Free Cyber Activists to support global march to Jerusalem



Tehran, Oct 22, IRNA - The Global March to Jerusalem (GMJ) planned for March next year got boost a few days before, when newly formed “International Association of free cyber activists” declared full support for the march

The group vowed to mobilise its members and their networks to make the march a success.
The association was formed at the end of a summit held on the sideline of International Digital Media Fair, Tehran 9th to 15th Oct 2011.
More than 50 cyber activists from Italy, France, Australia, Chili, Cuba, India, Pakistan, Indonesia, Norway, Turkey, Palestine, Lebanon, UAE,
Bosnia and UK participated in the work of the summit.
The summit, which was organized by International Union of Unified Ummah, concluded work by adopting a decison to form the association
to coordinate activities of free cyber activists around the world in resisting opression, marginalisation and socio-economic injusticies.
“The asssociaiton members declared their full support for the Global March to Jerusalem (GMJ)” Said Jamal Daoud,
the interim Secretary of the association. “The founding members expressed their deep concerns about the situation in the holy city and
the Israeli authorities actions to change its demography”.

The association members disscused in the last day of the summit ways to raise awareness about the situation in the occupied Palestine
and explored ways to support the Palestinians in their struggle for freedom and independence. They also discussed ways to actively
participate in the GMJ.

“The members discussed the best practical ways to actively participate in the march. These could include mobilising cyber networks, produce films
and clips about the issue and post them on internet and organising forums and exhibitions to encourage people to participate”.

The march is already attracting the support of many organisations and activists’ groups. While expecting many obstacles in achieving the goals,
the groups are highly enthusiastic to expose the brutal nature of Israeli occupation of Palestine and the international community’s hypocrisy
on this issue.

The group members noted that the Israeli occupation and brutality were going on for more than 63 years without any menaingful measures
to end them.The members believe that it is the time that international activists and freedom-loving people unite to condemn Israeli
atrocities and demand these atrocities end.

The founding committe is due to meet in two months time to finalise detailed documents and steps to achieve declared objectives.
**1424
Islamic Republic News Agency/IRNA NewsCode: 30624514

Pidato lengkap pemimpin tertinggi Republik Islam Iran pada pembukaan Konfrensi International ke 5 Palestina Intifada


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wa rahmatullah
الحمدلله رب‌ العالمين و الصلاة و السلام علي سيدنا محمد و آله الطاهرين و صحبه المنتجبين و علی من تبعهم باحسانٍ الي يوم الدين

قال الله الحكيم: أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُون َبِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ الله عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ. الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللهِ كَثِيرًا وَلَيَنصُرَنَّ اللهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ


"Telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah' dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-geraja rumah ibadah Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agamaNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Q.S. al-Hajj: 39-40)

Saya ucapkan selamat datang kepada para tamu undangan dan hadirin yang terhormat. Di antara isu-isu yang layak disorot dan dibahas oleh para tokoh agama dan politik dari seluruh penjuru Dunia Islam adalah isu Palestina yang punya keistimewaan menonjol. Palestina adalah tema paling utama di antara sekian permasalahan yang dihadapi secara bersama oleh negara-negara Islam. Ada beberapa keistimewaan pada masalah ini:

Pertama, permasalahan ini menyangkut sebuah negeri Islam yang telah dirampas dari para pemiliknya dan diberikan kepada orang-orang asing yang didatangkan ke sana untuk membentuk sebuah masyarakat yang ilegal dan palsu.

Kedua, peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ini terus menerus diwarnai dengan pembantaian, kejahatan, kezaliman dan pelecehan yang berkesinambungan.

Ketiga, kiblat pertama umat Islam dan banyak situs agama yang dihormati di negeri itu menjadi sasaran ancaman penghancuran, penistaan dan pelenyapan.

Keempat, rezim dan masyarakat palsu yang dibentuk di wilayah Dunia Islam yang paling vital ini sejak awal hingga kini memainkan peran sebagai pangkalan militer, keamanan dan politik untuk kepentingan negara-negara arogan dan imperialis Barat -yang dengan berbagai alasan- memusuhi persatuan, kehormatan dan kemajuan negara-negara Islam yang menggunakannya sebagai belati untuk menikam umat Islam.

Kelima, zionisme yang merupakan ancaman besar bagi etika, politik, dan ekonomi masyarakat manusia menjadikan negeri ini sebagai pijakan kaki dan alat untuk memperluas pengaruh dan hegemoninya di dunia.

Poin-poin lain yang bisa ditambahkannya di sini adalah, kerugian besar baik secara finansial maupun jiwa yang harus ditanggung oleh negara-negara Islam sampai saat ini, terusiknya perhatian negara-negara dan bangsa-bangsa Muslim, derita yang dipikul oleh jutaan pengungsi Palestina yang sebagian besar masih tinggal di kamp-kamp pengungsian setelah berlalunya enam dekade, terputusnya sejarah satu kutub peradaban yang penting bagi Dunia Islam, dan lain sebagainya.

Sekarang, seiring dengan faktor-faktor tadi, terjadi sebuah fenomena yang krusial yaitu gerakan kebangkitan Islam yang menyelimuti seluruh kawasan dan membuka lembaran baru yang menentukan bagi nasib umat Islam. Tak syak, gerakan agung ini akan berujung pada terbentuknya sebuah komunitas Islami yang kuat, maju dan kompak di kawasan yang vital di dunia ini. Berkat inayah Allah dan tekad kuat mereka yang terlibat dalam gerakan ini, fenomena yang akan mengakhiri masa ketertinggalan, kelemahan dan kehinaan bangsa-bangsa Muslim ini akan mencurahkan sebagian besar energi dan semangatnya untuk menindaklanjuti isu Palestina.

