From Knowledge to Activism

It is not enough for us to be people of love and emotion; we must be people of conviction, seriousness and action; with ourselves and in the society around us.

Reflections ..

Dari hari ke hari minggu ke minggu bulan ke bulan tahun ke tahun....terus hingga sekarang, kemanakah arah kita melangkah...apakah sudah menuju jalan yang telah di tunjukanNYA atau selama ini kita hanya berbuat sesuatu yang pada kenyataannya tidak ada manfaat untuk diri kita dan sekitarnya. Waktu yang sesungguhnya di berikan pada kita agar kita mendapatkan manfaat untuk kehidupan kita disini juga di akhir nanti, jangan-jangan hanyalah kita jadikan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah dunia kita yang mungkin ada manfaatnya hanya untuk diri kita dan segelintir manusia yang dalam waktu sekejap tak mengandung arti lagi dan berujung pada penyesalan. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.....Semoga kita semua terlindung dari hal semacam itu.

" Demi masa. Sesungguhnya, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran " ( QS 103 : 1-3)

Ternyata jawaban nya terdapat di ayat al Quran diatas. Surat al Asr, singkat tetapi sangat padat dan sungguh cukup untuk menjadi pegangan untuk kita semua yang mau merenungi dan benar-benar mentadaburi makna ayat diatas tsb.

Sang Maha Pencipta diri kita sendiri telah tegaskan , bahwa manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali bagi orang-orang yang beriman lalu saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Terkesan sangat sederhana dan biasa, tetapi apabila kita merenung.....sungguh ini adalah obat penyadar diri, yang mana kita diharuskan untuk mengukur diri kita apakah kita masih termasuk yang tergerus dengan waktu hingga kita membuang-buang waktu dengan percuma tanpa makna yang berarti, masih ego sentris dan hanya menyibukan segala sesuatunya hanya untuk diri kita saja tanpa ada keinginan untuk berbagi dengan sesama, sekitar kita . Karena seperti di negara Barat yang kebanyakan manusianya asyik terus membuat dirinya 'bahagia', tetapi tidak mempedulikan masyarakat sekitarnya. Apabila, mereka melihat sesuatu yang tidak benar dan tidak baik, mereka lebih bersikap masa bodoh, selama itu tidak mengganggu diri mereka.

Dalam keluarga pun, orang tua tidak akan menasihati anaknya lagi setelah 18 tahun keatas, dan anak tersebut bebas dapat berbuat apa saja , karena orang tua sudah merasa tidak ada tanggung jawab lagi baik itu dalam hal finansial maupun yang lainnya. Walaupun orang tua terkadang masih mensuport keuangan anaknya, tetapi tetap urusan akhlak dan perilaku bukan tanggung jawab orang tuanya lagi. Inilah yang menyebabkan hancurnya moral di negara-negara Barat. Mereka menganggap kehidupan itu hanya di dunia saja, dan setelah kematian hancur titik.

Bahayanya, banyak negara-negara yang banyak memeluk suatu agama pun telah latah mengadop nilai-nilai tsb, hingga mereka rela melepaskan jati diri mereka.

Sungguh dekadensi moral kian menjamur di seluruh pelosok negeri. Mengamati dan menilai sesuatu dari segi fisik sungguh suatu tipuan yang nyata dan berakibat fatal. Bagaimana tidak kita dapat melihat para penjahat dunia sekaliber Netanyahu dan Obama berpenampilan sangat 'modern' dengan modal rhetorika yang dapat memutar balikan kenyataan dan menuduh pihak lain sebagai pelaku sementara mereka sendirilah di balik semua tuduhan tersebut. Untuk dapat di nilai demikian berbagai upaya pun dikerjakan dengan cara membuat lembaga-lembaga International seperti PBB dan semacamnya untuk dapat melegalisasi kejahatan mereka agar tampak samar dan bebas hukum; menguasai hampir seluruh media masa dunia, sehingga dengan mudahnya seluruh berita dapat di kontrol atas kehendak mereka. Mensponsori hampir seluruh lembaga-lembaga kemanusiaan di seluruh dunia sehingga terlihat mereka lah yang paling menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Semua itu sebagai alat untuk dapat menguasai dunia dengan mengatas namakan demokrasi.

