Fasting - Physical Healing


It is quoted from the Prophet of Islam to have said: “Fast, you’ll be healthy”. An Egyptian pyramid inscription in 3800B.C also reads: “Humans live on one-quarter of what they eat; on the three-quarters live their doctor!”

The three fathers of Western Medicine; (Hippocrates, Galen & Paracelsus) prescribed fasting as the greatest remedy and the physician within.

Life Magazine in its September 1996 issue considered fasting: the healing revolution.

There are more than 500 medical journal articles available on therapeutic fasting on the internet. The outstanding physicians named fasting as being; the medicine for the 21st century. They believe the human body is designed to heal itself, if only given the opportunity. Dr. Otto Buchinger; Germany’s great fasting therapist after more than 100,000 fasting cures says: “Fasting is, without doubt, the most effective biological method of treatment.. it is the operation without surgery… it is a cure involving exudation, redirection, loosening up and purified relaxation.”

He furthers therapeutically; fasting cures many of our modern illnesses, including the following: allergies, cardiovascular disease, chronic diseases of the digestive system, degenerative and painfully inflammatory illnesses of the joints, myriad disturbances in one`s eating behavior, glaucoma, initial malfunction of the kidneys, tension and migraine headaches, as well as skin diseases. Preventively, it`s designed to cleanse, and to regenerate, and restore a person`s sense of well-being, in body, mind and soul. As Doctor Buchinger would conclude: "When the body fasts, the soul is hungry; when the body becomes lighter, the soul also craves relief."

Dr. Joel Fuhrman in Fasting and Eating for Health notes: “Fasting has been repeatedly observed to alleviate neuroses, anxiety and depression.”

Fasting marvelously decomposes and burns all the cells and tissue that are aged, damaged, diseased, weakened or dead, a process called in medicine autolyze or self-digest or detoxification.

Michael Rosenbaum, M.D., Director of the California-based Orthomolecular Health Medicine Medical Society, notes on the significance of fasting as a detoxification program: "The hidden cause of many chronic pains, diseases and illnesses may be invisible toxins, chemicals, heavy metals and parasites that invade our bodies . . .Chances are slim that your doctor will tell you that toxins may be the root cause of your health problems. He or she may not even know about how these toxins are affecting your body . . . As your cells go, so goes your health. If your cells have been invaded by toxins and dangerous chemicals, your resistance to disease is diminished. Clean and nourish your cells, and you`re on the road to better health."

When by fasting you stop the input of nutrition for a while, then a flurry of cleansing starts up, the rugs are lifted and the dirty dishes are brought out of the cabinet where they were stashed. Cleansing begins in earnest. 


Source: Fasting - A Body/Mind/Spirit Healing, by Sheikh Mansour Leghaei

Imam Al-Mahdi, the promised Saviour


The belief in the Mahdi is not only an essential doctrine deep-rooted in Islamic faith but rather it is an embodiment of human nature regardless of one’s religious affiliations. For it is the universal desire of humans as a whole to try to achieve or at least witness the realisation of the ultimate objective of their existence, through which they will achieve perfection and social happiness in their entirety. Therefore by reason of inner necessity and inspiration, humans will see a day when society will be replete with justice.
More importantly, from a religious perspective the concept of the Mahdi is the culmination of human struggle in their path towards God the Almighty. It is when true Justice will be established through human hands but with Divine succour resulting in the prevalence of truth over falsehood and all its offshoots.
Certainly those fortunate and blessed individuals who will take part in this grand culmination of servitude, which will result in the prevalence of Truth over all forms of falsehood will be those whose conviction in the Mahdi and the promised day is resolute.
We therefore have to be mindful of what we do and should endeavour in making our souls pure by nourishing them with the Divine light thus making our souls the abode for Allah and his beloved angels. Spiritual perfection should be our goal and if there is any doubt as to whether the Imam is aware of our acts and is overlooking the welfare of his followers, a saying by the Imam should suffice;
‘We have not ignored your consideration, and have not forgotten your mention; otherwise hardship would have descended upon you and your enemies would have exterminated you.’ [Bihar Al-Anwaar, Ch. 53, Pg. 175]
The Imam is therefore watching over our affairs and is patiently awaiting our response to his call. The matter regarding the return of the Imam is not one simply related to awaiting a time frame chosen by the Almighty Allah, rather in accordance to the narration from the Prophet (SAW), it has a direct relationship with our own actions, as he says;
"The best of actions is awaiting Al-Faraj (the return) "
(source AIM Islam posted 1st July 2012)

