SIARAN PERS AHLULBAIT INDONESIA - Kasus SAMPANG


SIARAN PERS AHLULBAIT INDONESIA (ABI)

“ Nak, jangau kau menaruh dendam pada pembunuh bapak. Sayangi mereka karena hidup dalam kegelapan dan kebodohan.” (Wasiat Muhammad Hasyim bin Masyhuri, 50, warga Syiah di Nangkrenang, Sampang, di detik-detik terakhir hayatnya kepada putranya Muhaimin Hamama. Muhammad Hasyim, kerap disapa Hamama, meninggal dengan usus terburai dan luka sayatan di punggung. Dia jadi korban keberingasan setelah berupaya menyelamatkan keluarganya dari amukan massa. Dia mati dengan meninggalkan seorang istri dan enam orang anak. Muhaimin, putra tertuanya, saat ini masih berusia 15 tahun.)

JAKARTA, 31 AGUSTUS – Untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Indonesia, organisasi induk warga Syiah mengajukan sikap sekaligus tuntutan resmi ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait Tragedi Berdarah Sampang, sebuah isyarat besarnya harapan mereka pada komitmen dan kesungguhan pemerintah untuk menegakkan keadilan yang sobek oleh kegelapan atas nama agama.
Meletus pada 26 Agustus, Tragedi Berdarah Sampang ditandai dengan penyerbuan terencana atas kediaman sekitar 600 orang warga Syiah yang menetap di tiga dusun di Kecamatan Omben, Sampang, Madura. Berbagai kesaksian menggabarkan kawanan penyerbu maju dengan clurit, parang dan bom molotov. Tak ada yang bisa membendung. Polisi Sampang, meski telah mendengar rencana penyerangan itu, kalah dalam jumlah. Cerita selebihnya adalah fakta getir: dalam hitungan jam, keberingasan kawanan itu menewaskan satu orang, melukai belasan orang lainnya. Beberapa di antara korban luka masih terbaring kritis di rumah sakit hingga kini. Laporan dari lapangan juga menyebutkan kalau kawanan penyerang membakar puluhan rumah warga Syiah lepas menjarah habis isinya – termasuk ternak sapi yang menjadi andalan kehidupan warga yang umumnya petani. Sementara itu, hingga hari ini, Brimob dan TNI masih bekerja keras mengevakuasi ratusan warga yang terpaksa bersembunyi di hutan-hutan seputaran desa dengan bekal seadanya karena ketakutan.
Syiah, kata Ketua Umum Ahlul Bait Indonesia, Hasan Alaydrus, sudah lama menjadi bagian dalam kehidupan sederhana dan bersahaja orang-orang di Sampang. “Masalah memang ada saja, tapi tak pernah berakhir hingga kekerasan apalagi pembunuhan,” katanya. Eskalasi kebencian dan penyerangan, kata Hasan Alaydrus lagi, mulai menggejala lepas munculnya fatwa sesat Syiah oleh MUI Jatim pada 2007 dan fatwa serupa datang dari PWCU Sampang tak lama setelahnya. “Ini diperparah oleh segelintir muballigh yang menyalakan api kebencian atas Syiah, termasuk menyebut kalau orang Syiah halal darahnya, wajib „dikarungi‟,” kata Hasan menyesalkan hukum tak pernah ditegakkan pada para penyebar kebencian itu.

DEWAN PENGURUS PUSAT
Lebih jauh, Hasan Alaydrus berpendapat fatwa sesat Syiah dan laku memalukan sebagian penceramah di Jawa Timur itu janggal dari sisi manapun. Dia bilang MUI Pusat dan Kementrian Agama tak pernah mengeluarkan fatwa sesat atas Syiah. “Di negara-negara lain, Syiah tak pernah difatwakan sesat. Bahkan di Arab Saudi tak pernah muncul fakta serupa.”
Di Sampang pada Desember 2011, fatwa sesat dan provokasi anti Syiah menemukan bentuk awalnya: teror dan pembakaran mesjid, pesantren dan rumah warga Syiah pada 26 Desember 2011. Jika ini saja sudah memilukukan, lebih gelap fakta bahwa lepas kejadian itu, justru korban teror dan kekerasan, dalam hal ini Ustadz Tajul Muluk, pimpinan warga Syiah di Sampang, yang dimejahijaukan oleh polisi di Sampang. Pengadilan di Madura belakangan menjatuhkan hukuman dua tahun penjara untuk Tajul. Hakim berkesimpulan Tajul mendakwahkan Al Qur’an palsu, sebuah putusan sesat mengingat hingga persidangan berakhir tak pernah ada bukti Tajul memiliki Al Quran palsu seperti yang dituduhkan.
Sementara itu, Ketua Dewan Syura ABI, Umar Shahab, mengungkap harapan agar semua pihak bahu-membahu menutup lembar perselisihan mazhab Islam. Umar mengatakan, dalam KTT OKI terakhir di Arab Saudi, Raja Abdullah, menawarkan kesediaan dan meminta semua negara Islam memfasilitas dialog antar mazhab, di mana Syiah menjadi bagian di dalamnya. “Sungguh tragis di saat negara-negara lain berjuang menutup jurang perbedaan, Sampang justru berdarah-darah,” katanya.
Terkait semua itu, Sekretaris Jenderal Ahlul Bait Indonesia, Ahmad Hidayat, menyebut organisasi, dalam satu-dua hari kedepan, bakal bersurat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Surat memuat sikap dan tuntutan organisasi dan kami berharap pemerintah menaruh perhatian serius pada tragedi berdarah ini dan mengupayakan penegakan keadilan sesegera mungkin agar tak ada lagi tragedi serupa di masa datang,” katanya menyebut surat yang sama juga ditujukan ke Kementrian Agama, Kementrian Sosial, MUI, Kepolisian Republik Indonesia dan Badan Intelijen Negara.

DEWAN PENGURUS PUSAT
SIKAP AHLULBAIT INDONESIA (ABI)

1. Meminta pemerintah mengupayakan dengan segera dialog dan pencabutan fatwa sesat Syiah yang terbukti menjadi pemicu lahirnya kebencian dan keberingasan ekstrim yang tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur Pancasila.
2. Meminta pemerintah bekerja keras memulihkan hak-hak korban, termasuk membangun kembali rumah-rumah mereka yang hancur, mengganti harta benda yang dijarah, serta memberikan jaminan perlindungan dan keamanan sehingga warga Syiah di Sampang bisa kembali hidup normal di kampung sendiri.
3. Meminta pemerintah mengesampingkan gagasan relokasi warga karena hal itu sama saja memberi kemenangan dobel bagi para provokator Tragedi Berdarah Sampang.
4. Meminta pemerintah melibatkan warga Syiah di Sampang dalam setiap musyawarah terkait hak-hak mereka, yang dalam hal ini diwakili oleh ABI.
5. Meminta pemerintah menghentikan semua bentuk kriminalisasi atas warga Syiah, termasuk atas terpindana dua tahun penjara Tajul Muluk.
6. Meminta pemerintah menindak dan mengadili kawanan penyerang di Sampang serta otak di balik tragedi berdarah itu.
Jakarta, 31 Agustus 2012 M
13 Syawal 1433 H


DEWAN PENGURUS PUSAT
AHLULBAIT INDONESIA
HASSAN ALAYDRUS AHMAD HIDAYAT
KETUA UMUM SEKRETARIS JENDERAL
DEWAN PENGURUS PUSAT

PIDATO Lengkap Sayid Ali Khamanei- Pemimpin Tertinggi Republik Islam IRAN di KTT GNB ke 16 - Tehran

Pidato Lengkap Rahbar di KTT GNB Ke-16 Tehran

بسم‌اللّه‌الرّحمن‌الرّحیم‌

الحمد للّه ربّ العالمین و الصّلاة و السّلام على الرّسول الأعظم الأمین و على اله الطّاهرین‌ و صحبه المنتجبین و على جمیع الأنبیاء و المرسلین.‌

Saya mengucapkan selamat datang kepada Anda para tamu yang mulia, para pemimpin dan delegasi negara-negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) dan para peserta lainnya di konferensi besar internasional ini.

