Jalan Husein bin Ali as


Seorang seperti Anton Bara seorang pengikut Nabi Isa as telah memahami apa arti sebuah pengorbanan oleh sang putra cucunda Nabi saww, sehingga dia begitu meyakininya akan persembahan termulia yang dilakukan oleh putra Ali as. Itulah persembahan teragung di dalam sejarah umat manusia yang dilakukannya dengan kesadaran penuh di jalan Tuhannya. Persembahan total dari seorang hamba terhadap Maulanya, Tuannya serta Kekasihnya demi langgengnya ajaran Tuhannya yang telah di sampaikan oleh kakeknya Rasulullah saww & diusung tinggi oleh ayah tercintanya, Ali bin Abu Thalib as.

Peristiwa Karbala adalah cerminan jelas dan nyata akan Haq v.v. Batil , cerminan akan siapa sebenarnya diri kita ini, semuanya terwakilkan pada peristiwa itu dari bayi Abdullah, anak-anak, remaja, pemuda, sampai orang tua seperti Muslim ibn Aus Sajah , lelaki maupun perempuan. Sejarah terulang , dari sejak nabi Adam as v.v iblis, nabi Ibrahim as v.v Tsamud & Namrud, nabi Musa as v.v Fir’aun, sampai Nabi mulia kita Muhammad saww v.v Abu Sofyan, begitu pula Al Husein v.v Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan.

Manusia harus memilih di pihak siapa mereka akan berpihak. Tuhan memerintahkan pada kita semua untuk mempunyai sikap, karena Tuhan telah membentangkan hanya dua jalan , jalanNYA atau jalan setan, Kebenaran v.v Kebatilan. Selalu dalam setiap keseharian kita, kita dituntut untuk terus menerus memilih akan kemana kita berjalan. Puncak dari semua itu ada pada peristiwa Karbala, bagi yang memikirkannya. Banyak dari kita enggan mengingat peristiwa tersebut, karena peristiwa ini jelas sekali akan menentukan dimana posisi kita sebenarnya, dan dapat mengatakan siapa diri kita sebenarnya. Tidak ada jalan selain jalan Tuhan dan jalan setan, apabila kita menjalankan keduanya sesuai dengan keinginan kita, tentu dalam agama kita termasuk kaum munafik, sangat permisif pada yang batil karena tak terlihat....Tapi , siapapun akan setuju, orang yang membunuh adalah batil, apalagi ini putra Nabi Agung kita Muhammad saww??? Persoalannya bukan karena kita pendendam atau yang lainnya, tapi ini bagian dari fitrah yang Tuhan berikan pada kita. Bahwa kebatilan adalah kejahatan dan kebenaran adalah kebenaran. 

Ini masalah prinsip yang sangat fundamental. Agama Samawi turun kedunia untuk meluruskan masalah ini, para nabi diutus untuk menegakakan masalah ini. Karena kita mempercayai adanya hari pembalasan, sekecil apapun kebatilan akan kita pertanggung jawabkan begitu pula dengan kebaikan, pasti akan ada balasannya. 

Apabila kita membenarkan kebatilan dengan sikap permisif kita, untuk apa Tuhan bersusah payah menurunkan para nabiNYA yang begitu banyak sejak zaman nabi Adam as hingga nabi Muhammad saww yang berjumlah 124.000??? Apakah kita lebih pintar dan tahu dari Tuhan???

Husein bin Ali as pendobrak jiwa yang tertidur lelap, mengingatkan kita akan keberadaan serta tujuan dari setiap diri ini berada di bumiNYA. Apakah kita akan seperti orang-orang Kufah yang mengaku berbait pada Al Husein as lalu dengan sedikit ancaman mundur teratur dan bersikap diam dengan kejahatan dan kebatilan yang dilakukan Ubaidillah ibn Ziyad?? Serta membiarkan Muslim bin Aqil sendirian tanpa pendukung hingga beliau syahid????

Sudah saatnya setiap diri kita menanyakan kita seperti siapa kita ini , dan terus mendengar seruan al Husein dan bangkit membelanya. Jadilah diri seperti yang Anda klaim, Pencinta Al Husein as??? Jalanilah kehidupan seperti jalan sang Kekasih. Bulan mulia penuh berkah dan hidayah, Muharam....saatnya masing-masing diri berintrospeksi, merevolusi diri, membuat resolusi sampai bulan Muharam berikutnya, berbait pada sang Kekasih, mau seperti siapa kita ini!

Andaikan diri hina ini dapat mengikuti jalanmu...ya Husein...dan akan selalu berusaha walau hanya sebatas debu jalanan yang mungkin tak berarti.... Cintaku pada mu terus berkobar hingga aku dipertemukan denganmu , wahai sang Kekasih.....bawalah kami semua dibawah naungan bendera kakekmu, ayahmu, kakakmu serta ibundamu yang suci Sayidah Fatimah Az Zahra as.

