehingga berakhir berperilaku sebaliknya dengan meniru gaya serta perilaku yang musuh inginkan dari kaum perempuan Islam. Kecanggihan upaya musuh dengan pengetahuan nilai Islam kaum perempuan memang tidak sebanding. Bagaimana tidak, setiap saat dari kehidupan kaum perempuan baik itu dirumah maupun di luar rumah terus menerus dibayang-bayangi dengan nilai-nilai musuh yang merusak dari media cetak hingga media elektronik. 

Sementara pengetahuan yang kaum perempuan Islam yang cenderung 'malas membaca' dan lebih suka mendengarkan tentu lebih condong pada media-media elektronik seperti TV, Radio adapun untuk membaca hanya sebatas majalah-majalah yang banyak gambarnya. Disini apabila kita amati, klop sekali apa yang dibutuhkan kaum perempuan itu dengan yang direncanakan musuh. 

Tentu tidak semua media electronik dan media cetak yang dari musuh, disini saya hanya ingin menekankan bahwa dalam pemilihan sesuatu yang akan kita konsumsi pun haruslah dengan 'ilmu pengetahuan'. Apakah itu akan membuat kita lebih baik atau akan menyeret kita kepada jurang pemisah...Ini juga tentu bukan hanya untuk kaum perempuan tetapi juga untuk generasi muda Islam. 

Kedua kaum ini, perempuan dan anak-anak muda adalah sasaran yang sangat 'empuk' bagi musuh Islam untuk dapat menghancurkan Islam ( Din al HAQ ), karena intinya mereka ingin membawa semua manusia ini ke jalan setan. Jalan yang terlihat indah dan menarik untuk di ikuti dan mudah untuk di pahami, dibandingkan jalan Tuhan yang sangat sulit dan membutuhkan energi ekstra untuk memahaminya, mengikutinya, banyak tidak enaknya, banyak larangan-larangan. 

Berbeda dengan jalan musuh yang kita boleh mengerjakan apa saja yang kita sukai, eksplor keinginan diri sampai poll pun tidak ada yang melarang malah itu yang dianjurkan..nauzubillah. Kejelian kita untuk dapat melihat mana yang hak & batil memang diperlukan banyak usaha ekstra. Tetapi Tuhan sesungguhnya telah mengirimkan para utusanNYA kedunia ini untuk dijadikan 'figur teladan' bagi siapa yang menginginkan SELAMAT sampai ditujuan. 

Mengapa sasaran musuh adalah kaum perempuan, itu dikarenakan perempuan yang akan melahirkan generasi-generasi penerus. Seorang ibu adalah pendidik fundamental untuk anak-anaknya, dan seorang istri untuk suaminya.

Nilai-nilai apapun yang dianut oleh seorang perempuan akan sangat berdampak untuk sekitarnya, karena dia adalah pencetak para generasi bangsa, dan pengayom suaminya
. Jadi untuk musuh, jelas sekali untuk dapat merusak suatu bangsa/kaum/agama melalui perempuannya


Oleh karenanya, Allah memang sudah menentukan 'hukum syariat' yang jelas dalam kitab suciNYA, untuk melindungi kaum perempuan ini serta bagaimana Allah SWT memuliakan kaum perempuan. 

Hijab adalah pelindung kaum perempuan untuk selalu dalam keadaan yang diinginkan Tuhannya, suci dan terjaga. Sesuatu yang berharga pasti tidak akan di pamer-pamerkan bukan?? Nilai yang fundamental ini pun terkadang menjadi suatu obstakel untuk yang tidak mengetahui. Apakah dengan berhijab kaum perempuan tidak dapat berkarya, berpendidikan atau bersosialisasi??

Sungguh aneh kaum sekuler yang mengagung-agungkan persamaan hak perempuan & laki-laki, pada saat yang sama mereka tidak merasa terhina apabila kaum perempuan di perdagangkan serta dipertontonkan untuk memuaskan nafsu lawan jenisnya?? Mengapa mereka tidak ada yang protes dengan pelecehan-pelecehan yang demikian. 

Terlihat tidak ada konsistensi dalam pengklaiman mereka akan persamaan hak dimana mereka selalu membandingkan sesuatu seperti 'appel to appel'.
Barat yang beragamapun seharusnya berfikir, figur teladan mereka 'bunda Maria', sayidah Mariam as itu sendiri selalu menjaga kesuciannya dan beliau as menggunakan hijab. 

Mengapa sebagai yang mengakui Sayidah Mariam as yang suci, mereka tidak mengikuti cara beliau as dalam hal berpenampilan dengan menutup auratnya?? dan merasa aneh serta prejudis terhadap perempuan-perempuan Islam yang berhijab?? Karena pada agama Ibrahimik, yang sumbernya dari ALLAH SWT, yang mempunyai syari'at yang sama, Islam terus menyempurnakan agama Ibrahimik itu, diantaranya dengan mensyariatkan hijab sebagai hal yang wajib. 