Dari satu sisi, kezaliman dan arogansi rezim Zionis Israel yang terus meningkat serta sikap sejumlah penguasa despotik, korup dan antek Amerika dengannya, dan di sisi lain, munculnya geliat perlawanan gigih Palestina dan Lebanon bersama kemenangan bak mukjizat yang berhasil diraih oleh para pemuda mukmin dalam perang 33 hari di Lebanon dan 22 hari di Gaza, merupakan bagian dari faktor-faktor penting yang memicu munculnya gelombang arus di tengah samudera bangsa Mesir, Tunisia, Libya dan negara-negara regional lainnya yang sepintas nampak tenang.

Adalah satu realita bahwa rezim Zionis yang bersenjata lengkap dan mengklaim diri sebagai kekuatan yang tak terkalahkan ternyata menelan kekalahan telak dan menyakitkan saat menghadapi para pejuang Mukmin dan pemberani dalam perang Lebanon yang tak seimbang. Setelah itu, rezim yang sama unjuk kekuatan dan kembali gagal ketika berhadapan dengan perlawanan Gaza yang gigih dan mazlum.

Fakta tadi sudah semestinya diperhatikan dengan baik dalam menganalisa kondisi kawasan saat ini, sekaligus menjadi parameter dalam setiap pengambilan keputusan.

Karenanya, sangat tepat jika dikatakan bahwa isu Palestina saat ini merupakan isu yang sangat penting dan prioritas. Dengan kondisi kawasan ini, rakyat Palestina tentunya berhak untuk berharap banyak dari negara-negara Muslim.

Mari kita tengok masa lalu dan masa kini untuk menyusun peta jalan bagi masa depan. Di sini saya akan memaparkan beberapa poin.

Sudah lebih dari enam dekade berlalu sejak terjadinya peristiwa tragis perampasan Palestina. Faktor-faktor utama yang melahirkan tragedi berdarah ini sudah diketahui. Faktor paling utamanya adalah pemerintahan imperialis Inggris yang dengan politik, senjata, personil militer, keamanan, ekonomi dan budaya, lalu negara-negara imperialis lainnya dari Barat dan Timur ikut membantu terjadinya kezaliman besar ini. Rakyat Palestina yang tak berdaya dibantai oleh para penjajah yang tak berperasaan dan diusir dari rumah dan kampung halaman mereka. Hingga saat ini, gambar seni media dan visualisasi dari tragedi kemanusiaan dan peradaban ini yang dilakukan oleh para pengklaim peradaban dan etika di zaman itu tak lebih dari satu persen dari fakta yang sebenarnya, karena memang tidak diinginkan dan diizinkan oleh para pemilik utama seni visual, cinema, dan televisi serta mafia perfilman Barat. Satu bangsa dibantai secara massal, diasingkan dan diusir dari rumah mereka dalam keheningan.

Perlawanan yang ada di masa-masa itu ditumpas besar-besaran dan dengan cara sadis. Dari luar wilayah Palestina, para pejuang yang umumnya datang dari Mesir telah melakukan banyak usaha dengan dorongan semangat keislaman. Namun usaha mereka tak banyak membuahkan hasil karena tidak mendapat dukungan yang semestinya.

Lalu tiba masa perang terbuka dan klasik antara sejumlah negara Arab melawan tentara Zionis. Mesir, Suriah dan Jordania mengerahkan pasukan masing-masing. Namun, bantuan militer, logistik dan finansial dari AS, Inggris dan Prancis yang mengalir semakin deras kepada rezim pendudukan telah melumpuhkan pasukan Arab. Mereka tak hanya gagal membantu rakyat Palestina tapi bahkan kehilangan sebagian wilayah dalam perang-perang ini.

Dengan kian nampaknya kelemahan negara-negara Arab yang bertetangga dengan Palestina, regu-regu perlawanan bersenjata Palestina menemukan bentuknya yang terorganisir. Beberapa waktu setelah itu lahirlah Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Pijaran fenomena ini memunculkan harapan. Namun tak berapa lama harapan itupun luntur. Bisa dikata bahwa kegagalan ini terjadi karena banyak faktor. Hanya saja, faktor paling utama adalah karena gerakan itu telah menjauh dari masyarakat, kepercayaan dan keimanan rakyat kepada Islam. Ideologi kiri atau nasionalisme murni bukanlah isu yang mendesak bagi masalah Palestina yang pelik ini. Yang dapat mendorong satu bangsa untuk terjun ke medan perjuangan dan memberi mereka kekuatan yang tak terkalahkan hanyalah Islam, jihad dan kesyahidan. Mereka tak memahami masalah ini dengan baik. Beberapa bulan setelah kemenangan revolusi Islam, ketika para pemimpin PLO menemukan semangat baru dan sering berkunjung ke Tehran, kepada salah seorang tokoh organisasi ini saya bertanya, "Mengapa kalian tidak mengusung bendera Islam dalam perjuangan kalian yang sah ini?" Dia menjawab, "Di antara kita ada yang beragama Kristen." Di kemudian hari, orang tersebut tewas dalam insiden teror yang dilakukan orang-orang Zionis di salah satu negara Arab. Insya Allah dia memperoleh ampunan dari Allah. Tetapi argumentasi yang dia sampaikan tidak sempurna dan tidak benar. Menurut hemat saya, seorang pejuang Kristen yang beriman akan merasa lebih tenang berperang di sisi komunitas pejuang yang tulus, beriman kepada Allah dan hari kiamat dan berharap pertolongan Ilahi serta didukung secara materi dan spiritual oleh masyarakat, ketimbang berjuang bersama kelompok yang tidak beriman dan hanya mengandalkan emosi yang tak menentu serta jauh dari dukungan rakyat.