Alhamdulillah , sekarang ini kita telah banyak membuka mata-mata kita dan mencoba dapat bangkit dari segala kelelapan tidur yang terlalu lama. Di negeri-negeri Islam yang di jadikan target mereka untuk dapat mengucilkan nilai-nilai suci Islam hingga tiada. Tetapi Allah Ya Hayyu Ya Qayum , tidak pernah tidur dan diam dan telah menjanjikan kita hamba-hambaNYA bahwa kemenangan akan berada di atas para kaum tertindas yang bangkit melawan segala kejahatan yang ada di muka bumi ini tanpa henti.

Setiap diri kita terpanggil untuk bangkit dan berdiri tegak melawan setiap ketidak adilan dan kejahatan yang nyata maupun yang tersembunyi dan saling mengingatkan untuk selalu berada dan berjalan di jalanNYA , jalan yang telah di tunjukan para Kekasih Allah SWT- para Nabi Allah yang tak seorang pun dari mereka mencontohkan kita untuk hidup bersenang-senang di dunia ini. Dunia ini adalah ladang kita untuk dapat meraih kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Sebagaimana Nabi Muhammad saww : " Kita di uji di dunia ini, karena sesungguhnya kita diciptakn untuk di alam akhirat "

Wallahualam bishawab

Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum

The Manifesto...

Imam Khomeini's heart warming love towards his wife ♥

Imam's wife would say, "I was never woken up by Imam praying Salatul Layl because he would never switch on the room light. When he would go to do wudhoo, he would place a sponge in the sink under the tap so that the sound of the falling water would not wake me."

Agha always offered me the better place in the room. He would not start eating un...til I ...came to the dinner table. He would also tell the children: ‘Wait until Maa comes.’

He was not even willing that I should work in the house. He would always tell me: ‘Don’t sweep.’ If I wanted to wash the children’s clothes at the pond, he would come and say: “Get up, you shouldn’t be washing.”

On the whole, I have to say that Imam did not consider sweeping, washing dishes and even washing my children’s clothes as part of my responsibilities. If out of necessity I sometimes did these, he would get upset considering them as a type of unjust dealing towards me.

Even when I entered the room, he would never say: ‘Close the door behind you,’ but waited till I sat down and then would himself get up and shut the door.

♥♥♥

His daughter Siddika says: My father had an extraordinary respect for my mother. In the period of 60 years of living together, he did not even reach for food (on the dinner table) before his wife, nor did he have even the smallest expectation from her. I can even say that in the period of 60 years of living together, at no time did he even ask for a glass of water, but would always get it himself.

He behaved this way not only with his wife but also with all of us who were his daughters. If he ever wanted water we would all enthusiastically run to get it, but he never wanted us to bring and give him a glass of water in his hand.

During the difficult last days of his life, each time he would open his eyes, if he was capable of speaking, he would ask: ‘How is Khanom?’ We would reply: ‘She is good. Shall we tell her to come to you?’ He would answer: ‘No, her back is hurting. Let her rest.’

Here is one of the letters he wrote to her:

To my beloved wife,
O' I die for you. I have always remembered you when you – the light of my eyes and strength of my soul- have been away from me. Your pretty face is shining in my heart like in a mirror…..
I really miss you her in Beirut. You can find a lot of beautiful places to visit in the city and at the sea. What a pity that my dearest is not with me…...
This has been a good journey so far trip but you are really and truly missed. I miss our son, Seyyed Mustafa. I pray that God will protect you both.
I love you so much.
Ruhullah Khomeini

By: AhlulBayt Islamic Mission (AIM)

Global March to Jerusalem 30 March 2012

Dengan semangat yang berapi-api menjelaskan bagaimana keadaan sesungguhnya yang terjadi di Palestina, George Galloway - mantan anggota parlemen Inggris yang hampir sebagian masa hidupnya hingga saat ini terus berjuang membela rakyat Palestina.

