UNTUK APA HIDUP INI


“Yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya DIA menguji kamu siapakah yang lebih baik diantara kamu amalnya? Dan DIA Maha Perkasa lagi Maha Pengampun “ (QS 67 : 2)

Kebanyakan orang hidup di dunia ini hanya mengejar kesenangan semu , mereka ingin mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat katanya, tapi kenyataannya mereka hanya ingin ‘enak’nya saja, apabila berdoa ingin langsung dikabulkan dan apabila belum terlaksana keinginannya mereka dengan mudahnya menuduh Allah tidak adil – Astagfirullahalazhim, mereka mengira apabila diberi kesenangan hidup Allah baik terhadap kita , padahal itu pun salah satu bentuk ujian juga apabila mereka benar-benar mengerti apa hakikat hidup yang sesungguhnya . Dalam ayat diatas jelas Allah berfirman bahwa Dia meniciptakan kehidupan itu dengan menguji hambaNYA dengan melihat siapa diantara kita yang lebih baik amalnya . Jadi perlulah diketahui bahwa hidup ini sesungguhnya adalah ujian. Seberapa banyak amalan dan doa-doa kita , sebesar itu pulalah ujian-ujian yang akan kita terima. Tetapi yang akan lulus adalah mereka yang sabar dan terus berbuat kebaikan…….. Apabila kita menyimak mengenai ayat ini :

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, „ Kami telah beriman’ sedang mereka tidak di uji?“ ( QS 29:2 ), bahwa kita tidak akan Allah biarkan hanya mengaku bahwa kita beriman tanpa Allah berikan ujian-ujian di dalam hidupnya . Oleh karena itu hendaknya kita selalu waspada bahwa setiap kita mendapatkan ujian atau masalah-masalah dalam hidup, kita harus segera menyadari bahwa kita harus menjalaninya dengan selalu mengingat Allah dan bertekad untuk meraih kemenangan di jalanNYA, sehingga derajat kita akan di naikan oleh Allah. Malah kita wajib bersyukur dengan mendapatkan ujian-ujian itu , karena sesungguhnya Allah sedang ingin menaikan derajat kita.

Pada saat kita mentadaburi Al-Qur’an , kita selalu di ingatkan oleh Allah tentang kejadian-kejadian yang telah dialami oleh para nabi dan orang-orang terdahulu, Allah sengaja mencontohkan bagaimana para nabi berjuang keras mengajarkan dan memperkenalkan tentang ajaran yang benar dan adil yaitu agama Tauhid . Tidak sedikit para nabi dan wali Allah itu yang tersiksa bahkan terbunuh untuk itu, tetapi ganjarannya sungguh telah jelas kedudukan yang mulia di sisi Allah. Dan bagaimana para pendurhaka dan penentangnya mendapat ganjaran atau azab Allah yang begitu dasyat, sehingga Allah tidak segan-segan menghancurkan mereka karena begitu murkanya Allah terhadap mereka yang ingkar dan tidak patuh akan ajaranNYA. Dari sini seharusnya kita belajar dan merenungi, kita ingin seperti yang mana? Yang jelas tidak akan mungkin kita hidup tanpa ada penderitaan atau cobaan apapun , dan Allah menjanjikan ganjaran yang baik terhadap siapa yang sabar diantara kita, seperti firman Allah dalam QS 2 : 155 : “ Dan sungguh Kami akan mencoba kamu dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan dan sampaikanlah berita gembira kepada orang yang sabar “.
Juga jalan menuju surga itu tidak mungkin ditempuh tanpa adanya suatu perjuangan atau usaha yang keras seperti yang telah dicontohkan para wali Allah mereka harus menempuh jalan yang demikian kerasnya, sehingga apabila kita bayangkan sungguh sulit untuk meniti jalan seperti mereka, tetapi kita harus selalu berusaha keras dan memperkuat tekad kita serta yakin akan adanya pertolongan Allah , karena sesungguhnya Allah selalu dekat dengan orang-orang yang sabar seperti dalam QS 2: 214 : „ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana apa yang diderita orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan mereka digoncangkan dengan berbagai cobaan sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, „ Kapankah datang pertolongan Allah?“ Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat“.