Kita berkumpul di sini dengan hidayah dan pertolongan Allah Swt, memberikan kembali kehidupan baru kepada gerakan yang dibentuk enam dekade lalu berkat keawasan dan penguasaan atas kondisi serta keberanian sejumlah pemimpin politik yang peduli dan bertanggung jawab, sesuai dengan tuntutan masa dan situasi dunia saat ini.

Para tamu kami dari berbagai wilayah geografi jauh dan dekat berkumpul di sini dan milik berbagai bangs adan etnis serta memiliki keyakinan, budaya, sejarah, dan warisan yang beragam, akan tetapi seperti yang ditekankan oleh Ahmad Soekarno, salah satu pendiri gerakan ini di Konferensi—yang terkenal—Bandung pada 1955, bahwa prinsip pembentukan GNB, bukan kesatuan geografis, etnis atau agama, melainkan persatuan itu sendiri. Di hari itu, negara-negara anggota GNB sangat membutuhkan sebuah ikatan yang mampu melindungi mereka dari dominasi jaringan kekuatan adidaya dan hegemonis; sekarang dengan perkembangan dan kemajuan sarana hegemoni, tuntutan tersebut tetap ada.

Saya ingin mengungkapkan fakta lain:

Islam mengajarkan bahwa manusia dengan keragaman etnis, bahasa dan budaya, memiliki fitrah yang setara yang menyeru mereka pada kesucian, keadilan, kebajikan, solidaritas dan kerjasama, dan watak kebersamaan ini yang jika dapat selamat melintasi keinginan menyimpang, maka ia dapat membimbing manusia kepada tauhid, makrifat zat Allah Swt. 

Ini adalah hakikat terang yang sedemikian memiliki kapasitas yang mampu membentuk pilar dan pondasi masyarakat yang bebas, mulia, maju dan adil, serta meresapkan pancaran spiritualitas ke seluruh aktivitas materi dan duniawi manusia, dan dapat mewujudkan sorga dunia sebelum sorga yang dijanjikan Allah Swt. Dan dalam fakta kolektif dan menyeluruh yang dapat membentuk ikatan kerjasama persaudaraan bangsa-bangsa yang dari sisi lahiriyah, jejak historis dan geografis tidak memiliki kemiripan satu sama lain.

Setiap kali kerjasama internasional berdasarkan pada ikatan seperti ini, maka hubungan antarnegara bukan berdasarkan kekhawatiran, ancaman atau ketamakan, dan kepentingan sepihak atau mediasi oknum-oknum pengkhianat, melainkan berasaskan pada prinsip kepentingan kolektif yang benar, dan lebih tinggi dari itu, kepentingan kemanusiaan, yang dapat melegakan jiwa mereka yang sadar dan opini rakyat mereka.

Sistem ideal ini berada di titik yang berlawanan dengan sistem imperialisme yang dalam beberapa abad terakhir kekuatan kolonial Barat dan sekarang negara-negara arogan dan agresor Amerika Serikat, sebagai pengklaim, penyebar luas, dan pionir dalam hal ini. 

Para tamu yang mulia!

Sekarang tujuan utama Gerakan Non-Blok setelah enam dekade berlalu dan tetap hidup dan tegak berdiri; adalah tujuan-tujuan seperti anti-penjajahan, independensi politik, ekonomi dan budaya, tidak berkomitmen pada kutub-kutub kekuatan, serta peningkatan solidaritas dan kerjasama antarnegara anggota. Fakta-fakta dunia saat ini sangat jauh dari tujuan-tujuan tersebut, akan tetapi tekad bersama dan upaya menyeluruh untuk melalui fakta-fakta tersebut dan dalam mencapai tujuan, meski penuh kendala, akan tetapi sangat memberikan harapan dan hasil. 

Di masa lalu yang tidak begitu jauh, kita menyaksikan kegagalan politik era Perang Dingin dan unilateralisme setelahnya. Dengan menimba pelajaran dari pengalaman bersejarah itu, kita sedang bergerak menuju sistem global baru dan Gerakan Non-Blok dapat dan harus menunjukkan peran barunya. Sistem (baru) tersebut harus berdasarkan partisipasi komprehensif serta kesetaraan hak bangsa-bangsa. Solidaritas dan kerjasama kita negara-negara anggota GNB ini, merupakan tuntutan utama dalam membentuk sistem itu.

Untungnya, prospek transformasi dunia, mengindikasikan sebuah sistem multi-dimensional yang di dalamnya, kutub-kutub kekuatan kuno menyerahkan posisinya kepada sekelompok negara, kebudayaan dan peradaban yang beragam dan memiliki berbagai tuntutan ekonomi, sosial dan politik. Berbagai peristiwa besar yang kita saksikan dalam tiga dekade terakhir, semuanya menunjukkan munculnya kekuatan-kekuatan baru yang dibarengi dengan pelemahan kekuatan-kekuatan (adidaya) kuno. Peralihan kekuasaan secara gradual ini, memberikan kesempatan kepada negara-negara Gerakan Non-Blok untuk memainkan pengaruh penting dan proporsional di kancah global dan mempersiapkan sebuah manajemen yang adil dan menyeluruh di tingkat dunia. Kita negara-negara anggota GNB, dalam periode lama dan dengan keragaman pandangan serta kecenderungan, mampu melestarikan solidaritas dan hubungan kita demi tujuan kolektif dan keberhasilan ini bukan masalah sederhana dan sepele. Ikatan ini dapat menjadi bekal menuju sebuah sistem yang adil dan berprikemanusiaan.

Kondisi dunia saat ini, mungkin menjadi kesempatan yang tidak akan terulang lagi untuk GNB. Pernyataan kami bahwa ruang kontrol dunia tidak boleh ditangani dengan diktatorisme segelintir negara Barat. Partisipasi demokratis global di sektor manajemen internasional harus dapat diwujudkan dan dijamin. Inilah tuntutan semua negara yang secara langsung maupun tidak langsung telah atau sedang menderita kerugian akibat interferensi sejumlah negara arogan.


Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki struktur dan kinerja yang tidak logis dan adil serta benar-benar tidak demokratis; Ini adalah diktatorismenyata dan sebuah kondisi kuno, ditolak, dan kadaluarsa. Dengan penyalahgunaan metode keliru ini, Amerika Serikat dan sekutunya dapat memaksakan kesewenag-wenangannya kepada dunia di balik kedok nilai-nilai tinggi. Mereka mengatakan bahwa hak asasi manusia yang menginginkan kepentingan Barat, mereka mengatakan demokrasi, dan menggulirkan intervensi militer ke berbagai negara dengan alasan tersebut, mereka mengungkapkan pemberantasan terorisme, serta menyerang warga tak berdaya di desa dan kota-kota dengan bom-bom dan senjata mereka. Di mata mereka, kemanusiaan dibagi menjadi dua kategori, kelas pertama dan kelas kedua atau ketiga. Nyawa manusia di Asia, Afrika dan Amerika Latin sangat murah dan adapun nyawa di Amerika Serikat dan Eropa sangat murah. Keamanan Amerika Serikat dan Eropa sangat penting, adapun keamanan umat manusia lainnya tidak penting. Penyiksaan dan teror jika dilakukan oleh Amerika Serikat, rezim Zionis Israel, dan antek-antek mereka legal dan sepenuhnya dapat dimaklumi. Penjara-penjara rahasia mereka di berbagai penjuru dunia menjadi saksi perlakuan buruk dan tidak manusiawi para sipir penjara terhadap para tahana yang tidak memiliki pengacara dan dipenjara tanpa melalui proses hukum. Baik dan buruk sepenuhnya relatif dan didefinisikan secara sepihk. Kepentingan-kepentingan mereka dipaksakan kepada bangsa-bangsa dunia dengan mengatas namakan ketentuan internasional. Dengan menggunakan jaringan medianya, mereka memperkuat pernyataan mereka dengan memperkenalkan sebagai "masyarakat internasional, serta mengubah kebohongan menjadi kejujuran, kebatilan menjadi kebenaran, kezaliman menjadi upaya penegakan keadilan, dan dalam menyikapi setiap pernyataan benar yang mengungkap penipuannya, mereka melabelnya sebagai kebohongan serta menilai setiap tuntutan sah sebagai kenakalan." 