Tidak adanya keimanan agama yang kuat dan keterjauhan dari rakyat secara perlahan telah melemahkan mereka. Memang, di antara mereka ada sekelompok orang yang terhormat, penuh semangat dan peduli. Tapi komunitas dan organisasi berjalan ke arah yang lain. Penyimpangan mereka telah menjadi pukulan bagi masalah Palestina dan pukulan itu masih terus berlangsung. Sama seperti sejumlah rezim Arab pengkhianat, mereka juga telah mencampakkan cita-cita perjuangan muqawamah yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan bagi Palestina. Tentunya bukan hanya terhadap Palestina, mereka juga telah memukul diri sendiri dengan pukulan telak. Seperti yang dikatakan oleh penyair Kristen Arab;

لئن اضعتم فلسطيناً فعيشكم
طول الحياة مضاضات و آلامٌ
"Jika mencampakkan Palestina, maka sepanjang hidup kalian akan menderita kepedihan dan rasa sakit."

Demikianlah 32 tahun berlalu seperti ini sejak terjadinya peristiwa Nakbah... Tapi mendadak tangan Ilahi yang Maha Kuat membalik lembaran. Kemenangan revolusi Islam di Iran tahun 1979 telah mengubah kondisi di kawasan dan membuka lembaran baru. Di antara pengaruh besar revolusi Islam ini di dunia dan tamparan kerasnya terhadap kebijakan arogansi adalah pukulan telak yang dilayangkannya lebih cepat dan lebih nampak menyasar ke arah rezim Zionis. Pernyataan para pemimpin Zionis saat itu sangat menarik dan menunjukkan kondisi, kekelaman dan kegalauan mereka. Di pekan-pekan pertama kemenangan revolusi, Kedutaan Besar Israel di Tehran ditutup dan seluruh pegawainya diusir. Secara resmi, kedutaan itu diserahkan kepada perwakilan PLO dan sampai sekarang masih mereka gunakan. Imam Khomeini mengumumkan bahwa salah satu cita-cita revolusi ini adalah pembebasan Palestina dan pelenyapan kanker ganas Israel. Gelombang kuat revolusi ini yang saat itu memenuhi seluruh penjuru dunia membawa pesan, ‘Palestina harus bebas'. Kesulitan bertubi dan besar yang ditimpakan musuh-musuh revolusi terhadap pemerintahan Republik Islam Iran yang salah satunya adalah perang yang dipaksakan rezim Saddam Hossein selama delapan tahun dengan provokasi AS dan Inggris serta dukungan rezim-rezim reaksionir Arab tak mampu memadamkan tekad Republik Islam Iran untuk membela Palestina.

Dengan demikian darah segar kembali mengaliri urat-urat Palestina. Kelompok-kelompok pejuang Muslim Palestina pun bermunculan. Di Lebanon, muqawamah membuka front yang kuat dan baru melawan musuh dan para pendukungnya. Palestina pun tak lagi menumpukan harap kepada negara-negara Arab dan lembaga-lembaga dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang notabene ikut andil dalam kejahatan negara-negara arogan, akan tetapi mengandalkan potensi diri sendiri, para pemudanya, keimanan mendalam kepada Islam dan pria maupun wanitanya yang siap berkorban. Inilah kunci dari semua keberhasilan.

Selama tiga puluh tahun proses ini terus berkembang dan meningkat. Kekalahan pahit rezim Zionis Israel di Lebanon tahun 2006 lalu kegagalan pasukan Zionis yang congkak di Gaza tahun 2008, larinya Zionis dari Lebanon selatan dan mundurnya mereka dari Gaza, terbentuknya pemerintahan muqawamah di Gaza, dan secara singkat, berubahnya bangsa Palestina dari komunitas manusia-manusia yang lemah dan pesimis menjadi bangsa yang penuh harap, pejuang dan percaya diri adalah fenomena yang menonjol dalam tiga puluh tahun terakhir.

Gambaran umum dan sepintas ini akan sempurna jika gerakan damai dan pengkhinatan yang bertujuan memadamkan muqawamah dan meraih pengakuan dari kelompok-kelompok Palestina dan rezim-rezim Arab terhadap legalitas eksistensi Israel dilihat dengan benar.

Gerakan ini yang pertama kali dilakukan oleh seorang pengkhianat dan bejat yang duduk di posisi penerus Gamal Abdel Nasser dengan menandatangani perjanjian Camp David yang memalukan, selalu berusaha menggembosi tekad kuat muqawamah. Melalui perjanjian Camp David untuk pertama kalinya satu rezim Arab secara resmi mengakui negeri Islam bernama Palestina sebagai tanah air bagi orang-orang Zionis. Dalam perjanjian itu, ditandatangani suatu pernyataan yang menyebutkan bahwa "Israel adalah negeri bagi bangsa Yahudi'.