Rasa duka cita yang sangat mendalam serta salam hormat yang setinggi-tingginya & rindu yang tak tertahankan, saya haturkan untuk kalian semua Wahai Kekasih Allah.
Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad

” Setiap hari adalah Asyura dan setiap bumi adalah Karbala”

Labbaika ya Husein..... Adrikna ya Mahdi!

Pesan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam - Pembantaian Sadis Warga Palestina di Gaza


Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyusul terjadinya pembantaian sadis warga Palestina di Jalur Gaza oleh Rezim Zionis Israel dalam pesannya mengutuk kerjasama pemerintahan George W. Bush dengan orang-orang Zionis dalam kejahatan besar ini. Beliau juga mengecam sikap bungkam dan ketidakpedulian lembaga-lembaga dunia dan sejumlah rezim Arab yang telah membuka pintu bagi rezim Zionis untuk melakukan kejahatan besar terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Beliau dalam pesan tertulisnya mengumumkan hari Senin sebagai hari berkabung umum dan menyeru kepada semua bangsa Muslim, para mujahid Palestina, juga kalangan politisi, ulama dan kaum cendekiawan dunia Islam untuk bersikap dan melaksanakan tugas yang mereka emban terkait peristiwa ini.

Bismillahirrahmanir rahim

Innalillahi wa Inna ilahi raji’un

Kejahatan besar yang dilakukan Rezim Zionis Israel di Gaza dan pembantaian ratusan warga; laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tertindas, sekali lagi menunjukkan wajah bengis serigala-serigala zionis yang haus darah dan membuka kedoknya yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik tabir kedustaan. Kejahatan ini sekaligus menjadi peringatan bagi mereka yang lalai dan para pencari ‘damai’, akan bahaya besar dari kehadiran kelompok kafir harbi ini di jantung negeri umat Islam. Duka yang ditimbulkan oleh pembantaian sadis ini sangat memukul hati setiap insan Muslim, bahkan menyentak siapa saja yang memiliki hati nurani dan kehormatan, di manapun dia berada. Akan tetapi duka yang lebih besar dari itu adalah sikap bungkam bernuansa dorongan yang ditunjukkan oleh sejumlah rezim Arab dan yang mengaku menjadi bagian dari dunia Islam. Bukankah para penguasa negeri-negeri Muslim sepatutnya membela warga Gaza yang tertindas dan berhadap-hadapan dengan rezim perampas, kafir dan agresor, bukan malah menunjukkan sikap yang membuat para pejabat zionis menyebut mereka sebagai pihak yang setuju dengan kejahatan besar itu. Adakah petaka yang lebih besar dari ini?

Jawaban apa yang bakal diberikan kelak oleh para penguasa negara-negara itu ketika mereka berhadapan dengan Rasulullah SAW? Jawaban apakah yang bisa mereka berikan kepada rakyat mereka sendiri yang sudah pasti tengah berkabung atas terjadinya tragedi ini? Sudah pasti hati rakyat Mesir, Jordania dan negara-negara Islam tengah terpanggang menyaksikan pembantaian besar terhadap warga Gaza yang sebelum ini telah mengalami blokade berkepanjangan tanpa adanya suplai makanan dan obat-obatan.

Pemerintahan Bush yang telah melakukan banyak kejahatan, di hari-hari akhir kekuasaannya yang penuh cela kian menenggelamkan rezim Amerika Serikat ke dalam nista dengan keterlibatannya dalam pembantaian ini. Peristiwa Gaza semakin mempertebal berkas kejahatan perang pemerintahan Bush. Rezim-rezim Eropa kembali membuktikan kebohongan klaim-klaim mereka tentang Hak Asasi Manusia dengan sikapnya yang tak peduli bahkan mendukung terjadinya pembantaian besar ini. Sekali lagi mereka membuktikan bahwa mereka berada di barisan front yang memusuhi Islam dan umat Muslim.

Kini pertanyaan yang saya ajukan kepada para ulama dan para rohaniawan di dunia Arab, juga kepada para pemimpin di negeri manapun, bukankah kini telah tiba saatnya bagi Islam dan umat Muslim untuk merasakan adanya ancaman? Bukankah kini telah tiba saatnya bagi kalian untuk melaksanakan kewajiban mencegah kemungkaran dan menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim?

Adakah medan peristiwa lain yang lebih nampak jelas di depan mata ketimbang Gaza dan Palestina yang memperlihatkan kerjasama kaum kafir harbi dengan para munafik di tengah umat dalam aksi menumpas kaum muslimin, sehingga kalian baru merasa adanya kewajiban di pundak kalian?

