Newly Discovery Gold Coin from the era of Fatimiad
http://www.huffingtonpost.com/2015/02/19/gold-coins-israel-discovered-video-photos_n_6707540.html
Writen there : " Muhammad Rasulullah Aliyin Wallyallah :
The Art of Listening
" There is a voice that does not use words. Listen. " ~ Rumi
" One of the most sincere forms of respect is actually listening to what another has to say "
Mendengarkan lawan bicara, terdengar seperti hal yang biasa dan sudah menjadi sebuah keniscayaan, benarkah?
Perhatikanlah , apakah kita benar-benar pernah mendengarkan jawaban atau pernyataan lawan bicara kita?
Sungguh jarang kita benar2 mendengarkan apa yang di katakan lawan bicara kita ( ya tentu kita mendengar sebagai suara saja ), tetapi ketika lawan bicara hendak menanggapi jawaban kita, kebanyakan kita hanya sibuk mencari jawaban yang sesuai dengan konsep yang kita punya tanpa memahami apa yang di katakan lawan bicara, kita sibuk memikirkan dan berkecenderungan ingin memaksakan apa yang ada di pikiran kita untuk dipahami lawan bicara.
Ok, kita harus mempertahankan konsep yang kita punya, tetapi cobalah mencoba mendengarkan lawan bicara, karena siapa tahu tanpa kita harus lagi beragumen, kesepakatan itu sebenarnya sudah ada.
Sehingga ketegangan tidak akan terjadi . Yang harus kita selalu lakukan adalah mengkonfirmasi dengan pertanyaan apakah maksud dari pernyataannya. Mengulang dan mencoba memahami maksud pernyataan tsb, baru kita menyatakan pendapat kita.
Belajar memahami pendapat dan opini lawan bicara merupakan sebuah pembelajaraan khusus dan memerlukan banyak latihan2. Karena manusia pada dasarnya sangat mencintai dirinya, menganggap dirinya yang paling benar, senang memaksakan pendapatnya pada orang lain, tanpa melihat latar belakang lawan bicara.
Ingatkah kita, bagaimana Rasulullah sawa berbicara pada para sahabatnya, beliau sawa berbicara berbeda antara satu sahabat yang satu dengan yang lainnya, karena kapasitas mereka masing2 berbeda dan tidak pernah memaksakan pendapatnya walau sudah barang tentu beliau sawa bicaranya pasti benar. Bandingkan dengan kita yang belum tentu benar dengan pendapat2 kita tetapi selalu ingin memaksakan pendapat kita pada orang lain.
Menggunakan analogi dan logika adalah cara netral untuk dapat selalu menyatakan pendapat kita tanpa ada keinginan agar opini kita diterima lawan bicara. Pemaksaan dalam bentuk apapun bukan sebuah cara untuk dapat berkomunikasi. Berdialog dengan hikmah serta kebaikan yang dicontohkan Rasulullah dan di sarankan al Quran adalah cara terbaik untuk menghasilkan win win komunikasi.
Kunci dari sebuah dialog adalah mendengarkan dengan seksama serta penuh perhatian pada lawan bicara.
Sekali lagi ini adalah sebuah keahlian yang perlu di pelajari dan dilatih, Tuhan selalu menyediakan potensi2 tetapi untuk menjadi sebuah atribut, kita perlu menggali dan mengaktualisasikannya, serta melatihnya berulang-ulang.
Penghalang kita pada setiap aktualisasi potensi atribut2NYA hanyalah ego kita, yang tidak mudah untuk dapat disingkirkan begitu saja, tanpa adanya usaha keras ,tekad, kesabaran dan iman kita padaNYA.
Semoga kita semua dapat selalu menaklukan ego kita dalam setiap kesempatan menjalankan kehidupan ini, dan dapat menjadi 'insan' pengESA sejati, seorang muwahid yang pandai mendengar.
Wallahualam bishawab. Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. Adrikna Ya MAHDI
Against all Odds
Waktu terus berjalan...Tahun terus berganti...Telah cukup lama kita hidup di bumiNYA, tetapi kenapa semua yang terlihat dan berjalan ini sepertinya malah membuat manusia dan peradabannya semakin mundur kebelakang,
Terus menjauh dari sisi kemanusiaannya sendiri, terpuruk sehingga manusia menjadi semakin jauh dari objek penciptaanNYA. ( Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKU "- QS 51 : 56 ).
Sistim kehidupan yang telah dirancangNYA seolah telah di rekayasa agar semua menjadi jauh dari rancangan dan rencanaNYA semula.
Lihatlah semua apa yang sedang terjadi di sekitar kita, lihatlah kita yang selalu sibuk dengan gadget2 kita walau sedang berbincang atau berkumpul dengan sanak saudara dan teman2, juga ketika kita sedang berbelanja untuk kebutuhan sehari2, di super market , kita hanya ambil barang2 itu sendiri, lalu si kasir menyebut jumlah yang harus dibayar kadang tanpa melihat wajah kita, tidak ada komunikasi apalagi ramah tamah lagi diantara masyarakat sekeliling kita.
