Kembali ke Fitrah


Di negeri tercinta ini setiap selesai bulan mulia Ramadhan, masyarakat di sibukkan dengan acara ritual yang di kenal dengan nama Halal bi Halal. Sudah menjadi sebuah tradisi bangsa ini yang ternyata tidak di temukan di negara-negara Islam lainnya. Hampir di setiap instansi baik itu di pengajian2 rutin mingguan hingga ke instansi partai-partai di pemerintahan bahkan pada reunian sekolah2 pun memanfaatkan acara 'saling memaafkan ' ini dalam rangka ber 'halal bi halal'. Banyak yang beranggapan dengan menjabat tangan dan mengucapkan 'mohon maaf lahir dan batin', kita merasa sudah dapat melepas beban2 dosa yang telah ada di pundak2 kita selama ini terlebih pada orang-orang yang pernah kita cenderai hatinya baik sengaja maupun tak di sengaja. Adapun terkadang hanya berbasa basi dalam rangka program 'silahturahmi', berkumpul, mempererat dan memperbaharui hubungan yang telah lama tak ter jaga atau terlupakan.

" Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin " , ini yang sangat umum di ucapkan ketika bertemu dengan rekan-rekan, saudara-saudara pada acara Halal Bi Halal tersebut, keluar otomatis tanpa harus banyak berfikir , 'just say it' than you feel better dan tidak merasa berhutang ucap lagi setelahnya.

Fitri berasal dari kata fitrah; dimana di artikan juga' bersih' 'suci', karena segala yang berasal dariNYA adalah murni, suci , tak ternodai. Manusia sebagai makhluk yang diciptakanNYA itu lahir ke dunia ini dalam keadaan bersih suci. Dalam perjalanan kehidupannya, manusia anak cucu Nabi Allah Adam as ini, yang berkecenderungan menyukai sesuatu yang dapat melenakan dirinya dari sesuatu yang terlarang, terus menerus menumpuk kotoran-kotoran dosanya hingga Allah SWT memberikan kesempatan emas itu pada makhluk yg bernama manusia untuk selalu membersihkannya pada bulan muliaNYA Ramadhan untuk berpuasa. Dan puasa ini memang panggilan untuk orang-orang yang beriman saja agar kelak diharapkan menjadi manusia yang bertakwa ( QS 2 : 183 ). Dengan berpuasa kita di wajibkan untuk memperhatikan segala perintahNYA , dimana hidangan-hidangan Ilahiah dapat kita cicipi selezat mungkin seperti dengan membaca kitabNYA & doa-doa pelebur dosa dari manusia pilihanNYA, juga salat-salat sunah & qadha . Tentu semua ini dibutuhkan kedisiplinan diri , agar makhlukNYA yg berwujud manusia ini dapat terlatih di bulan-bulan selanjutnya untuk terbiasa dengan menjadikan dirinya sesuai dengan kehendakNYA, menjadi seorang 'manusia' . HarapanNYA tentu untuk dapat tampak seperti wujudnya semula.

Menarik di bulan nan suciNYA itu , kita di 'training' untuk dapat berada di alamNYA dengan mencoba 'menyerupaiNYA' - dengan TIDAK -makan, minum, berhubungan dengan pasangan hingga waktu yang telah ditentukan syariat. Sesungguhnya seruan ini harus terus di praktekan hingga akhir kehidupannya. Tetapi Allah Sang Maha tentu telah mengetahui betapa lemahnya manusia untuk dapat terus bertahan pada keadaan nya seperti di bulan Ramadhan, oleh karenanya dengan segala Maha Kasih SayangNYA yang berlimpah dan tak terhingga, Allah SWT memberikan terus menerus kesempatan untuk para hamba-hambaNYA yang berakal & beriman tentunya untuk terus melatih 'diri'nya minimal setahun sekali untuk terus memperbaiki nasib dirinya agar menjadi seorang yang bertakwa .