TANGGUNG JAWAB KITA DI HADAPAN IMAM MAHDI (Atfs)


 Oleh : Ayatullah Nashir Makarim Syirazi

Bertentangan dengan apa yang digambarkan oleh musuh bahwa kepercayaan Imam Mahdi adalah kepercayaan khusus kaum Syi’ah, semua muslim percaya bahwa seseorang dari keturunan Nabi Muhammad saw akan memenuhi bumi dengan keadilan dan persamaan setelah sebelumnya ia dipenuhi dengan ketidakadilan dan tirani. Satunya-satunya perbedaan atas kepercayaan Mahdisme dalam teologi Syi’ah dan Sunni adalah bahwa Syi’ah percaya bahwa Imam Mahdi telah lahir dan berada dalam kegaiban, sementara Sunni percaya bahwa dia akan lahir menjelang hari akhir. Tentu saja, ada minoritas ulama Sunni yang memiliki kepercayaan sama dengan Syi’ah dalam masalah ini.

Ada banyak riwayat dalam sumber-sumber Sunni yang mengatakan bahwa siapa saja yang tidak mengenal Imam zamannya, maka matinya mati jahiliah. Allamah Amini telah mengumpulkan riwayat ini dari berbagai rantai periwayatan Sunni. Sekarang saatnya untuk menjawab pertanyaan ini. Jika tidak mengenal Imam zaman kita menyebabkan suatu masalah besar, yaitu kejahilan, bagi kita, apakah dia termasuk salah satu pemimpin saat ini di Libya, Irak, Yaman, dan lain-lain? Kelompok Sunni tidak punya jawaban atas pertanyaan ini. Jika mereka ingin riwayat ini dari jalur mereka terdengar logis, semestinya mereka percaya pada seseorang selain dari para pemimpin tersebut, yakni mereka harus percaya kepada keyakinan Syi’ah tentang Imam Mahdi.

Kegaiban Artinya Tidak Sadar Bukan Gaib

Adalah suatu kehormatan bagi para pengikut Ahlulbait bahwa keyakinan pada Imam Mahdi bersifat rasional, dapat dibuktikan secara akal, dan memiliki bukti yang jelas dan konklusif. Berdasarkan riwayat ini, seorang Imam zaman hadir di tengah-tengah kita, namun dia dalam kegaiban. Kegaiban bukan berarti bahwa ia tidak terlihat, tetapi artinya bahwa kita tidak menyadari dan tidak mengenal dia.

Selain Doa, Mempersiapkan Kehadirannya adalah Tugas Terpenting

Menurut saya, yang penting dalam periode ini adalah apa tanggung jawab kita di hadapan Tuan kita. Cukupkah kita menantikannya dengan sekadar membaca doa Nudbah pada hari Jumat dan memperingati kelahirannya pada pertengahan Sya'ban dan tidak mengingatnya pada hari-hari selanjutnya? Beberapa ulama telah membuat daftar tugas dan kewajiban kita selama periode kegaibannya seperti membaca doa Faraj (Allahumma kun…), membayar sedekah demi keselamatannya, bersedih karena berpisah darinya, dan bertawasul kepadanya. Namun, menurut saya, tugas kita yang jauh lebih besar dari semua ini adalah kita harus mempersiapkan dunia demi kehadirannya.

Saya ingin memberikan contoh tentang hal ini, yakni mempersiapkan dunia demi kemunculannya. Beberapa tahun sebelum revolusi Islam Iran, para ulama, mahasiswa, penulis dan yang lainnya bergandeng tangan dan memberontak terhadap rezim tiranik. Jika proses ini tidak terjadi, tidak akan ada revolusi. Demikian juga, saat ini tugas kita adalah mempersiapkan dan merencanakan kemunculan Imam. Dengan bersandar pada al-Anbiya (21):105 yang berbunyi, Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh, kita harus membentuk benih unggulan bagi revolusi Imam Mahdi. Ini berarti bahwa sekelompok hamba Allah yang saleh akan berdiri di belakang Imam Mahdi dan dengan bantuan ilahi melangsungkan revolusi universal.

