
Apakah benar kita termasuk orang yang beriman?
Pertanyaan ini seharusnya terus ditanyakan pada diri kita, untuk mengetahui apakah selama ini kita benar-benar seorang yang beriman. Karena apabila kita ingin jujur pada diri kita sendiri, sebaiknya kita me review lagi apa yang selalu kita lakukan.
Iman yang kita pahami adalah sebuah keyakinan kita pada sesuatu yang 'ghaib'. Apabila kita mengimani pada yg ghaib seperti Allah, Malaikat, Akhirat & Hari Kebangkitan dan konsep kenabian, konsep kepemimpinan, maka akan tercermin dalam segala tindak perbuatan kita.
Seperti , jika kita sedang berada di suatu negara atau kota dimana kita sangat lapar pada saat itu, dan masuk ke sebuah restoran dan memesan makanan, tetapi ternyata menu makanan itu adalah makanan yang mengandung minyak babi, maka seorang yang beriman walau dia sangatlah lapar, dia akan pergi dan mencari lagi restauran yang bebas dari segala yang di haramkan oleh agama. Dan , dia akan mengorbankan diri nya untuk menahan rasa laparnya karena tidak ingin melanggar peraturanNYA. Dalam kasus ini, mungkin kita lulus sebagai seorang mukmin.
Tetapi di banyak kasus, kita terkadang menganggap enteng dan tidak merasa takut sama sekali, akan perbuatan terlarang kita , padahal jelas-jelas telah di beritahukan , di yakini secara zahir, tetapi karena kita merasa senang melakukannya , maka tiba-tiba dalam hal tersebut kita berlagak tidak tahu dan terus melakukannya dan dianggapnya sebagai kebiasaannya , seperti , bersalaman dengan non mahram, berhijab dengan masih menonjolkan bentuk tubuhnya, memakai minyak wangi di depan non mahram, mengghibah, melakukan fitnah dsb
Apakah pada saat itu kita masih seorang mukmin.? Padahal kita tahu persis ALLAH SWT jelas melihat dan mengetahui apapun yang kita kerjakan, tetapi kenapa kita terus-menerus melakukannya seolah Allah tak melihat . Berbohong pada manusia saja kita dilarang ini bukan saja berbohong DIA melihat kita, dan menyaksikan. Apakah disini, manusia lebih mulia dari Tuhan ( nauzubillah ) , mengapa di depan manusia kita berusaha ingin menyenangkan mereka tetapi mengabaikan menyenangkanNYA?
Wow...tanyakan terus apa yang sedang dan pernah selalu kita lakukan pada Allah Sang Maha Pencipta, Maha Melihat? Tetapi kita terus menerus menyakitiNYA dan mengaku beriman?
Tentu berbeda apabila orang itu TIDAK meyakini atau mengimani yang disebut diatas tsb dan belum mengetahui segala pengetahuan tentangnya. Tetapi bagi yang mengaku mengimani dan telah mengetahui dengan jelas tentang semua itu?
Disini tentu, yang tidak mengetahui tidak mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya dari pada yang jelas telah mengetahuinya dan melanggarnya.
Oleh karenanya seorang yang beriman pasti mempunyai sifat jujur pada dirinya, dia akan terus istiqamah pada apa yang di yakininya, dan memohon ampunanNYA apabila dia lupa dan merasa telah membangkang dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Merekalah yang di panggil Tuhannya untuk memohon ampunanNYA di bulan nan suci mulia Ramadan ini. Bersyukurlah , apabila kita masih termasuk yang selalu dapat menyadari kesalahan-kesalahan kita dan segera memohon ampunanNYA. Dan terus membersihkan diri agar dapat meraih ampunanNYA karena telah dengan sengaja melakukan perbuatan-perbuatan yang telah di larangNYA.
Ya Allah, semoga di bulan suci Ramadan ini, kita semua dapat lebih meningkatkan kesadaran diri kita agar dapat bersegera memohon ampunan dan bertaubat nashuha sehingga kita menjadi benar seorang yang beriman , bukan sekedar mengaku beriman.
Al afwu Ya KARIM.. Salawat ala Muhammad wa aali Muhammad ....wa ajil farajahum. ADRIKNA YA MAHDI
No comments:
Post a Comment