Sejak saat itu sampai ditandatanganinya perjanjian Oslo tahun 1993 dan setelahnya, dibuat agenda-agenda penyempurna yang dikendalikan oleh AS bersama sejumlah negara imperialis Eropa dan dipikulkan ke pundak kubu Palestina yang pro damai dan tak penting itu. Semua agenda itu ditujukan oleh pihak musuh untuk memalingkan rakyat dan faksi-faksi Palestina dari muqawamah lewat cara iming-iming janji yang menipu dan nonsen serta menyibukkan mereka dengan permainan politik amatiran. Dengan cepat ketidakakuratan semua perjanjian itu terungkap. Orang-orang Zionis dan para pendukung mereka berulang kali telah membuktikan bahwa semua surat perjanjian itu di mata mereka tak lebih dari kertas yang tak bernilai. Tujuan dari agenda ini adalah melahirkan keraguan di tengah bangsa Palestina dan merayu orang-orang yang tak beriman dan cinta dunia serta melumpuhkan gerakan muqawamah Islam, tidak lebih.

Sampai sekarang, obat penawar untuk meredam permainan beraroma pengkhianatan ini tetaplah semangat muqawamah pada kelompok-kelompok Islam dan bangsa Palestina. Dengan izin Allah mereka gigih melawan musuh. Mereka akan memperoleh bantuan dan pertolongan Ilahi seperti yang dijanjikan Allah dalam firmannya;

َلَيَنصُرَنَّ اللهُ مَن يَنصُرُهُ، إِنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agamaNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa."

Resistensi Gaza yang diblokade secara penuh adalah pertolongan Allah. Tumbangnya kekuasaan rezim pengkhianat dan korup Husni Mubarak adalah pertolongan Allah. Munculnya gelombang besar kebangkitan Islam di kawasan, juga merupakan pertolongan Allah. Tercabiknya tirai kemunafikan dan kebohongan wajah AS, Inggris dan Prancis serta kebencian bangsa-bangsa di kawasan yang semakin mengkristal kepadanya, adalah pertolongan Allah. Tenggelamnya Rezim Zionis dalam kesulitan bertubi dan tak terkira dari kesulitan politik, ekonomi, dan sosial di dalam sampai keterkucilan dan kebencian umum dunia kepadanya bahkan di lingkungan kampus di Eropa, semua itu adalah pertolongan dari Allah.

Hari ini, Rezim Zionis lebih dibenci, lebih lemah dan lebih terkucilkan sementara para pendukung utamanya, yaitu Amerika Serikat semakin tenggelam dalam kesulitan dan kebingungan.

Kini, gambaran umum Palestina dalam rentang waktu 60 lebih sekian tahun ada di depan mata kita. Masa depan mesti dibentuk dengan memerhatikan masalah ini dan mengambil pelajaran darinya.

Ada dua masalah yang harus dijelaskan terlebih dahulu;

Pertama, tuntutan kita adalah pembebasan Palestina, bukan pembebasan sebagian wilayah Palestina. Setiap prakarsa yang ingin memecah belah Palestina harus ditolak mentah-mentah. Prakarsa dua negara yang menjadi anggota PBB yang seakan benar, tak lain adalah pengakuan akan kemauan orang-orang Zionis, yaitu pengakuan akan eksistensi pemerintahan Zionis di negeri Palestina. Ini berarti penistaan hak bangsa Palestina, menutup mata dari hak bersejarah para pengungsi Palestina, dan bahkan ancaman terhadap hak warga Palestina yang hidup di dalam wilayah pendudukan tahun 1948. Ini berarti membiarkan kanker ganas dan bahaya yang selalu mengancam tubuh umat Islam, khususnya bangsa-bangsa di kawasan. Ini berarti mengulangi penderitaan puluhan tahun dan penistaan darah para syuhada.
Setiap prakarsa operasional harus dibuat berdasarkan prinsip ‘Seluruh Palestina untuk semua rakyat Palestina'. Palestina adalah negeri Palestina dari sungai sampai laut, tanpa kurang sejengkalpun. Tentunya, masalah ini jangan sampai diabaikan bahwa rakyat Palestina mesti melakukan apa yang sudah dilakukan di Gaza, yaitu memegang kendali wilayah manapun dari tanah Paslestina yang berhasil dibebaskan lewat sebuah pemerintahan yang dipilih berdasar pilihan rakyat. Tapi, jangan sampai tujuan akhir dilupakan.
Kedua, untuk mewujudkan cita-cita luhur ini diperlukan kerja keras, bukan kata-kata. Perlu keseriusan bukan tindakan basa-basi. Diperlukan kesabaran dan kearifan, bukan langkah yang tergesa-gesa. Harus ada pandangan yang jauh dan gerakan langkah demi langkah yang disertai tawakkal dan optimisme. Negara-negara dan bangsa-bangsa Muslim, kelompok-kelompok muqawamah di Palestina, Lebanon dan negara-negara lain harus mengenal peran dan tugas masing-masing dalam perjuangan kolektif ini. Dan dengan izin Allah, mereka akan memenuhi semua lini perjuangan muqawamah.
Prakarsa Republik Islam untuk menyelesaikan masalah Palestina dan menyembuhkan luka menahun ini, adalah prakarsa yang jelas, logis dan sesuai dengan aturan politik yang diterima oleh opini umum dunia. Prakarsa ini sudah dipaparkan dengan rinci. Kami tidak mengusulkan perang klasik yang menyertakan pasukan dari negara-negara Islam, tidak mengusulkan untuk membuang para imigran Yahudi ke laut, dan tidak pula mengusulkan untuk menjadikan PBB atau lembaga-lembaga internasional lainnya sebagai penentu. Kami mengusulkan referendum yang menyertakan semua rakyat Palestina. Sama seperti bangsa-bangsa lain, bangsa Palestina juga berhak menentukan sendiri nasib dan sistem pemerintahan di negeri mereka. Seluruh rakyat Palestina baik yang Muslim, Kristen atau Yahudi -bukan para imigran asing- di manapun mereka berada, baik yang berada di dalam negeri Palestina, di kamp-kamp pengungsi maupun yang berada di tempat lain, disertakan dalam referendum yang digelar secara umum dan tertib untuk menentukan sistem pemerintahan masa depan di Palestina. Setelah terbentuk, pemerintahan hasil referendum ini akan mengambil keputusan terhadap nasib para imigran yang datang ke negeri ini bertahun-tahun yang lalu. Ini adalah prakarsa yang adil dan logis, bisa diterima oleh opini umum dunia dan bisa didukung oleh bangsa-bangsa dan negara-negara independen. Tentunya kita tidak berharap para penjajah Zionis akan mudah menerimanya. Di sinilah saatnya negara-negara, bangsa-bangsa dan organisasi-organisasi muqawamah memainkan peran.

