UNTUK APA HIDUP INI


“Yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya DIA menguji kamu siapakah yang lebih baik diantara kamu amalnya? Dan DIA Maha Perkasa lagi Maha Pengampun “ (QS 67 : 2)

Kebanyakan orang hidup di dunia ini hanya mengejar kesenangan semu , mereka ingin mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat katanya, tapi kenyataannya mereka hanya ingin ‘enak’nya saja, apabila berdoa ingin langsung dikabulkan dan apabila belum terlaksana keinginannya mereka dengan mudahnya menuduh Allah tidak adil – Astagfirullahalazhim, mereka mengira apabila diberi kesenangan hidup Allah baik terhadap kita , padahal itu pun salah satu bentuk ujian juga apabila mereka benar-benar mengerti apa hakikat hidup yang sesungguhnya . Dalam ayat diatas jelas Allah berfirman bahwa Dia meniciptakan kehidupan itu dengan menguji hambaNYA dengan melihat siapa diantara kita yang lebih baik amalnya . Jadi perlulah diketahui bahwa hidup ini sesungguhnya adalah ujian. Seberapa banyak amalan dan doa-doa kita , sebesar itu pulalah ujian-ujian yang akan kita terima. Tetapi yang akan lulus adalah mereka yang sabar dan terus berbuat kebaikan…….. Apabila kita menyimak mengenai ayat ini :

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, „ Kami telah beriman’ sedang mereka tidak di uji?“ ( QS 29:2 ), bahwa kita tidak akan Allah biarkan hanya mengaku bahwa kita beriman tanpa Allah berikan ujian-ujian di dalam hidupnya . Oleh karena itu hendaknya kita selalu waspada bahwa setiap kita mendapatkan ujian atau masalah-masalah dalam hidup, kita harus segera menyadari bahwa kita harus menjalaninya dengan selalu mengingat Allah dan bertekad untuk meraih kemenangan di jalanNYA, sehingga derajat kita akan di naikan oleh Allah. Malah kita wajib bersyukur dengan mendapatkan ujian-ujian itu , karena sesungguhnya Allah sedang ingin menaikan derajat kita.

Pada saat kita mentadaburi Al-Qur’an , kita selalu di ingatkan oleh Allah tentang kejadian-kejadian yang telah dialami oleh para nabi dan orang-orang terdahulu, Allah sengaja mencontohkan bagaimana para nabi berjuang keras mengajarkan dan memperkenalkan tentang ajaran yang benar dan adil yaitu agama Tauhid . Tidak sedikit para nabi dan wali Allah itu yang tersiksa bahkan terbunuh untuk itu, tetapi ganjarannya sungguh telah jelas kedudukan yang mulia di sisi Allah. Dan bagaimana para pendurhaka dan penentangnya mendapat ganjaran atau azab Allah yang begitu dasyat, sehingga Allah tidak segan-segan menghancurkan mereka karena begitu murkanya Allah terhadap mereka yang ingkar dan tidak patuh akan ajaranNYA. Dari sini seharusnya kita belajar dan merenungi, kita ingin seperti yang mana? Yang jelas tidak akan mungkin kita hidup tanpa ada penderitaan atau cobaan apapun , dan Allah menjanjikan ganjaran yang baik terhadap siapa yang sabar diantara kita, seperti firman Allah dalam QS 2 : 155 : “ Dan sungguh Kami akan mencoba kamu dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan dan sampaikanlah berita gembira kepada orang yang sabar “.
Juga jalan menuju surga itu tidak mungkin ditempuh tanpa adanya suatu perjuangan atau usaha yang keras seperti yang telah dicontohkan para wali Allah mereka harus menempuh jalan yang demikian kerasnya, sehingga apabila kita bayangkan sungguh sulit untuk meniti jalan seperti mereka, tetapi kita harus selalu berusaha keras dan memperkuat tekad kita serta yakin akan adanya pertolongan Allah , karena sesungguhnya Allah selalu dekat dengan orang-orang yang sabar seperti dalam QS 2: 214 : „ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana apa yang diderita orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan mereka digoncangkan dengan berbagai cobaan sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, „ Kapankah datang pertolongan Allah?“ Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat“.