Kedatangan beliau kali ini untuk membuka VIVA PALESTINA INDONESIA yang tujuan utamanya untuk membangkitkan kepedulian masyarakat Indonesia kepada rakyat Palestina yang hingga kini terjajah dan teraniaya. Dan mengembalikan ingatan kita akan sejarah yang telah di ukir ketika Indonesia akan memerdekakan diri dari penjajahan Belanda selama 3.5 abad, rakyat Palestina banyak andil dalam membantu proses kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan.

Malulah sebagai bangsa yang pernah di hutang budikan oleh bangsa Palestina dan kini kita tidak lagi terjajah secara fisik oleh Belanda, lalu rakyat Indonesia lupa akan siapa yang pernah menolong negerinya terbebas dari penjajah. ( dalam kaca mata spiritual mungkin dapat dilihat bahwa bangsa kita lah yang sesungguhnya terjajah oleh banyaknya masukan2 asing ke negeri ini hingga secara ekonomi dan mental kita masih terjajah dan disisi lain bangsa Palestina yang secara fisik masih terjajah dengan di rampasnya tanah dan rumah2 mereka serta di bunuhnya sanak keluarga mereka yang sama sekali tdk berdosa, dan mereka terus melawan si penjajah itu hingga rela mengorbankan segalanya demi kemerdekaan tanah airnya )

Dikuasainya media oleh regim zionis membuat terputusnya akses kita dengan bangsa Palestina. Bangsa ini dibuat asyik tertidur dengan mimpi2 omong kosong yang sengaja disuguhkan untuk menina bobokan kita agar hanya hidup dalam khayalan, ketidak pedulian pada sesama, pembunuhan karakter dan kehilangan agama yang telah diwarisi oleh nenek moyang kita yang sangat taat dan saleh, melenyapkan budaya bangsa dan adat istiadat yang telah diajarkan para leluluhur kita. Sehingga kita bagaikan mayat2 hidup yang seperti robot, di tekan tombol baru bereaksi dan sangat monoton dan penuh daya tipu muslihat serta malas untuk berproses dalam menjalankan hak dan kewajibannya inginnya seba cepat , instant dan cepat bosan.

Sementara di belah bumi sana, ada sebuah negeri indah di pinggiran laut Mediterania yang hingga detik ini masih terus menerus dalam keadaan terjajah . Tanah2 dan rumah2 mereka serta harta benda juga sumber mata pencaharian mereka di rampas, di curi dan sekaligus di hancurkan dan dibuat sebuah negara fiktif yang bernama Israel Raya.

Rakyat Palestina di bantai dan di hinakan dengan perlakuan2 tak bermoral, negeri indah nan berkah ini menjadi penjara terbesar di dunia. Dunia pun diam. Hanya segelintir orang2 yang berakal saja yang bangkit dan menolong mereka. Dalam hal ini Ayatullah Ruhullah Khomeini r.a dari sejak dahulu beliau telah menyerukan pada umat Islam di seluruh dunia mengingatkan bahwa ada bangsa yang terdzalimi hingga saat ini dan kita wajib menolong kaum2 mustadafin. Beliau r.a menyerukan untuk kita berdemonstrasi di depan kedutaan Amerika dan turun ke jalan2 pada hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan. Alhamdulillah hingga kini, hari itupun dikenal dengan nama ' Al Quds International Day' . Subhanallah pada zaman beliau r.a hidup keadaan Palestina masih lebih baik dibanding sekarang yang kian hari kian horor. Penjajah terlaknat Israel dengan dukungan Amerika dan sekutunya ( EU, NATO, dan Raja2 Arab ) telah terus menerus menyerang bangsa Palestina yang sama sekali tak berdosa.

Maha suci Allah yang selalu menolong hamba2NYA dengan memunculkan orang2 yang telah mewakafkan diri2nya untuk berjuang menegakkan ketidakadilan di bumiNYA.
Seorang George Galloway sebagai pendiri VIVA PALESTINA yang bermula di Inggris, kini membuka lagi di negeri kita yang masih berhutang pada bangsa Palestina dan Ummat Nabi Mulia kita Muhammad saw, VIVA PALESTINA INDONESIA.