Pertanyaannya akan terjawab , apabila kita memahami ayat-ayat diatas tadi, bahwa hidup di dunia ini adalah suatu perjuangan dimana kita akan dituntut untuk mempertanggung jawabkan atas semua perbuatan yang kita pernah lakukan, oleh karena itu mungkinkah kita hanya akan hidup untuk bersenang-senang sesuai dengan kemauan kita saja? Sementara Pencipta alam semesta Allah SWT telah menerapkan peraturanNYA yang tertera dalam ayat-ayat suciNYA haruslah kita patuhi dan ini wajib bagi kita yang hidup di buminya Allah, karena jelas Allah katakan bahwa kelak bumi pun akan bersaksi apa yang telah kita pernah lakukan di bumi Allah ini. Jadi tak ada pilihan lain untuk kita untuk taat dan patuh akan perintah dan aturan Allah SWT ......, kesimpulannya kita harus selalu membenahi diri kita untuk dapat selamat dari jebakan-jebakan atau cobaan-cobaan yang selalu kita kita alami ...., pilihan ada di tangan Anda...Berjuanglah untuk dapat selamat!!!!

3 comments:

  1. Em...selamat ya atas kelahiran blognya
    semoga ini bisa jadi tempat ketemuan kita-kita
    yang sama-sama sedang menunggu THE ONE...
    salam
    shafiya

    ReplyDelete
  2. Apabila saya diberi pertanyaan, "Untuk apa hidup ini?" atau "Untuk apa kamu hidup di dunia ini?", saya akan menjawab bahwa kehidupan saya di dunia ini saya tujukan untuk dapat memiliki kehidupan yang lebih baik di akhirat nanti. Saya meyakini adanya dua kehidupan, yaitu hidup di dunia dan hidup setelah saya mati. Kehidupan di dunia kadang membuat saya lupa bahwa saya memiliki kehidupan yang kedua setelah saya mati.
    Kenapa saya dapat melupakan kehidupan di akhirat? Karena kehidupan di akhirat itu abstrak, tidak dapat saya raba oleh indra-indra lahir saya. Saya harus mengembangkan kemampuan diri saya untuk dapat merasakan kehidupan akhirat ketika saya hidup di dunia. Saya pernah mencoba menggunakan syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji untuk mengembangkan kemampuan saya meraba akhirat. Namun, begitu kuatnya tarikan dunia sehingga latihan-latihan spiritual itu hanya melelahkan diri saya. Saya pun, akhirnya, tenggelam lagi dengan dunia.
    Saya pun kemudian mengingat terus ketegasan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a dalam menalak kehidupan dunia. Rintihan Sayyidina Ali tentang dunia itu sungguh menggetarkan. Bagaimana mungkin seseorang yang sangat dekat dengan Rasulullah Saw. dan memiliki kehidupan sehari-hari yang dilukiskan dengan indah "jika malam tiba bagaikan rahib, dan jika siang tiba bagaikan singa perang" masih merasa khawatir jika terjerat oleh pesona dunia?

    ReplyDelete
  3. Subhanallah....Sayidina Ali as adalah murid terbaik Rasulullah saww. Beliau as sendiri dalam sebuah riwayat mengatakan bahwa" kalian tidak perlu seperti aku , karena tidak akan pernah bisa". Segala sesuatu itu memang harus dengan 'latihan'," bisa karena terbiasa", seperti semua orang tentu bisa menulis, tapi sering orang berbicara saya tidak bisa menulis padahal itu hanya sekedar faktor disiplin dan terus menerus latihan, dan kita dituntut sabar karena tidak mungkin bayi yang baru lahir dapat langsung berdiri, dia harus menjalani proses kehidupannya dan harus sering jatuh bangun dan akhirnya dapat berjalan, pertama tertatih-tatih dan selanjutnya karena sudah menjadi bagian dari dirinya apabila menginginkan sesuatu harus bangun dan berjalan dan bahkan dapat berlari....seperti itulah hidup.

    ReplyDelete