
Saat Rasulullah saww baru saja pulang dari medan perang, beliau yang mulia saww berkata : " kita baru kembali dari jihad kecil dan sekarang kita kembali berperang melawan jihad akbar ". Berperang melawan musuh external yang nyata itu lebih mudah dari pada melawan musuh internal yang ada dalam diri kita yang kita tidak menganggapnya sebagai musuh, karena manusia merasa itu bagian dari dirinya. Padahal musuh yang ada dalam dirinya lah yang paling dapat menghancurkan dirinya, sehingga manusia menderita secara mental tanpa dia sendiri mengetahuinya.
Bersyukurlah, bila yang menyadari dirinya terjangkit penyakit jiwa akibat terus menerus mengikuti kehendak diri yang sangat liar - hawa nafsu yang memenjarakan dirinya. Kita selalu menyangka bahwa musuh itu harus orang lain dan tidak dekat dengan diri kita. Tetapi apabila kita mencoba menelusuri ke dalam diri kita, betapa banyak sekali sifat-sifat diri kita yang kita benci.
Dalam ilmu psikologi dinyatakan, bahwa diri manusia akan cenderung membenci sesuatu yang sebetulnya yang dibencinya itu ada pada dirinya sendiri. Misalnya, kita tahu bahwa diri kita tidak berani dalam keadaan gelap sendirian, maka dia secara tidak sadar selalu membenci orang yang penakut. Dan dia tentunya tidak suka berteman dengan seorang penakut seperti dirinya.
Apabila dia menyadari kekurangan dirinya, ini sudah plus poin, tinggal dia harus melawan bagaimana menanggulangi kekurangannya itu. Yang berbahaya, yang dia tahu akan kekurangannya tetapi selalu mencoba menyangkalnya dan menutupinya sehingga marah apabila ada yang mengingatkan akan kekurangan dirinya. Dan yang paling berbahaya lagi adalah yang tidak mengetahui bahwa dirinya mempunyai kekurangan dan merasa dirinya tidak bermasalah sehingga kekurangan dirinya itu sudah menjadi sifat dirinya dan dia menganggapnya suatu yang wajar dan baik-baik saja...nauzubillah.
Manusia tipe terakhir ini yang dalam Al Qur'an disebut, bahwa Allah SWT telah menutup mata hatinya sehingga sudah tidak dapat lagi melihat cahayaNYA, senang dalam keadaan gelap, sempit dan sesak. Dan ini akan tercerminkan dalam segala perilaku hidupnya, sehingga dia sangat mencintai dirinya, apapun harus untuk dirinya terlebih dahulu, kepentingan dirinya menjadi segalanya. Manusia seperti ini, bukan berarti dia tidak pernah melakukan ibadah-ibadah ritual agama yang di wajibkan kepadanya. Jadi penyakit kejiwaan ini tidak pandang bulu, akan menjangkiti siapapun baik yang tidak beriman atau yang beriman lemah .
Dirinya menjadi terpenjara dengan 'image dirinya', dan segala kesenangan dirinya. Dia begitu memanjakan apa yang dia sukai, sehingga tak dapat hidup tanpa "nya" , harus seperti yang dia sukai, apabila tidak ada atau yang dia sukai dan cintai diambil dari dirinya, maka dirinya akan lemah dan menjadi 'pemarah' , dan yang paling parah, dia marah pada Allah yang dia sangka harus selalu memberikan segala yang dia mau.
Mulailah dengan komplain pada Allah, bagaimana bisa saya sudah banyak beribadah, shalat, tahajud, dan bersedekah , tetapi mengapa diri saya tidak diberikan yang saya mau. Inna lillahi...begitulah sikap kebanyakan manusia yang sangat tergantung pada keinginan dirinya, dan parahnya itu semua - keinginan dirinya itu , hanya akan sesuatu yang 'relatif', seputar kebendaan dan ketidak abadian saja.
Musuh dalam diri ini yang harus di diteksi, sedini mungkin, agar dapat terselamatkan, dan terobati. Semua kita mempunyai penyakit-penyakit dalam diri kita. Hanya diri kita yang tahu yang sesungguhnya, penyakit-penyakit kita. Alangkah lebih mudahnya, apabila kita telah menditeksi penyakit-penyakit kita , lalu kita berusaha untuk menyembuhkan penyakit-penyakit kita sesuai dengan keadaannya masing-masing.
Imam Khomeini ra telah menulis buku 40 hadis, untuk menolong jiwa-jiwa kita yang pesakitan ini agar kembali sembuh, sehingga dapat mengenali Allah - Sang Pencipta diri ini - sehingga pada saat beribadah, kita sangat tahu siapa yang kita hadapi dan sembah. Imam Khomeini ra menyebutnya dengan "ubudiah". Karena selama kita tidak mengenalNYA atau mengetahui siapa diri kita, maka kita akan menganggap sesuatu itu milik kita, kita dapat bebas berbuat sesuai keinginan kita, berperilaku 'asal' tak peduli pada 'adab' yang telah ditetapkanNYA, menganggap apa yang kita perbuat tak ada 'bekas'nya & tidak ada yang mencatat.
Kenalilah musuh-musuh kita yang ada di dalam diri kita. Iblis keluar dari kerajaan surga karena mempunyai sifat dengki & ujub pada nabi Adam as. Ini adalah pelajaran berharga yang harus selalu kita ingat agar tidak menapak tilasi jejak iblis terkutuk itu. Ibadah iblis yang ratusan tahun menjadi hangus tak berarti hanya karena mempunyai sifat ujub & dengki yang ada pada dirinya dan akibatnya selamanya di neraka jahanam.
Apabila kita sangat menyayangi diri kita dalam arti yang sebenarnya, seharusnya kita harus marah pada diri kita, karena lemahnya diri kita yang tidak dapat melawan keinginan diri sehingga melanggar keinginan Tuhan. Kadang kita marah pada orang lain dan marah ketika orang-orang itu mengingatkan kita akan penyakit yang ada pada diri kita. Seharusnya kita berterima kasih pada mereka itu, karena apabila tidak ada yang mengingatkan, diri kita yang lemah tak sanggup mengakui kekurangan kita. Imam Khomeini ra, seorang Ayatullah besar saja, masih menyebut dirinya masih perlu nasihat orang lain...lalu bagaimana kita yang masih jauh dari kebaikan tidak ingin dan tidak suka akan nasihat dari seorang yang dia anggap lebih rendah dari dirinya.
Jangan-jangan kita berpenyakit sama seperti si iblis yang merasa dirinya lebih tinggi derajatnya dari Nabi Adam as.
Kenapa kita tidak marah pada diri kita, karena sangat cepat mengalah pada hawa nafsu kita? Untuk inilah para nabi Allah di utus dalam rangka mengingatkan diri-diri manusia yang selalu cenderung akan keinginan dirinya sehingga mengabaikan keinginan Tuhannya, yang sebenarnya adalah untuk kepentingan diri kita sendiri. So, cacilah diri kita sendiri, kuatkan diri demi keinginanNYA, curhatlah hanya padaNYA, karena hanya DIA yang tahu dan akan menerima segala kekurangan kita dan akan memberikan jalan untuk dapat selalu berjalan menujuNYA dengan selamat. Dan Allahlah Sang Penutup Aib, Maha Pengampun dan Pemberi petunjuk....
Wallahualam bishawab....shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad wa aajil farajahum...ADRIKNA ya MAHDI
