
Terlalu sering saya mendengar pernyataan-pernyataan di sekitar kita, yang sesungguhnya hanya ingin membenarkan hasrat keinginannya untuk tetap tidak menjalankan peraturan yang telah ditetapkan. Memang telah menjadi fitrah manusia, untuk menghamba pada hawa nafsunya dan membela diri untuk membenarkan apa yang di yakininya menurut pandangannya. Untuk itulah para Nabi dan Wali Allah SWT datang diutus ke bumi ini. Adapun peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta itu untuk menjaga keharmonisan manusia agar dapat hidup selaras dengan alam sekitarnya.
Manusia sendiri pun membuat peraturan-peraturan untuk dapat hidup aman dan tentram, sehingga tatanan masyarakat terlahir masyarakat yang sehat dan bermoral. Untuk masalah ini, mereka setuju dan sangat patuh pada peraturan yang ada. Dan, apabila banyak yang melanggar, terjadilah kerusakan tatanan tadi, contoh peraturan lalu lintas yang sering kita saksikan setiap hari. Rambu-rambu lalu lintas, apabila tidak ada atau dilanggar, sudah terbayangkan apa yang terjadi. Semua ingin lebih dulu, tidak ada yang mau mengalah dan saling menyalahkan. Kita sangat sadar, apabila tatanan itu dirusak, maka rusak pulalah rasa tentram dan aman yang telah direncanakan oleh pencipta peraturan.
Formula ini pun, kita jalankan untuk menjalankan peraturan-peraturan Tuhan yang tertulis di Kitab suciNYA. Allah Sang Kholik, Sang Pencipta, Pengatur seluruh Alam Semesta ini sangat tahu sedetail-detailnya akan kebutuhan makhluk-makhlukNYA, dan cara mengatur alam semesta ini agar terjadi keharmonisan serta keamanan di bumiNYA.
Bagaimana tidak, daun yang jatuhpun Allah mengetahuiNYA, karena DIA lah yang memegang kunci-kunci dari rahasia-rahasia yang GHAIB ( QS 6 : 59 ). Dengan itu pula ALLAH sang KHOLIK sangat berhak untuk menentukan dan memerintahkan makhluk-makhluk untuk tunduk dan patuh padaNYA. Untuk menjaga peraturan-peraturanNYA itu yang terdapat di dalam kitab suciNYA dan mengawasi peraturan-peraturanNYA tersebut, Allah pasti mengandalkan makhluk-makhluk terpilihNYA untuk dijadikan sebagai WaliNYA di muka bumi ini. Wali-wali pilihanNYA yang ditunjuk sendiri oleh DIRINYA itu pasti sangat kompeten dan kredibel untuk mengetahui segala macam persoalan yang ada, dan yang pasti akan terjadi di bumi ini. Dan mereka itu karena pilihanNYA berarti harus mempunyai sifat-sifatNYA, seperti sempurna & suci dari segala kotoran dosa dan kesalahan ( QS 33:33), karena apabila pilihNYA itu pernah berbuat dosa, bagaimana kita dapat mengikuti mereka.Siapapun tidak ingin mempunyai pemimpin yang sama atau lebih rendah darinya. Jadi jelas, mereka para utusanNYA haruslah berbeda dari kita dan mereka lah manifestasiNYA di bumi ini. Mereka-mereka itu lah para nabi dan waliNYA. Dan selama bumi ini masih ada, Allah SWT tidak mungkin meninggalkan makhlukNYA tanpa pemimpin. Bayangkan lagi, apabila di dalam suatu perusahaan atau negara tanpa pemimpin, maka sudah kita ketahui apa yang akan terjadi. Jangankan manusia, binatangpun, seperti burung apabila bermigrasi, selalu ada pemimpinnya di depan yang memimpin pasukannya; semut, ikan salmon, lebah, kuda, semua selalu terlihat beriringan dengan pemimpin di depannya. Allah SWT lebih peduli dari pada para petinggi negara atau pemimpin perusahaan, bahkan lebih peduli dan sayang dari pada seorang ibu pada anaknya. Allah dengan IlmuNYA yang MAHA MENGETAHUI tentu akan memilih manusia-manusia pilihanNYA yang diperlukan di bumi ini( QS 6: 124).
Di zaman sekarang ini, dimana manusia mengaku dirinya telah 'beradab', tidak ingin diatur, ingin bebas, tetapi sangat menuntut keamanan dan ketertiban umum?? Lihatlah, betapa kontradiksinya manusia 'civilized' ini. Nilai kebebasan dan demokrasi lah yang di usung tinggi tetapi pada saat yang sama, tidak ingin 'ribet' dengan aturan-aturan yang tidak sesuai dengan dirinya, sehingga mereka selalu membuat baru peraturan-peraturan yang hanya sesuai untuk diri mereka sendiri dan kelompoknya?? Inilah penyakit masyarakat di zaman ini!!! Apabila kebebasannya terganggu ( yakni dia tidak dapat mengerjakan sesuai dengan keinginan nafsunya sendiri, tidak peduli akan kepentingan umum ), maka mereka akan marah sehingga menjadi merasa terancam dan akan balas mengancam. Sungguh absurd, dengan perilaku mereka yang demikian, mereka merasa dirinya 'beradab'??? Bukankah, manusia beradab itu yang akan mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku dengan kesadaran sendiri dan pengetahuannya, tanpa pemaksaan??