Pertanyaannya akan terjawab , apabila kita memahami ayat-ayat diatas tadi, bahwa hidup di dunia ini adalah suatu perjuangan dimana kita akan dituntut untuk mempertanggung jawabkan atas semua perbuatan yang kita pernah lakukan, oleh karena itu mungkinkah kita hanya akan hidup untuk bersenang-senang sesuai dengan kemauan kita saja? Sementara Pencipta alam semesta Allah SWT telah menerapkan peraturanNYA yang tertera dalam ayat-ayat suciNYA haruslah kita patuhi dan ini wajib bagi kita yang hidup di buminya Allah, karena jelas Allah katakan bahwa kelak bumi pun akan bersaksi apa yang telah kita pernah lakukan di bumi Allah ini. Jadi tak ada pilihan lain untuk kita untuk taat dan patuh akan perintah dan aturan Allah SWT ......, kesimpulannya kita harus selalu membenahi diri kita untuk dapat selamat dari jebakan-jebakan atau cobaan-cobaan yang selalu kita kita alami ...., pilihan ada di tangan Anda...Berjuanglah untuk dapat selamat!!!!

Dilema seorang muslimah di abad kini



Ada beberapa stereotype umum yang disepakati perihal “siapakah” wanita modern itu? Dan biasanya, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:


  • Tak lelah berusaha mengaktualisasikan diri.
  • Ingin sejajar bahkan lebih dari kaum pria. Ia ingin terkesan ‘powerful’, dan bukan ‘housewife’.
  • Pantang dibilang konservatif, dan selalu ingin berubah sesuai perkembangan zaman
  • Ingin selalu tampil beda.
  • Aktif dalam kegiatan-kegiatan, bahkan sering “turun ke lapangan” karena keingintahuannya yang kuat.
  • Selalu menggunakan perangkat, atau gadget yang high-tech dan up to date.

Singkatnya, penampilan dan gaya mereka layaknya para model majalah yang umumnya beredar di negeri ini; baik majalah mode, bisnis ataupun teknologi.

Disamping itu, beberapa ciri khas wanita modern lainnya adalah terkesan seperti: Smart, proaktif dan profesional dalam bekerja. Pintar bahasa Inggris dan lincah olah bahasa tubuh.Trendy, stylish, cool, cantik, langsing, dan bugar dalam keseharian penampilannya. 


Rajin ke pusat kebugaran (gym), minimal seminggu tiga kali. Lalu sebulan sekali, biasanya mengunjungi ‘art event’, seperti pameran lukisan, nonton teater atau bioskop. Pergi berlibur ke tempat-tempat eksotik yang sering dikunjungi oleh para selebritis lokal maupun internasional. Biasanya lokasi-lokasi eksotik ini direkomendasikan oleh majalah-majalah papan atas seperti “life style”, “fashion” atau lainnya.


Pokoknya, penampilan atau image adalah hal terpenting bagi mereka di dalam kehidupan, semua hal ini mereka lakukan dari pagi hingga malam hari.

Akibatnya, selalu adanya tuntutan untuk selalu beradaptasi—baik dalam tingkah laku maupun penampilan—yang disesuaikan dengan zamannya masing-masing, maka para wanita modern malah kehilangan jatidiri mereka yang sebenarnya.


Dalam berbagai keadaan, mereka sering berpura-pura untuk tetap tampil sebagai wanita yang kosmopolitan. Hingga suatu titik, dimana hal itu malah semakin membuat mereka tertekan, kesepian dan stress. 

Titik balik dari fenomena ini bisa dilihat dari menjamurnya berbagai tempat untuk bermeditasi, seperti yoga dan lain sebagainya. Mereka juga mencoba untuk mencari ketenangan dengan menghadiri seminar-seminar yang menawarkan program untuk “mencari jati diri”, yang secara keseluruhan, menuju kepada pendidikan rohani. 

Ada juga yang pergi ke tempat-tempat kebugaran seperti spa yang menawarkan program “pencerahan” agar seperti baru terlahir kembali.

