Holy Holiday - Sebuah Renungan
Alternatif untuk berekreasi dengan keluarga maupun individual yang sekaligus ada makna spritualnya sungguh menjadi bisnis yang paling laku di negeri ini. Sekilas memang sangat efektif dan bermanfaat, karena toh dengan niat berlibur tetapi pahala beribadah pun dapat diraih, sehingga mencari kebaikan dunia dan akhirat pun dapat dicapai dalam sekali menjalankan perjalanan ibadah haji yang juga sekaligus termasuk salah satu rukun Islam.
Biasanya mereka dalam rangka mempersiapkan ibadah hajinya itu yang paling mereka ‘concern’ adalah pakaian ihramnya, mukenanya, jilbabnya dan pernak pernik lainnya , pokoknya sesuatu yang akan dipakai disana hingga kosmetik pun mereka khusus beli yang tidak beralkohol.
Jarang sekali saya melihat mereka yang ‘concern’ akan makna dan hakikat berhaji itu sendiri. Seperti pada umumnya orang Islam di negeri ini hanya memperhatikan faktor assesorisnya, lebih ke fiqihnya dari pada ke hakikat dibalik ibadah hajinya. Lucunya , mereka semua berharap ingin menjadi hajinya yang mabrur katanya, tanpa ingin tahu bagaimana untuk menjadi haji yang mabrur itu.
Menurut kebanyakan orang untuk mencapai haji mabrur itu dengan melaksanakan ‘fiqih haji’ yang baik saja menurut ustad-ustad travelnya. Disana mereka berupaya sangat keras untuk dapat mencium hajar aswad misalnya, tetapi jarang sekali ada yang bertanya apa makna dan hakikat mencium hajar aswad, yang apabila mereka satu ibadah itu saja tahu makna dan hakikatnya tentunya mereka akan menjadi haji yang mabrur dengan sendirinya.
Karena pada saat kita mencium hajar aswad itu ada mengandung unsur ketaatan dimana manusia mengingat kembali janjinya pada Allah SWT (yang dulu pernah dilakukan di alam ruh ) untuk berTAUHID dengan menjalankan amal ma’ruf & nahi munkar, jadi diharapkan setelah mencium hajar aswad apabila kembali ke tanah air nya masing2 diharapkan mereka akan menjadi panji2 Islam dalam membela agama Allah SWT.
Karena sesungguhnya tolok ukur diterima tidaknya beribadah adalah apabila ada perubahan dalam diri kita ke arah kebaikan.
Misalnya yang paling konkrit yang dulunya sering ber’ghibah ‘setelah kembali tidak akan pernah lagi untuk melakukan perbuatan yang memalukan itu karena telah menyadari itu termasuk fitnah dan dosa besar.
Apabila setelah kembali dari ibadah tersebut masih merasa sama seperti sebelumnya atau bahkan lebih buruk lagi…….
Sadarlah wahai saudaraku itu pertanda anda hanya ber’rekreasi’ ke tanah suci, dengan membuang tenaga, waktu anda sekedar ‘mejeng’ di depan rumah Allah dan makam nabi saaw…Naudzubillah….
Jelas makna dari berhaji yang adalah salah satu ibadah wajib buat yang mampu ini, harus ada dampak positif baik itu untuk diri sendiri ataupun sekelilingnya (masyarakat) , karena apabila tidak berdampak positif, buat apa Allah SWT menyuruh kita melakukan ibadah tersebut???
Allah Azawajala tidak butuh gelar haji atau hajjah dari kita, yang IA inginkan adalah menambah keTAATan kita padaNYA sehingga kita merasa lebih dekat denganNYA dan selalu ingin membuatNYA bahagia dengan beribadah lebih banyak dari sebelumnya serta melaksanakan amal ma’ruf dan nahi munkar, mengerjakan semua yang di suruhNYA dan meninggalkan semua yang DIA larang. wallahualam
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
The Impact of Islamic Revolution on my life (Shaban 1437H - Haul of Imam Khomeini (ra ) Bismilillahirahmanirrahim Allahumma s...
-
Seorang Nasrani bertanya pada Imam Muhammad al Bagir as : "Siapakah Muslim yang sebenarnya? Imam menjawab : " Orang yang lidahnya ...

No comments:
Post a Comment