Entah mengapa pula, karena merasa dirinya 'civilized', agama dan yang berhubungan dengan Tuhan itu mereka jadikan sampingan apabila dibutuhkan saja. Sehingga mereka merasa tabu untuk memegang suatu agama ( karena bertentangan dengan 'nilai kebebasan' yang di anut ), dan apabila perlu, mereka mencari sesuatu yang 'ringan' yang tidak terlalu terpaku pada peraturan yang baku, seperti 'Budha', yoga, ayuverdic dsb, yang sedikit berbau mistik dan berkesan spiritual dan ada nilai-nilai ideologinya. Pengikut agama samawi pun terpengaruh oleh mereka, sehingga menjadikan agamanya hanya untuk upacara-upacara sakral saja. Intinya, manusia beragama pun, hanya ingin menjalankan kehidupan ini yang sesuai dengan keinginan hawa nafsunya saja, tidak mau yang banyak peraturan. Apabila maupun, dia akan mengikuti yang sesuai dengan keinginannya dia saja. Apabila, melihat gejala ini, sepertinya mereka sungguh meremehkan Tuhan yang telah mengutus para nabi-nabiNYA yang berjumlah ratusan ribu itu untuk memberitakan pesan-pesan Tuhan yang sesungguhnya untuk kebaikan dari pada manusia itu sendiri. Nilai-nilai agama suci pun memudar sesuai dengan keinginan manusia. Sungguh, mereka tahu persis bahwa TUHAN itu MAHA MENGETAHUI, dan akan ada hari PENGADILAN- hari KIAMAT, dan dia tidak akan hidup selamanya.Lucunya lagi, mereka sering beragumen untuk membenarkan ketidak taatannya pada kitab suciNYA. Contoh klasik, masalah 'jilbab', tidak perlu di zaman sekarang berjilbab, yang penting hatinya, kan kita juga ingat Allah, dengan mengerjakan shalat, puasa , zakat bahkan haji. Allah kan hanya melihat hati kita, lalu mereka menuduh para pemakai jilbab yang belum paham dijadikan sebagai alasan untuk menguatkan argumennya. Allah memang melihat hati kita, tetapi tanda-tanda diri kita ini tunduk dan taat padaNYA HARUS dengan zahir kita. Karena, apabila batin kita tunduk & taat maka secara otomatis lahirpun(zahir) kita pun akan taat & tunduk pada perintahNYA. Ketaatan batin akan diikuti dengan ketaatan lahir( zahir). Gerakan hati akan terefleksi dengan perbuatan yang sesuai dengan hatinya. Kasus lain, masalah shalat, tak perlu yang penting hati selalu ingat padaNYA, dan yang lebih penting saya tidak pernah berbuat buruk dan selalu menolong orang, serta tidak pernah menzalimi orang. Sesungguhnya, dia sedang mezalimi dirinya sendiri dengan melalaikan perintahNYA, dia peduli pada orang lain tetapi lupa pada dirinya sendiri, dan dirinya lah yang perlu pertolongan. Apabila prinsip itu benar, buat apa para nabi yang suci dan shaleh masih harus tiap hari shalat bahkan bangun malam untuk shalat?? Tatanan dunia memang sudah kacau balau....karena mereka tidak percaya, apalagi mengenal baik sesuatu yang GHAIB - Allah SWT Sang Kholik Pencipta Alam Semesta dan tidak mengakui pemimpin-pemimpin pilihanNYA, sehingga karena Allah SWT tidak terlihat , mereka bebas melakukan apapun tanpa ingat bahwa akan ada hari PEMBALASAN- pada hari kiamat nanti, dan lupa bahwa mereka tidak dapat menghindar dari KEMATIAN. Secanggih-canggihnya zaman, pasti akan datang padanya kematian, yang dapat menolong dirinya hanyalah dirinya sendiri, suami, istri tercinta hanya mengantarkan sampai di kubur setelah itu mereka pun tidak lagi peduli pada kita. Bekal harta dan segala perniknya pun, hanya untuk mereka yang ditinggalkan. So, apakah akan ada yang datang menolong diantara mereka orang-orang tercinta kita, yang ada mereka akan menjadi beban kita, karena kita harus mempertanggung jawabkan mengapa kita memiliki barang-barang tersebut. Penyesalan tidak pernah datang terlebih dahulu, memang, oleh karena itu perhitungkanlah semua dari sekarang, selama masih diberi kekuatan untuk dapat hidup di bumiNYA. Menabunglah, seperti kita menabung di dunia ini, untuk bekal nanti....be smart in everything....Wallahualam bishawab...Shalawat ala Muhammad wa aali Muhamammad wa ajil farajahum....Adrikna ya Mahdi..
No comments:
Post a Comment