Kisah teladan seorang pengikut FATIMAH Az-Zahra a.s putri Rasulullah saww
Farank Ebrahimi lahir di Arak, Iran tengah pada tahun 1971. Perempuan teladan Iran ini sarjana bahasa dan sastra Inggris ini menyelesaikan studinya di fakultas Ilmu Perhubungan Universitas New South Wales, Australia. Dengan pengalaman 13 tahun mengajar, dia aktif dalam berbagai riset. Dalam festival Sheikh Bahaee yang diselenggarakan tahun 2010, Farank Ebrahimi meraih penghargaan peneliti terbaik, perempuan teladan dan ibu inventor terkecil. Gelar terakhir ini diberikan kepadanya karena bebagai penemuan ilmiah yang dibuat putrinya, Bita Parinejad, yang baru berusia 10 tahun.
Nyonya Ebrahimi yang saat ini duduk sebagai Direktur rumah budaya ‘Mother' juga menjabat sebagai Direktur Bimbingan Belajar ‘Padideh Ertebat'. Dia sudah mematenkan tiga penemuan. Di Australia dia berhasil mematenkan penemuan teknik pendidikan bahasa. Penemuannya menempati rangking ketiga dari 300 karya yang diajukan para peserta. Patut dicatat bahwa penemuan Farank Ebrahimi ini juga dikukuhkan oleh sejumlah pakar di berbagai negara Eropa. Dia juga telah mematenkan penemuan mesin perkebunan dan formula analis kimia. Ebrahimi berhasil meraih penghargaan medali emas dan perunggu untuk penemuan tingkat dunia.
Mengenai penemuannya yaitu teknik terbaru pengajaran bahasa, Farank Ebrahimi mengatakan, "Penemuan ini adalah sejenis teknik dalam dunia pengajaran bahasa seperti bahasa Perancis, Italia, Jerman, dan Arab, dan tidak ada batasannya. Untuk mematenkan penemuan ini di Australia diperlukan waktu empat tahun. Selama masa itu, penemuan ini sudah dikaji dan dikukuhkan oleh para pakar dan ahli bahasa di Australia. Dengan metode ini bahasa diajarkan melalui bahasa ibu atau bahasa asal. Misalnya, orang Italia yang bahasa ibunya adalah bahasa Italia, jika ingin belajar bahasa Perancis maka ia mesti mempelajarinya dari bahasa ibunya yaitu bahasa Italia. Setelah mematenkan penemuan ini di Australia pada tahun 2003, saya kembali ke Iran. Sekarang, setelah mendapat pengukuhan dari Departemen Sains saya sedang menerapkan teknik ini di Iran."
Menurut wanita muslimah yang sukses ini, keimanan dan kepercayaan punya andil yang sangat besar dalam keberhasilannya. Ebrahimi mengatakan, "Kita percaya, jika Allah tidak menghendaki, selembar daunpun tidak akan jatuh dari pohon. Keimanan dan kepercayaan agama punya pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan iman, orang akan meyakini bahwa dalam setiap langkahnya, ada Yang mengawasi dan Yang membimbingnya. Dialah yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan di atas segala kekuatan materi. Mungkin fenomena materi punya posisi dan signifikansinya sendiri. Tapi kekuasaan Allah yang tak terbataslah yang menuntun manusia. Saya sekeluarga tidak mengaku sebagai keluarga yang sangat sukses. Tapi keberhasilan yang relatif kami dapatkan adalah berkat tawakal kepada Allah dan memohon tawasul dengan para imam Ahlul Bait as. Dan tentunya, ada faktor-faktor lain yang membantu keberhasilan termasuk hubungan dengan sesama manusia."
Mengenai kesulitan dalam meraih sukses, Farank Ebrahimi mengungkapkan, "Sejak tahun 2007 saya melakukan penelitian 12 program rancangan, dan tiga penemuan diantaranya berhasil saya patenkan. Saya hijrah ke Australia bersama keluarga. Sangat sulit untuk menanggung ongkos kepergian ke sana dan biaya hidup di negara dengan bahasa dan budaya yang asing apalagi dengan membawa anak yang masih kecil. Untuk membantu program kami, kami juga terpaksa menyewa jasa pengacara. Biaya untuk pengacara dam berbagai urusan hukum tentu punya msalah tersendiri. Saya hanya bisa memohon kepada Allah untuk membantu kami menanggung segala kesulitan yang ada. Sebab, saya hanya memikirkan keberhasilan dan prestasi untuk Iran. Saya ingin negara saya maju di bidang keilmuan. Setelah mematenkan penemuan, peringkat negara kita dari sisi teknik pengajaran bahasa meningkat cukup signifikan. Sekarang saya sedang berusaha agar rakyat di negara kita bisa memanfaatkan temuan ini."
