" Sungguh Kami menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami mengembalikan kepada yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya " ( QS 95 : 4-6 )
Dalam keadaaan yang sangat genting, manusia dapat melihat dirinya yang sesungguhnya atau terlihat seperti apa dirinya. Analoginya seperti air di kolam, apabila dilihat dari permukaan air terlihat sangat tenang , tetapi apabila kita mengkorek dengan tongkat ke dasar paling bawah kolam tsb, apabila terdapat kerak-kerak kotoran, maka kotoran-kotoran itu akan tampak muncul di permukaan.
Sungguh tidak mudah untuk dapat menyandang predikat 'manusia' ( insan ) . Untuk berada di antara malaikat dan hewan atau lebih rendah lagi dari hewan adalah suatu pilihan, bagaiman dia dapat mengelola hawa nafsunya sesuai dengan kehendakNYA. Oleh karenanya menjadi manusia yang sesungguhnya akan menghantarkan dirinya pada tingkatan 'muwahid' - yang berTAUHID dan inilah yang di kehendakiNYA pada makhlukNYA yang ingin menyandang predikat manusia.
Perjuangan seorang makhluk yang ingin menyandang predikat mulia itu, tentunya harus di sertai dengan ilmu untuk dapat mencapainya. Di tambah lagi dengan mempunyai keyakinan pada Sang Pencipta Alam Semesta ini sebagai Penguasa Mutlak dirinya dan dirinya sangatlah tergantung padaNYA .
Sekedar menjalankan syariat-syariat agama tanpa pengetahuan yang dalam tidak akan menghantarkan diri kita pada tujuan utama penciptaan . Penyembahan yang membutuhkan adanya pengenalan pada Sang Kholik tidak dapat di lakukan hanya sekedar gerakan-gerakan fisik belaka. Dibutuhkan lebih pada batiniyah nya, penggerak jiwa nya agar dapat mengenal lebih dalam Tuhannya. Dengan mengenal Tuhannya, akan tumbuh rasa cinta yang luar biasa, ingin selalu memujiNYA , dan berdekatan denganNYA, dan segala yang dilakukannya bukan sekedar memenuhi kewajban tetapi lebih karena kebutuhan . Sudah barang tentu ketaatan ini akan terjadi apabila kita mecintai dan mengenalNYA. Pengenalan yang dalam ( Ma'rifah ) ini lah yang akan menghantarkan manusia ke posisinya yang sebenarnya untuk menjadi seorang muwahid.
Dalam berbagai tindakan apapun , selalu dibutuhkan kemampuan untuk dapat me'manage things' , dengan cara yang 'smart'. Begitu pula dengan cara kita ber Tauhid. Syari'at tanpa ma'rifah akan menjadi hambar, bagaimana tidak ketika kita mengucapkan ' Allahu Akbar' tanpa mengenalNYA, kita cenderung berbuat 'syirik'. Mengucap tanpa mengetahui apa itu yang di ucapkan akan menjad bumerang. Karena sesungguhnya, bila kita telah mengetahui bahwa DIA lah satu-satunya yang disembah, kita tidak akan tergantung pada apapun selainNYA. Dan otomatis akan mempengaruhi pada setiap sikap dan tindakan kita dalam menjalani hidup ini.
Tidak heran sejarah mencatat, banyak kelompok-kelompok yang menjalankan syariat agama secara fisik seperti yang diperintahkanNYA (ie. : Khawarij ), tetapi pada saat yang sama mereka memerangi orang-orang suci yang dipilih oleh NYA, atau bahkan sebagai individual pun banyak yang menentang kebjakan para utusan Allah dan membunuhnya untuk kepentingan hawa nafsu dunianya, menginginkan kedudukan dan jabatan. Zaman sekarang pun demikian, agama hanyalah sekedar simbol belaka untuk meraup keinginan dunianya.
Keadaan demikian tidak mungkin terjadi apabila seseorang benar-benar mengenal Tuhannya dan para utusanNYA. Kitapun, harus terus bertanya dan menilai pada diri ini apakah kita betul-betul telah mengenalNYA dan para utusanNYA. Kesadaran yang tinggi dan terus menerus membersihkan diri dari nafsu- nafsu kotor penghambat kedekatan kita padaNYa, yang menghijab diri kita dengan DIA harus lah selalu menjadi perhatian bagi para penempuh jalan menujuNYA. Tak dapat di sangkal semua orang siapapun dia akan kembali kepadaNYA.
Beribadah dengan smart tidak semua orang dapat melakukannya. Hanya dengan keinginan yang kuat untuk mengenalNYA dan kesadaran yang tinggi akan apa tujuan kita di ciptakanNYA dan akan kemana kita setelahnya akan mempermudah kita untuk menjadi Muwahid.
Liku-liku kehidupan yang kita jalani sesungguhnya akan menguji diri kita terus menerus untuk mempraktekan apa yang kita telah pelajari. Apakah kita lulus dalam setiap ujian yang di berikanNYA, sungguh tergantung pada pengetahuan kita akan Ma'rifah. Karena semakin tinggi Ma'rifah seseorang semakin sulit ujian dalam kehidupannya, dan dirinya ( jiwanya ) akan terus menyempurna. Ujian demi ujian akan menjadi terbiasa dan mengangkat derajatnya ke derajat yang lebih tinggi. Bayangkan , apabila seseorang selalu dalam keadaan baik dan tidak pernah mengalami cobaan? Apa jadinya, jiwanya menjadi tidak berkembang dan biasanya orang yang demikian tidak tahan akan sedikit saja cobaan hidup. Sehingga menjadikan dirinya tidak pernah menyandang predikat yang di muliakan Tuhannya - manusia, dia akan terus menerus memperturutkan hawa nafsunya, jiwanya hanya berkutat di seputar kehewanan, dan tidak pernah naik ketingkat yang seharusnya. Inilah bencana yang sesungguhnya. Nauzubillah, semoga kita semua terlindung dari kebuntuan jiwa yang diakibatkan cepat menyerah dan tidak mau berusaha dan tidak berilmu pengetahuan. Merugilah mereka yang hanya membuang waktunya hanya untuk memperturutkan kenginan dirinya saja dan mengesampingkan keinginan mulia Rabb nya. Railah jiwa yang tenang agar kita termasuk hamba-hambaNYA yang beruntung.
" Sungguh beruntung orang-orang yang menjaga kesucian dirinya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya " ( QS 91 : 9-10 )
" Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha & di ridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKU dan masuklah ke dalam surgaKU "
( QS 89:27-30)
Wallahu alam bishawab
Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum...ADRIKNA YA MAHDI
( bersambung... )