Friend v.v. Enemy
Apabila kita ditanya siapakah teman kita dan siapakah musuh kita, kita dapat dengan mudah menjawab, si fulan teman sekaligus sahabat saya, karena dia dapat mengerti saya apa adanya, selalu setuju dengan apa yang saya katakan sementara si fulanah saya anggap musuh saya, karena dia selalu mengkritik saya setiap saya berpendapat, dia selalu yang pertama-tama menyelak perkataan saya, selalu sinis dengan segala yang ada pada saya.
Secara definisi mungkin ungkapan diatas terlihat benar. Tapi apakah anda pernah berpikir, bahwa apabila tidak ada kritikan-kritikan musuh atau teguran-teguran itu kita tidak akan pernah berubah dan merasa diri kita 'fine fine' saja tidak ada problem sehingga kita merasa makhluk yang sempurna. Dan sebaliknya , si fulan yang kita anggap teman, yang selalu menyetujui pendapat kita, menerima kita apa adanya ( = membiarkan kita dalam keadaan yang selalu sama ), telah membuat kita tidak ada perkembangan dalam diri kita, seolah kita makhluk yang telah sempurna.
Kebanyakan dari kita alergi dengan kritikan seseorang sehingga dianggapnya musuh, padahal apabila kita telusuri lebih dalam lagi, si fulanah itu yang kita anggap musuh telah menghantarkan kita menjadi makhluk yang berpikir tentang siapa diri kita sebenarnya dan kita secara tidak langsung akan memperbaiki diri kita untuk tidak dibilang seperti yang dikatakannya, sebaliknya juga si fulan yang kita anggap teman, sesungguhnya telah membiarkan kita menjadi seorang yang egosentris, tidak tahan kritikan dan secara kepribadian kita tidaklah berkembang.
Kesimpulan ini tentunya untuk kita yang senang dengan hikmah dibalik setiap kejadian. Karena Tuhan akan mengirimkan makhluk-makhlukNYA untuk menguji diri kita, sekaligus ingin mengingatkan kita pada ketidak sempurnaan kita yang harus terus menerus diperbaiki.
Tetapi anehnya, manusia malah membenci orang yang membuat dirinya sebetulnya menjadi lebih baik dan senang dengan teman yang membiarkan dirinya menjadi diri yang tak berkembang...
Dalam hal ini kita dapat menarik kesimpulan, sesungguhnya kita harus selalu dalam keadaan 'sadar', bahwa baik itu teman atau musuh (orang yang kita tidak sukai), itu adalah pelajaran hidup. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Seorang yang beriman tentunya akan melihat sesuatunya dengan cerdas serta bijaksana. Yang paling harus kita perhatikan adalah prinsip-prinsip yang fundamental, teman bila mengajak kepada keburukan sesungguhnya dia adalah musuh sejati kita sebaliknya musuh yang menyadarkan siapa diri kita sebenarnya, adalah patut untuk dijadikan teman. Orang-orang terdekat kita belum tentu akan membawa kita pada kebaikan , begitu pula orang-orang yang terlihat sinis pada kita akan menghantarkan kita pada kebaikan yang sejati.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
The Impact of Islamic Revolution on my life (Shaban 1437H - Haul of Imam Khomeini (ra ) Bismilillahirahmanirrahim Allahumma s...
-
Seorang Nasrani bertanya pada Imam Muhammad al Bagir as : "Siapakah Muslim yang sebenarnya? Imam menjawab : " Orang yang lidahnya ...

No comments:
Post a Comment