Pertanyaan saya kepada media massa dan para cendekiawan di dunia Islam, khususnya di dunia Arab, kapan kalian akan mengakhiri sikap tak peduli terhadap kewajiban yang kalian pikul sebagai insan media dan kalangan cendekia? Adakah cela yang lebih besar bagi lembaga-lembaga Hak Asasi Manusia di Barat dan lembaga yang disebut Dewan Keamanan PBB dari apa yang ada saat ini?

Semua mujahid Palestina dan semua insan mukmin di dunia Islam wajib melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk membela perempuan, anak-anak dan warga yang lemah di Gaza. Siapa saja yang terbunuh dalam menjalankan tugas mulia dan suci ini berarti dia mati syahid, dan semoga dia dibangkitkan kelak bersama para syuhada Badr dan Uhud yang berjuang bersama Rasulullah SAW.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus melaksanakan tugas dan kewajibannya pada situasi yang genting dan bersejarah ini. Organisasi ini hendaknya membentuk satu barisan bersama yang tegas dan tak reaktif dalam menghadapi rezim zionis Israel. Rezim Zionis harus dihukum oleh negara-negara Islam. Para pemimpin rezim pendudukan itu harus diseret ke pengadilan untuk diadili dan dihukum karena kejahatan ini dan karena aksi blokade berkepanjangan yang mereka lakukan.

Bangsa-bangsa Muslim bisa mewujudkan harapan itu dengan tekad mereka yang kuat. Tugas yang diemban oleh para politisi, ulama dan kaum cendekiawan pada masa yang genting ini lebih besar.

Saya mengumumkan hari Senin sebagai hari berkabung umum untuk mengenang pembantaian sadis di Gaza dan menyeru kepada para pejabat negara untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing terkait peristiwa yang menyayat hati ini.


وَ سَیعلَمُ ‌الذین ظَلَموا اَیّ مُنقلبٍ یَنقلبون

Dan kelak orang-orang zalim akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (Q.S Al-Syu’araa’: 227)



Sayyid Ali Khamenei
8 Dey 1387 HS (28 Desember 2008)
29 Dzulhijjah 1429 H

Pray for the Palestinian


Ya Allah....berikanlah kekuatan kepada korban ketidak adilan di Palestina dan terimalah para syahid yang tidak berdosa anak-anak , perempuan dan rakyat Palestina di Gaza. Mereka adalah korban kerakusan , kekejian suatu bangsa yang bernama Israel dan penganut paham Zionist, mereka mendapatkan dukungan dari negeri adidaya, dan dengan pengecutnya membunuh mereka yang tidak bersenjata setelah tanah airnya direbut. Dunia diam, karena si negera Adi daya ada dibalik itu semua, hanya para pemberani dan yang punya nurani yang akan berdiri tegak berteriak dengan ketidak adilan itu...Hari ini , sore tadi Israel regim meluncurkan bom-bom dari udara di Gaza yang membunuh hampir 195 penduduk sipil tak berdosa, dan ratusan lagi orang terluka parah.... Dunia diam , tetangga Arab diam....bungkam....Ada apa dengan dunia yang tidak peduli dengan kekejaman di Palestina....Bandingkan dengan kejadian di Yunani, satu anak laki-laki terbunuh oleh polisi, mereka semua langsung marah dan protest...Palestina setiap hari anak kecil, bayi, perempuan dan anak-anak muda terbunuh, mereka hidup sangat menderita, electricity dan air di stop oleh Regim Israel, tetap dunia diam...raja-raja Arab asyik menikmati kerajaannya. Seorang presidennya Mahmud Abbas sering saling berkunjung dengan regim Israel, sementara rakyatnya setiap hari menderita.....Para aktivis seluruh dunia banyak yang protest, tapi negara tetangga dan presidentnya seolah tak melihat apa-apa...sekarang mereka takut disalahkan dengan berdalih macam-macam....Ya Allah...tolonglah mereka warga Palestina di Gaza, hati ini tak tahan melihat semua ini.....ADRIKNA YA MAHDI....
Semoga kita dapat berbuat sesuatu untuk yang tertindas....
Please recite the Doa no 27 from Shahifah Sajjadiyyah

Xmas Message from the President of Republic Islam Iran


Following is President Ahmadinejad’s pre-recorded message:

“If Christ (as) was on earth today undoubtedly he would stand with the people in opposition to bullying, ill-tempered and expansionist powers.

If Christ was on earth today undoubtedly he would hoist the banner of justice and love for humanity to oppose warmongers, occupiers, terrorists and bullies the world over.

