
Terkadang, kita kagum pada seorang yang dapat mengerjakan sesuatu yang kita tak pernah membayangkan diri kita dapat mengerjakannya. Tetapi, tahukah anda, bahwa itu hanyalah masalah kebiasaan, sehingga akan menjadikan hal tersebut bagian dari dirinya. Sangatlah berbeda, apabila kita hanya mengetahui sesuatu, tetapi kita tidak pernah melakukannya, dan itu hanya menjadikan hal tersebut pengetahuan umum diri saja. Pernahkah, anda dalam keadaan yang sedang terdesak, sehingga anda harus melakukannya walaupun dengan terpaksa, tetapi akhirnya anda berhasil mengerjakannya. Seperti anda yang tidak pernah bangun malam, tetapi karena hobby anda menonton acara tertentu atau sepak bola dunia misalnya, anda akan dengan memaksakan diri anda untuk bangun, sehingga keinginan anda untuk menonton tercapai. Tetapi, bila itu bukan sesuatu yang anda inginkan, maka anda tidak akan memaksakan diri untuk berbuat sesuatu itu, sehingga anda hanya sekedar mengetahui saja.
Sesungguhnya ini adalah hukum alam, bahwa anda akan mengerjakan sesuatu itu apabila anda menginginkan sesuatu untuk dapat memenuhi kebutuhan anda, ada suatu dorongan yang membuat diri anda bergerak, bangkit untuk memenuhi kebutuhan anda yang anggap sebagai prioritas hidup anda.
Jadi, untuk menjadikan sesuatu itu terbiasa sehingga hal itu menjadi bagian dari diri kita, pertama, kita harus berbuat untuk mengerjakan sesuatu itu dan menjadikan sesuatu itu suatu prioritas dalam hidup kita. Seperti orang yang mengaku beragama, dia tahu sekali bahwa dia, di haruskan untuk mengerjakan sembahyang untuk mengingat pada Sang Kholik, sebagai tanda syukur. Dia pun tahu ada syarat-syaratnya untuk mengerjakan sembahyang tersebut. Disini, dia harus menentukan pilihannya, apakah sembahyang itu dianggap sebagai prioritas atau hanya sesuatu yang untuk diketahui saja. Sikap orang tersebut terhadap sesuatu itu akan selaras dengan kebutuhan dan prioritas hidupnya. Dan sikapnya terhadap sesuatu itulah yang akan menjadikan dirinya seperti itu. Inilah , yang akan membentuk karakter seseorang. Karena dengan terus menerus mengerjakan yang dia kerjakan itu, hal tersebut akan menjadi bagian dari dirinya.
Oleh karena itu, terdapat perbedaan apabila seseorang itu hanya sekedar mengkaji ilmu dan menambah ilmu dengan seseorang yang mengamalkan ilmunya yang dia telah ketahui. Seperti,misalnya, seorang meraih gelar Arsitek tetapi tidak pernah membuat rumah, dengan seorang tukang bangunan yang pekerjaan sehari-harinya membangun rumah.
Kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa untuk menjadikan sesuatu itu melekat dan menjadi bagian dari kita, haruslah dengan ilmu dan pengamalan. Apabila hanya salah satu saja, tidak akan sempurna, sehingga kita tidak menjadikan sesuatu itu bagian dalam diri kita. Karena, tujuan hakikat diri kita ini adalah menuju kesempurnaan, apabila masih setengah jadi, berarti belum jadi....( ingat perumpamaan kupu-kupu dan kepompong ). Itulah proses pembentukan karakter diri...Diri kita adalah akumulasi pengamalan dan pengetahuan selama kita hidup. Ya, kita semua berjalan menuju kesempurnaan....kenalilah diri kita sebaik-baiknya....sehingga kita dapat berjalan selamat menuju kesempurnaan. Untuk itu kita sebaiknya mengetahui krikil-krikil yang dapat menghambat jalan tersebut. Krikil-krikil itu tak lain, salah satunya adalah 'nafsu' diri ... yang sangat menjebak. Oleh karenanya Be aware with them !!! and be what you have to BE....wallahualam bishawab...Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum....Adrikna ya Mahdi!!!
No comments:
Post a Comment