Sungguh ironis bukan! Di satu sisi, mereka ingin tampil sebagai wanita yang “all out”. Yakni ingin menunjukan kepiawaian mereka di publik dan sanggup menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi saat ini. Namun di sisi lain, mereka justru merasa kesepian saat berada di puncak kemandiriannya. Bahkan terkadang, mereka tak sanggup lagi menyembunyikan hal itu sehingga bila menghadiri seminar atau majelis taklim tertentu, mereka seolah-olah baru saja menemukan kembali jati diri mereka yang hilang.

Beruntunglah para wanita yang dapat merasakan perbedaan itu, sehingga tanpa letih, mereka berupaya untuk menemukan kembali jati diri mereka yang hilang, yakni dengan cara mendalami sisi spiritual pada diri mereka sendiri.

Akan tetapi, banyak juga di antara mereka yang sekedar “latah” sehingga upaya-upaya itu malah membuat mereka semakin terbingungkan dan berakhir tanpa mengetahui siapakah diri mereka yang sebenarnya. 

Sebagaimana pepatah terkenal di Timur dan Barat yang sebenarnya dikutip dari ucapan sepupu Nabi Muhammad saw, yaitu Ali bin Abi Thalib as: “Barangsiapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.” 

Untuk itu, siapapun yang mengenal dirinya, maka secara otomatis, dia pun akan mengenal Tuhannya. Akibatnya, akan muncul suatu keyakinan di dalam diri bahwa dia telah menemukan ketenangan batin yang dapat menuntun mereka kepada perilaku yang lebih ’smart’ di dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab, siapapun yang telah mencapai tahap-tahap dari pengenalan diri sendiri, maka diapun akan mengetahui “how to deal with self“. Tujuan dari pengenalan diri adalah agar seseorang bisa memahami berbagai kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam dirinya, sehingga tidak akan mengambil tindakan-tindakan yang bisa menyakiti diri sendiri.

Apabila seseorang sudah memahami tahap-tahap kesadaran jiwa, maka biasanya, mereka selalu ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Saat itu dia akan menyadari bahwa dirinya bukanlah “The smart woman", karena dia sadar bahwa seluruh gerak-gerik kehidupannya sangat bergantung kepada Kemurahan dan Kasih Sayang Tuhan. Dia juga meyakini bahwa segala hal yang telah dicapainya saat itu adalah yang terbaik untuk dirinya.


Mungkin saja bahwa yang dicapainya saat ini, masih belum sesuai dengan seluruh harapan atau cita-citanya. Akan tetapi, dia juga menyadari bahwa seluruh kehendak dirinya bukan hal yang sempurna, sehingga boleh jadi sebagian dari kehendaknya itu malah akan memberikan dampak buruk atas kehidupannya di kemudian hari.

Hidup kita menjadi lebih sederhana dan indah bila sudah memahami tahap pengenalan diri sendiri. Alasannya, kita dengan mudah akan mampu mengukur kemampuan masing-masing. Dan pada saat yang sama, kita tahu bagaimana cara menempatkan diri agar sesuai dengan posisi yang semestinya di dalam kehidupan. Yakni sebagaimana yang tersurat oleh Sang Pencipta alam semesta.

Namun kebanyakan dari kita sering keliru di dalam memaknai hubungan antara makhluk dan Sang Pencipta. Bahkan terkadang, kita sering memposisikan Tuhan agar Dia mematuhi segala kehendak dan harapan-harapan kita. Kita sering menganggap Tuhan seperti si penghuni lampu Aladin yang apabila kita “make a wish”, dan “simsalabim”, maka segala keinginan kita pun harus segera dikabulkan.

Tidakkah kita menyadari bahwa kitalah yang seharusnya menjadi hamba-Nya, dan bukan malah sebaliknya.

Di sini, jelas bahwa yang sebenarnya ingin dicari adalah diri mereka sendiri yang sudah lama mereka lupakan dan hampir-hampir mereka tidak mengenalinya lagi , karena mereka sibuk mencari sesuatu yang fatamargona yang terpental jauh dari ajaran Nabi saw dan keluarganya as.

Wanita adalah makhluk yang dimuliakan Allah swt, sehingga segala perilakunya haruslah terjaga. Sebenarnya, kedudukan kaum wanita dengan kaum pria itu sejajar. Sebab, wanita adalah partner kaum pria, dan mereka harus saling bermitra juga saling melengkapi dan bukan malah bersaing seperti yang sering disalah artikan oleh kelompok-kelompok i.e: 'feminism' yang juga mengaku sebagai bagian dari umat Muhammad saw.