Rekan-rekan!

Kondisi yang cacat dan penuh cela ini tidak boleh berlanjut. Semua pihak telah lelah menghadapi struktur internasional yang keliru ini. Gerakan 999 persen warga di Amerika Serikat dalam melawan sentra-sentra kekayaan dan kekuasaan di negara itu, serta protes warga negara-negara Eropa Barat terhadap politik ekonomi pemerintahan mereka juga menunjukkan habisnya kesabaran rakyat menghadapi kondisi ini. Kondisi yang tidak logis ini harus disembuhkan.

Hubungan kokoh, logis, dan komprehensif negara-negara anggota GNB dapat memberikan pengaruh besar dan esensial dalam menemukan penawar tersebut.

Para hadirin yang mulia!


Perdamaian dan keamanan internasional adalah salah satu isu vital dunia saat ini dan pemusnahan senjata bencana pemusnah massal merupakan tuntutan mendesak dan seruan universal. Di dunia sekarang ini, keamanan merupakan tuntutan bersama di mana tidak ada ruang untuk diskriminasi. Mereka yang menimbun senjata anti-kemanusiaan di gudang senjata tidak berhak untuk menyatakan diri sebagai penegak keamanan global. Tidak diragukan lagi, itu tidak akan mewujudkan keamanan bagi diri mereka sendiri. Sangat disayangkan sekali negara-negara yang memiliki persenjataan nuklir terbesar tidak punya niat serius dan tulus untuk memusnahkan senjata mematikan itu dari doktrin militer mereka dan mereka masih menganggap senjata tersebut sebagai instrumen yang menghalau ancaman dan sebagai standar penting dalam mendefinisikan politik dan posisi internasional mereka. Perspektif seperti ini harus ditolak dan dikutuk.

Senjata nuklir tidak menjamin keamanan, juga tidak mengkonsolidasikan kekuatan politik, melainkan ancaman bagi keamanan dan kekuatan politik. Peristiwa yang terjadi pada 1990-an menunjukkan bahwa kepemilikan senjata tersebut bahkan tidak mampu menjaga keruntuhan sebuah rezim seperti Uni Soviet. Dan sekarang kita menyaksikan sejumlah negara tertentu menghadapi gelombang ketidakamanan mematikan meski memiliki bom atom.

Republik Islam Iran menilai penggunaan senjata nuklir, kimia dan sejenisnya sebagai dosa besar dan tidak terampuni. Kami mengusulkan gagasan "Timur Tengah bebas dari senjata nuklir" dan kami berkomitmen dalam hal ini. Bukan berarti kami menepikan hak kami untuk mendayagunakan tenaga nuklir sipil dan produksi bahan bakar nuklir. Berdasarkan hukum internasional, penggunaan damai energi nuklir adalah hak setiap negara. Semua harus dapat menggunakan sumber energi yang bersih untuk berbagai tuntutan penting negara mereka dan masyarakat, tanpa harus bergantung pada pihak lain dalam mewujudkannya. Sejumlah negara Barat, mereka memiliki senjata nuklir dan yang bersalah dalam aksi ilegal ini, ingin memonopoli produksi bahan bakar nuklir. Gerakan secara diam-diam sedang bergulir untuk mengkonsolidasikan monopoli permanen atas produksi dan penjualan bahan bakar nuklir di pusat-pusat yang membawa label internasional tetapi pada kenyataannya beradai di bawah kontrol segelintir negara Barat saja.

Sebuah ironi pahit dari masa kita adalah bahwa pemerintah AS, yang memiliki stok senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya terbesar dan paling mematikan dan satu-satunya negara bersalah karena penggunaannya, saat ini ingin memegang panji penentangan terhadap proliferasi nuklir. AS dan sekutu Baratnya telah mempersenjatai rezim penjajah Zionis dengan senjata nuklir dan menciptakan ancaman besar bagi wilayah sensitif ini. Namun kelompok penipu yang sama tidak mentolerir penggunaan damai energi nuklir oleh negara-negara independen, dan bahkan menentang dengan segala kekuatannya, produksi bahan bakar nuklir untuk tujuan damai, radiofarmasi dan tujuan manusiawi lain. Alasan mereka adalah kekhawatiran produksi senjata nuklir. Dalam kasus Republik Islam Iran, mereka sendiri tahu bahwa mereka berbohong, tetapi kebohongan itu dibenarkan oleh sebuah jenis politik yang benar-benar tidka memiliki jejak spiritualitas sedikit pun. Apakah pihak yang tidak malu menciptakan ancaman nuklir di abad ke-21, akan malu ketika berbohong?

Saya menekankan bahwa Republik Islam tidak pernah mengacu senjata nuklir dan bahwa hal itu tidak akan pernah merelakan hak bangsanya untuk menggunakan energi nuklir demi tujuan damai. Moto kami adalah: "Energi nuklir untuk semua dan senjata nuklir tidak untuk siapapun." Kami menekankan masing-masing dua prinsip tersebut, dan kami tahu bahwa mematahkan monopoli sejumlah negara Barat dalam produksi energi nuklir dalam koridor Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) adalah demi kepentingan semua negara independen, termasuk para anggota Gerakan Non-Blok.

Pengalaman sukses Republik Islam dalam melawan arogansi dan tekanan komprehensif Amerika dan sekutunya telah membuktikan bahwa perlawanan dari bangsa yang bersatu dan tegas dapat mematahkan segala permusuhan dan membuka lebar jalan menuju tujuan mulianya. Kemajuan yang komprehensif yang dicapai negara kami dalam dua dekade terakhir merupakan fakta bagi kita semua untuk melihatnya, seperti yang berulang kali dibuktikan oleh para pengamat resmi internasional. Semua ini terjadi di bawah sanksi, tekanan ekonomi dan kampanye propaganda oleh jaringan yang berafiliasi dengan Amerika dan Zionisme. Sanksi, yang dinilai melumpuhkan oleh para komentator tidak masuk akal, bukan hanya tidak melumpuhkan kami, namun justru membuat langkah kami lebih mantap, meningkatkan tekad kami dan memperkuat kepercayaan diri kami terkait kebenaran analisa kami dan kemampuan bangsa kami. Berualng kali kjmi menyaksikan bantuan ilahi dengan mata kepala kami sendiri dalam menghadapi tantangan.

Para tamu terhormat!