Pada awalnya , memang sangat praktis dan efisien, tapi lambat laun perilaku seperti itu sudah menjadi kebiasaan dan telah melekat pada diri kita. Sepertinya kita telah mereduksi fitrah diri kita dengan hanya peduli pada kebutuhan kita saja , apabila kita melayani pun itu karena ada pamrih, karena kita dibayar untuk itu.
Belum lagi jenis makanan yang kita konsumsi, semakin jauh dari nutrisi dan vitamin2 yang sesungguhnya di butuhkan oleh tubuh kita.
Kita seperti telah dipaksa untuk mengkonsumsi makanan cepat saji alias fast food bahkan junk food ( makanan sampah ) , yang harganya pun kebanyakan tidak murah juga. Yang ekonominya pas2an , juga akhirnya tersedia makanan2 goreng2an yang sangat mudah di buat dan harganya sangat terjangkau dan sangat disukai semua kalangan.
Pokoknya lumayan untuk ganjel2 kalo lagi laper... belum lagi banyak aneka cemilan kue2 kering dan basah yang terbuat dari terigu yang full karbohidrat. Sementara makanan atau buah2 an dan sayur2an pun yang di katagorikan sehat, yang masih 'pure', yang istilah kerennya ' organik' , itu harganya cukup mahal, padahal seharusnya yang langsung dari 'farmer' atau tinggal metik harusnya lebih murah...tapi kini semua dibuat nya eksklusif dengan packaging yang rapi sehingga harganya mahal.
Sekarang bagaimana dengan orang miskin dan ekonomi pas2an ingin hidup sehat juga?..Aneh sekali, seharusnya, orang2 miskin jauh bisa lebih hidup sehat dan membeli dengan harga murah dan terjangkau. Masalahnya para petani hanya dapat menjual murah pada pedagang, dan pedagang akan menjual ke kota2 besar atau di ekspor dengan harga yang berpuluh2 kali lipat.
Mata rantai itu terus bergulir dengan berjalannya waktu, hingga si miskin tetap miskin dan si kaya terus mengeruk keuntungan.
Logikanya, negeri kita ini negeri yang terkenal dengan gemah ripah loji nawi nya, tanah surga, apapun yang kita lempar di tanah kita langsung dapat tumbuh. Petani pun , dapat menjual murah pada masyarakat dan dapat mengambil keuntungan dengan mengekspor ke luar wilayahnya.
Tetapi fakta yang ada masyrakat kita lebih menyukai barang impor , yang terparah nya sampai beras dan garam pun harus impor. Ini yang di luar akal sehat kita, kenapa kita tidak memproduksi yang bahan mentahnya tersedia di negeri sendiri, sehingga masyarakat kita dapat mengkonsumsi yang sehat dan murah dan dapat mengambil untung dengan mengekspor,
Sebaliknya kita lebih suka membeli dari luar negeri yang harganya berlipat2 tentunya, sehingga kita menjadi bangsa yang konsumtif,dan tidak mempunyai kebanggaan pada produk negeri sendiri, bahkan melecehkannya dan lebih bangga menggunakan dan mengkonsumsi semua yang datang dari luar negeri.
Inilah penyakit di jaman kontemporer ini, selalu mencari di luar diri kita, bukan hanya barang2 yang akan dikonsumsinya, bahkan keotentikan dirnya pun tak di hiraukan hingga lambat laun hilang lenyap dan menjadi asing . Mereka menjadi asing bagi dirinya sendiri.
Dan ini adalah awal dari sebuah kehancuran , karena akan menjauhkan diri kita dari tempat asalnya, sehingga kita tidak lagi mengenal diri kita lagi.
Melawan arus deras pengaruh 'asing harus di jadikan awal resolusi di tahun baru ini. Belajar mengenal diri diawali dengan menggali potensi2 yang kita punyai dan perlahan2 mencoba mengaktualisasikannya di kehidupan kita. Otomatis apabila kita telah mengenal potensi diri. kita akan mencintai apa yang ada di dalam diri kita dan tidak membutuhkan lagi apa2 yang datang dari luar. Formula yang sama , hendaknya kita terapkan pada semua yang kita sedang jalani di kehidupan ini.
Melawan gravitasi adalah menjadi sebuah keniscayaan bagi yang tidak ingin kehilangan jati dirinya, Diri yang kian hari tercemar, tergerus dengan arus superfisial kehidupan yang hanya menampilkan cangkang, imej semata,
Upaya menjauhkan manusia dari fitrah dirinya adalah sebuah agenda konspirasi yang telah di canangkan oleh para iblis setan yang terkutuk sejak terusir dari surga. Dan mereka benar2 kehilangan harapannya ketika Nabi Allah kekasihNYA lahir di muka bumi ini, karena mereka para iblis itu tak dapat lagi keluar masuk surga.