Pembelaan kepada rakyat Palestina yang paling penting adalah dengan memutuskan bantuan kepada musuh penjajah, dan ini adalah tugas besar yang dipikul oleh negara-negara Islam. Sekarang, setelah rakyat terjun ke tengah medan dengan mengangkat slogan-slogan anti Zionis, dengan alasan apalagi pemerintahan di negara-negara Muslim mempertahankan hubungan mereka dengan rezim penjajah? Kejujuran pemerintah di negara-negara Islam ditentukan oleh dukungan mereka kepada bangsa Palestina, serta memutuskan hubungan resmi dan rahasia baik politik maupun ekonomi dengan rezim ini. Negara-negara yang menjamu Kedutaan Besar atau kantor kepentingan ekonomi untuk Rezim Zionis tak dapat lagi mengaku sebagai pendukung Palestina. Slogan anti Zionis yang mereka angkat tak akan dipandang penting dan tulus.

Faksi-faksi muqawamah Islam yang sejak lama memikul beban jihad kini juga mengemban tugas besar yang sama. Muqawamah mereka yang terorganisir dengan baik adalah kekuatan aktif yang bisa membantu rakyat Palestina mencapai tujuan akhir ini. Perjuangan gagah berani yang dilakukan rakyat di sebuah negeri yang dijajah diakui secara resmi sebagai hak dalam piagam-piagam internasional dan dipuji. Tuduhan terorisme yang dilontarkan oleh jaringan politik dan media milik Zionisme adalah omong kosong yang tak bernilai. Terorisme yang nyata adalah rezim Zionis Israel dan para pendukungnya di Barat. Sementara, muqawamah Palestina adalah gerakan anti terorisme keji dan gerakan insani dan suci.

Dalam kaitan ini, negara-negara Barat hendaknya memandang medan dengan pandangan yang realistis. Barat saat ini berada di persimpangan dua jalan; mengakhiri arogansinya yang berkepanjangan, mengakui hak bangsa Palestina dan tidak mengikuti lebih jauh agenda Zionis yang arogan dan anti kemanusiaan, atau menantikan pukulan telak mendatang yang tak lama lagi bakal bersarang. Pukulan yang mematikan ini tak hanya berupa tumbangnya satu persatu rezim-rezim yang patuh kepada mereka di kawasan Dunia Islam. Kelak suatu hari bangsa-bangsa Eropa dan Amerika akan menyadari bahwa sebagian besar masalah ekonomi, sosial dan moral mereka dipicu oleh hegemoni zionisme internasional yang menguasai pemerintahan mereka layaknya gurita, sementara para pejabat negara hanya memikirkan kepentingan pribadi dan partainya sehingga siap untuk tunduk dan patuh kepada kartel-kartel jahat Zionis di Amerika dan Eropa. Saat itu, rakyat akan menghukum mereka dengan neraka yang tak membiarkan celah bagi mereka untuk selamat.

Presiden AS mengatakan bahwa keamanan Israel adalah garis merahnya. Faktor apa yang telah menciptakan garis merah ini? Apakah itu kepentingan rakyat AS ataukah kebutuhan pribadi Obama kepada dana dan dukungan kompeni-kompeni Zionis untuk meraih kursi kepresidenan periode kedua? Sampai kapan Anda bisa terus membohongi rakyat sendiri? Apa yang bakal dilakukan oleh rakyat AS terhadapmu ketika mereka menyadari bahwa engkau siap melakukan kehinaan, serta mengekor dan tunduk kepada orang-orang Zionis yang memiliki kekayaan dan rela mengobankan kepentingan rakyat hanya untuk mempertahankan kekuasaan beberapa hari lebih lama?

Saudara dan saudari yang mulia! Ketahuilah bahwa garis merah Obama dan semisal dia akan dikalahkan oleh bangsa-bangsa Muslim yang sudah bangkit. Yang menjadi ancaman Rezim Zionis sebenarnya bukan rudal-rudal Iran atau kelompok-kelompok muqawamah sehingga harus memasang perisai anti rudal di sana sini. Ancaman sebenarnya yang tak dapat dibendung adalah tekad kuat laki-laki, perempuan dan para pemuda di negara-negara Islam yang bakal tak sudi lagi menerima kekuasaan dan hegemoni AS, Eropa dan kaki tangannya atas mereka dan akan menghinakannya. Tentunya ketika dirasa ada ancaman dari musuh, rudal-rudal itu akan melaksanakan tugasnya.