Dengan penjelasan ini, sudah selayaknya kita menyadari bahwa mereka sebenarnya “going nowhere” dan dijamin, akan berakhir dengan “uncertainty” alias ketidakpastian, rasa hampa dan tidak memahami tujuan hidup.

Aneh memang, apabila barang mereka hilang, maka mereka akan sibuk untuk mencarinya, sehingga seluruh tenaganya dikerahkan untuk mendapatkannya kembali. Akan tetapi, apabila jati dirinya yang hilang, maka mereka seolah-olah tidak peduli. Bahkan sampai-sampai ada yang lupa diri, sehingga banyak di antara mereka yang harus mengunjungi “shrink”untuk mendapatkan perawatan medis.

Apa yang dianjurkan Islam dari seorang wanita sebenarnya sangat sederhana, yaitu agar kaum wanita menjaga kehormatan diri dengan sebaik-baiknya, yakni sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan salah satu cara itu adalah dengan berpakaian sesuai panduan al-Qur’an, dan bukan ala Barat atau Timur.

Sadarkah bahwa cara kita berpakaian, berdandan dan bertingkah laku saat ini sangat telah dipengaruhi oleh budaya bangsa Barat alias ' being westernize' yang sebenarnya tidak berhubungan dengan modernitas. 

Sayidina Ali bin Abu Thalib as dalam Nahjul Balaghah berkata : “Akal yang sempurna adalah akal yang taat kepada Sang Pencipta, barang siapa yang melanggar aturan-Nya, maka jelaslah bahwa akalnya itu lemah.”


Singkatnya, smart woman adalah mereka yang menggunakan akalnya untuk berpikir,merenungi makna dan nilai kehidupan, dan bukan yang semata-mata meniru serta berpenampilan ala wanita barat.

Untuk itu, wanita yang berpendidikan dan mampu mengikuti perkembangan zaman (modern woman) adalah para wanita yang patuh dan taat kepada perintah-Nya.


Ironisnya, sebagian dari mereka hanya berbusana muslimah apabila menghadiri acara-acara khusus di majelis-majelis taklim atau mesjid-masjid. Padahal di saat yang sama, mereka mengakui dan mempercayai bahwa Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat Tuhan Yang Mahasuci.


Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa di dalam Al-Qur’an, Allah swt telah mengatur tata cara manusia berperilaku, termasuk berpakaian? Dan secara tegas, Al-Qur’an mewajibkan kaum Muslimah untuk berpakaian sesuai yang dijelaskan Allah swt.


Apabila kita percaya dan konsekuen dengan yang disampaikan Al-Qur’an, maka kita seharusnya mematuhi rambu-rambu tersebut, sebagaimana kita mematuhi peraturan di kantor yang ditetapkan oleh para pemiliknya. Namun seringkali kita merasa takut terkena skors di kantor apabila kita melanggar salah satu aturannya. Tapi anehnya! Kita dengan santai melanggar dan bahkan mengabaikan perintah Tuhan yang memberikan kehidupan dan rezeki-Nya kepada kita secara tidak terbatas. Bahkan rezeki kantor kita pun bergantung kepada Karunia dan Rahmat Allah swt.


Apa gerangan yang terjadi dengan para wanita muslimah saat ini? Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa selama ini, kita mendapatkan limpahan nikmat dari Tuhan semesta alam? Akan tetapi, pernahkah kita mensyukuri hal itu?


Cobalah bandingkan bila kita diberi bonus atau hadiah dari seseorang, maka kita akan berusaha untuk mengucapkan terima kasih dengan berbagai cara, bahkan sering kali “para wanita zaman modern” saat ini mengucapkan terima kasih dengan cara “cipika-cipiki” atau langsung memuji-muji segala kebaikannya! Rasionalkah cara berpikir dan tindakan kita selama ini?!
Sudahkah kita berterima kasih dan mensyukuri segala nikmat Allah swt yang diberikan-Nya setiap saat itu?