Dalam ceramah awal bulan Syawal, kita sering mendengar para ustad dalam mengawali ceramahnya selalu berbicara tentang kembali fitri bagaikan bayi yang baru terlahir dari rahim ibunya.

Sesungguhnya ini lah harapan Sang Kholik pada makhlukNYA yang bernama 'manusia '. Harapan Sang Rabb al alamin yang ingin menyaksikan terus menerus kita sebagai makhlukNYA untuk menjadi 'manusia' dengan berhasil menguasai alam kebinatangannya hingga dapat menjadi 'khalifahNYA' ( dapat memanifestasikan nama-nama agungNYA pada diri kita ) di bumiNYA. Semoga kita dapat terus memenuhi harapanNYA untuk selalu dalam keadaan bertakwa hingga kembali kepadaNYA.

Wallahualam bi shawab....Salawat ala Muhammad wa aali Muhammad......wa ajil farajahum. ADRIKNA YA MAHDI











Jalan Lurus

Untuk dapat selalu berada di jalan kebenaran di perlukan hati yang tulus dan keyakinan yang kuat.Bagaimana tidak, pembangkang nomor wahid, setan tak akan pernah lengah menyerang tanpa pandang bulu, entah itu seorang yang lalai bahkan si alim yang shaleh sekalipun.
Rasulullah saw yang mulia oleh karenanya tidak luput mengajarkan pada umatnya agar selalu berpegang teguh pada tali Allah yang masih selalu dapat kita gapai dengan dua pusaka wasiat beliau saw yang paling handal, yaitu al Quran Nur Karim dan Ahlul Bayt Rasulullah yang tlah disucikanNYA.

Dalam setiap taqib salat pun kita selalu dianjurkan untuk selalu berdoa dengan doa-doa pilihan yang biasa di baca oleh lidah & mulut suci Rasul saw & AhlulBayt as. Taqib salat subuh misalnya jelas di awal kedatangan menyambut hari yang akan kita jalani, kita di anjurkan membaca :

" Ya Allah, limpahkan salawat atas Muhammad dan keluarganya, berilah aku petunjuk dengan izinMU ketika kebenaran sudah di pertentangkan karena Engkau akan memberi petunjuk kepada orang yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus "

Jalan yang lurus yang kita inginkan dan kita memang di haruskan untuk berjalan disana....apabila kita menghendaki jalan yang di tunjukiNYA. Sudah barangtentu, jalan ini sangat sangat sulit, hanya mereka yang serius ingin menapakinya saja yang akan terus bertahan disitu.

Terlintas seperti mudah, apabila kita bicara dan menyebut keinginan itu. Tetapi bukankah setiap keinginan harus ada kemauan keras untuk dapat mewujudkannya. Ingin tidak hanya di ucap dengan kata-kata, tetapi lebih pada perwujudan dari keinginan itu sendiri...dan usaha perwujudan itulah yang menjadi nilai dari diri seseorang. Keinginan kuat ( azam ) nya dan konsistensi usahanya untuk berada terus di jalan kebenaran apapun tantangannya akan dan di dijalaninya dengan keikhlasan adalah menunjukan kualitas diri seseorang.

Hal ini lah yang membedakan diri seseorang dengan diri yang lainnya. Tentunya hanya usaha dari diri kita tak mungkinlah terwujud usaha kita itu. Hanya Allah, Rasul saw dan tali-tali Allah lah yang dapat menghantarkan kita pada 'mereka' ( 'DIRI' yang sesungguhnya ) . Karena setiap diri ( jiwa ) ini hanya tergantung padaNYA, tentunya dengan menapaki jalan yang telah di tunjukan oleh para Nabi & Aulia Allah lah jalan yang benar. Dengan terus menerus memohonkan rahmat & karunia serta taufik hidayahNYA lah kita dapat berada terus di jalanNYA. Dan dengan izinNYA lah kita dapat terus berada di jalanNYA.