Sebenarnya Palestina adalah isu kemanusiaan jadi bukan semata isu kaum muslimin. Berarti sebagai yang mengaku muslim sungguh ironis sekali apabila tidak mempedulikan tentang isu Palestina ini. Penjajahan di Palestina adalah sebuah kejahatan yang di rencanakan untuk merebut tanah Palestina dan membantai rakyat2nya agar, mereka yang mengaku beragama Yahudi dapat tinggal di Palestina sesuai janji Tuhan katanya. Tuhan yang mana yang membolehkan kita berbuat kejahatan agar janjiNYA tergenapi. Cara berpikir yang sakit ini telah dijangkiti oleh mereka yang mengaku beradab dan berpendidikan??

Menarik pernyataan GG yang menyinggung tentang negeri kita yang tdk mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel tetapi di setiap sudut kota Jakarta bahkan di tempat2 kaum terpelajar disini,ada STAR BUCK, kedai kopi yang sangat mahal dan ternyata, kopinya pun diambil dari negeri kita dan di bawa ke negeri mereka di olah dan dijual mahal. Bukan hanya itu saja, setiap tegukan kopi yang di minum itu ada andil kita yang meminum kopi tsb untuk membunuh rakyat Palestina, dan pembangun rumah2 orang2 Yahudi di tanah rampasan Palestina. Menurut GG, apabila kita tidak ingin berhubungan dengan Israel kita seharusnya menunjukkan sikap dengan aksi tidak mengkonsumsi apapun produk2 Israel yang sengaja di buat untuk mendanai proyek2 kotor tak berperikemanusiaan mereka.

Boycott produk2 Israel adalah langkah awal komitment kita akan terlepasnya diri kita dari musuh2NYA, musuh2 kemanusiaan. Langkah boycott ini terkesan 'kecil' namun dampak dari konsisten melaksanakannya ( dengan TIDAK pernah membeli nya) sangat luar biasa membantu melemahkan perekonomian mereka sehingga mereka terhambat untuk melakukan kejahatan2 terencana mereka.

Adapun langkah2 selanjutnya , barangsiapa yang mampu dan ingin berpartisipasi dan menerjunkan diri secara langsung, bergabunglah bersama GLOBAL MARCH TO JERUSALEM , dimana kita akan kepung Israel dengan bertemu para pecinta & penolong kemanusiaan di Amman - Yordania, dan kita akan melakukan aksi jalan bersama menuju Jerusalem tanggal 30 Maret 2012.

"Barang siapa yang tidak mendengar panggilan kaum Muslimin yang tertindas, maka dia bukanlah seorang Musllim" ( Nabi Muhammad saww)

Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. ADRIKNA YA MAHDI

All in the Intention, Right?


How often do we hear people justifying the sins they commit in the name of their ‘intention’? ‘Oh, I know I"m a good person, I don"t mean any harm.’ ‘Islam is all about intention.’ ‘I don"t have bad intentions, so it"s ok.’

Have we forgotten the meaning of Islam, or worse yet, the very purpose of our existence?
Islam means to submit. We live to submit to the will of Allah. And not just to the degree we choose to, we are talking complete submission to His every decree in every aspect of our lives.

Yet all too often, we get ahead of our religion and feel capable enough to draw the line ourselves – the line that defines sin, the one we must not cross. Time and again, this line is based entirely on whether our ‘intention’ for a particular action is good or bad. Rather than following the laws prescribed to us by our Creator, we effectively allow our unqualified selves to decide what is acceptable and what isn"t. Escaping the laws of Islam by justifying wrongdoings in this way has almost become an art.

There are Muslims today of all ages attending gatherings of the unlawful kind, whether this consists of an atmosphere of music and dancing or simply a corporate dinner where alcohol is being served and consumed. They feel it is ok as long as they themselves do not drink or dance. Those who shake hands with the opposite gender feel they can because they have no evil intentions in doing so.

Some may deem it acceptable to purchase products from companies who support Israel, as they are simply interested in the product and do not intend to ‘get involved in politics’.