Dengan demikian, sangat jelas bahwa sebaik-baik wanita adalah yang senantiasa berupaya untuk menjaga kehormatannya, karena dari wanita solehah inilah akan lahir para pemimpin dan generasi bangsa yang berakhlak mulia.


Bayangkan jika para wanita muslimah dinegeri kita patuh dan taat kepada perintah-Nya? Barangkali negeri ini tidak akan menjadi seperti yang kita lihat saat ini?


Berjuanglah untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya…
Cintailah Tuhan, karena dengan mencintai-Nya, maka niscaya… cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan!


Wallahualam bishawab...

Selama kita hidup di bumiNYA - Renungan



" Salah satu cara penting agar manusia tidak terbius dalam tabir yang menutupi mata batinnya, hendaknya dia memperhatikan pertemuan2nya; hendaknya jangan ikut bergabung dalam tempat dimana di dalamnya tidak terdapat pembicaraan tentang Allah, hari kiamat, hari kebangkitan, wahyu dan agama. 


Hendaknya jangan menghadiri tempat yang di dalamnya mempermainkan agama; jangan berbicara yang membuat Allah tidak ridha, jangan mendengarkan kalimat2 yang tidak sejalan dengan wahyu Ilahi. 

Manusia tidak mempunyai hak untuk mengucap setiap yang dia sukai, tidak diizinkan pergi ke setiap tempat yang diinginkan dan diam disana. Manusia harus mampu menguasai diri dalam setiap pertemuan dan harus sibuk berusaha menghilangkan tabir atau belajar , mengkaji dan berpikir atau berupaya mendidik jiwanya, membersihkan, melihat batin, riyadhah yang benar serta melakukan jihad akbar ( jihad an nafs)"


* disadur dari Buku Ketika Bumi diganti dengan Bumi yang lain - Jawadi Amuli hal 315

Holy Holiday - Sebuah Renungan


Alternatif untuk berekreasi dengan keluarga maupun individual yang sekaligus ada makna spritualnya sungguh menjadi bisnis yang paling laku di negeri ini. Sekilas memang sangat efektif dan bermanfaat, karena toh dengan niat berlibur tetapi pahala beribadah pun dapat diraih, sehingga mencari kebaikan dunia dan akhirat pun dapat dicapai dalam sekali menjalankan perjalanan ibadah haji yang juga sekaligus termasuk salah satu rukun Islam. 

Biasanya mereka dalam rangka mempersiapkan ibadah hajinya itu yang paling mereka ‘concern’ adalah pakaian ihramnya, mukenanya, jilbabnya dan pernak pernik lainnya , pokoknya sesuatu yang akan dipakai disana hingga kosmetik pun mereka khusus beli yang tidak beralkohol.

Jarang sekali saya melihat mereka yang ‘concern’ akan makna dan hakikat berhaji itu sendiri. Seperti pada umumnya orang Islam di negeri ini hanya memperhatikan faktor assesorisnya, lebih ke fiqihnya dari pada ke hakikat dibalik ibadah hajinya. Lucunya , mereka semua berharap ingin menjadi hajinya yang mabrur katanya, tanpa ingin tahu bagaimana untuk menjadi haji yang mabrur itu.

Menurut kebanyakan orang untuk mencapai haji mabrur itu dengan melaksanakan ‘fiqih haji’ yang baik saja menurut ustad-ustad travelnya. Disana mereka berupaya sangat keras untuk dapat mencium hajar aswad misalnya, tetapi jarang sekali ada yang bertanya apa makna dan hakikat mencium hajar aswad, yang apabila mereka satu ibadah itu saja tahu makna dan hakikatnya tentunya mereka akan menjadi haji yang mabrur dengan sendirinya.

Karena pada saat kita mencium hajar aswad itu ada mengandung unsur ketaatan dimana manusia mengingat kembali janjinya pada Allah SWT (yang dulu pernah dilakukan di alam ruh ) untuk berTAUHID dengan menjalankan amal ma’ruf & nahi munkar, jadi diharapkan setelah mencium hajar aswad apabila kembali ke tanah air nya masing2 diharapkan mereka akan menjadi panji2 Islam dalam membela agama Allah SWT.

Karena sesungguhnya tolok ukur diterima tidaknya beribadah adalah apabila ada perubahan dalam diri kita ke arah kebaikan.