Saya menganggap perlu untuk berbicara tentang isu yang sangat penting, yang meski berhubungan dengan wilayah kami, namun telah merambah dimensi yang lebih luas melampauinya dan mempengaruhi kebijakan global selama beberapa dekade. Isu tersebut adalah krisis tragis Palestina. Ringkasan dari masalah ini adalah bahwa berdasarkan plot mengerikan Barat dan di bawah bimbingan Inggris pada 1940-an, sebuah negara yang merdeka dengan identitas sejarah jelas yang disebut "Palestina" telah dirampas dari rakyatnya melalui penggunaan senjata, pembunuhan dan penipuan dan telah diberikan kepada sekelompok orang yang sebagian besarnya adalah imigran dari negara-negara Eropa. Perampasan besar ini- yang awalnya disertai dengan pembantaian orang-orang tak berdaya di kota dan desa-desa serta pengusiran mereka dari rumah kediaman dan tanah air mereka ke negara-negara jiran - telah berlangsung selama lebih dari enam dekade dengan bentuk kejahatan yang sama dan berlanjut hingga hari ini. Ini merupakan isu yang paling penting umat manusia.

Para pemimpin politik dan militer rezim Zionis merampas tidak mengelak dari kejahatan apapun selama ini: mulai dari membunuh warga (Palestina), menghancurkan rumah dan peternakan mereka, menangkap dan menyiksa pria dan wanita dan bahkan anak-anak mereka, menistakan dan menghina bangsa itu serta berupaya menghancurkannya agar dapat dicerna dalam perut pemakan haram rezim Zionis, hingga menyerang kamp-kamp pengungsi di dalam Palestina sendiri dan di negara-negara tetangga tempat jutaan pengungsi hidup. Nama seperti Sabra dan Shatila, Qana dan Deir Yasin telah terukir dalam sejarah wilayah kami dengan darah rakyat Palestina yang tertindas.

Bahkan sekarang setelah 65 tahun berlalu tetap bergulir kejahatan terhadap warga Palestina yang tersisa di wilayah pendudukan oleh para serigala ganas Zionis. Mereka melakukan kejahatan baru satu demi satu dan menciptakan krisis baru di wilayah tersebut. Nyaris tidak ada sehari yang terlewatkan tanpa ada laporan korban nyawa, cedera dan penangkapan para pemuda yang berdiri untuk membela tanah air dan kehormatan mereka dan memprotes penghancuran wilayah perkebunan dan rumah mereka. Rezim Zionis, yang telah melakukan pembunuhan dan menciptakan konflik dan kejahatan selama beberapa dekade dengan melancarkan perang tragis, membunuh orang, menduduki wilayah Arab dan mengorganisir terorisme yang disponsori negara di kawasan dan di dunia, melabel rakyat Palestina sebagai "teroris", orang-orang yang berdiri untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dan jaringan media yang dimiliki oleh Zionisme dan banyak media Barat serta antek-antek bayaran mereka, mengulangi kebohongan besar yang melanggar nilai-nilai etika dan komitmen jurnalistik itu, serta para pemimpin politik yang mengklaim membela hak asasi manusia telah menutup mata di hadapan semua kejahatan dan tanpa malu mendukung bahwa rezim kriminal tersebut dan berani berperan sebagai pendukungnya.

Menurut sudut pandang kami, Palestina adalah milik rakyat Palestina dan bahwa berlanjutnya pendudukan merupakan ketidakadilan besar dan tidak dapat ditoleransi serta ancaman besar bagi perdamaian dan keamanan global. Semua solusi yang disarankan dan ditindaklanjuti oleh Barat serta afiliasi mereka untuk "menyelesaikan masalah Palestina" keliru dan tidak berhasil, dan akan tetap demikian di masa depan. Kami telah mengajukan sebuah solusi demokratis adil dan menyeluruh. Semua rakyat Palestina - baik yang ada di Palestina sekarang dan yang telah dipaksa mengungsi ke negara-negara lain namun tetap mempertahankan identitas sebagai warga Palestina, termasuk Muslim, Kristen, dan Yahudi - harus mengambil bagian dalam referendum yang diawasi secara berhati-hati, membangun kepercayaan dan memilih sistem politik negara mereka, dan semua orang Palestina yang telah menderita bertahun-tahun di pengasingan harus kembali ke negara mereka dan ambil bagian dalam proses referendum ini kemudian membantu merancang konstitusi dan menyelenggarakan pemilihan umum. Setelah itu, baru perdamaian dapat ditegakkan.

Sekarang saya ingin memberikan sedikit hati nasihat kepada para politisi Amerika yang selalu berdiri untuk membela dan mendukung rezim Zionis. Sejauh ini, rezim ini telah menciptakan masalah yang tak terhitung jumlahnya untuk Anda. Ini telah menciptakan kesan buruk bagi Anda di opini masyarakat regional, dan itu telah membuat Anda terlihat seperti kaki tangan dalam kejahatan penjajahan Zionis. Tebusan materi dan moral yang ditanggung oleh pemerintah Amerika dan rakyatnya dalam hal ini sangat mengejutkan, dan jika ini terus berlanjut, terbusan akan menjadi lebih berat di masa depan. Pikirkan tentang proposal referendum dari Republik Islam dan dengan keputusan berani, selamatkan diri kalian dari situasi mustahil saat ini. Tidak diragukan lagi, masyarakat regional dan semua pemikir independen di seluruh dunia akan menyambut langkah tersebut.

Para tamu yang terhormat!

Sekarang saya ingin kembali ke titik awal saya. Kondisi global sangat sensitif dan dunia sedang melintasi sebuah titik sejarah penting. Hal ini diharapkan akan melahirkan tatanan dunia baru. Gerakan Non-Blok, yang mencakup hampir dua pertiga dari masyarakat dunia, dapat memainkan peran poros dalam membentuk masa depan tersebut. Penyelenggaraan konferensi utama di Tehran itu sendiri merupakan peristiwa penting yang harus dipertimbangkan. Dengan penyatuan sumber daya dan kapasitas kita sebagai anggota, gerakan ini dapat menciptakan peran sejarahnya dalam menyelamatkan dunia dari ketidakamanan, perang dan hegemoni.

Tujuan ini hanya dapat dicapai melalui kerja sama komprehensif antar satu sama lain. Di antara kita hanya segelintir negara yang makmur dan menikmati pengaruh internasional. Sepenuhnya mungkin untuk menemukan solusi masalah melalui kerjasama ekonomi dan media dan melalui berbagai pengalaman yang membantu kita berkembang dan mencapai kemajuan. Kita perlu memperkuat tekad. Kita perlu tetap loyal pada tujuan kita. Kita tidak perlu takut kekuatan intimidator ketika mereka mengerutkan kening kepada kita dan tidak seharusnya kita senang ketika mereka tersenyum. Kita harus memperhatikan kehendak Tuhan dan hukum-hukum penciptaan sebagai dukungan kita. Kita harus belajar dari apa yang terjadi ke kamp komunis dua dekade lalu dan dari kegagalan kebijakan yang disebut "demokrasi liberal Barat" sekarang, yang tanda-tandanya dapat disaksikan oleh semua orang di jalan-jalan negara-negara Eropa dan Amerika dan dalam masalah ekonomi berkepanjangan di negara tersebut. Dan akhirnya, kita harus mempertimbangkan Kebangkitan Islam di kawasan ini dan tumbangnya diktator di Afrika Utara, yang sangat bergantung pada Amerika dan menjadi antek Zionis, sebagai kesempatan besar. Kami dapat membantu meningkatkan "produktivitas politik" Gerakan Non-Blok di pemerintahan global. Kami dapat mempersiapkan dokumen bersejarah yang bertujuan untuk membawa perubahan dalam struktur ini dan untuk menyediakan sarana-sarana administratifnya. Kami dapat merencanakan kerjasama ekonomi yang efektif dan menentukan paradigma hubungan budaya di antara kita. Tidak diragukan lagi, pembentukan sekretariat yang aktif dan bersemangat untuk organisasi ini akan memberikan bantuan besar dan signifikan dalam mencapai tujuan-tujuan ini.

