Ada hadis yang menyatakan bahwa tingkat keimanan seseorang sangatlah ditentukan dengan tingkat ma'rifat nya kepada Allah. Ya, sebagaimana hadis terkenal pula tentang diri dari Imam Ali a.s , yang mana barang siapa mengenal dirinya, berarti dia mengenal Tuhannya.
Sungguh menarik apabila kita merenungi apa makna dibalik hadis tersebut. Terkadang kita sering lebih banyak mengamati keadaan di luar diri kita dan yang jauh dari diri kita dari pada melihat diri kita sendiri. Sehingga kita sangat sulit utk mengenal siapa sesungguhnya diri kita, dan anehnya kita tidak merasa kehilangan apapun dari diri kita . Apabila ada kesalahan yang kita perbuat pun yang pertama kita salahkan pasti orang lain, sangat jarang kita ini berintrospeksi . Lain halnya apabila barang2 kita hilang kita akan berteriak bangkit dan mencarinya hingga dimanapun barang2 itu dapat ditemukan.
Sementara para Wali Allah berulang2 kali mengingatkan kita bahwasanya kita disuruh untuk mempelajari dan mengingat akan aib-aib diri kita serta kesalahan2 yang pernah kita lakukan , dengan demikian kita akan terus disibukan utk terus menyempurnakan diri kita dan tidak ada waktu lagi untuk meneliti dan mengamati kesalahan2 orang lain apalagi sibuk menggibah membuka aib2 orang lain.
Allah SWT sangat menjaga kehormatan hamba2NYA, sehingga IA selalu menutupi aib2 hambaNYA ( Allah Satar al Uyub ) , oleh karenanya IA sangat membenci hamba2NYA yang dengan sengaja menodai kehormatan hamba2Nya.
Ketika seorang hamba telah mengenal dirinya dia akan selalu dalam keadaan berhati-hati akan apa yang di kerjakannya dan akan selalu bertindak berdasarkan pada apa yang telah di gariskan dalam peraturan2NYA. Para Insan Kamil - wali2NYA di muka bumi ini begitu sangat menjaga segala tindak dan perilakunya , marahnya hanya karena marah Allah, senangnya hanya karena senangNYA, buat mereka semua jelas dan gamblang karena mereka telah mengenal Tuhannya sedemikian rupa sehingga tak mungkin mereka akan menodai dirinya ( jiwa sucinya ) . Mereka yang telah mengetahui hakikat dari segala bentuk perbuatan dan tidak hanya sekedar tahu tetapi sekaligus mereka akan mengamalkan apa yang sudah di gariskan oleh Tuhannya, sehingga semua berjalan sesuai dengan keinginanNYA.
Ini disebabkan tingkat pengenalan ( ma'rifah ) pada Sang Maha Pencipta sudah sedemikian paripurna pada diri2 Insan Kamil , sehingga sifat2 Tuhannya selalu dapat termanifestasi dalam segala tindak tanduk perilakunya.
Sementara kita yang masih dalam perjalanan menuju jalanNYA, masih sering tergelincir karena tingkat keimanan kita yang masih jauh dari yang di harapkan dan ma'rifah kita yang belum ada.
Bagaimana tidak , masalah ghibah misalnya, sudah berapa puluh kali kita telah membaca , di terangkan di beri tahu bahwa hakikat dari berghibah adalah memakan dengan menikmati bangkai saudara kita sendiri, tetapi karena keimanan kita yang lemah sekali, dan belum meyakini akan hal tsb, jadi dengan santainya kita terus menerus mengulang2 perilaku dosa tersebut dan akhirnya nauzubillah telah menjadi kebiasaan dan karakter kita yang selalu ingin bergunjing apabila melihat seseorang yang tidak sesuai dengan gaya hidup kita atau kebiasaan kita. Akibat tidak adanya ma'rifat pada Tuhan, kita telah menantang Tuhan kita dengan melakukan sesuatu yang akan merusak diri kita sendiri..... Apakah tidak ada sesuatu yang lebih bodoh dari si jahil yang tak berma'rifah dan lemah iman ini....
Seorang yang pandai , tak mungkin ingin memakan bangkai, apalagi itu dengan keinginannya sendiri serta menikmatinya....karena tidak ada keyakinan akan hadis shahih tersebut, kita seolah2 menganggap bohong atau jauh dari yang kita bayangkan sehingga terus menikmati perbuatan tercela tersebut.....Nauzubillah...
Mungkin yang paling mudah di cerna oleh akal lemah kita, seperti, mayat yang sudah tidak dapat bergerak , tetapi kita takut apabila harus ada disamping mayat yang tak berdaya itu.....Daya khiyal ( wahm ) kita memang melebihi akal sehat . Oleh karenanya, kebanyakan orang hidup dalam prasangka daya khiyalnya sehingga selalu menduga, yang sama sekali belum tentu benar dan kebanyakan salah. Dan inilah yang sangat membahayakan orang2 yang lebih percaya pada khiyal2nya yang selalu berada di alam wahmnya dari pada akal sehatnya.
Cara pandang dunia yang salah akan membuahkan kita berkutat di alam wahm dan jauh dari alam ( aql ) hakikat dimana segala Cahaya, kejelasana, kebenaran berada.
Mengenal diri kita ( ber marifat al nafs ) dengan terus menambah keimanan hanya dapat di raih dengan membersihkan semua yang semu yang ada pada diri kita, dengan bertazkia nafs , tazkia khiyal...sambil terus.mempelajari cara pandang dunia yang benar. mudah2an kita dapat beranjak dari alam yang terbawah materi, tumbuh2an dan hewan ke alam insan ( diri kita yang seharusnya ).
Perjalanan dari alam terendah hingga alam insan adalah sebuah keniscayaan agar dapat meningkatkan keimanan kita dan mengenalNYA ( ber ma'rifatullah ) . Apabila kita tidak pernah ingin melakukan perjalanan dalam diri kita, apapun yang kita lakukan hanyalah kesia2an belaka dan tak akan dapat meraih objektivitas keberadaan kita sebagai manusia , makhluk termulia yang Allah rencanakan kita untuk diciptakan.
Wallahualam bishawab. Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum....ADRIKNA YA MAHDI

No comments:
Post a Comment