Misalnya yang paling konkrit yang dulunya sering ber’ghibah ‘setelah kembali tidak akan pernah lagi untuk melakukan perbuatan yang memalukan itu karena telah menyadari itu termasuk fitnah dan dosa besar.

Apabila setelah kembali dari ibadah tersebut masih merasa sama seperti sebelumnya atau bahkan lebih buruk lagi…….

Sadarlah wahai saudaraku itu pertanda anda hanya ber’rekreasi’ ke tanah suci, dengan membuang tenaga, waktu anda sekedar ‘mejeng’ di depan rumah Allah dan makam nabi saaw…Naudzubillah….

Jelas makna dari berhaji yang adalah salah satu ibadah wajib buat yang mampu ini, harus ada dampak positif baik itu untuk diri sendiri ataupun sekelilingnya (masyarakat) , karena apabila tidak berdampak positif, buat apa Allah SWT menyuruh kita melakukan ibadah tersebut???

Allah Azawajala tidak butuh gelar haji atau hajjah dari kita, yang IA inginkan adalah menambah keTAATan kita padaNYA sehingga kita merasa lebih dekat denganNYA dan selalu ingin membuatNYA bahagia dengan beribadah lebih banyak dari sebelumnya serta melaksanakan amal ma’ruf dan nahi munkar, mengerjakan semua yang di suruhNYA dan meninggalkan semua yang DIA larang. wallahualam

Kesetaraan Gender Apakah Harus?


" Barang siapa yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" ( QS.An-Nahl:97)

Sekarang ini, banyak diributkan tentang kesetaraan gender, kaum sekular telah membuat rancu hakekat maknanya, sehingga langkah-langkah yang diambilnya pun sangat lah tidak efektif . Paradigma mereka harus diluruskan sehingga kita benar-benar dapat mengobati sumber dari masalahnya bukan hanya menambal sulam masalah. Seperti mereka selalu menganggap bahwa keseteraan gender itu seperti yang di slogankan di Perancis ’Egalite’, Gleichberechtigung’ di Jerman, menuntut persamaan hak antara pria dan wanita.

Ironisnya pada saat yang bersamaan mereka masih menggunakan istilah ’ladies first’ and ’be gentlemen’ apabila dalam kendaraan umum ataupun dalam keadaan yang semacamnya. Disatu pihak mereka ingin dianggap bisa mengerjakan segalanya tetapi dipihak lain ingin dibantu dan dianggap lemah. Sungguh membingungkan perempuan atau masyarakat di zaman modern ini. Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya mereka mau. Mereka telah lupa akan anugerah mereka yang sesungguhnya. Ini terjadi karena mereka tidak mengenal ”SANG KHALIK” , yang menciptakannya. Mereka menuntut tetapi tidak tahu apa yang sesungguhnya mereka harus tuntut, sederhana saja karena mereka tidak mengenal siapa diri mereka. 


Agama yang suci yang diturunkan pada nabi terakhir yang Agung Muhammad saw membawa kabar gembira kepada para perempuan yang berakal, tentang mulianya dan tingginya kedudukan perempuan di sisi Allah(ayat Qur’an)….

Seorang filsuf Perancis , Rosseau berkeyakinan : ”Memperbaiki masyarakat bukan dimulai dari pemerintah melainkan harus dimulai dari keluarga, maka ini mutlak kewajiban ayah dan ibu ”.

Sedangkan dalam Al-Qur’an sendiri, banyak menekannkan soal pemeliharaan anak sejak usia kandungan dan dini dengan pemberian ASI sampai usia 2 tahun. Ini adalah langkah awal pendidikan anak dan tanggung jawab seorang ibu.

Jelas dalam Islam, bahwa pendidikan anak adalah tugas dari seorang perempuan dan mencari nafkah adalah tugas seorang laki-laki. Ini berarti kedudukan seorang laki-laki dan perempuan itu adalah saling melengkapi satu sama lain dan bukan saling bersaing. Mendidik anak dengan baik untuk menghasilkan suatu generasi yang terbaik tidaklah mudah, ini sangatlah memerlukan skill atau keahlian khusus.