Selamat pada Muhammad terakhir dan para muslimin di hari kelahiran manusia suci nan agung kekasih Allah Muhammad pertama putra Abdullah.
Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. Adrikna Ya Mahdi
Terus menjauh dari sisi kemanusiaannya sendiri, terpuruk sehingga manusia menjadi semakin jauh dari objek penciptaanNYA. ( Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKU "- QS 51 : 56 ).
Sistim kehidupan yang telah dirancangNYA seolah telah di rekayasa agar semua menjadi jauh dari rancangan dan rencanaNYA semula.
Lihatlah semua apa yang sedang terjadi di sekitar kita, lihatlah kita yang selalu sibuk dengan gadget2 kita walau sedang berbincang atau berkumpul dengan sanak saudara dan teman2, juga ketika kita sedang berbelanja untuk kebutuhan sehari2, di super market , kita hanya ambil barang2 itu sendiri, lalu si kasir menyebut jumlah yang harus dibayar kadang tanpa melihat wajah kita, tidak ada komunikasi apalagi ramah tamah lagi diantara masyarakat sekeliling kita.
Pada awalnya , memang sangat praktis dan efisien, tapi lambat laun perilaku seperti itu sudah menjadi kebiasaan dan telah melekat pada diri kita. Sepertinya kita telah mereduksi fitrah diri kita dengan hanya peduli pada kebutuhan kita saja , apabila kita melayani pun itu karena ada pamrih, karena kita dibayar untuk itu.
Belum lagi jenis makanan yang kita konsumsi, semakin jauh dari nutrisi dan vitamin2 yang sesungguhnya di butuhkan oleh tubuh kita.
Kita seperti telah dipaksa untuk mengkonsumsi makanan cepat saji alias fast food bahkan junk food ( makanan sampah ) , yang harganya pun kebanyakan tidak murah juga. Yang ekonominya pas2an , juga akhirnya tersedia makanan2 goreng2an yang sangat mudah di buat dan harganya sangat terjangkau dan sangat disukai semua kalangan.
Pokoknya lumayan untuk ganjel2 kalo lagi laper... belum lagi banyak aneka cemilan kue2 kering dan basah yang terbuat dari terigu yang full karbohidrat. Sementara makanan atau buah2 an dan sayur2an pun yang di katagorikan sehat, yang masih 'pure', yang istilah kerennya ' organik' , itu harganya cukup mahal, padahal seharusnya yang langsung dari 'farmer' atau tinggal metik harusnya lebih murah...tapi kini semua dibuat nya eksklusif dengan packaging yang rapi sehingga harganya mahal.
Sekarang bagaimana dengan orang miskin dan ekonomi pas2an ingin hidup sehat juga?..Aneh sekali, seharusnya, orang2 miskin jauh bisa lebih hidup sehat dan membeli dengan harga murah dan terjangkau. Masalahnya para petani hanya dapat menjual murah pada pedagang, dan pedagang akan menjual ke kota2 besar atau di ekspor dengan harga yang berpuluh2 kali lipat.
Mata rantai itu terus bergulir dengan berjalannya waktu, hingga si miskin tetap miskin dan si kaya terus mengeruk keuntungan.
Logikanya, negeri kita ini negeri yang terkenal dengan gemah ripah loji nawi nya, tanah surga, apapun yang kita lempar di tanah kita langsung dapat tumbuh. Petani pun , dapat menjual murah pada masyarakat dan dapat mengambil keuntungan dengan mengekspor ke luar wilayahnya.
Tetapi fakta yang ada masyrakat kita lebih menyukai barang impor , yang terparah nya sampai beras dan garam pun harus impor. Ini yang di luar akal sehat kita, kenapa kita tidak memproduksi yang bahan mentahnya tersedia di negeri sendiri, sehingga masyarakat kita dapat mengkonsumsi yang sehat dan murah dan dapat mengambil untung dengan mengekspor,
Sebaliknya kita lebih suka membeli dari luar negeri yang harganya berlipat2 tentunya, sehingga kita menjadi bangsa yang konsumtif,dan tidak mempunyai kebanggaan pada produk negeri sendiri, bahkan melecehkannya dan lebih bangga menggunakan dan mengkonsumsi semua yang datang dari luar negeri.
Inilah penyakit di jaman kontemporer ini, selalu mencari di luar diri kita, bukan hanya barang2 yang akan dikonsumsinya, bahkan keotentikan dirnya pun tak di hiraukan hingga lambat laun hilang lenyap dan menjadi asing . Mereka menjadi asing bagi dirinya sendiri.
Dan ini adalah awal dari sebuah kehancuran , karena akan menjauhkan diri kita dari tempat asalnya, sehingga kita tidak lagi mengenal diri kita lagi.