In any case, intentions are ‘good’ or ‘pure’, and that is all that seems to matter.
What needs to be reinforced here is the concept of Fiqh (jurisprudence) and the absolutely critical role it plays in the religion of Islam. Take the example of a wife who donated all her husband"s property and wealth to the poor after he had died. Despite all the good she had intended in doing so, she ultimately earned hellfire because she lacked the knowledge of Fiqh – that her husband"s belongings must be distributed to his heirs according to the laws of inheritance. Lacking proper knowledge of Fiqh and/or failing to adhere to its laws can lead to terrible consequences, even when performing a good deed with the very best of intentions.


As Imam Muhammad al-Baqir (peace be upon him) said, ‘Learn the laws of Haram and Halal, unless you are of the ignorant ones.’

Lacking knowledge of Islamic laws does not exempt us from our obligation to follow them. We learn this from the story of the man who sold fish without scales in the marketplace of Kufa. When Imam Ali (peace be upon him) was punishing him for breaking the law (since only fish that have scales are considered lawful in Islam), the man pleaded that he had no idea about this ruling and begged to be forgiven. But instead of excusing the fishmonger for his ignorance, the Imam actually doubled the punishment – the first one for breaking the law, the second one for not bothering to learn the law!

Imam Ali has also said, ‘Surely, the completion of religion is due to the obtaining of knowledge and acting on it (accordingly), and beware that the obtaining of knowledge is more obligatory for you than earning wealth.’ (Al-Kafi)

Thus, in order to ensure that we remain within the bounds of Islam, "it is imperative that we improve our knowledge of Fiqh and make every effort to apply it regularly in our lives ". Some may feel that such strict adherence to each and every Islamic ruling is extreme or is asking for too much. However, these laws have been laid down for us for a reason. If we have complete faith in Allah, we will soon appreciate the fact that abiding by His decree will only benefit us and disobedience will only bring us harm – in ways we may not even be aware of.

A practicing and God-fearing Muslim will consequently act in accordance with Islam"s rules, and when (s) he promises to submit to the will of Allah, (s) he will do exactly that. We see such conviction beautifully displayed by Lady Zainab (peace be upon him) on the day of Ashura. When the tents of the Ahl-ul-Bayt were burned and the holy ladies were stripped of their Hijabs, she approached Imam Zainul Abideen (peace be upon him) and asked if the women should stay inside the tents and get burned or go outside with their heads uncovered.

Even in a life-and-death situation, she made sure to be acting upon the laws of Islam rather than basing the decision on her ‘good intention’ to save their lives. Such unreserved submission shows that we really have no excuse in violating the rules prescribed to us, not even the excuse of intending to do no bad.

*source tebyan.net; Author: Farah Masood

Consequences of Unlawful Money in One's Life


1. Lavishness
One who accepts unlawful money can neither reach a good spiritual position, nor could he have firm beliefs. Unlawful money has many negative consequences, one of which is lavishness. Many people have been afflicted with lavish lifestyle; so, they cannot get the answer to their prayers.

2. The Difficulty of Happiness
One, whose prayers are not heard, because of his lavish lifestyle, cannot easily gain happiness.

3. Consequences for Next Generations
People, who accept unlawful money, make their lives and raise their children with it, cannot raise good children either. Such children are born and raised with unlawful money and food, and there is no place for them but the Hell.

4. Inability to Reach to a High Spiritual Position
One can never reach a good spiritual position if he accepts unlawful money.

5. Inability to Fight
They say when Martyr Kharrazi saw a few soldiers who had lied to get more food he punished them and shouted that people could not fight after eating unlawful food.

6. Taking away the Beauty of Religious Practitioners
Saying one’s prayers can lead him towards the heights of spirituality. But if one accepts unlawful money, his prayers have no meaning anymore. It even becomes harder for such a person to say prayers and to go on fasting.

7. Regression
According to Qur'an, one should always move forward; “O thou man! Verily thou art ever toiling on towards thy Lord- painfully toiling,- but thou shalt meet Him.”‌

Some move forward and some move backward. Each step backward gets one closer to the Hell. Both ways are getting people closer to God; one via Heaven, and the other one via Hell. One who accepts unlawful money is deviated from the path of God, thus, he is moving backward.