Oleh karena itu tidak benar bahwa perempuan yang dirumah mendidik anaknya dengan baik adalah lebih rendah dari perempuan yang bekerja di kantoran. Tanggung jawab dia bukan hanya kepada keluarganya saja tetapi kepada masyarakat dan Tuhan. Karena masyarakat yang baik itu tercipta dari hasil didikan seorang ibu yang hebat.

Apabila kita kembali kepada Al-Qur’an (sebagai kewajiban umat Islam) dan berusaha memahami bahasa Al-Qur’an, sesungguhnya tidak ada yang berkatian dengan gender. Kata-kata yang khusus terungkap itu hanyalah bersifat maknawi, adapun ada ungkapan yang dengan jelas menunjuk wanita ataupun pria, maka hal itu dalam konteks meminjam bahasa yang digunakan oleh umumnya masyarakat ketika turunnya Al-Qur’an, seperti dalam QS. Ali Imran yang berkaitan dengan kaum mukmin yang berhijrah pada masa permulaan Islam :

”Sesungguhnya AKU tidak menyia-nyiakna amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki ataupun perempuan.” ( QS. Ali Imran:195 ) 


Wanita yang berhijrah memperoleh pahala sebagaimana pria. Kandungan ayat tersebut menjelaskan tentang persamaan antar pria dan wanita dalam keutamaan berhijrah. Pada ayat diatas Al-Qur’an menggunakan bentuk-bentuk maskulin yang tidaklah berarti lawan dari feminin- khusus dalam hal ini tidak terikat dengan aturan tata bahasa Arab yang berlaku, jadi jelaslah bahwa kata ’amilin’ dan kata ’minkum’ meski berbentuk maskulin, ia tetap mencakup pria dan wanita.

Apabila para wanita itu benar-benar jujur bertanya pada diri mereka sendiri, sesungguhnya tidak ada yang mereka harus khawatirkan, “just be your self and be a good person” sesuai dengan yang Sang Kholik inginkan, kenal siapa diri mereka dan tahu apa tugas mereka yang sebenarnya, tentu segalanya akan menjadi lebih mudah. 


Masalahnya dengan keTIADAan ILMU akan ke TUHANan (agama) yang hanya dianggap tahu atau diperlukan suatu waktu saja apabila terjadi musibah, maka mereka mencari sesuatu yang tidak ada pada dirinya dan celakanya mencontoh dan meniru yang SALAH “ala WESTERN’ or else yang semakin membuat mereka JAUH dari “hakikat KEBENARAN” yang sesungguhnya yang sedang mereka cari yaitu menyeterakan diri dengan makhluk Allah ciptaan lainnya atau lawan jenisnya yaitu laki-laki.

Allah menciptakan keduanya dalam wujud lahir yang berbeda, jadi mungkinkah fungsi dan kekuatannya harus sama, seperti misalnya ciptaan Tuhan yang lainnya : buah Apel dan buah Mangga adalah dua bentuk buah yang berbeda walaupun keduanya termasuk jenis buah-buahan, masing-masing mempunyai rasa dan kelezatan serta vitamin yang berbeda, dan masing-masing mempunyai keunikan atau keunggulan tersendiri . Contoh lain lagi seperti suatu bangunan rumah, yang terdiri dari berbagai komponen, dengan perpaduan itu akan terbentuk suatu kesatuan yang indah, sebuah rumah yang kokoh. Kita harus percaya, bahwa Allah tidak mungkin salah dalam mencipta makhluk2nya, pasti sudah dengan rencana yang matang dengan ’design’ yang paling sempurna , semuanya adalah untuk pelengkap yang lainya.

Kadang apabila kita membaca buku, sebagai seorang wanita , kita tahu bahwa kalimat itu hanya ditujukan pada kaum lelaki, contohnya dalam berperang, atau berjihad, berhamasah dan irfan, seolah itu semua untuk kaum pria, karena ada keterangan lagi bahwa , untuk sempurnanya hamasah, harus dapat melupakan harta, anak dan istri.

Nah, sebagai pembaca wanita, timbul pertanyaan, wah berarti perempuan itu memang harus pasrah ditinggalkan suami dan tugasnya sebenarnya hanya mendidik anak dan siap ditinggalkan. Disini, memang perlu diterangkan dan dijelaskan lebih detail lagi hak dan kewajiban seorang perempuan dalam Islam terutama.