Sekarang, kita harus melihat siapakah yang dimaksud dengan orang-orang saleh ini. Hamba-hamba yang saleh itu termasuk orang di tengah-tengah kita dan mereka yang mengasosiasikan dirinya dengan Imam Mahdi. Karena itu, kita harus memperbaiki dan membangun keyakinan kita, melupakan [dan meninggalkan] perilaku tidak bermoral, bertobat atas dosa-dosa, serta mencapai kesadaran dan pengetahuan tentang Imam. Kita harus mengenalinya sebagai pemimpin sempurna dan siap berkorban apapun dalam misinya.

Menunggu (Intizhar) Berarti Melawan Kefasadan dan Pembusukan Sosial

Langkah selanjutnya adalah berusaha membangun masyarakat, karena jika ada suap dan riba dalam pengelolaan [masyarakat], penjualan di bawah harga normal, penipuan, dan pemakaian hijab buruk (di kalangan perempuan), persiapan-persiapan tidak dapat dilakukan dengan kontaminasi-kontaminasi ini. Menunggu artinya melawan kontaminasi ini. Kita harus melakukan sesuatu yang akan memunculkan benih revolusi dan hamba-hamba Allah yang saleh yang merupakan para pewaris bumi.

Sementara berdoa [demi kemunculannya] dan menangisi [karena perpisahan dengannya], seharusnya kita pun tidak lalai dari tugas utama kita. Sementara mengucapkan salam ziarah [kepada para maksum ketika kita menziarahi mereka], kita memohon kepada Tuhan agar menjadikan kita sebagai pengikut sejati mereka. Ini berarti bahwa pertama-tama kita harus seratus persen mematuhi perintah para Imam kita dan tidak melanggar perintah-perintah tersebut. Kedua, kita harus mengikuti langkah-langkah mereka .. kita harus memiliki kesalehan dan pengendalian diri, membantu kaum fakir, dan menolong para pemuda yang ingin menikah (tetapi kurang biaya). Kerja para Imam kita adalah bahwa mereka menghilangkan kesulitan dari kehidupan masyarakat dan memecahkan masalah mereka. Apakah kita sudah seperti ini?


Wilayah Harus Mencerahkan Seluruh Wujud Kita

Saya mewasiatkan kepada para pemuda, khususnya agar memastikan bahwa di samping menangis, berdoa, dan menahan rasa sakit karena perpisahan, kita juga harus merencanakan dan mempersiapkan kemunculan beliau, atau jika tidak, kehadirannya akan ditunda. Kita membaca dalam Ziarah al-Jami'ah bahwa berpihak pada wilayah (Ahlulbait) akan memiliki empat efek: mengoreksi karakter kita, menjauhkan sifat jelek dari kita, bertobat dari dosa-dosa, dan membersihkan jiwa kita.

Siapakah Musuh Imam Mahdi?

Ada sejumlah kelompok yang menjadi musuh Imam Mahdi. Sebagian adalah para penuntut (kemahdian) palsu, yang secara sadar memiliki permusuhan terhadap beliau dan menyalahgunakan penantiannya. Untuk mencapai kepentingan mereka, mereka mengklaim bahwa mereka adalah para wakilnya dan berurusan dengan Imam. Sebagai jawabannya, penegakan hukum dan pengadilan memiliki tugas mengatasi para penipu ini dan jangan menunggu sampai gerakan mereka bertahan.

Kelompok kedua adalah individu yang memiliki permusuhan terhadapnya berdasarkan kebodohan dan ketidaksadaran. Sesekali, mereka mengklaim Imam akan muncul pada tanggal anu. Mereka akan menunjukkan karakteristik jenderal pasukannya, Syu'aib bin Shaleh, kepada seseorang dan membuat CD tentang hal itu [dan mendistribusikannya secara luas di masyarakat]. Mereka ini adalah teman-teman yang sangat bodoh.

Sekelompok lain adalah orang-orang dan politisi yang terlatih yang menyalahgunakan perkara-perkara suci demi tujuan mereka sendiri. Melawan kelompok ini, orang harus menyimak apa dikatakan para ulama dan otoritas keagamaan tentang tanda-tanda munculnya kembali Imam Mahdi berikut kedekatan atau kejauhannya. Jika orang mengikuti para ulama, tipu daya musuh akan gagal. Dalam insiden terakhir yang berkaitan dengan CD-CD Zhuhur (munculnya kembali) [yang didistribusikan secara luas], jika otoritas agama tidak ada di sana, Mahdism eakan berubah menjadi takhayul, yang menjadi tujuan musuh.