If Christ was on earth today undoubtedly he would fight against the tyrannical policies of prevailing global economic and political systems, as he did in his lifetime.

Fortunately, today as crises and despair multiply, a wave of hope is gathering momentum. Hope for a brighter future, hope for the establishment of justice, hope for real peace, hope for finding virtuous and pious rulers who love the people and want to serve them – and this is what the Almighty Allah has promised.

We (Muslims) believe, Jesus Christ (as) will return, together with one of the children of revered messenger of Islam (Al-Mahdi) and would lead the world to a rightful point; to a world of love, brotherhood and justice. The responsibility of all followers of Christ and followers of Abrahamic faiths is to move towards that and to prepare the way for the fulfilment of this divine promise and the arrival of that joyful, shining and wonderful age. I hope that the collective will of nations will unite in the not too distant future and with the grace of the Almighty Allah, that shining age will come to rule the earth.

Once again, I congratulate one and all on the anniversary of the birth of Jesus Christ (as) and I pray for the New Year to be a year of happiness, prosperity peace and brotherhood for humanity. I wish you every success.”

SOURCE



--------------------

Know your enemy!
No time to waste. Act now!
Tomorrow it will be too late!
What you don’t know can destroy you!

Resolusi Tahun Baru


Sebentar lagi sudah akan pergantian tahun...biasanya sejak sekarang masing-masing diri sudah mempersiapkan diri dengan membuat daftar list resolusi, akan seperti apa kita hingga setahun mendatang. Tentunya semua demi untuk perbaikan diri, agar menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mereka akan merayakan datangnya tahun baru dengan berbagai cara sesuai dengan latar belakang kebudayaan dan pendidikan mereka masing-masing. Kebanyakan dari kita karena tinggal di negara yang sangat demokratis sekuler pastinya mengikuti ala Barat yang umum dengan meniup terompet dan bercengkrama riang gembira beserta teman dan keluarga, mereka ikut-ikutan dengan bersulang untuk menyatakan selamat pada tahun baru Masehi..Awal tahun diawali dengan melupakan Sang Pemberi Rahmat Alam Semesta dengan melanggar prinsip ajaran yang diyakininya, seolah ingin berkata... ini kan sedang tahun baru, boleh dong...Sang Maha Pencipta memang tak terlihat oleh 'mayat-mayat hidup'. Sudah membudaya,permisif akan nilai-nilai budaya 'yang mereka anggap lebih tinggi' itu. Sangatlah kontradiktif dengan awal niat mereka untuk beresolusi dalam rangka memperbaiki diri. Sebagai orang Islam yang menganggap tahun baru adalah awal bulan Muharam, mereka akan merenungkan jalan hidup yang diambil oleh cucunda Nabi Muhammad saww, Sayidina Husein bin Ali as yang terbunuh dengan tragis di Karbala- Irak. Datangnya bulan baru dan tahun baru itu dijadikan ajang untuk bertafakur mengenang seorang wali Allah SWT yang syahid demi mempertahankan prinsip-prinsip fundamental yang diajarkan kakeknya Rasulullah saww, menegakan amal ma'ruf & nahi munkar. Pergerakan Husein bin Ali as adalah pendobrak jiwa-jiwa yang tertidur lelap oleh kenikmatan dunia sehingga melupakan Sang Pemberi kenikmatan itu sendiri. Perenungan ini harus menghantarkan diri kita menjadi jiwa-jiwa yang bangkit melawan tiran, ketidak adilan dan segala macam bentuk kemaksiatan yang menodai nilai-nilai suci yang dibawa oleh para Nabi as. Sebuah Resolusi untuk yang meyakini Al Husein as putra Fatimah binti Muhammad saww adalah pertanyaan pada setiap diri, darah suci Al Husein as telah bersimbah begitu mengenaskan juga keluarga tercinta yang semuanya adalah keturunan Nabi suci Muhammad saww beserta para sahabatnya yang setia, apa yang akan kita lakukan untuk dapat membayar darah suci cucunda Rasulullah saww, at least, apakah keseharian kita telah membuat mereka tersenyum atau makin menderita??Itulah resolusi kita, buatlah mereka selalu tersenyum dengan terus menerus memperbaiki diri sesuai dengan ajaran yang dipertahankannya di Karbala. Al Husein as telah mengorbankan nyawa sucinya untuk kita sehingga hingga kini agama Islam yang kita yakini masih ada, lalu apa yang akan kita lakukan untuk Beliau as?? Apakah kita tega untuk membiarkan agama ini dalam keterpurukan dan membiarkan tangan-tangan kotor yang dengan sengaja ingin melenyapkannya???? Adrikna ya Husein

Renungan - Jati diri


Dalam menjalani hidup ini, kita mau tidak mau harus mempunyai sikap,  artinya mengetahui apa tujuan kita hidup di dunia ini. 