Terima kasih.

(IRIB Indonesia/MZ)

Keniscayaan melakukan Perjalanan

Ada hadis yang menyatakan bahwa tingkat keimanan seseorang sangatlah ditentukan dengan tingkat ma'rifat nya kepada Allah. Ya, sebagaimana hadis terkenal pula tentang diri dari Imam Ali a.s , yang mana barang siapa mengenal dirinya, berarti dia mengenal Tuhannya.

Sungguh menarik apabila kita merenungi apa makna dibalik hadis tersebut. Terkadang kita sering lebih banyak mengamati keadaan di luar diri kita dan yang jauh dari diri kita dari pada melihat diri kita sendiri. Sehingga kita sangat sulit utk mengenal siapa sesungguhnya diri kita, dan anehnya kita tidak merasa kehilangan apapun dari diri kita . Apabila ada kesalahan yang kita perbuat pun yang pertama kita salahkan pasti orang lain, sangat jarang kita ini berintrospeksi . Lain halnya apabila barang2 kita hilang kita akan berteriak bangkit dan mencarinya hingga dimanapun barang2 itu dapat ditemukan.

Sementara para Wali Allah berulang2 kali mengingatkan kita bahwasanya kita disuruh untuk mempelajari dan mengingat akan aib-aib diri kita serta kesalahan2 yang pernah kita lakukan , dengan demikian kita akan terus disibukan utk terus menyempurnakan diri kita dan tidak ada waktu lagi untuk meneliti dan mengamati kesalahan2 orang lain apalagi sibuk menggibah membuka aib2 orang lain.

Allah SWT sangat menjaga kehormatan hamba2NYA, sehingga IA selalu menutupi aib2 hambaNYA ( Allah Satar al Uyub ) , oleh karenanya IA sangat membenci hamba2NYA yang dengan sengaja menodai kehormatan hamba2Nya.

Ketika seorang hamba telah mengenal dirinya dia akan selalu dalam keadaan berhati-hati akan apa yang di kerjakannya dan akan selalu bertindak  berdasarkan pada apa yang telah di gariskan dalam peraturan2NYA. Para Insan Kamil - wali2NYA di muka bumi ini begitu sangat menjaga segala tindak dan perilakunya , marahnya hanya karena marah Allah, senangnya hanya karena senangNYA, buat mereka semua jelas dan gamblang karena mereka telah mengenal Tuhannya sedemikian rupa sehingga tak mungkin mereka akan  menodai dirinya ( jiwa sucinya ) . Mereka yang telah mengetahui hakikat dari segala bentuk perbuatan dan tidak hanya sekedar tahu tetapi sekaligus mereka akan mengamalkan apa yang sudah di gariskan oleh Tuhannya, sehingga semua berjalan sesuai dengan keinginanNYA.

Ini disebabkan tingkat pengenalan ( ma'rifah ) pada Sang Maha Pencipta sudah sedemikian paripurna pada diri2 Insan Kamil , sehingga sifat2 Tuhannya selalu dapat termanifestasi dalam segala tindak tanduk perilakunya.

Sementara kita yang masih dalam perjalanan menuju jalanNYA, masih sering tergelincir karena tingkat keimanan kita yang masih jauh dari yang di harapkan dan ma'rifah kita yang belum ada.

Bagaimana tidak , masalah ghibah misalnya, sudah berapa puluh kali kita telah membaca , di terangkan di beri tahu bahwa hakikat dari berghibah adalah memakan dengan menikmati bangkai saudara kita sendiri, tetapi karena keimanan kita yang lemah sekali, dan belum meyakini akan hal tsb, jadi dengan santainya kita terus menerus mengulang2 perilaku dosa tersebut dan akhirnya nauzubillah telah menjadi kebiasaan dan karakter kita yang selalu ingin bergunjing apabila melihat seseorang yang tidak sesuai dengan gaya hidup kita atau kebiasaan kita. Akibat tidak adanya ma'rifat pada Tuhan, kita telah menantang Tuhan kita dengan melakukan sesuatu yang akan merusak diri kita sendiri..... Apakah tidak ada sesuatu yang lebih bodoh dari si jahil yang tak berma'rifah dan lemah iman ini....

Seorang yang pandai , tak mungkin ingin memakan bangkai, apalagi itu dengan keinginannya sendiri serta menikmatinya....karena tidak ada keyakinan akan hadis shahih tersebut, kita seolah2 menganggap bohong atau jauh dari yang kita bayangkan sehingga terus menikmati perbuatan tercela tersebut.....Nauzubillah...

Mungkin yang paling mudah di cerna oleh akal lemah kita, seperti, mayat yang sudah tidak dapat bergerak , tetapi kita takut apabila harus ada disamping mayat yang tak berdaya itu.....Daya khiyal ( wahm ) kita memang melebihi akal sehat . Oleh karenanya, kebanyakan orang hidup dalam prasangka daya khiyalnya sehingga selalu menduga, yang sama sekali belum tentu benar dan kebanyakan salah. Dan inilah yang sangat membahayakan orang2 yang lebih percaya pada khiyal2nya yang selalu berada di alam wahmnya dari pada akal sehatnya.

Cara pandang dunia yang salah akan membuahkan kita berkutat di alam wahm dan jauh dari alam ( aql ) hakikat dimana segala Cahaya, kejelasana, kebenaran berada.

Mengenal diri kita ( ber marifat al nafs ) dengan terus menambah keimanan hanya dapat di raih dengan membersihkan semua yang semu yang ada pada diri kita, dengan bertazkia nafs , tazkia khiyal...sambil terus.mempelajari cara pandang dunia yang benar.  mudah2an kita dapat beranjak dari alam yang terbawah materi, tumbuh2an dan hewan ke alam insan ( diri kita yang seharusnya ).

Perjalanan dari alam terendah hingga alam insan adalah sebuah keniscayaan agar dapat meningkatkan keimanan kita dan mengenalNYA ( ber ma'rifatullah ) . Apabila kita tidak pernah ingin melakukan perjalanan dalam diri kita, apapun yang kita lakukan hanyalah kesia2an belaka dan tak akan dapat meraih objektivitas keberadaan kita sebagai manusia , makhluk termulia yang Allah rencanakan kita untuk diciptakan.

Wallahualam bishawab. Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum....ADRIKNA YA MAHDI