Sama seperti kita yang mengaku pengikut nabi Muhammad saww dan mengaku mencintai beliau saaw, tetapi tidak mengikuti sunahnya beliau saww. 

Sangatlah tidak sejalan, disatu pihak kita klaim cinta, dipihak lain kita tidak ingin seperti yang kita cintai??

Adapun perempuan-perempuan mulia yang telah dicatat dalam sejarah yang menyumbangkan seluruh hidupnya untuk Islam dan berakhir dengan mereguk syahadah, demi berkibarnya bendera Islam di muka bumi ini dan bangkit untuk melawan musuh-musuh Islam, yang harus kita teladani, seperti :

1. Sumayah ra, perempuan Islam pertama yang dengan keyakinan serta keimanan yang kuat terhadap Islam terbunuh tragis pada zaman permulaan Islam dan menjadi syahadah pertama.

2. Sayidah Khadijah as, istri tercinta Rasul saww yang berkorban untuk Islam dengan harta, jiwa dan raganya dan meninggal setelah di kucilkan di Syiib Abi Thalib selama 3 tahun

3. Sayidah Fatimah Az Zahra as , yang bangkit pada saat kepemimpinan dalam Islam telah dirubah dengan sistem yang dibuat oleh manusia. Dan nilai-nilai Islam mulai banyak yang dirubah.Rumah beliau as dibakar selagi beliau as ada di dalamnya karena beliau as menentang keputusan sepihak. Tidak lama setelah kejadian itu, beliau as mereguk syahadah dalam keadaan sakit yang menyebabkan beliau as keguguran dan tulung rusuk beliau as patah.

4. Sayidah Zaenab as, bangkit dan terus menerus menyerukan tentang kejadian sesungguhnya yang ada di Karbala, yang pada saat itu musuh Islam berupaya untuk melenyapkannya.Kita semua tahu bagaimana beliau as bertahan dalam perjalannya selama di tawan tentara Yazid.
Apabila kita cermati peran perempuan dalam Islam sangatlah berpengaruh serta sangat menentukan. Mereka tidak hanya berani tetapi juga berpengetahuan dan sangat memahami inti sari dari agama Islam yang diyakininya. 

Peran Kepemimpinan dalam Islam sangatlah essensial, mereka bangkit dan siap berkorban dengan harta, jiwa & raganya demi menjalankan perintah agama ( bukan hanya melakukan shalat, puasa , zakat dan lainnya). Mereka bangkit karena membela Imam Zamannya pasca wafatnya Rasulullah saaw. Perhatikanlah, Sumayah - taat pada Imam nya yaitu Nabi Muhammad saaw; sayidah Khadijah as pun demikian, bukan hanya sekedar Nabi Muhammad saaw itu suaminya tetapi beliau as paham siapa Imam beliau as pada saaat itu. Sayidah Fatimah as bangkit untuk mengingatkan umat Islam, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Pemimpin pengganti Rasulullah setelah diangkat di Gadhir Khum atas kehendak Allah SWT, mereka pun telah mengetahui itu. 

Itu karenanya beliau as bangkit, bukan karena Ali as sebagai suaminya tetapi Ali as disitu sebagai Imam beliau as. Juga Sayidah Zaenab as, membela, melindungi dan mengorbankan jiwa dan raganya untuk Imam pada zamannya yaitu Husein bin Ali as, bukan hanya karena beliau as adalah kakaknya.

Mereka semua adalah pejuang-pejuang Islam dengan pengetahuan yang maksimal akan agama yang dianutnya, diyakininya. Mengetahui fungsi Kepemimpinan ( Imamah ) dalam Islam. Mereka tahu persis apa yang harus dikerjakannya sebagai perempuan dan umat Muhammad saaw. Mentaati dan membela Islam yang dipimpin oleh seorang Imam di zamannya. Itu adalah hak Imam kita, dan kewajiban kita sebagai umat Islam. 

Apakah kita sudah menyiapkan diri kita untuk mentaati, berkorban dan membantu Imam Zaman atfs???? So, bangkitlah kaum perempuan Islam, kibarkan bendera Islam dengan memperbaiki diri sesuai ajaranNYA dan lawan musuh-musuh Islam dengan memperkuat keyakinan. Kenalilah tipu daya musuh yang dapat menjerumuskan kita. Sekali lagi persenjatailah diri kita dengan IMAN yang kuat dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menyempurnakan keyakinan kita. 

Musuh kita akan takut dan tidak akan berani mengganggu lagi. Jadikanlah perempuan-perempuan mulia diatas tadi sebagai figur-figur teladan kita. Contohlah mereka as, ikuti sepak terjang mereka as. Sehingga tuduhan-tuduhan dunia Barat & Sekuler tidak lagi berlaku. Be proud of Islam!!! Kibarkan bendera Islam dengan ketaatan!!Jangan pernah jadikan kaum sekuler itu sebagai panutan, sungguh tak dapat dibandingkan??? Berjuanglah untuk menegakkan agama Allah

...Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad.... Adrikna ya Mahdi....