Kebanyakan dari kita hanya menjalani hidup tanpa tahu tentang makna keberadaanya di dunia ini, orang seperti itu tentunya akan hanya mengikuti keinginan dirinya saja, apapun yang dia rasa suka, akan dia ikuti dan sebaliknya yang dia anggap memberatkanya atau menyusahkannya akan dia buang jauh-jauh alias tidak ingin mengikutinya. 

Apapun yang membatasinya akan coba dia langgar karena tidak sesui dengan keinginan dirinya, walaupun sesuatu itu adalah 'agama'. Biasanya orang seperti itu apabila beragama pun hanya untuk menyelaraskan diri dengan lingkungannya dengan hanya menggunakan simbol-simbol; seperti cara berbusana, mengunjungi tempat-tempat ibadah dll, tanpa mengetahui makna yang dalam tentang agama itu, ya... sekedar seperti masyarakat pada umumnya... dan tentu ada efek sampingnya yaitu ingin menjaga image supaya disebut kaum beragama, bagian dari orang saleh, sehingga ini akan mengangkat derajatnya di mata lingkungannya dengan cara seperti itu. Karena tak mengetahui makna 'suci' dari sebuah agama, agama menurutnya hanyalah simbol dan 'topeng' untuk berlindung dari ketidak tahuannya tentang agama itu sendiri dan sekaligus untuk menutupi tingkah lakunya yang sangat tidak sesuai dengan agama yang diyakininya.

Gambaran itu dapat kita lihat di sekitar kita, baik itu kalangan yang sangat awam maupun  mereka yang disebut berpendidikan. Sikap atau prinsip yang paling sangat fundamental itu jadi telah terlupakan, sehingga mereka dengan mudahnya mencampur adukkan agama dan gaya hidup yang sesungguhnya jauh dari keyakinan agama itu sendiri. Mereka hanya mengikuti apa yang ada disekitarnya, apa yang sedang 'in', tanpa ingin mengkonfirmasikan kembali dengan prinsip yang di yakininya. 

Disini, kembali lagi ketidak bersikapan kita atau ketidak punyaan prinsip ini juga diakibatkan oleh ketidak tahuan yang mendalam tentang prinsip atau agama yang di yakininya, maka dari itu sangatlah sulit untuk mereka menentukan sikap hidupnya karena ketidak tahuan akan sesuatu yang fundamental yaitu agama yang di yakininya.

Tentunya, semuapun akan setuju, apabila seseorang mengetahui secara mendasar tentang agama yang di yakininya, tidak mungkin dia akan berbuat yang tidak sesuai dengan keinginan dan kehendak Sang Maha Peciptanya.

As simple as that! Contoh konkritnya seperti, apabila anda tahu itu di dalam air itu ada racun anda tidak mungkin ingin meminumnya, itulah sikap yang akan anda ambil bukan? Larangan atau batasan-batasan untuk sebagian orang hanyalah penghalang untuknya dalam menjalani kehidupannya. Tetapi apakah kita lupa, dalam setiap langkah kehidupan kita, selalu ada batas-batas dan larangan, itu semua adalah untuk menghantarkan kita kepada kesempurnaan dan kebahagian hidup dan diri kita. 

Bayangkan bila sirkuit balap Formula One tidak diberi pembatas?? Apalah jadinya perlombaan itu dan bagaimanakah dampaknya pada sekitarnya atau misalnya apabila kita dibolehkan bebas memakan apa saja sesuai dengan keinginan kita tanpa larangan?? Sungguh sangat mengerikan.  

Apapun sikap yang akan kita ambil tentunya buah dari pengetahuan yang kita yakini. Sikap kita terhadap sesuatu adalah cerminan diri kita, yang mana semua  itu di peragakan dari apa yang kita pahami dan yakini . 

Apapun klaim seseorang tentang ilmu yang telah dia pelajari atau tekuni tetapi apabila tidak terlihat dari sikap dan perilakunya dalam kesehariannya, maka ilmu2 tsb hanya sebatas klaim semata, karena belum ada dalam dirinya ( sikap dirinya). 

Wallahualam bishawab. Salawat ala Muhammad wa aali Muhammad .....ADRIKNA YA MAHDI

Friend v.v. Enemy


Apabila kita ditanya siapakah teman kita dan siapakah musuh kita, kita dapat dengan mudah menjawab, si fulan teman sekaligus sahabat saya, karena dia dapat mengerti saya apa adanya, selalu setuju dengan apa yang saya katakan sementara si fulanah saya anggap musuh saya, karena dia selalu mengkritik saya setiap saya berpendapat, dia selalu yang pertama-tama menyelak perkataan saya, selalu sinis dengan segala yang ada pada saya.

