Bertentangan dengan apa yang digambarkan oleh musuh bahwa kepercayaan Imam Mahdi adalah kepercayaan khusus kaum Syi’ah, semua muslim percaya bahwa seseorang dari keturunan Nabi Muhammad saw akan memenuhi bumi dengan keadilan dan persamaan setelah sebelumnya ia dipenuhi dengan ketidakadilan dan tirani. Satunya-satunya perbedaan atas kepercayaan Mahdisme dalam teologi Syi’ah dan Sunni adalah bahwa Syi’ah percaya bahwa Imam Mahdi telah lahir dan berada dalam kegaiban, sementara Sunni percaya bahwa dia akan lahir menjelang hari akhir. Tentu saja, ada minoritas ulama Sunni yang memiliki kepercayaan sama dengan Syi’ah dalam masalah ini.
Ada banyak riwayat dalam sumber-sumber Sunni yang mengatakan bahwa siapa saja yang tidak mengenal Imam zamannya, maka matinya mati jahiliah. Allamah Amini telah mengumpulkan riwayat ini dari berbagai rantai periwayatan Sunni. Sekarang saatnya untuk menjawab pertanyaan ini. Jika tidak mengenal Imam zaman kita menyebabkan suatu masalah besar, yaitu kejahilan, bagi kita, apakah dia termasuk salah satu pemimpin saat ini di Libya, Irak, Yaman, dan lain-lain? Kelompok Sunni tidak punya jawaban atas pertanyaan ini. Jika mereka ingin riwayat ini dari jalur mereka terdengar logis, semestinya mereka percaya pada seseorang selain dari para pemimpin tersebut, yakni mereka harus percaya kepada keyakinan Syi’ah tentang Imam Mahdi.
Kegaiban Artinya Tidak Sadar Bukan Gaib
Adalah suatu kehormatan bagi para pengikut Ahlulbait bahwa keyakinan pada Imam Mahdi bersifat rasional, dapat dibuktikan secara akal, dan memiliki bukti yang jelas dan konklusif. Berdasarkan riwayat ini, seorang Imam zaman hadir di tengah-tengah kita, namun dia dalam kegaiban. Kegaiban bukan berarti bahwa ia tidak terlihat, tetapi artinya bahwa kita tidak menyadari dan tidak mengenal dia.
Selain Doa, Mempersiapkan Kehadirannya adalah Tugas Terpenting
Menurut saya, yang penting dalam periode ini adalah apa tanggung jawab kita di hadapan Tuan kita. Cukupkah kita menantikannya dengan sekadar membaca doa Nudbah pada hari Jumat dan memperingati kelahirannya pada pertengahan Sya'ban dan tidak mengingatnya pada hari-hari selanjutnya? Beberapa ulama telah membuat daftar tugas dan kewajiban kita selama periode kegaibannya seperti membaca doa Faraj (Allahumma kun…), membayar sedekah demi keselamatannya, bersedih karena berpisah darinya, dan bertawasul kepadanya. Namun, menurut saya, tugas kita yang jauh lebih besar dari semua ini adalah kita harus mempersiapkan dunia demi kehadirannya.
Saya ingin memberikan contoh tentang hal ini, yakni mempersiapkan dunia demi kemunculannya. Beberapa tahun sebelum revolusi Islam Iran, para ulama, mahasiswa, penulis dan yang lainnya bergandeng tangan dan memberontak terhadap rezim tiranik. Jika proses ini tidak terjadi, tidak akan ada revolusi. Demikian juga, saat ini tugas kita adalah mempersiapkan dan merencanakan kemunculan Imam. Dengan bersandar pada al-Anbiya (21):105 yang berbunyi, Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh, kita harus membentuk benih unggulan bagi revolusi Imam Mahdi. Ini berarti bahwa sekelompok hamba Allah yang saleh akan berdiri di belakang Imam Mahdi dan dengan bantuan ilahi melangsungkan revolusi universal.
Sekarang, kita harus melihat siapakah yang dimaksud dengan orang-orang saleh ini. Hamba-hamba yang saleh itu termasuk orang di tengah-tengah kita dan mereka yang mengasosiasikan dirinya dengan Imam Mahdi. Karena itu, kita harus memperbaiki dan membangun keyakinan kita, melupakan [dan meninggalkan] perilaku tidak bermoral, bertobat atas dosa-dosa, serta mencapai kesadaran dan pengetahuan tentang Imam. Kita harus mengenalinya sebagai pemimpin sempurna dan siap berkorban apapun dalam misinya.