Nabi Muhammad saaw pernah ditanya oleh seorang wakil dari perempuan suku Arab, yang bertanya tentang jihad, mengapa hanya diwajibkan untuk kaum pria dan kaum perempuan itu merasa tidak diperlakukan adil, karena mereka pun ingin mendapat pahala jihad yang memang begitu tingginya pahala tersebut disisi Allah SWT dan puncak kenikmatan adalah seorang syuhada.Rasul yang Mulia berkata:


”jihad terbesar untuk kaum perempuan adalah melayani suaminya dengan baik, ' keluar rumah ' harus seizin suami dan menjadi pendidik untuk anak-anaknya”.

Sebagai seorang pendidik , tentunya seorang perempuan haruslah mempunyai ilmu pengetahuan, apabila tidak bagaimana bisa dia dapat mendidik anaknya dengan baik. Oleh karena itu, mendapatkan dan mencari ilmu adalah hak setiap perempuan juga.


Terdengar sangat mudah dan gampang dan tidak berbobot, tapi memang hanya itulah tugas seorang perempuan, apabila dapat melaksanakannya dengan sangat baik, maka Allah SWT pun akan meridhainya, karena ridha Allah SWT ada pada 'ridha'* suaminya.

Timbul pertanyaan lagi, bagaimana apabila sang suami bukan yang termasuk mendapatkan ridhaNYA. Tentu ketentuan Allah SWT dan sabda Nabi Muhammad saww hanya berlaku pada lelaki yang mukmin ( seorang muslim yang taat pada Allah, Rasul dan Ulil Amri ( para Imam suci Ahlul Bayt a.s ) . Disini jelas ridha suami juga bukan berarti seorang istri harus taat kepada dia sama dengan ketaatannya pada Allah, Rasulullah dan para Imam suci AhlulBayt a.s, seperti yang diyakini dan di praktekan oleh kebanyakan muslimah. 

Karena bisa saja seorang suami memerintahkan sesuatu yang justru melanggar peraturan dan undang2 Allah, oleh karenanya seorang istri tidak wajib mengikuti keinginannya, seperti misalnya keluar rumah tanpa hijab, justru apabila menuruti pada ketentuan suaminya tentu si suami yang bertanggung jawab atas dosa istrinya dan istrinya juga dengan menuruti si suami terkena hukum dosa.  Suami yang mukmin dan  berpengetahuan  tentu tahu bagaimana cara me'manage' keluarganya.

Jadi, taat itu hanya pada Allah SWT Sang Kholik, Rasulullah saw dan keluarga nabi yang disucikan Allah ( para Imam Ahlul Bayt a.s ) , terhadap orang tua dan suami istilahnya lebih respek- hormat, mengikuti perintah selama itu sesuai dengan perintah AllahSWT. Apapun yang * dilakukan sesuai dengan ketentuanNYA pasti di ridhai oleh Allah.

La haula wa la kuata illa billah...wallahualam bishawab


Adakah Secercah Harapan?


Pertanyaan ini selalu terucap dalam hati , tatkala melihat sesuatu diluar nalar kita, yang sangat menusuk hati yang melihatnya atau mendengarnya. Peristiwa ini terus menerus terjadi tanpa kita sadari, sehingga kita seperti yang terbiasa dengan peristiwa yang menyakitkan itu. Dari mulai bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur, kita selalu di bombardir dengan berita-berita yang membuat diri kita resah, gelisah dan ingin marah.... di dalam rumah, di luar rumah, di negeri sendiri maupun di negeri orang, selalu memberitakan sesuatu yang pada saat kita belajar itu sangat di larang. Apakah ini wajah bumi yang telah luntur oleh kerakusan, kebiadaban dan kejahilan manusia? Hati yang tercipta lunak dan lembut berangsur menjadi keras.... Adakah secercah harapan? Ya Tuhan....Engkau satu-satuNYA yang dapat mengobati semua yang rusak....Kapankah KAU kirimkan waliMU di muka bumi ini, sehingga bumi ini kembali indah, cantik rupawan seperti DIRIMU.