Melawan arus deras pengaruh 'asing harus di jadikan awal resolusi di tahun baru ini. Belajar mengenal diri diawali dengan menggali potensi2 yang kita punyai dan perlahan2 mencoba mengaktualisasikannya di kehidupan kita. Otomatis apabila kita telah mengenal potensi diri. kita akan mencintai apa yang ada di dalam diri kita dan tidak membutuhkan lagi apa2 yang datang dari luar. Formula yang sama , hendaknya kita terapkan pada semua yang kita sedang jalani di kehidupan ini.
Melawan gravitasi adalah menjadi sebuah keniscayaan bagi yang tidak ingin kehilangan jati dirinya, Diri yang kian hari tercemar, tergerus dengan arus superfisial kehidupan yang hanya menampilkan cangkang, imej semata,
Upaya menjauhkan manusia dari fitrah dirinya adalah sebuah agenda konspirasi yang telah di canangkan oleh para iblis setan yang terkutuk sejak terusir dari surga. Dan mereka benar2 kehilangan harapannya ketika Nabi Allah kekasihNYA lahir di muka bumi ini, karena mereka para iblis itu tak dapat lagi keluar masuk surga.
Selamat pada Muhammad terakhir dan para muslimin di hari kelahiran manusia suci nan agung kekasih Allah Muhammad pertama putra Abdullah.
Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. Adrikna Ya Mahdi
Just Be 'your' self Lady...
" Woman is a delicate creature with strong emotions, who has been created by the Almighty God to shoulder responsibility for educating society and moving forward perfection. God created woman as symbol of His own Beauty and give solace to her partner and her family "
( Imam Ali a.s )
yang kurang lebih terjemahannya adalah
" Perempuan itu adalah makhluk ciptaanNYA yang lemah lembut, peka dengan emosi yang kuat, yang Allah SWT ciptakan untuk mengemban tanggung jawab dalam mendidik masyarakat dan menggerakannya ke sebuah kesempurnaan . Allah SWT ciptakan perempuan sebagai simbol dari KeindahanNYA dan menjadikan hiasan untuk pasangannya dan keluarganya ".
Ini adalah sebuah ungkapan yang sangat dahsyat yang dijabarkan oleh Imam Ali a.s untuk mendifinisikan seorang perempuan. Sungguh ironis tentunya apabila perempuan di dalam masyarakat di dunia ini masih sering dijadikan polemik perdebatan, dimana perempuan masih dianggap sebagai makhluk ciptaanNYa yang rendah atau dimasukan sebagai masyarakat seken klas di sebuah komunitas, baik di masyarakat muslim maupun di masyarakat barat, yang hingga menimbulkan istilah feminisme , kesetaraaan gender dlsbnya.
Tuhan saja Sang Pencipta makhluk-makhluk sekaligus pencipta seluruh yang ada di alam semesta ini saja, begitu sangat meninggikan derajat perempuan . Betapa aneh masih banyak perempuan sendiri yang dengan suka rela ataupun secara tidak sadar telah merendahkan dirinya dan membenarkan tuduh-tuduhan pernyataan opini publik yang tentunya tidak benar ini.
Tidak ada satu ciptaan Tuhan di alam ini yang diciptakan sama. Bahkan si kembar pun setelah di teliti DNA dan sidik jari nya tidak pernah ada yang sama. Perempuan dan laki-laki memang dari jenis yang sama yaitu makhluk yang bernama manusia , seperti juga buah-buahan, ada buah jeruk, apel dlsb.
Ya, mereka dari spesies buah-buahan tetapi rasa dan khasiat masing-masing berbeda. Begitu juga perempuan dan laki-laki , Tuhan ciptakan dengan bentuk dan fungsi yang berbeda. Sungguh aneh, apabila perempuan ingin disamakan seperti laki-laki, karena takut disebut bahwa dirinya lebih rendah dari lelaki atau takut disebut lemah dibandingkan laki-laki.
Adapun Islam sebagai agama samawi dengan nabi penutup Muhammad ibn Abdillah saww , dengan jelas meletakan perkara ini secara komprehensif dan masuk akal , sebagaimana di ungkap oleh Ayatullah Ali Khamanei- Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran :
"Islam memandang laki-laki itu kuat dan perempuan itu lemah lembut dan elegant. Ini bukan berarti penghinaan terhadap kaum perempuan ataupun laki-laki; dan bukan menafikan hak-hak perempuan ataupun laki-laki; ini adalah pandangan natur yang benar. Sesungguhnya inilah yang setara dan seimbang
, yang mana apabila kita letakkan timbangan , gender kelemah lembutan dan elegan pada sumber ketenangan dan keindahan di dalam rumah dan keseimbangan lain pada gender mengatur pekerjaan yang mana itu adalah sumber kepercayaan, tempat bergantung dan pelindung kaum perempuan ada di timbangan yang lain, sehingga kedua timbangan itu menjadi seimbang. Tidak ada yang lebih baik tanpa adanya satu dan lainnya". ( Ayatullah Ali Khamanei )
Apabila setiap makhluk ciptaanNYA itu mengetahui apa sesungguhnya fungsi dirinya dan mengetahui untuk apa dia diciptakan, maka semuanya akan berjalan seiring sejalan sesuai dengan yang telah diaturNYA. Semua diatur sesuai dengan perintahNYA, matahari tidak harus menjadi bulan, begitu juga bulan tidak ingin menjadi matahari, semua berfungsi sesuai dengan yang di perintahkanNYA. Maka semua berjalan dengan harmonis dan teratur. Ini yang di dalam ilmu agama disebut sunatullah. Dengan menjalankan sunatullah tentunya selain mendapatkan berkah dan pahala juga akan menyelamatkan kita dari segala kerusakan diri dan alam sekitar kita. Karena hanya DIA lah yang Maha Mengetahui dan DIA pulalah yang Maha Pengatur Alam Semesta dan semua sistem Penciptaan alam ada di bawah pantauanNYA.