Secara definisi mungkin ungkapan diatas terlihat benar. Tapi apakah anda pernah berpikir, bahwa apabila tidak ada kritikan-kritikan musuh atau teguran-teguran itu kita tidak akan pernah berubah dan merasa diri kita 'fine fine' saja tidak ada problem sehingga kita merasa makhluk yang sempurna. Dan sebaliknya , si fulan yang kita anggap teman, yang selalu menyetujui pendapat kita, menerima kita apa adanya ( = membiarkan kita dalam keadaan yang selalu sama ), telah membuat kita tidak ada perkembangan dalam diri kita, seolah kita makhluk yang telah sempurna. 

Kebanyakan dari kita alergi dengan kritikan seseorang sehingga dianggapnya musuh, padahal apabila kita telusuri lebih dalam lagi, si fulanah itu yang kita anggap musuh telah menghantarkan kita menjadi makhluk yang berpikir tentang siapa diri kita sebenarnya dan kita secara tidak langsung akan memperbaiki diri kita untuk tidak dibilang seperti yang dikatakannya, sebaliknya juga si fulan yang kita anggap teman, sesungguhnya telah membiarkan kita menjadi seorang yang egosentris, tidak tahan kritikan dan secara kepribadian kita tidaklah berkembang. 

Kesimpulan ini tentunya untuk kita yang senang dengan hikmah dibalik setiap kejadian. Karena Tuhan akan mengirimkan makhluk-makhlukNYA untuk menguji diri kita, sekaligus ingin mengingatkan kita pada ketidak sempurnaan kita yang harus terus menerus diperbaiki.

Tetapi anehnya, manusia malah membenci orang yang membuat dirinya sebetulnya menjadi lebih baik dan senang dengan teman yang membiarkan dirinya menjadi diri yang tak berkembang...

Dalam hal ini kita dapat menarik kesimpulan, sesungguhnya kita harus selalu dalam keadaan 'sadar', bahwa baik itu teman atau musuh (orang yang kita tidak sukai), itu adalah pelajaran hidup. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. 

Seorang yang beriman tentunya akan melihat sesuatunya dengan cerdas serta bijaksana. Yang paling harus kita perhatikan adalah prinsip-prinsip yang fundamental, teman bila mengajak kepada keburukan sesungguhnya dia adalah musuh sejati kita sebaliknya musuh yang menyadarkan siapa diri kita sebenarnya, adalah patut untuk dijadikan teman. Orang-orang terdekat kita belum tentu akan membawa kita pada kebaikan , begitu pula orang-orang yang terlihat sinis pada kita akan menghantarkan kita pada kebaikan yang sejati.

Doa Munajat



Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang bersalah dan berdosa ini telah mengulurkan tangannya kepada-MU dengan prasangka baik kepada-MU.

Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang buruk ini telah duduk dihadapan-MU, datang menghadap kepada-MU dengan segala perbuatan buruknya, untuk memohon maaf kepada-MU atas segala kesalahannya.

Wahai Tuhanku, orang yang zalim ini telah mengangkat kedua tangannya di hadapan-MU. Dia mengharapkan segala apa yang Kau miliki, maka janganlah Engkau gagalkan dia untuk memperoleh rahmat-MU.

Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang selalu kembali berbuat maksiat telah berlutut di hadapan-Mu . Dia takut pada hari di mana seluruh manusia berlutut di hadapan-Mu.

Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang bersalah telah datang kepada-Mu dengan ketakutan. Dia mengangkat matanya, karena takut dan mengharapkan-Mu. Air matanya bercucuran sambil memohon ampunan-Mu dan menyesali perbuatannya.

Demi kemulianan dan keagungan-Mu. Aku tidak menginginkan, atas perbuatan maksiatku, untuk mendurhakai-Mu. Tidaklah aku bermaksiat pada-Mu kecuali itu memang ketidak taatanku kepada-Mu. Aku telah mengingkari –Mu namun aku tidak menentang hukuman-Mu. Juga aku tidak menganggap enteng pengawasan-Mu, tetapi nafsuku telah menggodaku; ia telah membuatku sengsara hingga diriku terjerat. Mulai sekarang, siapa gerangan yang dapat menyelamatkanku dari siksa-Mu? Dan dengan tali mana aku harus berpegangan, jika Engkau telah memutus tali-Mu dariku?

Alangkah buruknya aku kelak, saat berada di hadapan-Mu. Ketika dikatakan kepada orang-orang yang tak berdosa, ‚Perkenankan mereka untuk masuk surga’, dan dikatakan kepada orang-orang yang penuh dosa, ‚Berhentilah!’ Apakah aku akan bersama orang-orang yang tak berdosa itu, sehingga aku akan lebih diperkenankan untuk masuk surga?’ atau bersama orang-orang yang banyak dosanya, sehingga aku akan dihentikan?’