Kelompok ketiga musuh Mahdisme adalah mereka yang mencemari peringatan-peringatannya dengan dosa. Nishfu Syakban tergantung kita. Kita berlindung kepada Allah bahwa saat merayakan kelahirannya, instrumen dosa digunakan. Kita semestinya tidak membiarkan dosa itu terjadi. Lakukanlah amar makruf nahi mungkar. Penegakkannya harus hati-hati, tidak menggunakan musik dan nyanyian dengan dalih merayakan, karena semua ini akan memperlemah keyakinan kita pada Imam Mahdi.

Penutup

Syi'ah adalah mazhab yang penuh dengan kesegaran dan mengetahui bahwa ia memiliki seorang Imam yang mendukung, dan berusaha berlindung kepadanya selama kesulitan. Namun mereka yang tidak punya keyakinan demikian akan putus asa dalam kesulitan. Setiap orang harus melindungi permata berharga ini

The Hope of Humanity


" The world will not come to an end until a man from my family who will be called al Mahdi, emerges to rule upon my community " - Prophet Muhammad pbuh ( Bihar al -anwar, vol 51.p.75)

Seorang yang berkarakter kuat biasanya dapat mempengaruhi sekitarnya . Dia seperti matahari yang dapat menyinari dunia dan seisinya. Cahaya matahari hanya akan dapat di nikmati bagi yang membutuhkan dan menginginkannya. Banyak juga manusia yang dengan sengaja menutup masuknya sinar matahari menyinari dirinya. Dan tidak sedikit juga manusia yang senang berada di kegelapan seolah tak membutuhkan cahaya. Manusia yang demikian sudah jelas telah membohongi dirinya sendiri, karena jati dirinya sangatlah membutuhkan kehangatan dan manfaat dari sinar matahari.

Sayangnya kebanyakan manusia karena ego dirinya sendiri menenggelamkan diri ke dalam kegelapan untuk dapat tetap eksis menjadi dirinya yang di impikannya, menjadi 'seseorang' yang di dambakannya, menjadi seorang yang diinginkan oleh sekitarnya.

Seorang pemberani sebenarnya orang yang dengan lantangnya mengakui kekurangan-kekurangan dirinya dan maju bangkit ingin memperbaiki dirinya tanpa menyalahkan orang lain.

Seorang yang pernah berada di kegelapan yang tak dapat di tembus cahaya, biasanya ingin keluar dari
kegelapan agar dapat menghirup kesegaran sinarNYA, agar semua dapat terlihat jelas sehingga dapat melangkah dengan pasti menujuNYA.

Cahaya itu selalu ada selama dunia ini masih eksis. Dan semua yang menginginkan kehangatan dan penerangan Cahaya itu hendaknya mempersiapkan diri menyambut hari-hari bahagia itu. Bayangkan kita ada bersama dengan Cahaya itu, tak akan ada lagi keraguan, ketidak jelasan, ketimpangan2 sosial, semua merasakan kehangatanNYA, keadilan tersebar dimana-mana, keamanan dalam melakukan perjalanan sejauh apapun tanpa ada rasa takut. Keindahan dan kebahagiaan yang sesungguhnya akhirnya datang.....

Ini bukanlah mimpi, tetapi akan datang dan nyata....zaman ini lah zaman yang ditunggu2 dari zaman nabi Adam as hingga kini.....inilah cita2 para Nabi Allah dari sejak Nabi Allah Adam a.s......dan Allah SWT berjanji pada Nabi Ibrahim a.s bahwa bumi ini akan diwariskan pada keturunannya yang saleh....Bumi ini akan di pimpin oleh seorang yang saleh dari keturunan Nabi  Allah Ibrahim as dari sulbi Fatimah binti Muhammad saww yang namanya sama dengan namaku kata Nabi Muhammad saww, yaitu Muhammad yang bergelar al Qaim al Mahdi a.s.

Janji Allah itu pasti datang dan kita terus berharap dan menunggu hingga ajal kita tibapun kita akan terus menanti, seorang Pangeran dari keturunan Bani Hashim yang bernama al Mahdi as akan memimpin bumi ini dengan penuh Keadilan, dan inilah saat yang dinanti nanti oleh setiap pecinta Keadilan.  Harapan itu akan segera datang, dunia ini akan di hiasai dengan Cahaya terakhirNYA dimana seluruh makhlukNYA akan bergembira ria menyambut kedatangannya .