The Message of Ramadhan and Eid


People always think of Eid as the basis of unity. To some extent that may be true, but the question comes: unity for what? The unity in doing Eid prayers together, and that's it? No, my brothers and sisters, this is not the basis of unity. So what should be the basis of unity? The answer lies in the fasting of Ramadan and in Eid al-Fitr itself; in the issue of Fitra, a clear message of uniting in the matter of concern for the less fortunate brothers and sisters of our community, locally as well as globally. Unity lies not in eating baklava and cake with coffee together after Salatul Eid, where some people show up only once in a year. Real unity is in being concerned for the well-being of the Muslims.
The Daily Du'a of Ramadan
Let us look at the Du'a we recited during Ramadan every night, a Du'a which has come from our own Prophet Muhammad al-Mustafa (peace be upon him):
O Allah, bless the departed souls with joy and happiness.
Don't forget those who have passed away, especially those related to you – pray for their forgiveness, do good deeds on their behalf and carry out their unfulfilled obligations.
O Allah, make every poor free from need.
Now that you have been blessed by Allah, have you looked for an opportunity for being used by Allah as an intermediary in providing for others? In Du'a Sha'baniyya, Imam Sajjad (peace be upon him) teaches us to pray to Allah: "Since You have increased Your grace upon me, bless me to be charitable towards those whose sustenance You have straitened." This is, in essence, a prayer to use us as intermediaries in conveying Allah's grace to the less fortunate human beings. Imam Ja'far as-Sadiq (peace be upon him) said, "...and whenever my father used to give anything in charity, he would first put it on the hand of the beggar, then he would take it back (for a moment), kiss it, and then give it back to him. And he used to do this because charity reaches the hand of Allah before it reaches the beggar's hands."
O Allah, feed every hungry person.
Have you thought about participating in the process of helping the poor in the Muslim world – especially in Iraq where there are many Shi'a orphans and widows as result of Saddam's brutal rule, as well as the continued occupation of that land by US-led forces which further breeds insecurity created by al-Qaeda and its supporters in Jordon and Saudi Arabia? One of the signs of those who don't take the Day of Judgment seriously is that "they don't encourage (themselves as well as others) to feed the poor." (107:3)
O Allah, clothe every naked person.
What about the women and children in Darfur who suffer inhumane conditions? What do you know about the situation of the Shi'as in Afghanistan? Do you know the after-effects of the brutality of the Taliban regime upon them? Are you aware of the projects organized by Shi'a organizations to help them in Afghanistan? If not, then try to find out and do something.
O Allah, fulfill the debts of all those in debt.
Look around among your family and friends circle. If someone is really in debt because of economic circumstances, then see how you can help them; encourage them to seek counseling for debt management or see how much you can relieve them of their debts. Has your concern increased during this month?
O Allah, relieve the distress from every person who is in distress.
What about the distress of the people living in the Gaza Strip, known today to be the biggest prison on this earth? Do you think about them? Do you educate yourself about the Palestinian struggle? Have you thought of participating with groups that try to highlight the misery and distress of the Palestinians?
Are you concerned about the distress that the Iranians are going through because of the present threat against that Shia country? If the USA – against the advice of its prominent statesmen and politicians – decides to attack Iran, are you willing to join the protest movement against that war?
O Allah, return all the refugees to their homes safely.
Refugees are becoming a very common feature of this era, even in the Muslim world. Do we think about them or is our attitude like of those mentioned in the Surah Yasin: "Why should we bother – if Allah wished, He could have fed them Himself!"
O Allah, grant freedom to every innocent prisoner.
When we uttered these words or heard them or read them on the screen with its English translation on the monitors during the nightly programs at our centres, did the pictures of innocent prisoners come to our minds? What about those who are in Israeli jails? What about those likes of Maher Arar who are in secret prisons run by the USA in different parts of world? How much do we know and care about those Muslims in North America who are in jail based on the so-called security certificate where the accused or his lawyer cannot even see the evidence used against him? Do we know that prominent non-Muslims have spoken against this injustice?
O Allah, reform whatever is wrong in the affairs of the Muslims.
We probably don't have the means to bring about the change in the Ummah on a global level, but what have we done for the betterment and reformation of our own community? Do we participate in resolving community issues? If things are not working as we wish, what have we done besides complaining? We can't always get consensus on all things, but we cannot afford to ignore the ultimate goal of making this community a better one. In pursuit of becoming a God-conscious and God-fearing community, we cannot afford to abandon the most important social principle of Islam: Amr bil Ma'ruf and Nahi 'anil Munkar. Imam Ali (peace be upon him) has said in his will that if you abandon these two articles of faith, evil ones will rule over you, and then you will sit down and pray for relief – but Allah will not listen to your prayers because you abandoned Amrand Nahi.
O Allah, provide the cure for every sick person.
How do you care for those who are sick amongst your circle of friends? What about those who are sick in the community and are alone? Is there a mechanism to know about them and provide support for them?
O Allah, eliminate our poverty by Your benevolence; O Allah, change our bad situation by the grace of Your benevolence; O Allah, relieve us of our debts and make us free from need. You surely have power over everything.
The sequence of this Du'a is a message by itself – only after praying for others (the dead ones; the poor; the hungry; the naked; those in debt; those in distress; those who are away from their homes; the innocent prisoners; the Muslim Ummah at large; and the sick), the Prophet is teaching us to pray for ourselves. Build in yourselves a concern for others. We need unity in concern for those less fortunate and for our community.
This is the message of Eid al-Fitr, expressed also in the verse recited in that prayer: "Indeed success is for one who pays charity and remembers the name of his Lord and prays." This refers to the issue of paying the fitra (charity) on the day of Eid al-Fitr before going for the Eid prayers. The verse goes on, "You prefer the present life while the hereafter is better and ever-lasting. This(message) has come in the scrolls of Ibrahim and Musa." (87:14-19)
So let us unite with the Prophets, with Ibrahim and Musa, with the Prophet of Islam and the Imams of the Ahlul Bayt, and with the Present Imam (peace be upon them all) in imbibing the concern for the Ummah and fellow human beings in our hearts. This is, indeed, the true basis of unity.
Message of the Second Khutba
Once Imam Ali ibn Abi Talib said in his Khutba of Eid al-Fitr, "O people! This day is like the day of your resurrection. So consider your coming out of your homes to your places of [Eid] prayer like your coming out of the graves towards your Lord. And consider your presence in this place of prayer like the day your will be presented before your Lord [for judgment]. And consider your return to your homes like your return to your homes in the Paradise! O servants of Allah! The least that the people who fasted can expect on the last day of Ramadan is that an angel will announce: 'Good tidings, O servants of Allah, for your past sins have been forgiven; so be careful in what you do from now on.'"
Now that Imam Ali has asked us to consider that our return from the Eid prayer is like returning to our homes in the Paradise, try to maintain the spirit of Paradise in your behavior with your wife or husband, your parents, and your children.
Editor's Note: This article originally appeared in the author's Al-Furqan newsletter and has been reproduced here with permission.

* writter Sayyed Muhammad Rizvi source Islamic Insight ( 20.08.2012)

The True Followers of Imam ALI ibn Abi Thalib a.s


When Imam Ali ibn Musa Ridha (peace be upon him) was requested to make his way to the city of Toos (present-day Mashhad) and was ordered to be the heir-apparent of Mamun ar-Rashid, a group of the Shia came to see him and requested permission to enter into his presence. The Imam asked his servant who the people at the door were, to which the servant replied, "They claim that they are the Shia of Ali." The Imam did not give them permission to enter into his presence. This event continued on the second day, third day, and so on. 

For a period of two months, every day they would come, ask for permission to see the Imam, to which he would not give them the permission. On the final day, this group of people told the servant, "Tell the Imam that if we are to return back to our home town after being in the city of Toos for two months, and the people ask us if we had a chance to visit the Imam or not, and we tell them that he did not give us the permission to meet him, then no one shall respect us." 

The servant went to the Imam and told him what these people said, and at this point, the Imam permitted them to meet him.
After they entered into the presence of the Imam and wanted to sit, the Imam did not give them the permission to sit down. These people protested and said, "O Son of the Messenger of Allah! What have we done to you that you are acting in this way towards us?" The Imam replied to them, "You claim that you are the Shia of Ali, whereas the true Shia of Ali are people like Imam Hasan, Imam Hussain, Abu Dharr, Salman, Miqdad, and Muhammad ibn Abu Bakr.