Saat ditanya apakah dia menemukan kendala untuk terlibat dalam kegiatan masyarakat? Ebrahimi menjawab, "Dalam menjalankan aktivitas, saya tidak menemukan kesulitan apapun. Tentunya, ketika orang punya tujuan dam ketekunan dalam kegiatan kemasyarakatan, sekalipun gagal, dia akan bangkit kembali dengan tekad yang lebih besar untuk bergerak dan meraih sukses."
Ebrahimi menyinggung soal jilbab dan menyebutnya sebagai kehormatan dan norma kesusilaan bagi perempuan yang harus diperhatikan saat berada di tengah masyarakat. Menurutnya, perempuan ibarat mutiara dalam kerang sementara jilbab tak ubahnya bagai kerang yang menutupinya. Ketika memiliki berlian atau barang berharga tentunya kita akan melindungi dan menjaganya dengan baik supaya tidak dicuri atau dirusak oleh musuh. Jilbab bagi perempuan ibarat penjaga dan memberinya keamanan dan perlindungan di tengah masyarakat.
Bita Parinejad, putri Farank Ebrahimi lahir di kota Ahvaz, Khozestan, Iran pada tahun 2000. Sejak usia enam tahun, gadis cilik dengan kecerdasan luar biasa ini sudah mulai melakukan berbagai penelitian dengan bantuan ibunya. Dia bercita-cita menjadi ahli di bidang ilmu tanamanatau botani. Sampai saat ini, dengan usianya yang 10 tahun, Bita sudah mempatenkan empat penemuan yang meliputi alat petik buah, kursi roda pintar, vegetasi dan gardu polisi. Dia mengatakan sedang menyempurnakan ide pembuatan pesawat yang tidak memerlukan lapangan terbang. Gadis cilik ini juga sedang memikirkan membuat robot yang bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Bita Parinejad sudah mengantongi empat medali tingkat dunia. Satu medali emas satu medali perunggu didapatkannya dari pameran penemuan dunia di London tahun 2009. Di tahun yang sama, dia juga menyabet peringkat ketiga nasional dalam festival nasional inovasi yang diadakan kantor kepresidenan Iran. Saat ini, Bita mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak usia 4-6 tahun.(IRIB Indonesia)
Sebuah Renungan
Jika kita menoleh ke belakang atau mencari titik akhir dari alam material, maka kita akan menemukan benda pertama dan terkecil di dalamnya, yang disebut dengan partikel atom, energi, atau apa pun namanya. Yang pasti, terdapat sebuah entitas material yang merupakan asal-muasal alam yang kompleks ini. Ia sangat kecil dan kuat sekali.
Di antara atom, ada yang beruntung menjadi benda dan entitas fisikal (molekul) serta menyandang ciri-ciri esensial: cair, padat, atau gas. Air, batu, dan udara pun menempati level berikutnya, yang meninggalkan partikel pada level atomiknya.
Ada sekelompok benda yang berevolusi hingga mampu berkembang. Ia menjadi benda yang berkembang (tetumbuhan), mulai dari akar, bunga, tangkai, putik, buah, biji, dan daun. Ia bukan sekadar benda tetapi berkembang, mekar, dan layu. Ia bahkan dapat bernafas: menghirup udara dan menghembuskannya.
Di antara tetumbuhan, ada sekelompok maujud yang naik ke level berikutnya dan menyandang sejumlah identitas pelengkap seperti “berpenginderaan” dan “berperasaan”. Ia bukan hanya benda yang berkembang dan dinamis tetapi juga memiliki naluri dan emosi. Ia bisa merasakan benci, cinta, sayang, sedih, dan bahagia. Ia bahkan memiliki keterikatan untuk melakukan kontak seksual dan bereproduksi.
Di tengah hewan-hewan, ada yang beruntung menyandang identitas tambahan dan menjadi “berakal”. Ia tidak hanya entitas yang berperasaan dan melakukan penginderaan, tetapi mempunyai alat untuk membedakan benar dan salah; baik dan buruk; indah dan kacau. Ia pun mampu menentukan kesempurnaan dan kepatutan.