Jelas , barangsiapa yang melawan sunatullah , maka ketidak nyamanan dan kerusakan akan mendekati dirinya. Sehingga dirinya akan mengalami berbagai keresahan diri dan akan cenderung merusak lingkungan sekitarnya ( sadar ataupun tidak )
Ternyata dampak dari tidak mengenal diri, tidak se simple yang kita bayangkan. Timbulnya penyakit akibat tidak mengenal dirinya, biasanya mereka selalu ingin mencari sesuatu di luar dirinya, dengan mengkopi perilaku orang-orang yang dianggapnya ok oleh dirinya sebagai role model. Sialnya yang di jadikan role modelnya biasanya seorang yang populer yang sebetulnya dianya sendiri tidak mengenal siapa dirinya yang sebenarnya, hanya modal berani dan nekad tampil beda, lalu kita memandangnya seperti seorang yang 'cool' . Karena dalam diri-diri orang yang 'kehilangan diri'nya, ada semacam dorongan untuk memberontak dan mendamba perhatian banyak orang.
Mereka yang tidak mengenal jati dirinya itu, selalu dalam keadaan resah , hanya 'concern' dengan segala penampilan fisik dirinya, takut disebut 'jelek', tidak trendy, dlsbnya. Sehingga terus berusaha meng-update dirinya dengan berbagai penampilan fisik , dengan menggunakan asesoris yang sedang nge-trend, pokoknya harus seperti yang di jajakan produsen iklan yang sedang di iklankan di TV, majalah-majalah populer , pokoknya terlihat trendy , dan itu akan membiarkan kepuasan sementaranya. ( karena setelah itu, masalah dirinya terus akan muncul dan ia terus tambah nekat untuk bergaya agar dapat menjadi pusat perhatian ).
Inilah akibat seorang yang sebenarnya adalah telah kehilangan dirinya dan tidak tahu lagi siapa dirinya yang sebenarnya , sehingga menjadi seperti yang dia idolakan seolah itulah dirinya. Sementara kita tadi telah bahas, Tuhan Sang Pencipta , tidak pernah ciptakan satupun yang sama di bumiNYA ini. Kita semua saling melengkapi satu dengan yang lain agar semua berjalan harmonis sesuai dengan sunatullah. ( tlah banyak contoh, misalnya untuk membangun sebuah rumah, itu harus ada berbagai banyak unsur untuk bisa menjadi sebuah rumah, ada pasir, semen, batu bata, dlsbnya, bayangkan apabila hanya di buat dengan bata saja tanpa semen dan pasir? so never wanna be like others, as other got other task and nobody has the same tasks anyway ) . Kesempurnaan sesuatu itu akan tumbuh dengan memadukan berbagai unsur , sehingga terlihat indah, itulah cara Tuhan menciptakan setiap ciptaanNYA di muka bumiNYA ini, tidak terkecuali perempuan dan laki-laki untuk spesies manusia.
Mengetahui , siapa diri kita sebenarnya ( mengenal diri kita, utk apa kita diciptakan ) akan memudahkan hidup kita untuk menjalankan kehidupan di bumiNYA. Bagi seorang perempuan, menyadari siapa dirinya, sebagai seorang perempuan yang Allah SWT ciptakan tanpa kesalahan bahwa anda adalah seorang perempuan bukan seorang laki-laki. Lalu mengetahui 'persyaratan' ( cek fiqih nya/ahkam ) bagaimana berperilaku atau menjalani hidup sebagai seorang perempuan. Intinya apabila kita mengetahui siapa diri kita, kita akan mengenal potensi-potensi yang Tuhan berikan pada diri kita, sehingga kita akan terus menggali potensi-potensi tsb sebagai aset diri kita dan terus mencoba mengaktualisasikan semaksimal mungkin sesuai dengan sunatullah ( spt yang Tuhan inginkan dari kita sebagai seorang perempuan - termaktub semua di dalam kitab suciNYA Al Quran ) .