These people replied, "We ask forgiveness, what else can we say?" The Imam replied to them, "Say that you are the lovers of Ali." When the people said this, then the Imam ordered his servant to show these people kindness. (Bihar al-Anwar, volume 65, p. 157)
Thus, it is clear that this claim to be a Shia is something very enormous. We see that Imam as-Sadiq (peace be upon him) has stated in relation to the characteristics of the Shia that: "Truly my companions are those people who are the strongest in Wara and who fear the punishment of Allah and who are hopeful of the reward of Allah – these are my companions."
As we know, Taqwa is a lower level of Wara, since Taqwa means that we keep away from sins, whereas Wara means that we keep away from doubtful things.
We have considered the various issues that come up around us as trivial things such that with the performance of the Tawassul, Ziyarat and Du'a, we consider ourselves as Shia. We do not wish to lower the worth and value of Tawassul and Ziyarat; however, there are many other things which must be performed, and this is what it means to be a Shia.
To be a Shia means to be self-sacrificing, to show altruism, to possess cognizance of Allah, and to be a person of piety. Our entire life, our house, our marketplace, our religious programs, our travels, our entire presence must all take on the aroma of Wilayat of the Ahlul Bayt (peace be upon them).
In these regards, we must first start with ourselves and our families and we must implement theWilayat which Imam Ridha has stated, and thus, those who make this claim that they are Shia must first ask repentance for lying! We hope that Allah gives us the ability to truly be the lovers of Allah in place of just claiming this station, such that when we claim that we are the Shia of Ali, we are in that form of a Shia that would be pleasing to Imam as-Sadiq and to Imam Ridha.


By Ayatollah Naser Makarem Shirazi

Fasting - Physical Healing


It is quoted from the Prophet of Islam to have said: “Fast, you’ll be healthy”. An Egyptian pyramid inscription in 3800B.C also reads: “Humans live on one-quarter of what they eat; on the three-quarters live their doctor!”

The three fathers of Western Medicine; (Hippocrates, Galen & Paracelsus) prescribed fasting as the greatest remedy and the physician within.

Life Magazine in its September 1996 issue considered fasting: the healing revolution.

There are more than 500 medical journal articles available on therapeutic fasting on the internet. The outstanding physicians named fasting as being; the medicine for the 21st century. They believe the human body is designed to heal itself, if only given the opportunity. Dr. Otto Buchinger; Germany’s great fasting therapist after more than 100,000 fasting cures says: “Fasting is, without doubt, the most effective biological method of treatment.. it is the operation without surgery… it is a cure involving exudation, redirection, loosening up and purified relaxation.”

He furthers therapeutically; fasting cures many of our modern illnesses, including the following: allergies, cardiovascular disease, chronic diseases of the digestive system, degenerative and painfully inflammatory illnesses of the joints, myriad disturbances in one`s eating behavior, glaucoma, initial malfunction of the kidneys, tension and migraine headaches, as well as skin diseases. Preventively, it`s designed to cleanse, and to regenerate, and restore a person`s sense of well-being, in body, mind and soul. As Doctor Buchinger would conclude: "When the body fasts, the soul is hungry; when the body becomes lighter, the soul also craves relief."

Dr. Joel Fuhrman in Fasting and Eating for Health notes: “Fasting has been repeatedly observed to alleviate neuroses, anxiety and depression.”

Fasting marvelously decomposes and burns all the cells and tissue that are aged, damaged, diseased, weakened or dead, a process called in medicine autolyze or self-digest or detoxification.

Michael Rosenbaum, M.D., Director of the California-based Orthomolecular Health Medicine Medical Society, notes on the significance of fasting as a detoxification program: "The hidden cause of many chronic pains, diseases and illnesses may be invisible toxins, chemicals, heavy metals and parasites that invade our bodies . . .Chances are slim that your doctor will tell you that toxins may be the root cause of your health problems. He or she may not even know about how these toxins are affecting your body . . . As your cells go, so goes your health. If your cells have been invaded by toxins and dangerous chemicals, your resistance to disease is diminished. Clean and nourish your cells, and you`re on the road to better health."

When by fasting you stop the input of nutrition for a while, then a flurry of cleansing starts up, the rugs are lifted and the dirty dishes are brought out of the cabinet where they were stashed. Cleansing begins in earnest. 


Source: Fasting - A Body/Mind/Spirit Healing, by Sheikh Mansour Leghaei

Imam Al-Mahdi, the promised Saviour


The belief in the Mahdi is not only an essential doctrine deep-rooted in Islamic faith but rather it is an embodiment of human nature regardless of one’s religious affiliations. For it is the universal desire of humans as a whole to try to achieve or at least witness the realisation of the ultimate objective of their existence, through which they will achieve perfection and social happiness in their entirety. Therefore by reason of inner necessity and inspiration, humans will see a day when society will be replete with justice.
More importantly, from a religious perspective the concept of the Mahdi is the culmination of human struggle in their path towards God the Almighty. It is when true Justice will be established through human hands but with Divine succour resulting in the prevalence of truth over falsehood and all its offshoots.
Certainly those fortunate and blessed individuals who will take part in this grand culmination of servitude, which will result in the prevalence of Truth over all forms of falsehood will be those whose conviction in the Mahdi and the promised day is resolute.
We therefore have to be mindful of what we do and should endeavour in making our souls pure by nourishing them with the Divine light thus making our souls the abode for Allah and his beloved angels. Spiritual perfection should be our goal and if there is any doubt as to whether the Imam is aware of our acts and is overlooking the welfare of his followers, a saying by the Imam should suffice;
‘We have not ignored your consideration, and have not forgotten your mention; otherwise hardship would have descended upon you and your enemies would have exterminated you.’ [Bihar Al-Anwaar, Ch. 53, Pg. 175]
The Imam is therefore watching over our affairs and is patiently awaiting our response to his call. The matter regarding the return of the Imam is not one simply related to awaiting a time frame chosen by the Almighty Allah, rather in accordance to the narration from the Prophet (SAW), it has a direct relationship with our own actions, as he says;
"The best of actions is awaiting Al-Faraj (the return) "
(source AIM Islam posted 1st July 2012)

TANGGUNG JAWAB KITA DI HADAPAN IMAM MAHDI (Atfs)


 Oleh : Ayatullah Nashir Makarim Syirazi

Bertentangan dengan apa yang digambarkan oleh musuh bahwa kepercayaan Imam Mahdi adalah kepercayaan khusus kaum Syi’ah, semua muslim percaya bahwa seseorang dari keturunan Nabi Muhammad saw akan memenuhi bumi dengan keadilan dan persamaan setelah sebelumnya ia dipenuhi dengan ketidakadilan dan tirani. Satunya-satunya perbedaan atas kepercayaan Mahdisme dalam teologi Syi’ah dan Sunni adalah bahwa Syi’ah percaya bahwa Imam Mahdi telah lahir dan berada dalam kegaiban, sementara Sunni percaya bahwa dia akan lahir menjelang hari akhir. Tentu saja, ada minoritas ulama Sunni yang memiliki kepercayaan sama dengan Syi’ah dalam masalah ini.

Ada banyak riwayat dalam sumber-sumber Sunni yang mengatakan bahwa siapa saja yang tidak mengenal Imam zamannya, maka matinya mati jahiliah. Allamah Amini telah mengumpulkan riwayat ini dari berbagai rantai periwayatan Sunni. Sekarang saatnya untuk menjawab pertanyaan ini. Jika tidak mengenal Imam zaman kita menyebabkan suatu masalah besar, yaitu kejahilan, bagi kita, apakah dia termasuk salah satu pemimpin saat ini di Libya, Irak, Yaman, dan lain-lain? Kelompok Sunni tidak punya jawaban atas pertanyaan ini. Jika mereka ingin riwayat ini dari jalur mereka terdengar logis, semestinya mereka percaya pada seseorang selain dari para pemimpin tersebut, yakni mereka harus percaya kepada keyakinan Syi’ah tentang Imam Mahdi.