Ia adalah maujud unik (satu-satunya) yang menjadi miniatur dari semua makhluk alam ini. Semua representasi kebendaan ada di dalamnya. Ia bahkan terdiri dari tiga lapis: ruh, jiwa, dan raga. Ia merdeka dalam berkehendak bila dibandingkan dengan entitas-entitas pada level di bawahnya: binatang dan tetumbuhan. Dibanding makhluk-makhluk lainnya, ia telah menikmati kebebasan berkehendak secara lebih sempurna meskipun sarananya kadang lemah. Dialah manusia. Allah berfirman, Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah (QS. an-Nisa:27).
Ironisnya, ada saja manusia yang secara sukarela terjun bebas ke level terendah sembari melepas semua identitas-identitas kesempurnaannya. Ia puas dengan identitas ‘atomman’. Ia lebih keras daripada batu karena mengabaikan hati nurani, memakzulkan logika, serta mencerabut ciri-ciri kesempurnaannya. Dalam al-Quran, ia disebutkan, laksana batu, bahkan lebih keras.
Ada pula yang memilih untuk menjadi batu atau pasir seraya menanggalkan identitas hewani dan insaninya. Ia puas menyandang predikat ‘stoneman’ atau ‘sandman’ yang tidak bisa tegak tanpa perekat. Ia bagai debu yang berhamburan diterpa badai. Mereka bagaikan batu-batu. Ia tidak punya indera, tuli, buta, dan mati rasa. Ia hanya mengisi ruang, statis, dan jumud (padat).
Ada yang memutuskan untuk menjadi penghuni level tetumbuhan. Ia hanya peduli dengan ‘pertumbuhan’. Ia sangat merisaukan penampilan fisik serta mengkhawatirkan kelayuan, kerutan di wajah, dan lemak di tubuh. Ia seringkali menyesali bentuk-bentuk fisiknya: hidung yang terlalu mancung atau terlalu pesek, sehingga berpikir untuk ‘mempermaknya’. Ia sangat merisaukan ukuran tubuh atau siluet di perutnya karena bersalin. Ia bagaikan ‘vegetableman’, ‘woodman’ atau ‘jengkolman’ karena, baginya, pertumbuhan adalah puncak kesempurnaan. Ada pula yang tumbuh superagresif sehingga menjadi ‘parasitman’ yang merusak apa pun yang di sekitarnya.
Ada pula yang memilih bertahan di ‘kebun binatang’ dan puas dengan menjadi ‘spiderman’, ‘batman’, ‘elephantman’, atau lainnya karena, baginya, yang terpenting adalah birahi, kepuasan, keliaran, dan kebebasan. Sebagian dari mereka mengalami mutasi menjadi lalat yang berpesta dalam tong sampah, mendistrubiskan fitnah, menebar dusta, dan bahkan merawat kebencian. Sebagian lagi menjadi an’âm (hewan rumahan) yang tidak memiliki kemandirian sikap dan pendapat. Ada pula yang menjadi liar dan buas bagai aligator atau piranha. Ia tidak merisaukan soal benar dan salah, patut dan tidak patut, apalagi legal dan ilegal. Baginya, yang terpenting adalah kepuasan yang memanjakan perut dan kelamin, dan al-Quran menyebutnya sebagai “lebih keras (buas).”
Manusia sejati adalah ia yang tidak hanya puas sebagai makhluk berakal, tetapi bergerak ke atas menjadi pengiman Tuhan, agama, dan hari kebangkitan. Karena keyakinan inilah, Ali bin Abi Thalib berani memanaskan sepotong besi lalu mendekatkannya ke tubuh saudaranya, Aqil bin Abi Thalib setelah Aqil memohon untuk diberi dana “non-bugeter” dari baitulmal. Saat Aqil merintih kesakitan, Ali berkata, “Wahai Aqil, saudaraku! Apakah kau menangis karena besi ini, padahal ia dibuat oleh manusia? Lalu, mengapakah engkau suruh aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu terbakar oleh besi panas yang disiapkan Allah di akhirat?”
Rupanya di era microchip ini, manusia sejati (tanpa embel-embel ‘kebinatangan’) sudah dianggap ‘kurang manusiawi’. Karena itulah, kini yang mulai dipandang sebagai idola dan tumpuan harapan (sekaligus jurus meraih keuntungan) adalah para kelelawar, laba-laba, pinguin, dan mungkin masih banyak lagi.
So, welcome to the jungle
( Renungan ' Spiderman ' by Dr. Muhsin Labib )
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
The Impact of Islamic Revolution on my life (Shaban 1437H - Haul of Imam Khomeini (ra ) Bismilillahirahmanirrahim Allahumma s...