Menggapai magfirah & ridha Allah tidaklah semudah yang kita duga, Allah SWT pun melihat langkah-langkah kita dan keseriusan kita dalam melangkah menujuNYA. Terlepas dari Allah Maha Pengasih & Penyayang, DIA Sang Maha Pengatur Alam Semesta ini, sangat melihat pada apa yang di niatkan dan yang ada di kalbu seseorang serta usaha & tekad kuatnya untuk dapat menggapai magfirah & ridhaNYA.

Kadang kita masih menganggap enteng ampunan Allah, dengan hanya mengucap astagfirullah kita menyangka semua urusan dan kesalahan kita telah selesai dan terampuni, sambil kita masih terus berbuat sesuatu yang masih bukan di jalanNYA ( nauzubillah..)

Semoga kita termasuk yang serius dan bertekad kuat untuk menggapai magfirah & ridhaNYA serta berbuat sesuai dengan kehendakNYA sehingga dapat istiqamah selalu berada di jalanNYA

Wallahualam bishawab....Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum...ADRIKNA YA MAHDI




The Month of Ramadan - Ayatullah Wahid Khurasani

Pertanyaan di bulan suci Ramadan


Apakah benar kita termasuk orang yang beriman?

Pertanyaan ini seharusnya terus ditanyakan pada diri kita, untuk mengetahui apakah selama ini kita benar-benar seorang yang beriman. Karena apabila kita ingin jujur pada diri kita sendiri, sebaiknya kita me review lagi apa yang selalu kita lakukan.

Iman yang kita pahami adalah sebuah keyakinan kita pada sesuatu yang 'ghaib'. Apabila kita mengimani pada yg ghaib seperti Allah, Malaikat, Akhirat & Hari Kebangkitan dan konsep kenabian, konsep kepemimpinan, maka akan tercermin dalam segala tindak perbuatan kita.

Seperti , jika kita sedang berada di suatu negara atau kota dimana kita sangat lapar pada saat itu, dan masuk ke sebuah restoran dan memesan makanan, tetapi ternyata menu makanan itu adalah makanan yang mengandung minyak babi, maka seorang yang beriman walau dia sangatlah lapar, dia akan pergi dan mencari lagi restauran yang bebas dari segala yang di haramkan oleh agama. Dan , dia akan mengorbankan diri nya untuk menahan rasa laparnya karena tidak ingin melanggar peraturanNYA. Dalam kasus ini, mungkin kita lulus sebagai seorang mukmin.

Tetapi di banyak kasus, kita terkadang menganggap enteng dan tidak merasa takut sama sekali, akan perbuatan terlarang kita , padahal jelas-jelas telah di beritahukan , di yakini secara zahir, tetapi karena kita merasa senang melakukannya , maka tiba-tiba dalam hal tersebut kita berlagak tidak tahu dan terus melakukannya dan dianggapnya sebagai kebiasaannya , seperti , bersalaman dengan non mahram, berhijab dengan masih menonjolkan bentuk tubuhnya, memakai minyak wangi di depan non mahram, mengghibah, melakukan fitnah dsb

Apakah pada saat itu kita masih seorang mukmin.? Padahal kita tahu persis ALLAH SWT jelas melihat dan mengetahui apapun yang kita kerjakan, tetapi kenapa kita terus-menerus melakukannya seolah Allah tak melihat . Berbohong pada manusia saja kita dilarang ini bukan saja berbohong DIA melihat kita, dan menyaksikan. Apakah disini, manusia lebih mulia dari Tuhan ( nauzubillah ) , mengapa di depan manusia kita berusaha ingin menyenangkan mereka tetapi mengabaikan menyenangkanNYA?

Wow...tanyakan terus apa yang sedang dan pernah selalu kita lakukan pada Allah Sang Maha Pencipta, Maha Melihat? Tetapi kita terus menerus menyakitiNYA dan mengaku beriman?

Tentu berbeda apabila orang itu TIDAK meyakini atau mengimani yang disebut diatas tsb dan belum mengetahui segala pengetahuan tentangnya. Tetapi bagi yang mengaku mengimani dan telah mengetahui dengan jelas tentang semua itu?