‚Setiap kali usiaku bertambah, maka semakin banyak dosa-dosaku. Semakin panjang usiaku , semakin banyak pula maksiatku. Kapankah aku bertaubat dan kembali? Sungguh aku malu pada Tuhanku’

’Ya, Allah, dengan hak Muhammad beserta keluarganya, ampuni dan kasihilah aku. Wahai Yang paling pengasih dari segala yang mengasihi. Wahai Yang Paling Mengampuni dari segala yang mengampuni’

(lalu tempelkan pipi ke tanah):
’Jika aku ini hamba-Mu yang paling celaka, maka Engkau adalah sebaik-baiknya Tuhan’
(lalu tempelkan pipi yang lain ke tanah):’ Betapa besar dosa hamba-Mu ini, maka sebaik-baiknya pengampun adalah dari-Mu, wahai Zat Yang Maha Pemurah. ( lalu tempelkan dahi ke tanah ) mengucapkan AL- AFWU 100x

Renungan - Telepati



Sering kita dengar orang yang sedang jauh dari kekasih hatinya, dapat merasakan apa yang Sang Kekasih disana juga rasakan. Biasanya hubungan mereka sudah sedemikian dekat, jiwa mereka seolah-olah telah menyatu.Mereka menamakan diri mereka masing-masing sebagai 'soul mate'

Pernahkah Anda mengalami apabila Anda sedang ingat pada si Dia, lalu tiba-tiba terdengar bunyi sms atau telepon Anda berbunyi dan ternyata, si Dia yang kirim, dan dalam hati Anda mengkonfimasi apa yang ada di pikiran Anda. 

Peristiwa ini orang menyebutnya 'telepati'. Ini menunjukan adanya peleburan jiwa antara Anda dan Dia , apabila Dia sedih Anda sudah otomatis dapat merasakan kesedihannya juga, begitu pula sebaliknya. 

Secara alami, manusia sangat mudah dapat mempraktekkan penyatuan jiwanya dengan sang kekasih, tanpa harus belajar, karena kekuatan itu ada dalam diri kita masing-masing dan dapat dimunculkan kapan saja kita kehendaki, karena apabila kita benar-benar mencintai seseorang kita akan dengan sendirinya berkata : "I'll do anything for you".

Sekarang, bagaimana hubungan kita dengan SANG KEKASIH SEJATI, SANG PENCIPTA ALAM INI, SANG PENGATUR ALAM SEMESTA, SANG PEMBERI RAHMAT dan RIZKI, SANG PENOLONG DI SAAT KITA DALAM KETIDAK BERDAYAAN......

Seperti lagunya Bimbo : aku jauh Engkau jauh , aku dekat Engkau dekat...Sangatlah mudah untuk dipahami bukan..Apabila kita selalu ingat padaNYA, tentu dan pasti DIA akan ingat pada kita...Karena Tuhan pun dalam hadist QudsiNYA menyatakan AKU lebih dekat dari pada urat lehermu...Masalahnya sekarang banyak dari kita dalam setiap tindak dan langkah hidupnya sangatlah jauh dariNYA, sering melupakanNYA, dan lihatlah dunia ini yang dihuni oleh makhluk-makhlukNYA yang melupakanNYA....bencana dimana-mana, baik itu berupa moral dekadensi maupun bencana alam....

Tentunya apabila kita terus menerus mengingatNYA, karena kecintaan kita padaNYA, apa mungkin kita akan dengan sengaja membuatNYA sedih dengan tindakan kita yang menyakitkanNYA???