Another point to be mentioned is that it does not matter how much unlawful money people use in their lives. According to Prophet Muhammad, “Even one bite of unlawful food affects one.”‌

Unlawful money, no matter how little it is, belongs to someone else and not us. Therefore, the use of it is not acceptable.


* source tebyan.net
Translated by: Sadroddin Musawi

Seven Tips for improving your relationship with the Qur'an

Study the Noble Quran Word-for-Word
Are you one of those people who rarely touches the Quran? Or do you read daily, but don't find it is having the impact on you that it should? Whatever the case may be, these are some simple tips that can help you connect with the Quran.

1. Before you touch it, check your heart
The key to really benefiting from the Quran is to check your heart first, before you even touch Allah's book. Ask yourself, honestly, why you are reading it. Is it to just get some information and to let it drift away from you later? Remember that the Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) was described by his wife as a "walking Quran": in other words, he didn't just read and recite the Quran, he lived it.

2. Do your Wudu (ablution)
Doing your Wudu is good physical and mental preparation to remind you you're not reading just another book. You are about to interact with God, so being clean should be a priority when communicating with Him.

3. Read only 5 minutes everyday
Too often, we think we should read Quran for at least one whole hour. If you aren't in the habit of reading regularly, this is too much. Start off with just five minutes daily. If you took care of step one, Insha Allah (God willing), you will notice that those five minutes will become ten, then half an hour, then an hour, and maybe even more!

4. Make sure you understand what you've read
Five minutes of reading the Quran in Arabic is good, but you need to understand what you're reading. Make sure you have a good translation of the Quran in the language you understand best. Always try to read the translation of what you've read that day .

5. Remember, the Quran is more interactive than a CD
In an age of "interactive" CD-Roms and computer programs, a number of people think books are passive and boring. But the Quran is not like that. Remember that when you read Quran, you are interacting with Allah. He is talking to you, so pay attention.

6. Don't just read, listen too
There are now many audio cassettes and CDs of the Quran, a number of them with translations as well. This is great to put on your walkman or your car's CD or stereo as you drive to and from work. Use this in addition to your daily Quran reading, not as a replacement for it.

7. Make Dua (supplication)
Ask Allah to guide you when you read the Quran. Your aim is to sincerely, for the love of Allah, interact with Him by reading, understanding and applying His blessed words. Making Dua to Allah for help and guidance will be your best tool for doing this.

* source : tebyan.net

Sayyed Nasrallah on Arbaeen: Resistance to Remain Our Choice


Sayyed Nasrallah on Arbaeen: Resistance to Remain Our Choice

Renungan Akhir Tahun


Perubahan waktu adalah kemestian dalam kehidupan kita di dunia ini, karena hal tersebut merupakan hukum yang Allah ciptakan sebagai hasil dari gerakan yang terjadi pada alam semesta. Tidak satupun di antara manusia yang mampu menghentikan perjalanan waktu.

Waktu demi waktu kita lewati dalam kehidupan kita sebagai sebuah lintasan perjalanan yang kelak akan mengantarkan kita pada lembah kematian sebagai batas akhir kehidupan kita di dunia ini.

Sekalipun waktu adalah hal alamiah namun bagi kehidupan seorang anak manusia, waktu memiliki arti besar karena di dalam waktu banyak peristiwa terjadi dan menghasilkan sejarah kehidupan manusia.

Banyak imperium yang jatuh dan bangun, banyak rezim yang datang silih berganti, banyak tokoh yang menghiasi sejarah mulai dari yang sangat baik hingga yang sangat zalim, Mulai dari Habil dan Qabil hingga Muhammad Saw dan Abu Jahal.

Ketika kita mencoba melakukan refleksi terhadapan kehidupan kita pribadi, ada banyak catatan yang telah kita tuliskan dalam lembar kehidupan kita, ada catatan yang baik dan ada pula catatan yang buruk, ada catatan yang mengharukan dan membuat kita bahagia adapula catatan luka yang membuat kita bersedih. Perjalanan kehidupan kita ibarat lukisan di sebuah kanvas kehidupan ada warna-warna yang indah bak pelangi sehingga membuat kagum yang memandangnya ada pula warna-warna kelabu membuat sedih orang yang melihatnya.