Disini tentu, yang tidak mengetahui tidak mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya dari pada yang jelas telah mengetahuinya dan melanggarnya.

Oleh karenanya seorang yang beriman pasti mempunyai sifat jujur pada dirinya, dia akan terus istiqamah pada apa yang di yakininya, dan memohon ampunanNYA apabila dia lupa dan merasa telah membangkang dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Merekalah yang di panggil Tuhannya untuk memohon ampunanNYA di bulan nan suci mulia Ramadan ini. Bersyukurlah , apabila kita masih termasuk yang selalu dapat menyadari kesalahan-kesalahan kita dan segera memohon ampunanNYA. Dan terus membersihkan diri agar dapat meraih ampunanNYA karena telah dengan sengaja melakukan perbuatan-perbuatan yang telah di larangNYA.

Ya Allah, semoga di bulan suci Ramadan ini, kita semua dapat lebih meningkatkan kesadaran diri kita agar dapat bersegera memohon ampunan dan bertaubat nashuha sehingga kita menjadi benar seorang yang beriman , bukan sekedar mengaku beriman.

Al afwu Ya KARIM.. Salawat ala Muhammad wa aali Muhammad ....wa ajil farajahum. ADRIKNA YA MAHDI

Ber TAUHID secara smart ( II )


" Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana yang telah di wajibkan atas orang-orang yang terdahulu dari kamu agar kamu berTAKWA "
( QS 2 : 183 )

Sebuah panggilan Sang Maha Pencipta pada hamba-hambaNYA yang benar-benar mengimaniNYA untuk berpuasa agar dapat menjadi hamba-hambaNYA yang di ciptakan sesuai dengan maksud utama penciptaan diri-dirinya, sebagai khalifahNYA di muka bumi ini, yang berarti dirinya dapat menjadi manifestasi atribut-atributNYA - memakai nama-namaNYA, inilah gambaran seorang yang ber TAKWA.

Menyandang dirinya agar dapat merekflesikan nama-namaNYA adalah upaya seseorang yang dapat mengelola hawa nafsu sesuai dengan kehendakNYA, sehingga dirinya layak meraih derajat Muwahid- seorang yang berTauhid.

Takwa adalah buah dari seorang Muwahid. Seorang Muwahid sudah pasti berTakwa.

Di bulan suci Ramadan inilah manusia di beri kesempatan oleh Allah untuk dapat meraih kedekatan dirinya dengan Sang Penciptanya, dengan mencoba 'menyerupai' DIRINYA. Sebuah pertanyaan 'menyerupai' Tuhan?

Perhatikanlah bahwa puasa adalah sebuah ibadah dimana seorang hamba TIDAK melakukan sesuatu yang biasanya di lakukannya dalam waktu yang ditentukan. Tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan dengan pasangan dll yang semua ini TIDAK ( nauzubillah ) dilakukan Sang Pencipta Alam Semesta ini.

Jadi, apabila kita menyamakan diri kita dengan kondisi NYA, berada di alamNYA, kita di harapkan dapat menyandang sifat-sifatNYA. Kita dapat menjadi pengasih dan penyayang, kita dapat menjadi pemaaf, kita dapat menjadi penyabar, dst... Menyadang predikat-predikatNYA hingga telah menyatu di dalam diri-diri kita. Bukan hanya kita mengetahui sifat-sifatNYA tetapi sifat2 tsb ada di dalam diri kita dan menjadi bagian dari diri kita. Untuk itulah puasa di wajibkan untuk orang-orang yang telah beriman sebagaimana telah di lakukan oleh orang-orang terdahulu.

Inilah hidangan Allah untuk para mukminin di bulan suci Ramadan, dengan melatih diri-diri mereka agar dapat terus menggali potensi-potensi diri mereka untuk dapat teraktualisai sesuai dengan yang seharusnya manusia di ciptakan- menjadi seorang 'manusia' .