Konsekuensi dari penantian tersebut haruslah segera di persiapkan dan dengan keseriusan yang sangat agar Sang Pangeran Keadilan itu bangga dan senang mendatangi dan memimpin bumi ini.

Sudahkah kita bersegera mempersiapkan diri-diri kita untuk menyambut kedatangannya? Apakah kita telah mengikuti perkembangan yang ada di dunia ini? Sudahkah kita membekali diri dengan pengetahuan2 yang dibutuhkan untuk dapat memahami visi dan misi dari PemerintahanNYA .Sudahkah kita siap berada di dalam pemerintah Al Mahdi a.s ?

Atau kita masih seperti yang dulu-dulu, tak pernah tahu akan perkembangan yang ada di dunia lain selain di seputar kita saja, tak pernah ingin meningkatkan pengetahuan spritual kita agar dapat layak berada di dalam pemerintahanNYA, masih berkutat seputar kesia-siaan hanya menghias fisik2 kita yang tidak akan abadi itu?

Apakah kita masih naif hanya berdoa dan menunggu tanpa ada aksi sedikitpun untuk memperbaiki segala kekurangan diri?

Pertanyaan terakhir mungkin perlu ditanyakan , sudah layak kah kita untuk dapat hidup bersama Sang Pangeran Keadilan , di pemerintahan beliau atfs?

Selain berharap akan kedatangannya, kitapun diharuskan bangkit dan menyiapkan diri agar dapat layak menjadi warga pemerintahanNYA.

Ya Allah, bantulah kami untuk selalu bangkit dan sadar akan ini sehingga kami hanya disibukan untuk dapat mempersiapkan diri agar dapat layak menjadi warga pemerintahanNYA dan yang lebih jauh lagi dapat menjadi tentara2NYA , bangkit dan membela beliau atfs untuk menegakkan pemerintahanMU YA RABB al ZAHRA.

Salam padamu ya putra Zahra....Ruhul lahu fida ...Ya Baqiatullah fil ardhin....jadikan kami pelayan2anMU untuk selalu berkhidmat padamu, catatlah kami sebagai tentaramu yang akan selalu membelamu dimanapun , kapanpun hingga ajal kami tiba .....YA MAHDI ADRIKNA....

Allahumma shali ala Muhammad wa ali Muhammad wa ajil farajahum







Realty Check


Sepertinya sudah saatnya setiap diri merenung, melihat apa yang sedang terjadi di sekeliling kita. Jangan pernah merasa aman dan merasa 'everything ok' dengan setiap keadaan kita.   Pernahkah terpikir bahwa 'setiap kepakan sayap kupu-kupu di New Zealand dapat mengakibatkan tsunami di Haiti?' This is not a joke !!! Setiap keberadaan kita dan langkah-langkah kita akan mempengaruhi sekitar kita dan akan berdampak pada alam sekitar kita...

Misalnya, cara mendidik anda akan mempengaruhi tingkah anak anda kemanapun dia pergi dan berada. Dan segala tindakannya akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Setiap gerakan dan langkah yang kita kerjakan di bumiNYA, akan berdampak pada bumi yang kita pijaki ini. 

Cara pandang yang salah dan berbahaya yang biasa kita lakukan tanpa disadari,  seperti : " saya  akan lakukan sesuka dan sekehendak hati saya , yang penting saya tidak merugikan orang lain. Terdengar fine fine saja statement seperti itu, tetapi sesungguhnya sangat tidak bertanggung jawab dan berdampak buruk pada lingkungan sekitarnya dan juga untuk dirinya sendiri.

Oleh karenanya Sang Pengatur Alam Semesta yang memberikan segala keperluan untuk makhluk-makhlukNYA di bumi ini , pada saat yang sama memberikan Undang-Undang untuk menempati bumiNYA yang termaktub dalam kitab-kitab suciNYA yang di amanatkan pada para utusan agungNYA Sang Nabi Allah. Setiap ketidak tahuan akan undang-undangNYA, akan berakibat fatal pada diri dan alam sekitarnya.