Perjalanan kehidupan kita di dunia ini seringkali kita sebut sebagai UMUR, kata umur mengindikasikan lamanya kehidupan kita di dunia ini, yang tentu satu sama lain memiliki umur tersendiri, ada yang sebentar namun adapula yang Allah SWT biarkan hingga berusia lanjut sebagaimana firman-Nya :

“Dan di antara kamu ada yang Kami tangguhkan hingga berusia lanjut sehingga tidak mengetahui lagi apa yg telah diketahui sebelumnya” (QS ; al-Hajj : 5).

Namun demikian kata Umur sendiri jika kita lacak di dalam al-Qur’an tidak semata hanya bermakna “Idamah al-Hayah fi al-Dunya wa Istimraruha” (Keberlangsungan hidup di dunia dan kontinyuitasnya) ada makna lain yang dijelaskan al-Qur’an terkait dengan kata Umur dan bahkan menggunakan kata ini pada beragam objek, di antara ayat-ayat tersebut misalnya :

“...Orang-orang itu lebih kuat dari mereka sendiri dan telah mengolah bumi tersebut lebih banyak dari apa yang mereka olah sebelumnya...” (QS Ar-Ruum : 9)
Dalam ayat ini kata umur dimaknai sebagai mengolah bumi dan apa yang ada pada bumi tsb.

“Yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah semata, maka sesungguhnya merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS 9 : 18)

Bahkan Allah menyebut salah satu ibadah dengan menggunakan kata umur ini dan mengistilahkannya dengan sebutan “Umrah”. Sebagaimana dalam surah al-Baqarah ayat 158 :

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah Hajji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui” (QS 2 : 158)

Dalam tafsir al-Mizan dinyatakan bahwa hakikat dari Umrah adalah menegakkan syi’ar-syi’ar Allah SWT.
Bahkan dalam bahasa Arab kata Ta’mir, yang bermakna memperbaiki atau menegakkan diambil dari kata Umur juga.

Dari beragam makna di atas kita mengetahui bahwa Allah SWT melihat Umur tidak semata lamanya seseorang hidup di dunia akan tetapi lebih kepada kualitas hidup seseorang, prestasi apa yang telah ia cetak dalam kehidupannya, berapa besar usaha yang telah ia lakukan untuk memperbaiki kehidupan di muka bumi ini dan beragam usaha yang telah dikerjakan untuk menegakkan syi’ar Allah SWT.

Dari penggalian makna ini kita dapat bertanya pada diri kita, berapa sebenarnya umur kita ? sulit tentu bagi kita untuk memberikan jawaban atas hal tersebut.

Ketika seorang sufi perempuan Rabi’ah al-Adawiyah di tanya dengan pertanyaan yang sama dia menjawab “Umurku baru lima tahun”, orang yang bertanya tersebut merasa ragu dengan apa yang didengarnya, dan ia melanjutkan pertanyaan “Apa yang engkau maksud wahai Rabi’ah ? ”Rabi’ah menjawab “Karena baru lima tahun aku betul-betul menundukkan diriku dihadapan Allah SWT”.

Pergantian tahun ini sebenarnya memberikan renungan kembali tentang umur kita tersebut, lamanya hidup kita di dunia ini tidak banyak memiliki makna akan tetapi panjang tidaknya umur kita lebih bergantung kepada kualitas kehidupan yang kita jalani

Di dalam Surah Hud ayat ke 7 Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan Arsyinya berada di atas air, Sesungguhnya Dia hendak menguji di antara kamu yang terbaik amalnya”.
Semoga tahun yg akan datang kita mampu memberikan makna yang lebih baik bagi kehidupan kita. Ada sebuah do’a yang diajarkan oleh orang-orang shaleh menarik untuk kita baca di akhir tahun ini :

“Wahai yang membolak-balikkan hati dan pandangan, wahai yang mempergilirkan malam dan siang, wahai yang merubah-rubah keadaan, rubahlah keadaan kami menjadi sebaik-baik keadaan”.

Selamat Tahun baru 2012.

* from email Dr. Khalid Walid