Inilah keadilan Tuhan, dan ajaran Islam yang sesungguhnya, menempatkan sesuatu pada tempatnya . Islam ajaran satu2nya yang meninggikan derajat perempuan, menempatkan sesuai dengan kadarnya sebagai perempuan. Publik opini yang terbentuk untuk menjatuhkan Islam melalui kaum perempuan adalah masa lalu, marilah kita bangun opini sesuai dengan ajaran Tuhan Yang SATU ajaran terakhir ISLAM. Perempuan adalah kaum pendidik, dan pendidik itu harus berilmu pengetahuan dan perempuan bertanggung jawab untuk mendidik masyarakat sekitarnya, mustahil masyarakat akan berjaya, bila para pendidiknya bukan dari muslimah yang saleh dan tidak mengenal ajaran Sang Pencipta dan Peciptanya.Dan bagaimana mungkin keluarga dan pasangannya akan merasa tenang dan nyaman apabila perempuan yang hanya sibuk mengekspos dirinya sehingga tidak menjaga ajaran Tuhannya.
Be real, be your self Lady, jadilah seperti yang Tuhan inginkan, karena tanggung jawabmu begitu besar, melahirkan serta mendidik generasi penerus bangsa , untuk memaslahatkan masyarakat sekitar dengan potensi dan aset yang Tuhan telah berikan padamu. At the end of the Time, itulah yang akan Tuhanmu pertanyakan pada dirimu, sudahkah kita berada di jalanNYA seperti yang telah diperintahkanNYA. Plz do NOT underestimate your potential of your self ( akibat tidak mengenal diri kita yang sebenarnya ) .
Bihaqi Fatimah wa abiha wa baliha wa baniha, semoga kita dapat menjalankan tugas kita yang telah Tuhan berikan pada kita dengan sebaik mungkin dan apapun usaha kita diterimaNYA dan selalu menjadikan Fatimah Az Zahra a.s putri Rasulullah sebagai role model dalam setiap usaha kita sehingga in sha Allah beliau a.s. menerima dan memberikan syafaatnya kelak.
Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. Adrikna YA MAHDI
The TEST
" Life is the most difficult Exam , many people fail because they try to copy others. Not realising that everyone has a different question paper! "
( unknown)
' Hidup adalah ujian yang sulit, banyak orang gagal karena mereka mecoba mengkopi orang lain. Tanpa menyadari bahwa setiap manusia mempunyai pertanyaan ujian yang berbeda.'
Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan satu dengan yang lainnya, bahkan si kembar sekalipun walau bentuk fisiknya sama, tetapi sidik jarinya atau karakternya pun berbeda, tidak pernah ada yang sama. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian ilmiah sekalipun.
Keaneka ragamaan yang Tuhan ciptakan ini adalah sebuah karunia indah Sang Pencipta Alam Semesta ini.
Sungguh aneh bin ajaib, apabila kita sebagai makhluk ciptaanNYA sangat menginginkan apapun yang kita lihat di sekitar kita itu harus sama, seperti kita, harus sesuai dengan yang kita kehendaki, sementara Tuhan Sang Pencipta Seluruh alam semesta ini saja, menciptakan keragaman pada setiap ciptaanNYA.
Inilah cikal bakal penderitaan manusia, yang di ciptakannya sendiri, demi memenuhi kepuasaan egonya. Apabila kita urai satu persatu segala konflik yang terjadi di sekitar kita atau yang sedang terjadi di dunia ini , semua berasal dari penolakan manusia pada yang berbeda dari apa yang ada pada dirinya, TETAPI aneh bin ajaib pula bahwa pada saat yang sama mereka ingin sama seperti yang lain, yang mereka anggap baik sesuai dengan selera nya sehingga dia merasa bagian dari kebanyakan. Untuk hal ini pun mereka rela untuk berpura-pura menjadi seperti orang lain atau masyarakat umum.
Potret paradoks yang kita sering lihat dan alami dalam keseharian kita ini, kebanyakan akibat cara pandang dunia kita yang salah sehingga kita terus menerus di dera di keadaan 'catch 22' yang pada akhirnya saling menyalahkan tanpa ingin mengetahui akar permasalahannya.
Seperti yang di jelaskan Tuhan di dalam kitab suciNYA bahwa hidup di dunia ini adalah ujian, hanya yang lulus ujiannya saja yang akan selamat sampai ke tujuan. Dunia ini adalah tempat kita berkarya demi meraih hasil yang akan kita petik di alam sana, bukan di sini. Artinya di dunia ini, mungkin kita atau orang menganggap kita sebagai seorang pecundang atau yang seluruh kehidupannya penuh dengan penderitaan tiada akhir, tetapi yang di lihat oleh Tuhan adalah langkah perjuangan untuk dapat terus bertahan di jalanNYA, walau kebanyakan orang menentang. Inilah yang telah dicontohkan Tuhan pada para utusanNYA di muka bumi ini seperti yang di rekam di kitab suciNYA.