Kegaiban Artinya Tidak Sadar Bukan Gaib

Adalah suatu kehormatan bagi para pengikut Ahlulbait bahwa keyakinan pada Imam Mahdi bersifat rasional, dapat dibuktikan secara akal, dan memiliki bukti yang jelas dan konklusif. Berdasarkan riwayat ini, seorang Imam zaman hadir di tengah-tengah kita, namun dia dalam kegaiban. Kegaiban bukan berarti bahwa ia tidak terlihat, tetapi artinya bahwa kita tidak menyadari dan tidak mengenal dia.

Selain Doa, Mempersiapkan Kehadirannya adalah Tugas Terpenting

Menurut saya, yang penting dalam periode ini adalah apa tanggung jawab kita di hadapan Tuan kita. Cukupkah kita menantikannya dengan sekadar membaca doa Nudbah pada hari Jumat dan memperingati kelahirannya pada pertengahan Sya'ban dan tidak mengingatnya pada hari-hari selanjutnya? Beberapa ulama telah membuat daftar tugas dan kewajiban kita selama periode kegaibannya seperti membaca doa Faraj (Allahumma kun…), membayar sedekah demi keselamatannya, bersedih karena berpisah darinya, dan bertawasul kepadanya. Namun, menurut saya, tugas kita yang jauh lebih besar dari semua ini adalah kita harus mempersiapkan dunia demi kehadirannya.

Saya ingin memberikan contoh tentang hal ini, yakni mempersiapkan dunia demi kemunculannya. Beberapa tahun sebelum revolusi Islam Iran, para ulama, mahasiswa, penulis dan yang lainnya bergandeng tangan dan memberontak terhadap rezim tiranik. Jika proses ini tidak terjadi, tidak akan ada revolusi. Demikian juga, saat ini tugas kita adalah mempersiapkan dan merencanakan kemunculan Imam. Dengan bersandar pada al-Anbiya (21):105 yang berbunyi, Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh, kita harus membentuk benih unggulan bagi revolusi Imam Mahdi. Ini berarti bahwa sekelompok hamba Allah yang saleh akan berdiri di belakang Imam Mahdi dan dengan bantuan ilahi melangsungkan revolusi universal.

Sekarang, kita harus melihat siapakah yang dimaksud dengan orang-orang saleh ini. Hamba-hamba yang saleh itu termasuk orang di tengah-tengah kita dan mereka yang mengasosiasikan dirinya dengan Imam Mahdi. Karena itu, kita harus memperbaiki dan membangun keyakinan kita, melupakan [dan meninggalkan] perilaku tidak bermoral, bertobat atas dosa-dosa, serta mencapai kesadaran dan pengetahuan tentang Imam. Kita harus mengenalinya sebagai pemimpin sempurna dan siap berkorban apapun dalam misinya.

Menunggu (Intizhar) Berarti Melawan Kefasadan dan Pembusukan Sosial

Langkah selanjutnya adalah berusaha membangun masyarakat, karena jika ada suap dan riba dalam pengelolaan [masyarakat], penjualan di bawah harga normal, penipuan, dan pemakaian hijab buruk (di kalangan perempuan), persiapan-persiapan tidak dapat dilakukan dengan kontaminasi-kontaminasi ini. Menunggu artinya melawan kontaminasi ini. Kita harus melakukan sesuatu yang akan memunculkan benih revolusi dan hamba-hamba Allah yang saleh yang merupakan para pewaris bumi.

Sementara berdoa [demi kemunculannya] dan menangisi [karena perpisahan dengannya], seharusnya kita pun tidak lalai dari tugas utama kita. Sementara mengucapkan salam ziarah [kepada para maksum ketika kita menziarahi mereka], kita memohon kepada Tuhan agar menjadikan kita sebagai pengikut sejati mereka. Ini berarti bahwa pertama-tama kita harus seratus persen mematuhi perintah para Imam kita dan tidak melanggar perintah-perintah tersebut. Kedua, kita harus mengikuti langkah-langkah mereka .. kita harus memiliki kesalehan dan pengendalian diri, membantu kaum fakir, dan menolong para pemuda yang ingin menikah (tetapi kurang biaya). Kerja para Imam kita adalah bahwa mereka menghilangkan kesulitan dari kehidupan masyarakat dan memecahkan masalah mereka. Apakah kita sudah seperti ini?


Wilayah Harus Mencerahkan Seluruh Wujud Kita

Saya mewasiatkan kepada para pemuda, khususnya agar memastikan bahwa di samping menangis, berdoa, dan menahan rasa sakit karena perpisahan, kita juga harus merencanakan dan mempersiapkan kemunculan beliau, atau jika tidak, kehadirannya akan ditunda. Kita membaca dalam Ziarah al-Jami'ah bahwa berpihak pada wilayah (Ahlulbait) akan memiliki empat efek: mengoreksi karakter kita, menjauhkan sifat jelek dari kita, bertobat dari dosa-dosa, dan membersihkan jiwa kita.

Siapakah Musuh Imam Mahdi?

Ada sejumlah kelompok yang menjadi musuh Imam Mahdi. Sebagian adalah para penuntut (kemahdian) palsu, yang secara sadar memiliki permusuhan terhadap beliau dan menyalahgunakan penantiannya. Untuk mencapai kepentingan mereka, mereka mengklaim bahwa mereka adalah para wakilnya dan berurusan dengan Imam. Sebagai jawabannya, penegakan hukum dan pengadilan memiliki tugas mengatasi para penipu ini dan jangan menunggu sampai gerakan mereka bertahan.

Kelompok kedua adalah individu yang memiliki permusuhan terhadapnya berdasarkan kebodohan dan ketidaksadaran. Sesekali, mereka mengklaim Imam akan muncul pada tanggal anu. Mereka akan menunjukkan karakteristik jenderal pasukannya, Syu'aib bin Shaleh, kepada seseorang dan membuat CD tentang hal itu [dan mendistribusikannya secara luas di masyarakat]. Mereka ini adalah teman-teman yang sangat bodoh.

Sekelompok lain adalah orang-orang dan politisi yang terlatih yang menyalahgunakan perkara-perkara suci demi tujuan mereka sendiri. Melawan kelompok ini, orang harus menyimak apa dikatakan para ulama dan otoritas keagamaan tentang tanda-tanda munculnya kembali Imam Mahdi berikut kedekatan atau kejauhannya. Jika orang mengikuti para ulama, tipu daya musuh akan gagal. Dalam insiden terakhir yang berkaitan dengan CD-CD Zhuhur (munculnya kembali) [yang didistribusikan secara luas], jika otoritas agama tidak ada di sana, Mahdism eakan berubah menjadi takhayul, yang menjadi tujuan musuh.

Kelompok ketiga musuh Mahdisme adalah mereka yang mencemari peringatan-peringatannya dengan dosa. Nishfu Syakban tergantung kita. Kita berlindung kepada Allah bahwa saat merayakan kelahirannya, instrumen dosa digunakan. Kita semestinya tidak membiarkan dosa itu terjadi. Lakukanlah amar makruf nahi mungkar. Penegakkannya harus hati-hati, tidak menggunakan musik dan nyanyian dengan dalih merayakan, karena semua ini akan memperlemah keyakinan kita pada Imam Mahdi.

Penutup

Syi'ah adalah mazhab yang penuh dengan kesegaran dan mengetahui bahwa ia memiliki seorang Imam yang mendukung, dan berusaha berlindung kepadanya selama kesulitan. Namun mereka yang tidak punya keyakinan demikian akan putus asa dalam kesulitan. Setiap orang harus melindungi permata berharga ini