Mengenal 'DIRI'
"Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya"
( Imam Ali as )
Imam Ali as ketika mengatakan pernyataan diatas, beliau as ingin kita untuk mempelajari apa yang ada di dalam diri kita, agar kita mengetahui lalu mengenal diri kita dengan sesungguh-sungguhnya agar kita dapat mengenal SIAPA Sang Pencipta diri kita ini, sehingga ketika kita mengenal diri kita , kita akan mengenal Sang Pencipta Alam Semesta ini. Karena, di dalam diri kita sendiri adalah bagian dari alam semesta yang sangat luas ini. Menurut Imam Ali as ada 4 macam 'NAFS'- JIWA yang ada di dalam diri kita :
1. Vegetatif Nafs - Jiwa Nabati
Jiwa ini berasal dari 4 unsur : tanah, air, udara dan api ; Bahan-bahannya terdiri dari bahan dasar makanan yang kita konsumsi ; Tindakannya : tumbuh & berkembang
2. Animal Nafs /Jiwa Hewani - sense of animalistic - sensuality
Jiwa ini berasal dari : galaxy dan bintang ; Bahan-bahannya terdiri dari makanan yang kita konsumsi ; Tindakannya : gerakan- motion, syahwat, dominasi , kegelapan & ke tidak adilan
3. Human Nafs/Jiwa Insani - Insan/manusia
Jiwa ini berasal dari : Ma'arif - the real knowledge (Aql) - from the neighbourhood of Allah ; Bahan-bahannya terdiri dari : intelectual acknowledgment - learning with deep understanding ; Tindakannya : Ma'arif Rabani - knowledge of Allah(Ma'rifatullah)
4. Divine Nafs/Jiwa Ilahiyah ( Divine Universal ) - Insan Kamil - the One who knows anything ; Para Maksumin a.s.
Yang biasa kita sebut fitrah adalah potensi probabilitas yang ada pada diri kita. Jiwa tumbuh-tumbuhan(vegetatif) dan hewani - keduanya TIDAK memerlukan 'usaha' atau 'ikhtiar' dari diri kita, itu akan menjalankan fungsinya sendiri ( takwini ). tetapi untuk jiwa Insani agar kita dapat menjadi INSAN , kita harus ikhtiar untuk menjadikannya seperti apa yang Sang Pencipta inginkan, jadi tergantung kekuatan atau kemauan kita untuk dapat mengendalikan nafs-nafs dibawahnya untuk dapat mencapai 'MA'ARIF RABANI/MA'ARIFATULLAH '. Kita baru akan menjadi manusia - Insan , apabila segala tindakan kita hanya untuk mendekatkan diri padaNYA, untuk mengenalNYA (Tasyri'i). Sebagaiman semua proses yang ada di bumiNYA harus tunduk pada hukumNYA- hukum sebab akibat ( sunnat al Allah )
Oleh karenanya, manusia baru dapat berada dalam posisi INSAN, ketika dirinya dapat mengendalikan nafs-nafs rendahnya- hewaniyah terutama untuk selalu dalam keadaan 'seimbang' atau 'tidak melebihi porsinya' alias ADIL. Dalam proses penyempurna diri sebagai Insan - manusia harus tunduk pada hukum sebab akibat - hukum tasyri'i ( inilah yang dinamakan AGAMA). Agama inilah yang mengatur manusia agar dapat selalu 'on track' dalam kaidah hukum-hukumNYA sehingga dapat selamat menujuNYA dan sesuai dengan yang telah di designNYA - menjadi INSAN ( berhasil mengaktualisasikan potensi2 kemanusiaannya yang ada )
Begitu juga para Insan Kamil ( para utusanNYA - KhalifahNYA ) yang terus menaiki tingkatan puncak sehingga diri mereka mencapai 'Nafs Ilahiyah', dimana potensi-potensi dirinya total teraktualisasikan pada tingkatan jiwa Insaniyah - sehingga wujud mereka telah 'menjadi' seperti sifat-sifat Tuhannya - berakhlak Tuhan ( karena sifat2NYA telah termanifestasi dalam diri-diri mereka ).
Ini dikarenakan 'pengetahuan yang utuh tentang Tuhannya' sehingga apa yang ada pada diri mereka itu sudah berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah Tuhan.
Apabila kita masih belum mengenal diri kita - sebagai INSAN, maka kita dengan sendirinya masih berkutat di alam vegetatif dan hewani...karena jiwa2 tersebut hanya mengalir begitu saja dengan sendirinya , tanpa adanya 'pengendalian'.
Manusia - INSANIYAH akan mengaktualisasikan segala potensi dirinya sesuai dengan yang seharusnya - sebagai INSAN ( MA'RIFAT RABANI ) , dia tidak akan 'stuck' di nafs hewaninya saja ( tindakan hewan; makan, minum, tidur, syahwat, berkembang biak, bekerja untuk memenuhi syahwatnya )
Ini mungkin yang dimaksud Imam Ali as agar kita mengenal Tuhannya, karena hanya INSAN yang dapat mengenal Sang Penciptanya. Sedangkan tumbuh-tumbuhan dan hewan hanya menjalani sesuatu yang mereka inginkan - 'goes with the flow' aja ini adalah statement alam hewani??? so we need to be careful!! if we wanna a be a real HUMAN.
Tentunya untuk menjadi INSAN, kita harus dengan sadar dan taat akan hukum-hukum Tuhan- mengikuti prosedurNYA- undang-undangNYA- peraturanNYA - tunduk dan paham akan sistem penciptaan ( sunatullah - hukum sebab akibat ), tidak hanya dengan keinginan kita saja, yang belum tentu dan kebanyakan bertentangan dengan keinginan Tuhan- Sang Maha Pencipta Alam Semesta ini.....wallahualam bishwawab...
Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
The Impact of Islamic Revolution on my life (Shaban 1437H - Haul of Imam Khomeini (ra ) Bismilillahirahmanirrahim Allahumma s...
-
Seorang Nasrani bertanya pada Imam Muhammad al Bagir as : "Siapakah Muslim yang sebenarnya? Imam menjawab : " Orang yang lidahnya ...

Saya pernah baca tulisan seorang (lulusan madrasah) Wahabi, yang mendaifkan hadis di awal tulisan. "Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya"
ReplyDeletePadahal hadis tsb bersesuaian makna dengan ayat: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (QS. 59: 19)
Para Wahabian itu segala yang 'Shahih & Mutawatir' aja di sengaja di 'dhaif' kan, karena memang agenda mereka untuk menutupi segala yang HAQ menjadi samar...Maha Benar Allah SWT dengan segala firmanNYA..shalawat
ReplyDelete