Subhanallah, bulan suci ini adalah madrasah untuk mukminin agar dapat terus meningkatkan kemampuannya untuk dapat terus mengaktualisasikan potensi-potensi dirinya yang asli yang berasal dari Rabbnya...sehingga di harapkan makhluk yang bernama manusia ini dapat kembali seperti yang original yang Rabbal alamin ciptakan semula seorang makhluk mulia yang bermarifah padaNYA, seorang muwahid sejati.

Manusia apabila dapat lulus dan berhasil meraih gelar takwa lah yang patut merayakan hari kemenangannya pada 1 Syawal di hari nan fitri ( berhasil kembali ke fitrah semula - back to the orginal Allah's plan ), sehingga dia akan dapat terlahir kembali seperti bayi yang baru lahir.

Semoga kita semua dapat meraih tujuan mulia yang Allah SWT telah rencanakan untuk makhluk termulianya, agar kembali menjadi 'manusia'.

Selamat menikmati hidangan jamuanNYA, dan menjadi tamu-tamuNYA yang 'tahu diri' agar di ridhaiNYA. Amin

Wallahualam bishawab. Salawat ala Muhammad wa aali Muhamad.....wa ajil farajahum. ADRIKNA YA MAHDI



Ber TAUHID secara smart ( I )


" Sungguh Kami menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami mengembalikan kepada yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya " ( QS 95 : 4-6 )

Dalam keadaaan yang sangat genting, manusia dapat melihat dirinya yang sesungguhnya atau terlihat seperti apa dirinya. Analoginya seperti air di kolam, apabila dilihat dari permukaan air terlihat sangat tenang , tetapi apabila kita mengkorek dengan tongkat ke dasar paling bawah kolam tsb, apabila terdapat kerak-kerak kotoran, maka kotoran-kotoran itu akan tampak muncul di permukaan.

Sungguh tidak mudah untuk dapat menyandang predikat 'manusia' ( insan ) . Untuk berada di antara malaikat dan hewan atau lebih rendah lagi dari hewan adalah suatu pilihan, bagaiman dia dapat mengelola hawa nafsunya sesuai dengan kehendakNYA. Oleh karenanya menjadi manusia yang sesungguhnya akan menghantarkan dirinya pada tingkatan 'muwahid' - yang berTAUHID dan inilah yang di kehendakiNYA pada makhlukNYA yang ingin menyandang predikat manusia.

Perjuangan seorang makhluk yang ingin menyandang predikat mulia itu, tentunya harus di sertai dengan ilmu untuk dapat mencapainya. Di tambah lagi dengan mempunyai keyakinan pada Sang Pencipta Alam Semesta ini sebagai Penguasa Mutlak dirinya dan dirinya sangatlah tergantung padaNYA .

Sekedar menjalankan syariat-syariat agama tanpa pengetahuan yang dalam tidak akan menghantarkan diri kita pada tujuan utama penciptaan . Penyembahan yang membutuhkan adanya pengenalan pada Sang Kholik tidak dapat di lakukan hanya sekedar gerakan-gerakan fisik belaka. Dibutuhkan lebih pada batiniyah nya, penggerak jiwa nya agar dapat mengenal lebih dalam Tuhannya. Dengan mengenal Tuhannya, akan tumbuh rasa cinta yang luar biasa, ingin selalu memujiNYA , dan berdekatan denganNYA, dan segala yang dilakukannya bukan sekedar memenuhi kewajban tetapi lebih karena kebutuhan . Sudah barang tentu ketaatan ini akan terjadi apabila kita mecintai dan mengenalNYA. Pengenalan yang dalam ( Ma'rifah ) ini lah yang akan menghantarkan manusia ke posisinya yang sebenarnya untuk menjadi seorang muwahid.