Menunggu (Intizhar) Berarti Melawan Kefasadan dan Pembusukan Sosial
Langkah selanjutnya adalah berusaha membangun masyarakat, karena jika ada suap dan riba dalam pengelolaan [masyarakat], penjualan di bawah harga normal, penipuan, dan pemakaian hijab buruk (di kalangan perempuan), persiapan-persiapan tidak dapat dilakukan dengan kontaminasi-kontaminasi ini. Menunggu artinya melawan kontaminasi ini. Kita harus melakukan sesuatu yang akan memunculkan benih revolusi dan hamba-hamba Allah yang saleh yang merupakan para pewaris bumi.
Sementara berdoa [demi kemunculannya] dan menangisi [karena perpisahan dengannya], seharusnya kita pun tidak lalai dari tugas utama kita. Sementara mengucapkan salam ziarah [kepada para maksum ketika kita menziarahi mereka], kita memohon kepada Tuhan agar menjadikan kita sebagai pengikut sejati mereka. Ini berarti bahwa pertama-tama kita harus seratus persen mematuhi perintah para Imam kita dan tidak melanggar perintah-perintah tersebut. Kedua, kita harus mengikuti langkah-langkah mereka .. kita harus memiliki kesalehan dan pengendalian diri, membantu kaum fakir, dan menolong para pemuda yang ingin menikah (tetapi kurang biaya). Kerja para Imam kita adalah bahwa mereka menghilangkan kesulitan dari kehidupan masyarakat dan memecahkan masalah mereka. Apakah kita sudah seperti ini?
Wilayah Harus Mencerahkan Seluruh Wujud Kita
Saya mewasiatkan kepada para pemuda, khususnya agar memastikan bahwa di samping menangis, berdoa, dan menahan rasa sakit karena perpisahan, kita juga harus merencanakan dan mempersiapkan kemunculan beliau, atau jika tidak, kehadirannya akan ditunda. Kita membaca dalam Ziarah al-Jami'ah bahwa berpihak pada wilayah (Ahlulbait) akan memiliki empat efek: mengoreksi karakter kita, menjauhkan sifat jelek dari kita, bertobat dari dosa-dosa, dan membersihkan jiwa kita.
Siapakah Musuh Imam Mahdi?
Ada sejumlah kelompok yang menjadi musuh Imam Mahdi. Sebagian adalah para penuntut (kemahdian) palsu, yang secara sadar memiliki permusuhan terhadap beliau dan menyalahgunakan penantiannya. Untuk mencapai kepentingan mereka, mereka mengklaim bahwa mereka adalah para wakilnya dan berurusan dengan Imam. Sebagai jawabannya, penegakan hukum dan pengadilan memiliki tugas mengatasi para penipu ini dan jangan menunggu sampai gerakan mereka bertahan.
Kelompok kedua adalah individu yang memiliki permusuhan terhadapnya berdasarkan kebodohan dan ketidaksadaran. Sesekali, mereka mengklaim Imam akan muncul pada tanggal anu. Mereka akan menunjukkan karakteristik jenderal pasukannya, Syu'aib bin Shaleh, kepada seseorang dan membuat CD tentang hal itu [dan mendistribusikannya secara luas di masyarakat]. Mereka ini adalah teman-teman yang sangat bodoh.
Sekelompok lain adalah orang-orang dan politisi yang terlatih yang menyalahgunakan perkara-perkara suci demi tujuan mereka sendiri. Melawan kelompok ini, orang harus menyimak apa dikatakan para ulama dan otoritas keagamaan tentang tanda-tanda munculnya kembali Imam Mahdi berikut kedekatan atau kejauhannya. Jika orang mengikuti para ulama, tipu daya musuh akan gagal. Dalam insiden terakhir yang berkaitan dengan CD-CD Zhuhur (munculnya kembali) [yang didistribusikan secara luas], jika otoritas agama tidak ada di sana, Mahdism eakan berubah menjadi takhayul, yang menjadi tujuan musuh.
Kelompok ketiga musuh Mahdisme adalah mereka yang mencemari peringatan-peringatannya dengan dosa. Nishfu Syakban tergantung kita. Kita berlindung kepada Allah bahwa saat merayakan kelahirannya, instrumen dosa digunakan. Kita semestinya tidak membiarkan dosa itu terjadi. Lakukanlah amar makruf nahi mungkar. Penegakkannya harus hati-hati, tidak menggunakan musik dan nyanyian dengan dalih merayakan, karena semua ini akan memperlemah keyakinan kita pada Imam Mahdi.
Penutup
Syi'ah adalah mazhab yang penuh dengan kesegaran dan mengetahui bahwa ia memiliki seorang Imam yang mendukung, dan berusaha berlindung kepadanya selama kesulitan. Namun mereka yang tidak punya keyakinan demikian akan putus asa dalam kesulitan. Setiap orang harus melindungi permata berharga ini
.jpg)
No comments:
Post a Comment