Jadi, kita diwajibkan untuk mengetahui dan mempelajari dan mematuhi segala apa yang termaktub dalam kitab suciNYA yang terakhir yang dibawa oleh nabi penutupNYA Muhammad saww untuk memelihara bumi ini sebagai amanatNYA yang di bebankan pada umat Muhammad saww, yakni kita semua yang sekarang masih hidup di bumiNYA.

Tetapi , yang terjadi di bumiNYA sekarang ini, adalah jelas sekali bahwa makhluk-makhlukNYA banyak sekali yang tidak amanah pada apa yang telah di bebankan pada mereka. Mereka dengan terang-terangan membangkang dan menjadikan diri-diri mereka sebagai tuhan-tuhan kecil. Merasa memiliki , merasa berkuasa, merasa menjadi 'seseorang '....( padahal mereka hanyalah makhluk2NYA yang diberikan amanah, karena diri kita tak mungkin dapat eksis tanpa kehendakNYA ). 

Lihatlah segala kekacauan dunia ini, dari mulai bencana alam , kelaparan, pelanggaran akan hak-hak azasi manusia, penjajahan atas bangsa lain baik itu berupa ekonomi, budaya dan perampasan aset2 negara suatu bangsa, apartheid- diskriminasi, merasa bangsanya lebih unggul dari bangsa lain, pembunuhan masal, penahanan dan penculikan aktivis2 politik dan semacamnya. 


Semua itu akarnya dari ketidak tahuan akan tujuannya di ciptakan dirinya di dunia ini. Manusia yang beragama bisa bilang mereka mengakui adanya Tuhan sebagai Sang Pencipta, dan ini belum berarti mereka berTAUHID atau sebagai PengESA Tuhan, karena selama dirinya masih di kuasai oleh ego dirinya , keinginan dan kehendak pribadinya dan perintah dari makhluk lainnya yang menguasai dirinya, secara tidak sadar dia telah menduakan Tuhan, karena telah menjadikan diri-diri mereka sebagai Penentu dan masih dan selalu mengharap pada selainNYA....sementara pada waktu yang sama ironisnya apabila dia melaksanakan ibadah salat atau berdoa selalu menyebut dengan kalimat Laa ilaha ilallah... 


Imam Ja'far Shadiq a.s :" Barang siapa yang mengatakan ' Laa ilaha illallah ' tidak akan menembus malakut langit sampai ia menyempurnakan ucapannya dengan amal saleh. " 

Sering sekali kita melakukan kebaikan tetapi ujung-ujungnya apabila tak ada yang mengakui kebaikan kita kita seperti marah dan ingin di akui bahwa pekerjaan itu adalah dari dirinya....Ya Allah, kita beristigfar dan berlindung akan hal-hal yang demikian yang sering terjadi pada kita dan memohon ampunan dari kesyirikan yang terlihat kecil tetapi apabila sudah menjadi kebiasaan akan menjerumuskan kita pada dosa yang tak terampuni...

Kebanyakan kita masih naif dan masih belum berkembang pengetahuan tentang TAUHID kita, dan masih merasa bahwa syirik itu hanyalah menyembah berhala2 sebagaimana yang diceritakan pada kasus Nabi Allah Ibrahim as. Oleh karenanya sangatlah penting setiap kita selalu terus mencek dan mericek kembali cara pandang dunia kita tentang segala hal yang berhubungan dengan hubungan kita dengan Tuhan & sesama makhluk. Dampaknya sangatlah dahsyat, karena dengan keluguan kita akan cara pandang kita yang sama seperti masa kecil kita , secara tidak sengaja kita telah menghambat perkembangan perjalanan ruh kita yang seharusnya harus terus menanjak dan menuju ke kesempurnaan untuk dapat kembali padaNYA dengan selamat , menjadi stagnan jalan di tempat ( treadmil effect )

Ok...apa hubungannya sekarang dengan kekacauan yang terjadi di dunia ini. Pertama,  kita harus sadar dan mengetahui dengan penuh keyakinan akan tujuan penciptaan kita di dunia ini dan ini termaktub pada
Al Quran surat 51 : 56 : " Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka 'mengenal' KU " ( kebanyakan terjemahan hanya menulis menyembahKU ) . Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi yang berkembang disekitar kita, dan karena tidak di sertai dengan pengetahuan yang sepadan tentang diri manusia itu sendiri. Sebagaiman dalam diri manusia terdapat dua dimensi : lahir ( jasad/fisik ) dan batin ( ruh/spirit/jiwa) . Ketidak seimbangan diantara keduanya ini lah yang menyebabkan manusia tidak mengenal siapa dirinya (" Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya " - Imam Ali a.s) . Syahid Murthada Muthahari pun menyatakan bahwa manusia-manusia abad modern sekarang itu bukan hanya terkena krisis ekonomi, krisis sosial dan krisis budaya tetapi akar permasalahan krisis meraka adalah krisis spiritual, kekosongan jiwa. Dan ini akibat dari tidak mengenal dirinya yang sesungguhnya.

