LOVE, Beauty & Perfections bring to Harmony & UNITY



Semua yang ada di dunia ini akan ada, apabila ada lawannya. Kebaikan tidak mungkin kita ketahui apabila tidak ada yang namanya kejahatan. Lawan dari sesuatu itu lah yang menyebabkan kita bergerak ke arah kesempurnaan. Obat tak mungkin akan ada apabila kita tak pernah sakit. Keharusan untuk berilmu pengetahuan di karenakan oleh adanya kebodohan yang membuat manusia sengsara. 

Itulah hukum yang berlaku yang diciptakanNYA untuk berlangsungnya kehidupan menuju kesempurnaanNYA. Banyak sekali contoh-contoh yang ada, yang paling jelas, seperti, manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dua lawan jenis ini tercipta untuk melestarikan kehidupan dunia ini. 

Ketertarikan dari kedua lawan jenis ini harus mengarah kepada 'kesatuan' (unity). Dan semua pasti mengarah kepada elemen yang positif - menuju kesempurnaan

Untuk dapat adanya saling tarik menarik ini, harus ada unsur kesamaan, yang dapat menyatukan (misalnya , seorang yang senang nonton, akan selalu senang berteman dengan orang yang mempunyai hoby menonton juga, agar dapat 'ngobrol' asyik dan berdiskusi tentang film yang mereka tonton). 

Tetapi, semua ketertarikan itu harus pada unsur yang positif, contohnya, orang yang bodoh pun tidak mungkin senang bergaul dengan sesama orang bodoh, dia akan senang bersama dengan orang yang berilmu, karena dirinya pun menginginkan untuk menjadi seorang 'alim' ; seorang pencuri tidak akan senang apabila dia berada di komunitas dengan para pencuri, karena pasti akan was was bahwa miliknya pun akan dicuri, tentu apabila dia harus memilih, dia lebih senang bergabung dengan orang baik-baik. Karena hukum alam selalu menuju kepada kesempurnaan. Seorang yang dzalim tidak akan mau di dzalimi, dia pun ingin hidup dalam lingkungan adil, aman dan tenang.

Apa itu kedzaliman? Mungkin kebanyakan dari kita membayangkan kedzaliman itu , sesuatu yang 'horor', 'sadis' dan sebagainya, Ya, itu pun kedzaliman, tetapi itu hanyalah manifestasi dari kedzaliman itu sendiri. 

Sesungguhnya, apabila kita tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya (tidak bertindak sesuai dengan yang seharusnya, itulah kedzaliman. Menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya atau kebutuhannya adalah kebalikan dari kedzaliman yaitu keadilan. 

Seorang perempuan yang tidak menuntut ilmu yang wajib (ilmu yang berhubungan antara dirinya dan Tuhannya), berarti dia sedang mendzalimi dirinya sendiri, karena hak dia sebagai perempuan Islam untuk mendapatkan ilmu tidak dimanfaatkannya, seorang yang mengkonsumsi makanan lebih dari porsinya, berarti dia tidak sayang pada badannya, sehingga dapat menyebabkan keracunan, karena usus di perutnya tidak sanggup menampung makanan yang di konsumsinya, dan akan mengakibatkan kelebihan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh. 

Seorang yang hanya tenggelam dalam dunia khayalnya, dengan mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan meminum yang memabukan, berarti dia sedang mendzalimi dirinya sendiri dan bersikap tidak adil pada dirinya.

Orang-orang yang terdzalimi itu sama sekali tidak merdeka, mereka terjajah dengan kebiasaan hawa nafsunya, dan mereka senantiasa memanjakan hawa nafsunya sehingga merusak dirinya sendiri ....Inilah kejahatan yang terselubung, yang secara tidak sadar kita terlena. 

Mereka mengatakannya ini adalah masalah pribadi, menurut mereka orang lain tak boleh ikut campur, tetapi pada saat yang sama, mereka tidak mengenal pengaruh dari sikap tersebut. Dampak dari sikap yang demikian akan menciptakan masyarakat menjadi tak acuh pada masalah sekitarnya sehingga masyarakat itu akan semakin terpuruk . Dan terjadilah dekadensi moral. Mereka menjadi egosentris, sibuk dengan merusak diri-diri mereka, dan lebih hebatnya lagi mereka menamakan itu sebagai 'kebebasan'??

Lucunya mereka yang sudah terbius dengan paradigma tersebut, tidak menamakan itu sebagai 'kedzaliman', tetapi menamakannya sebagai 'kebebasan' berekspresi??

Islam mengajarkan bahwa kebebasan yang sesungguhnya adalah apabila kita dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan kita . Dan yang sangat mengetahui segala kebutuhan kita tidak lain dan tidak bukan hanyalah Sang MAHA PENCIPTA diri kita yaitu Allah SWT. Jadi kebebasan itu adalah apabila kita mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan keinginanNYA

Logika yang normal akan mengiyakan hukum ini bukan?