Kebenaran adalah fitrah manusia


Suatu yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia untuk dapat mengetahui kebenaran yang sejati. Kebenaran itu sendiri adalah suatu yang universal, karena kebenaran itu ada dalam setiap diri manusia, yang Sang Maha Pencipta telah memasukan kedalamnya tanpa kita harus memintanya, sejak kita ada di alam ruh. Setelah lahir kedunia, kita banyak mengenal berbagai hal sehingga akan mempengaruhi kepada kehidupan kita, seperti nilai-nilai kehidupan yang telah diajarkan orang tua kita atau lingkungan sekitar kita. Dalam hal ini, manusia selalu dihadapkan pada ke dua sisi yang mempengaruhi dirinya , yaitu pengaruh dari dalam dan luar dirinya, sehingga apa yang ada pada dirinya atau apa yang dia bawakan siapa dirinya sangat berpengaruh pada nilai mana yang lebih dominan dalam dirinya, pengaruh lingkungannya atau pengaruh dalam dirinya yang dalam hal ini tentunya fitrah dirinya yang sejak sebelum lahir dia telah punyai. Kita menyebutnya pengaruh dari dalam atau fitrah diri ini sebagai 'suara Tuhan' atau 'the inner heart'. Oleh karena itu kita sangat dianjurkan untuk mengenal siapa diri kita yang sebenarnya, karena disitu kita akan dapat mengenal Tuhan, dan dapat mendengar suara Tuhan. Setiap manusia yang sudah mengenal dirinya akan cepat dapat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya tanpa dipengaruhi oleh campur tangan luar, ataupun dirinya ( hawa nafsunya yang cenderung pada apa yang dia dapatkan dari luar ). Nilai universal ini murni dan akan berlaku sampai kapanpun, adapun yang kita lihat sekarang ini, hanyalah topeng dan kepalsuan belaka , dimana banyak dari kita lihat itu yang menutupi kebenaran untuk kepentingan diri ataupun kelompok tertentu untuk dapat mencapai tujuan-tujuan sesaatnya demi keuntungan semata. Kebenaran dijadikan nilai sesaat sesuai dengan kepentingan diri atau kelompok, telah merugikan pihak lain. Ini bukanlah kebenaran yang sejati karena apabila ada kebenaran, tidak mungkin ada pihak yang di rugikan . Sayangnya, sekarang ini wajah kebenaran telah banyak memudar dan yang lebih parah lagi adalah suatu yang jelas-jelas salah menjadi benar??? Menutupi kebenaran sedalam apapun suatu saat pasti akan terkuak , ini hanyalah masalah waktu!!! KEBENARAN adalah KEBENARAN kapanpun , dimanapun IA , pasti akan selalu tampak BENAR.

QS Ali Imran:103 :
"Dan berpeganglah kamu sekalian pada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah akan menjinakan antara hati kamu. lalu jadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang yang bersaudara, padahal dahulunya kamu telah berada di tepi jurang mereka, maka DIA menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayatNYA agar kamu mendapat petunjuk"

Renungan - Your point of view & mine


Barangkali setiap orang pernah menemukan orang2 yang bersahabat dengan setiap orang, tetapi tujuan mereka satu2nya adalah menarik perhatian orang lain kepada dirinya sendiri, walaupun hati mereka kosong dari setiap rasa bersahabat. Mereka menyembunyikan wajah mereka yang sesungguhnya di bawah topeng persahabatan, menempuh jalan puji2an dan kehalusan yang pura2 . 

Bilamana situasi menghendaki, mereka memandang sikap pura2 mereka sebagai suatu sarana untuk mencapai tujuan2 sosial mereka, dan itulah perdagangan mereka. Kecenderungan tersembunyi ini menutupi seluruh karakter, perilaku dan pikiran mereka. 

Mereka lupa bahwa keutamaan pribadi yang sesungguhnya adalah seribu kali lebih berharga, atau tak terbandingkan lebih berharganya daripada pandangan orang lain tentang dirinya. Bilamana seseorang mengamati orang semacam itu, berjuang keras dengan pikiran tunggal dalam mengejar tujuan2 egois mereka ketimbang menyambut seruan nurani mereka, ia akan melihat betapa mereka menjadi mangsa dari dorongan2an pamer mereka.

Pandangan orang lain tidak seberapa berarti sampai diizinkan mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Tentu saja pandangan dan perasaan orang lain dihormati hingga ukuran tertentu, tetapi sumber kebahagiaan seseorang terletak pada diri sendiri, bukan pada apa yang dipikiran orang lain tentang dirinya. 

Apabila seseorang terbiasa melihat diri sendiri dari mata orang lain, ia akan menjadi tawanan yang tak bahagia dari gagasan2 orang, kehilangan kebebasan dan kemerdekaannya.

Lagipula, penilaian yang dilakukan orang antara satu sama lainnya kebanyakan dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan prasangka mereka, dan berubah2 sesuai dengan kondisi dan situasi. Mutu dari penilaian semacam itu akan disadari apabila kita terus memperhatikan poin ini. Oleh karena itu, apabila orang memilih suatu jalan yang benar dalam kehidupan, yang tidak dipandang benar oleh orang lain, orang tak boleh merasa sedih oleh kritik yang sia-sia.

* saduran buku Etika dan Pertumbuhan Spiritual hal 293

Untuk menilai siapa diri kita sebenarnya , sebaiknya kita memperhatikan perkataan Imam Ali a.s yang satu ini , yang dengan beberapa kalimatnya, kita dapat menilai seseorang dari yang di tampakkannya :

" Nilai seorang sesuai dengan kadar tekadnya. Ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya. Keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap kejahatan. Kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaanya akan kehormatan dirinya "