Dalam berbagai tindakan apapun , selalu dibutuhkan kemampuan untuk dapat me'manage things' , dengan cara yang 'smart'. Begitu pula dengan cara kita ber Tauhid. Syari'at tanpa ma'rifah akan menjadi hambar, bagaimana tidak ketika kita mengucapkan ' Allahu Akbar' tanpa mengenalNYA, kita cenderung berbuat 'syirik'. Mengucap tanpa mengetahui apa itu yang di ucapkan akan menjad bumerang. Karena sesungguhnya, bila kita telah mengetahui bahwa DIA lah satu-satunya yang disembah, kita tidak akan tergantung pada apapun selainNYA. Dan otomatis akan mempengaruhi pada setiap sikap dan tindakan kita dalam menjalani hidup ini.

Tidak heran sejarah mencatat, banyak kelompok-kelompok yang menjalankan syariat agama secara fisik seperti yang diperintahkanNYA (ie. : Khawarij ), tetapi pada saat yang sama mereka memerangi orang-orang suci yang dipilih oleh NYA, atau bahkan sebagai individual pun banyak yang menentang kebjakan para utusan Allah dan membunuhnya untuk kepentingan hawa nafsu dunianya, menginginkan kedudukan dan jabatan. Zaman sekarang pun demikian, agama hanyalah sekedar simbol belaka untuk meraup keinginan dunianya.

Keadaan demikian tidak mungkin terjadi apabila seseorang benar-benar mengenal Tuhannya dan para utusanNYA. Kitapun, harus terus bertanya dan menilai pada diri ini apakah kita betul-betul telah mengenalNYA dan para utusanNYA. Kesadaran yang tinggi dan terus menerus membersihkan diri dari nafsu- nafsu kotor penghambat kedekatan kita padaNYa, yang menghijab diri kita dengan DIA harus lah selalu menjadi perhatian bagi para penempuh jalan menujuNYA. Tak dapat di sangkal semua orang siapapun dia akan kembali kepadaNYA.

Beribadah dengan smart tidak semua orang dapat melakukannya. Hanya dengan keinginan yang kuat untuk mengenalNYA dan kesadaran yang tinggi akan apa tujuan kita di ciptakanNYA dan akan kemana kita setelahnya akan mempermudah kita untuk menjadi Muwahid.

Liku-liku kehidupan yang kita jalani sesungguhnya akan menguji diri kita terus menerus untuk mempraktekan apa yang kita telah pelajari. Apakah kita lulus dalam setiap ujian yang di berikanNYA, sungguh tergantung pada pengetahuan kita akan Ma'rifah. Karena semakin tinggi Ma'rifah seseorang semakin sulit ujian dalam kehidupannya, dan dirinya ( jiwanya ) akan terus menyempurna. Ujian demi ujian akan menjadi terbiasa dan mengangkat derajatnya ke derajat yang lebih tinggi. Bayangkan , apabila seseorang selalu dalam keadaan baik dan tidak pernah mengalami cobaan? Apa jadinya, jiwanya menjadi tidak berkembang dan biasanya orang yang demikian tidak tahan akan sedikit saja cobaan hidup. Sehingga menjadikan dirinya tidak pernah menyandang predikat yang di muliakan Tuhannya - manusia, dia akan terus menerus memperturutkan hawa nafsunya, jiwanya hanya berkutat di seputar kehewanan, dan tidak pernah naik ketingkat yang seharusnya. Inilah bencana yang sesungguhnya. Nauzubillah, semoga kita semua terlindung dari kebuntuan jiwa yang diakibatkan cepat menyerah dan tidak mau berusaha dan tidak berilmu pengetahuan. Merugilah mereka yang hanya membuang waktunya hanya untuk memperturutkan kenginan dirinya saja dan mengesampingkan keinginan mulia Rabb nya. Railah jiwa yang tenang agar kita termasuk hamba-hambaNYA yang beruntung.

" Sungguh beruntung orang-orang yang menjaga kesucian dirinya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya " ( QS 91 : 9-10 )

" Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha & di ridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKU dan masuklah ke dalam surgaKU "
( QS 89:27-30)

Wallahu alam bishawab

Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum...ADRIKNA YA MAHDI

( bersambung... )