Ungkapan Maulana Jalaludin Rumi, ketika menerangkan tentang marifah al nafs, sangat indah sekali, beliau menceritakan bahwa dalam suatu perlombaan melukis, di suatu ruangan, peserta lomba ada yang sibuk melukis dengan kanvas dihiasi dengan warna2 yang menawan, tetapi ada yang sibuk hanya membersihkan kaca yang di pantulkan pada lukisan indah peserta yang lain. Disini singkat cerita saya hanya ingin menceritakan bahwa membersihkan cermin dengan bersih dapat memantulkan lukisan yang indah itu. Begitu juga manusia sebagai pantulan cerminan Tuhan, tidak mungkin si cermin itu mengaku bahwa dialah yang melukis lukisan yang indah itu....begitu juga dengan seorang yang sedang memuji lukisan indah tsb, sesungguhnya dia sedang memuji sang Pelukis lukisan indah itu. Jadi disini, apabila ada orang yang memuji anda, berarti secara tidak sadar orang itu sedang memuji yang mencipta anda. Alangkah lucunya apabila anda merasa diri anda yang dipuji tanpa mengingat bahwa yang sesungguhnya sedang di puji adalah Tuhan Sang Pencipta anda.

Apabila kita terus berusaha mengetahui untuk mengenal siapa sesungguhnya diri kita...kita tidak akan dapat mengklaim bahwa segala yang kita perbuat adalah murni perbuatan kita . Tuhan telah memberikan kebebasan untuk memilih....apapun yang di pilih manusia yang sesuai dengan kehendakNYA adalah untuk kepentingan dirinya sendiri dan keuntungan tentunya ada pada diri kita, tetapi apabila kita memilih hanya pada  kehendak-kehendak kita saja tanpa mempedulikan undang-undang ( hukumNYA - syar'i - fiqih ) tentu akan ada konsekuensinya yang ujung-ujungnya akan merugikan diri kita dan orang disekitar kita.

Dan inilah yang terjadi di sekitar kita, karena manusia pada dasarnya tidak ingin di nasihati , mereka merasa sudah tahu. Mungkin mereka mengetahui tetapi tidak memahami dan malas untuk mendalami . Di tambah dengan cara pandang dunia yang tidak pernah di 'up date' masih menganut cara pandang ketika dia masih di zaman jahiliyah atau pandangan import yang jauh dari Syariat Islam.

Tahukah anda, Allah akan memaafkan segala perbuatan kita yang melanggar ketentuanNYA , apabila kita kembali bertaubat, tetapi Allah TIDAK akan memaafkan cara pandang dunia kita yang salah tentangNYA, tentang, KeadilanNYA, Kenabian, Kepemimpinan, Hari Akhir ( Ma'ad).  Merugilah kita apabila telah di panggilNYA kembali kepadaNYA dalam keadaan 'syirik'  ( akibat dari salah memahami TAUHID ).

Semoga kita di bulan nan mulia Syaban ini , di bulan kelahiran Sang Hujjah terakhir Allah ini dapat meningkatkan spiritual kita dengan pemahaman yang benar sehingga dapat mengenal Imam Zaman atfs kita dan mengetahui visi dan misi beliau atfs agar kita dapat siap menjadi para penolong-penolong Sang Hujjah atfs inshaAllah.....dan berdiri bangkit bersama beliau atfs ( Smoga Allah SWT mempercepat kemendatangannya)

Semoga Allah memaafkan dosa-dosa ( syirik )  kita baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja , baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat ,  dan semoga Allah menerima dan meridhai amalan sedikit kita di bulan suci mulia ini dengan terus beristigfar dan bersalawat pada Nabi Terkasih Muhammad saww dan keluarga nya yang suci dan disucikan...wallahualam bishawab

Allahumma shali ala Muhammad wa ali Muhammad wa ajil farajahum ....ADRIKNA YA MAHDI