Apabila kita mengamati isi dari kitab suci Tuhan, semua para utusanNYA , para nabi Tuhan selalu dalam keadaan terdzalimi dan berakhir dengan keadaan terbunuh malah mengenaskan. Tetapi ajaran mereka, terus hidup hingga sekarang dan mereka masih dikenang dan di ikuti banyak pengikutnya. Kenapa ini dapat terjadi , karena apabila kita berjalan di jalanNYA dengan penuh ketulusan dan penuh pengetahuan tentang apa sesungguhnya kehidupan di dunia ini, kita akan merasa cukup dan 'content' - dengan apa yang ada pada diri kita dan akan senang apabila kita dapat memberikan sesuatu pada yang lain.
Yang dilarang dalam agama dan tidak boleh adalah membiarkan diri kita terhina tak ada perlawanan pada apa-apa yang menimpa diri kita, menerima begitu saja tanpa ada usaha keras memperbaikinya. Karena dalam kitab suciNYA , Tuhan tidak akan pernah merubah nasib hambaNYA sampai si Hamba itu merubah nasibnya sendiri.
Mengambil contoh para utusan Tuhan, dimana mereka terus mendidik umatnya dengan penuh keyakinan walau penuh dengan tantangan dan penderitaan, mereka dapat begitu tegar, karena mereka mengetahui betul tentang apa tugas mereka dan akan janji Tuhannya, bahwa kemenangan yang hakiki itu ada di jalan Kebenaran- jalan Tuhannya.
Sehingga hasil itu tidaklah penting di alam dunia yang sementara ini, tetapi lebih terus gigih menjalankannya dengan penuh konsisten dan penuh kesadaran bahwa yang di jalaninya itu adalah jalan kebenaran - jalan Tuhannya. Hasil yang sesungguhnya adalah bagaimana perjuangan di jalan kebenaran itu, sehingga menjadi sesuatu yang monumental dan terpatri pada setiap hati yang bersih yang mendamba kebahagiaan yang sesungguhnya.
Tentunya, apabila kita mengimani para utusan Tuhan yang Tuhan kirim ke bumiNYA untuk di jadikan contoh-contoh manusia teladan, dengan sendirinya kita akan melihat jalan mereka untuk di ikuti, bukan jalan-jalan yang mudah, instan tetapi dampaknya merugikan pihak lain yang sesungguhnya merugikan diri kita sendiri. Atau hanya mengikuti kelompok kebanyakan yang mengiming2i kebahagian sesaat.
Imam Ali a.s : " Jalan kebenaran itu jalan yang sunyi yang mana engkau merasa kesepian "
Setiap manusia mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing yang satu sama lain tidaklah sama. Ujian kitapun berbeda dengan orang lain atau bahkan dengan keluarga kita sendiri, tidak pernah ada yang sama. Untuk itu kita tidak bisa selalu menyamakan apa yang kita punya ( bahagia atau derita ) dengan yang ada pada orang lain. Tuhan pun menyuruh kita agar berpuas akan apa yang di berikan pada kita dan berusaha selalu menyelesaikan segala masalah dengan jalan yang telah di tunjukiNYA.
Belajar dari kehidupan para utusanNYA, mereka diajarkan Tuhannya untuk mengabdi untuk kemanusian ( to serve the other human being ) dengan mendidik umatnya untuk tidak menjadi manusia yang egoistis yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya atau hanya mementingkan hawa nafsunya semata, mereka mengajarkan kita untuk menjadi pengkhidmat Tuhannya dengan tulus dan penuh pengorbanan. Ingatlah bahwa kehidupan kita yang sesungguhnya adalah di alam selanjutnya, begitu pula hasil dari perjuangan kita hanya dapat terbalas di alam sana, yang terlihat di alam ini hanyalah sebagian kecilnya saja.
Janji Tuhan sudah pasti benar dan pasti akan tergenapi. Berharaplah hanya padaNYA, cintailah Tuhan dengan mencintai sesama ciptaanNYA yang penuh dengan keragaman. Itulah ujian terindah yang Tuhan berikan pada setiap hambaNYA, agar dapat saling menghormati , saling menghargai sesama ciptaanNYA dengan penuh kasih sayang apapun latar belakangnya. Cinta padaNYA adalah sejatinya cinta yang tak akan mungkin bertepuk sebelah tangan.
A Life of Service: Honouring Imam Ali (as)
The English vocabulary while expansive suddenly finds itself too poor to produce sufficient words to describe the character of Imam Ali (as). The examples of his piety are an endless ocean that scholars have devoted their time to seeking. His worship remains the summit of submission to God and his humility: an everlasting illustration of how power can be used in the path of God.