فاصبر ان وعد الله حق ولا يستخفنّك الذين لا يوقنون

"Maka bersabarlah. Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) menggelisahkanmu." (Q.S. Rum: 60)

Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. (Khamenei.ir)

Pengkhianatan Raja Saudi Atas Bangsa Palestina
















Ini Dia Bukti Pengkhianatan Raja Saudi Atas Bangsa Palestna Sebuah dokumen rahasia terungkap mengenai hubungan pendiri kerajaan Arab Saudi dengan Inggris dan pendapat mereka tentnag pembentukan negara Israel.

Fars News hari ini (Rabu, 28/9) melaporkan, beberapa waktu lalu, terkuak dokumen rahasia bersejarah yang mencantumkan pengkhidmatan Raja Abdul Aziz, pendiri kerajaan Arab Saudi, terhadap pemerintah Inggris dan pengkhianatannya terhadap bangsa Palestina.

Dalam dokumen yang untuk pertama kalinya dipublikasikan oleh majalah al-Arabi terbitan Kuwait pada bulan Shawal 1329 Hijriah atau bertepatan pada tahun 1972, Raja Abdul Aziz dengan tulisan tangannya menyatakan, "Saya Sultan Abdul Aziz bin Abdul Rahman al-Faisal al-Saud, beribu-ribu kali menyatakan kepada perwakilan Britania, Sir Percy Cox, bahwa saya tidak ada masalah dengan pemberian [wilayah] Palestina kepada kaum Yahudi yang terlantar atau bahkan kepada non-Yahudi dan dalam hal ini saya tidak akan melanggar persetujuan saya sampai hari kiamat."

(IRIB/MZ)

Leader urges liberation of Palestinian lands




“The US president says that Israel's security is his red line. What has drawn this red line? The interests of the American nation or Obama's need for the money and support of Zionist companies to secure his second term as the US president?” the Leader said Saturday at the fifth International Conference on Palestinian Intifada in Tehran.

“This red line drawn by Obama and people like him will be crossed by Muslim nations that have risen up,” Ayatollah Khamenei added.

The Leader said that the real threat to the Zionist regime was the resolve of Muslim countries that did not want America, Europe or their stooges to rule over their countries.

Ayatollah Khamenei said that Western countries had to stop their support for the Zionist regime and recognize Palestinians' rights or face heavy blows in a not very distant future.

He also urged Muslim countries to cut off diplomatic and economic relations w ith the Zionist regime to prove their sincerity in supporting Palestinians, saying: "The most important pillar in supporting the Palestinian nation is cutting support for the usurper enemy."

The Leader rejected any solution seeking to split Palestine and called for the liberation of all Palestinian lands.

Ayatollah Khamenei said that a solution suggesting the existence of a Palestinian state along with an Israeli one amounted to the renouncement of Palestinians' rights, adding that any plan needed to be based on the principle of “the whole Palestine for all Palestinians.”

The Leader reiterated Iran's proposal of staging referendum for all Palestinians, saying: "Today, the Zionist regime is hated and America is confused more than ever."

The fifth International Conference on Palestinian Intifada opened at the Summit Conference Hall in Tehran on Saturday.

The conference focuses on the restoration of Palestinians' rights, including their rights t o return to their homeland and determine their own fate, and on the liberation of Palestinian territories occupied by the Zionist regime.

Kembali ke Fitrah


Di negeri tercinta ini setiap selesai bulan mulia Ramadhan, masyarakat di sibukkan dengan acara ritual yang di kenal dengan nama Halal bi Halal. Sudah menjadi sebuah tradisi bangsa ini yang ternyata tidak di temukan di negara-negara Islam lainnya. Hampir di setiap instansi baik itu di pengajian2 rutin mingguan hingga ke instansi partai-partai di pemerintahan bahkan pada reunian sekolah2 pun memanfaatkan acara 'saling memaafkan ' ini dalam rangka ber 'halal bi halal'. Banyak yang beranggapan dengan menjabat tangan dan mengucapkan 'mohon maaf lahir dan batin', kita merasa sudah dapat melepas beban2 dosa yang telah ada di pundak2 kita selama ini terlebih pada orang-orang yang pernah kita cenderai hatinya baik sengaja maupun tak di sengaja. Adapun terkadang hanya berbasa basi dalam rangka program 'silahturahmi', berkumpul, mempererat dan memperbaharui hubungan yang telah lama tak ter jaga atau terlupakan.

" Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin " , ini yang sangat umum di ucapkan ketika bertemu dengan rekan-rekan, saudara-saudara pada acara Halal Bi Halal tersebut, keluar otomatis tanpa harus banyak berfikir , 'just say it' than you feel better dan tidak merasa berhutang ucap lagi setelahnya.