Sudah menjadi ketentuan hukum alam bahwa kita akan tertarik pada keindahan & kesempurnaan. Seperti telah kita ketahui, sesuatu yang sempurna itu haruslah datangnya dari yang MAHA SEMPURNA. Ketertarikan kita pada sesuatu yang sempurna itu akan membawa kita pada kesempurnaan itu sendiri, serta penyatuan dengan Sang Maha Sempurna. Sikap ini, mendorong kita untuk berusaha menjadi seperti yang "MAHA SEMPURNA". 

Dan itulah tujuan Sang Maha Sempurna untuk membangkitkan makhlukNYA untuk berperilaku sepertiNYA. Refleksi dari meniruNYA, dengan selalu berusaha untuk meniru perilaku para nabi dan wali-waliNYA yang diutus mendidik manusia menjadi yang diinginkanNYA sesuai dengan perintahNYA. 

Persamaan berperilaku dengan apa yang telah dicontohkan para nabi dan para wali Allah itu, adalah ciri dari seorang yang mengaku mencintaiNYA. Apabila kita mengaku mencintai Allah, tentu kita akan mencintai RasulNYA, dan tentu kita akan mencintai WashiNYA, dan pasti kita mencintai para AuliaNYA, kekasihNYA, Mukminin...itulah tingkatan-tingkatannya.

So, anehlah apabila kita mengaku mencintai Allah tetapi tidak mencintai WashiNYA, dan mengaku mencintai RasulNYA tetapi tidak mencintai yang dicintainya, yang kita diperintahkan untuk mencintainya.

Begitu juga apabila kita mencintai WashiNYA (A'imah as) tetapi kita tidak mencintai pengikutnya yang setia (Mukminin). Ini adalah suatu logika yang sangat mudah dipahami. 

Dan bentuk dari kecintaan itu adalah dengan adanya keinginan untuk dapat meniru 'life style' mereka. Sangat tak masuk akal, apabila kita mengaku mencintainya tetapi kita berperilaku yang tidak sesuai dengan gaya hidup mereka? Ini namanya gombal only 'lip service'.

Seorang yang mencintai ingin dilihat dan diperhatikan oleh yang kita cintai, dengan cara berperilaku seperti yang mereka cintai, agar mendapatkan perhatian mereka dan apresiasi dari mereka. Apabila kita berperilaku sebaliknya berarti kita sedang menantang dan ingin dibenci oleh mereka?? 

Mengerjakan apa yang mereka kerjakan dan membenci apa yang mereka benci tentu itulah bentuk kecintaaan yang sesungguhnya

Cinta pun ada tingkatannya, dari yang hanya mencintai kebenaran secara umum, hingga prinsip dari kebenaran itu sendiri. 

Seseorang yang selalu berada pada kebaikan-kebenaran , kita akan menghormatinya dan mencintainya. Terlebih lagi kita akan lebih sangat mencintai & menghormati orang-orang yang selalu mempertahankan prinsip nilai -nilai kebenaran itu dengan harta, jiwa dan raganya. 

Oleh karenanya, kita sangat mencintai para Nabi dan A'imah as seperti Imam Husain as di Karbala, yang mempertahankan ajaran Allah setinggi mungkin, dengan membayar diri dan keluarganya demi terjaganya prinsip kebenaran itu. 

Itulah Islam, yang mempertahankan prinsip-prinsip dasar fitrah manusia yang sesungguhnya, bukan hanya nilai-nilai yang terlihat dipermukaan. 

Semua prinsip dasar itu harus lah terdidik dan datang dari setiap rumah seorang yang mengaku mencintai Allah, para nabi dan WaliNYA. 

Prinsip dasar ini akan sangat berpengaruh pada apa yang terjadi di masyarakat. Misalnya ; seorang yang terdidik baik di rumahnya, akan dapat menciptakan masyarakat yang berpendidikan dan bermoral. 

Maka dari itu, kaum perempuan sebagai pendidik fundamental, haruslah mengajarkan pendidikan dasar yang sesuai dengan keinginan Tuhan, untuk menciptakan masyarakat yang berketuhanan, adil, beradab dan berakhlak mulia. Pendidikan sekolah atau di luar rumah adalah komplimentari dari pendidikan dasar yang telah diajarkan di dalam rumah. 

Seorang anak akan melihat, meniru hal-hal yang pertama di lihat di rumah. Mereka secara fitrah mencari 'role model' dalam segala perbuatannya, dan yang paling pertama di lihatnya, adalah orang tuanya, terutama ibunya. Apabila tidak mendapatkannya dirumah, tentu mereka akan mencarinya di luar rumah. 

Disinilah awal dari ketimpangan, ketidak harmonisan yang akan terjadi di masyarakat. Sehingga ini adalah menjadi kewajiban yang dibebankan kepada orang tua, khususnya, kaum ibu, sebagai anggota dari masyarakat.

Semua itu ada ditangan kita wahai para kaum perempuan yang dimuliakan Allah. Mencintai berarti mendidik diri kearah kesempurnaan yang harmonis nan sejati...

Untuk ingin dicintaiNYA, kita harus melakukan yang DIA cintai, dengan menyerupai diriNYA melalui sifat-sifatNYA yang kita kenal...Jadilah pencinta sejati, bukan 'penggombal sejati... Wallahuallam bi sawab....Allahhuma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum....Adrikna Ya Mahdi

No comments:

Post a Comment