Most remarkable to those who have studied the praise-worthy life and legacy of Imam Ali (as), however, is the fact he lived his in service. Many conscious Muslims who are in the process of discovering what a “life of service” is should look no further than the absolute examples left by Imam Ali (as). What more does a person require when choosing a role model than a person who lived a life in service of God, humanity, and the truth?
In Service of God
In his final will, Imam Ali (as) said, “Fear Allah in relation to your prayers. It is the pillar of your religion.” Before attempting to engage in various domains of service and activism, one should consider the qualities and levels of our worship. Imam Ali (as) provides a model of leadership and service based on the key principles of prayer, fasting, and charity. Prayer is substantial and should be used as a foundation for our work and service. Imam Ali (as) was steadfast in the fulfillment of his prayers and fasts. Neither power nor other responsibilities distracted him from this duty. In fact, Imam Ali (as) was the kind of man that could only be assassinated in his prayers because even his enemies were aware just how engrossed in prayer he would become.
During the Battle of Siffin, Imam Ali (as) would despite the danger, spread his prayer mat between two rows of fighters and perform his prayers even as arrows rained from all sides. He did not display fear of the arrows, nor the ongoing battles surrounding him. He would then complete his prayers and remain on the prayer mat to perform additional supplications. What does this teach us? The most significant lesson we can gain from this is that conviction and submission to Allah (swt) are not defined by circumstances. Rather, they are a set of principles that we must protect and value as individuals before attempting to impose them upon others through our service and leadership.
In Service of Humanity
Imam Ali (as) said, “Verily part of worship is to talk to people in a gentle manner and to spread the greeting of peace among them” (Ghurar al-Hikam). Unfortunately we live in a profane society that many of us have subconsciously grown to tolerate and accept. While we may not use cursing to get our points across to others, we find little issue with degrading, humiliating, and disrespecting others who may disagree with us. How is it that we who run small and insignificant projects and organizations find the audacity to treat other humans with such disgrace and yet the man who at one point led the Islamic world, spoke to even his enemies with the utmost respect?
Imam Ali’s commitment to humanity and just leadership is recognized by Muslims and Non-Muslims alike. In 2002, the United Nations used quotes and sayings by Imam Ali (as) in its report on Arab Human Development in hopes of inspiring its leaders to move towards treating citizens with respect and justice. Among the sayings quoted in the report was one that focuses on qualities of those who should lead others, “He who has appointed himself an Imam (ruler) of the people must begin by teaching himself before teaching others. His teaching of others must be first by setting an example rather than with his words, for he who begins by teaching and educating himself is more worthy of respect than he who teaches and educates others.”
In Service of Reform
Many in our community hold tight to the notion that reform is to do away with many current practices in order to advance. This is not always a valid belief. True reform should be geared towards becoming compliant with Islamic laws, the expectations Allah (swt) has for each of us, and the teachings of the Prophet and Imams (peace be upon them all). Imam Ali (as) during his Imamate sought to enhance the conditions of the Ummah to allow it to reach its full potential. He was among few during and after his era who maintained the highest regard for human rights. He ruled based on four Islamic principles: the right to live, the right of thought, the right of action, and the right of racial equality. Although Imam Ali (as) was ruling based on Islamic decrees, he was politically and socially ahead of his time. In fact, many Western societies have only in the past century or two began to embrace concepts that to Imam Ali (as) were non-negotiable and afforded by him to all individuals living under his leadership.
In Service to the Prophet (pbuh)
Imam Ali’s life was also defined by his unwavering loyalty to the Prophet Muhammad (pbuh). In an age where many defeated individuals continue to launch attacks against the esteemed character of our Prophet, it is important to be reminded that we owe him a service also. We can look towards Imam Ali’s actions and words for inspiration on how to defend and represent our Prophet. It is true that none of us will be able to achieve the level of loyalty and brotherhood found between the Prophet and Imam Ali who slept in the Prophet’s bed when he knew an assassination attempt was about to occur. However, his dedication to the Prophet in life and death situations should inspire us who are functioning under much more ideal circumstances to rise to the occasion and become the Prophet’s representatives through our words, actions, and beliefs.
Imam Ali (as) said, “Blessings are for the man who humbles himself before Allah, whose sources of income are honest, whose intentions are always honorable, whose character is noble, whose habits are sober, who gives away in the cause and in the Name of Allah, the wealth which is lying surplus with him, who controls his tongue from vicious and useless talk, who abstains from oppression, who faithfully follows the traditions of the Holy Prophet and who keeps himself away from innovation in religion."
By Huda Jawad
Huda Jawad is a writer and editor of Islamic texts who currently lives in the United States. She has a degree in teaching with an emphasis on social sciences and manages various educational outreach projects in the United States including leading the Committee to Improve Islamic School Teaching in the United States (CIS)
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
The Impact of Islamic Revolution on my life (Shaban 1437H - Haul of Imam Khomeini (ra ) Bismilillahirahmanirrahim Allahumma s...