Fitri berasal dari kata fitrah; dimana di artikan juga' bersih' 'suci', karena segala yang berasal dariNYA adalah murni, suci , tak ternodai. Manusia sebagai makhluk yang diciptakanNYA itu lahir ke dunia ini dalam keadaan bersih suci. Dalam perjalanan kehidupannya, manusia anak cucu Nabi Allah Adam as ini, yang berkecenderungan menyukai sesuatu yang dapat melenakan dirinya dari sesuatu yang terlarang, terus menerus menumpuk kotoran-kotoran dosanya hingga Allah SWT memberikan kesempatan emas itu pada makhluk yg bernama manusia untuk selalu membersihkannya pada bulan muliaNYA Ramadhan untuk berpuasa. Dan puasa ini memang panggilan untuk orang-orang yang beriman saja agar kelak diharapkan menjadi manusia yang bertakwa ( QS 2 : 183 ). Dengan berpuasa kita di wajibkan untuk memperhatikan segala perintahNYA , dimana hidangan-hidangan Ilahiah dapat kita cicipi selezat mungkin seperti dengan membaca kitabNYA & doa-doa pelebur dosa dari manusia pilihanNYA, juga salat-salat sunah & qadha . Tentu semua ini dibutuhkan kedisiplinan diri , agar makhlukNYA yg berwujud manusia ini dapat terlatih di bulan-bulan selanjutnya untuk terbiasa dengan menjadikan dirinya sesuai dengan kehendakNYA, menjadi seorang 'manusia' . HarapanNYA tentu untuk dapat tampak seperti wujudnya semula.

Menarik di bulan nan suciNYA itu , kita di 'training' untuk dapat berada di alamNYA dengan mencoba 'menyerupaiNYA' - dengan TIDAK -makan, minum, berhubungan dengan pasangan hingga waktu yang telah ditentukan syariat. Sesungguhnya seruan ini harus terus di praktekan hingga akhir kehidupannya. Tetapi Allah Sang Maha tentu telah mengetahui betapa lemahnya manusia untuk dapat terus bertahan pada keadaan nya seperti di bulan Ramadhan, oleh karenanya dengan segala Maha Kasih SayangNYA yang berlimpah dan tak terhingga, Allah SWT memberikan terus menerus kesempatan untuk para hamba-hambaNYA yang berakal & beriman tentunya untuk terus melatih 'diri'nya minimal setahun sekali untuk terus memperbaiki nasib dirinya agar menjadi seorang yang bertakwa .

Dalam ceramah awal bulan Syawal, kita sering mendengar para ustad dalam mengawali ceramahnya selalu berbicara tentang kembali fitri bagaikan bayi yang baru terlahir dari rahim ibunya.

Sesungguhnya ini lah harapan Sang Kholik pada makhlukNYA yang bernama 'manusia '. Harapan Sang Rabb al alamin yang ingin menyaksikan terus menerus kita sebagai makhlukNYA untuk menjadi 'manusia' dengan berhasil menguasai alam kebinatangannya hingga dapat menjadi 'khalifahNYA' ( dapat memanifestasikan nama-nama agungNYA pada diri kita ) di bumiNYA. Semoga kita dapat terus memenuhi harapanNYA untuk selalu dalam keadaan bertakwa hingga kembali kepadaNYA.

Wallahualam bi shawab....Salawat ala Muhammad wa aali Muhammad......wa ajil farajahum. ADRIKNA YA MAHDI











Jalan Lurus

Untuk dapat selalu berada di jalan kebenaran di perlukan hati yang tulus dan keyakinan yang kuat.Bagaimana tidak, pembangkang nomor wahid, setan tak akan pernah lengah menyerang tanpa pandang bulu, entah itu seorang yang lalai bahkan si alim yang shaleh sekalipun.
Rasulullah saw yang mulia oleh karenanya tidak luput mengajarkan pada umatnya agar selalu berpegang teguh pada tali Allah yang masih selalu dapat kita gapai dengan dua pusaka wasiat beliau saw yang paling handal, yaitu al Quran Nur Karim dan Ahlul Bayt Rasulullah yang tlah disucikanNYA.

Dalam setiap taqib salat pun kita selalu dianjurkan untuk selalu berdoa dengan doa-doa pilihan yang biasa di baca oleh lidah & mulut suci Rasul saw & AhlulBayt as. Taqib salat subuh misalnya jelas di awal kedatangan menyambut hari yang akan kita jalani, kita di anjurkan membaca :

" Ya Allah, limpahkan salawat atas Muhammad dan keluarganya, berilah aku petunjuk dengan izinMU ketika kebenaran sudah di pertentangkan karena Engkau akan memberi petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus "

Jalan yang lurus yang kita inginkan dan kita memang di haruskan untuk berjalan disana....apabila kita menghendaki jalan yang di tunjukiNYA. Sudah barangtentu, jalan ini sangat sangat sulit, hanya mereka yang serius ingin menapakinya saja yang akan terus bertahan disitu.

Terlintas seperti mudah, apabila kita bicara dan menyebut keinginan itu. Tetapi bukankah setiap keinginan harus ada kemauan keras untuk dapat mewujudkannya. Ingin tidak hanya di ucap dengan kata-kata, tetapi lebih pada perwujudan dari keinginan itu sendiri...dan usaha perwujudan itulah yang menjadi nilai dari diri seseorang. Keinginan kuat ( azam ) nya dan konsistensi usahanya untuk berada terus di jalan kebenaran apapun tantangannya akan dan di dijalaninya dengan keikhlasan adalah menunjukan kualitas diri seseorang.

Hal ini lah yang membedakan diri seseorang dengan diri yang lainnya. Tentunya hanya usaha dari diri kita tak mungkinlah terwujud usaha kita itu. Hanya Allah, Rasul saw dan tali-tali Allah lah yang dapat menghantarkan kita pada 'mereka' ( 'DIRI' yang sesungguhnya ) . Karena setiap diri ( jiwa ) ini hanya tergantung padaNYA, tentunya dengan menapaki jalan yang telah di tunjukan oleh para Nabi & Aulia Allah lah jalan yang benar. Dengan terus menerus memohonkan rahmat & karunia serta taufik hidayahNYA lah kita dapat berada terus di jalanNYA. Dan dengan izinNYA lah kita dapat terus berada di jalanNYA.

Menggapai magfirah & ridha Allah tidaklah semudah yang kita duga, Allah SWT pun melihat langkah-langkah kita dan keseriusan kita dalam melangkah menujuNYA. Terlepas dari Allah Maha Pengasih & Penyayang, DIA Sang Maha Pengatur Alam Semesta ini, sangat melihat pada apa yang di niatkan dan yang ada di kalbu seseorang serta usaha & tekad kuatnya untuk dapat menggapai magfirah & ridhaNYA.

Kadang kita masih menganggap enteng ampunan Allah, dengan hanya mengucap astagfirullah kita menyangka semua urusan dan kesalahan kita telah selesai dan terampuni, sambil kita masih terus berbuat sesuatu yang masih bukan di jalanNYA ( nauzubillah..)

Semoga kita termasuk yang serius dan bertekad kuat untuk menggapai magfirah & ridhaNYA serta berbuat sesuai dengan kehendakNYA sehingga dapat istiqamah selalu berada di jalanNYA

Wallahualam bishawab....Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum...ADRIKNA YA MAHDI




The Month of Ramadan - Ayatullah Wahid Khurasani

Pertanyaan di bulan suci Ramadan


Apakah benar kita termasuk orang yang beriman?

Pertanyaan ini seharusnya terus ditanyakan pada diri kita, untuk mengetahui apakah selama ini kita benar-benar seorang yang beriman. Karena apabila kita ingin jujur pada diri kita sendiri, sebaiknya kita me review lagi apa yang selalu kita lakukan.

Iman yang kita pahami adalah sebuah keyakinan kita pada sesuatu yang 'ghaib'. Apabila kita mengimani pada yg ghaib seperti Allah, Malaikat, Akhirat & Hari Kebangkitan dan konsep kenabian, konsep kepemimpinan, maka akan tercermin dalam segala tindak perbuatan kita.

Seperti , jika kita sedang berada di suatu negara atau kota dimana kita sangat lapar pada saat itu, dan masuk ke sebuah restoran dan memesan makanan, tetapi ternyata menu makanan itu adalah makanan yang mengandung minyak babi, maka seorang yang beriman walau dia sangatlah lapar, dia akan pergi dan mencari lagi restauran yang bebas dari segala yang di haramkan oleh agama. Dan , dia akan mengorbankan diri nya untuk menahan rasa laparnya karena tidak ingin melanggar peraturanNYA. Dalam kasus ini, mungkin kita lulus sebagai seorang mukmin.

Tetapi di banyak kasus, kita terkadang menganggap enteng dan tidak merasa takut sama sekali, akan perbuatan terlarang kita , padahal jelas-jelas telah di beritahukan , di yakini secara zahir, tetapi karena kita merasa senang melakukannya , maka tiba-tiba dalam hal tersebut kita berlagak tidak tahu dan terus melakukannya dan dianggapnya sebagai kebiasaannya , seperti , bersalaman dengan non mahram, berhijab dengan masih menonjolkan bentuk tubuhnya, memakai minyak wangi di depan non mahram, mengghibah, melakukan fitnah dsb

Apakah pada saat itu kita masih seorang mukmin.? Padahal kita tahu persis ALLAH SWT jelas melihat dan mengetahui apapun yang kita kerjakan, tetapi kenapa kita terus-menerus melakukannya seolah Allah tak melihat . Berbohong pada manusia saja kita dilarang ini bukan saja berbohong DIA melihat kita, dan menyaksikan. Apakah disini, manusia lebih mulia dari Tuhan ( nauzubillah ) , mengapa di depan manusia kita berusaha ingin menyenangkan mereka tetapi mengabaikan menyenangkanNYA?

Wow...tanyakan terus apa yang sedang dan pernah selalu kita lakukan pada Allah Sang Maha Pencipta, Maha Melihat? Tetapi kita terus menerus menyakitiNYA dan mengaku beriman?

Tentu berbeda apabila orang itu TIDAK meyakini atau mengimani yang disebut diatas tsb dan belum mengetahui segala pengetahuan tentangnya. Tetapi bagi yang mengaku mengimani dan telah mengetahui dengan jelas tentang semua itu?

Disini tentu, yang tidak mengetahui tidak mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya dari pada yang jelas telah mengetahuinya dan melanggarnya.

Oleh karenanya seorang yang beriman pasti mempunyai sifat jujur pada dirinya, dia akan terus istiqamah pada apa yang di yakininya, dan memohon ampunanNYA apabila dia lupa dan merasa telah membangkang dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Merekalah yang di panggil Tuhannya untuk memohon ampunanNYA di bulan nan suci mulia Ramadan ini. Bersyukurlah , apabila kita masih termasuk yang selalu dapat menyadari kesalahan-kesalahan kita dan segera memohon ampunanNYA. Dan terus membersihkan diri agar dapat meraih ampunanNYA karena telah dengan sengaja melakukan perbuatan-perbuatan yang telah di larangNYA.

Ya Allah, semoga di bulan suci Ramadan ini, kita semua dapat lebih meningkatkan kesadaran diri kita agar dapat bersegera memohon ampunan dan bertaubat nashuha sehingga kita menjadi benar seorang yang beriman , bukan sekedar mengaku beriman.

Al afwu Ya KARIM.. Salawat ala Muhammad wa aali Muhammad ....wa ajil farajahum. ADRIKNA YA MAHDI