The TEST


" Life is the most difficult Exam , many people fail because they try to copy others. Not realising that everyone has a different question paper! "  
( unknown)
 
' Hidup adalah ujian yang sulit, banyak orang gagal karena mereka mecoba mengkopi orang lain. Tanpa menyadari bahwa setiap manusia mempunyai pertanyaan ujian yang berbeda.'

Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan satu dengan yang lainnya, bahkan si kembar sekalipun walau bentuk fisiknya sama, tetapi sidik jarinya atau karakternya pun berbeda, tidak pernah ada yang sama. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian ilmiah sekalipun.

Keaneka ragamaan yang Tuhan ciptakan ini adalah sebuah karunia indah Sang Pencipta Alam Semesta ini.

Sungguh aneh bin ajaib, apabila kita sebagai makhluk ciptaanNYA sangat menginginkan apapun yang kita lihat di sekitar kita itu harus sama, seperti kita, harus sesuai dengan yang kita kehendaki, sementara Tuhan Sang Pencipta Seluruh alam semesta ini saja, menciptakan keragaman pada setiap ciptaanNYA.

Inilah cikal bakal penderitaan manusia, yang di ciptakannya sendiri, demi memenuhi kepuasaan egonya. Apabila kita urai satu persatu segala konflik yang terjadi di sekitar kita atau yang sedang terjadi di dunia ini , semua berasal dari penolakan manusia pada yang berbeda dari apa yang ada pada dirinya, TETAPI aneh bin ajaib pula bahwa pada saat yang sama mereka ingin sama seperti yang lain, yang mereka anggap baik sesuai dengan selera nya sehingga dia merasa bagian dari kebanyakan. Untuk hal ini pun mereka rela untuk berpura-pura menjadi seperti orang lain atau masyarakat umum.

Potret paradoks yang kita sering lihat dan alami dalam keseharian kita ini, kebanyakan akibat cara pandang dunia kita yang salah sehingga kita terus menerus di dera di keadaan 'catch 22' yang pada akhirnya saling menyalahkan tanpa ingin mengetahui akar permasalahannya.

Seperti yang di jelaskan Tuhan di dalam kitab suciNYA bahwa hidup di dunia ini adalah ujian, hanya yang lulus ujiannya saja yang akan selamat sampai ke tujuan. Dunia ini adalah tempat kita berkarya demi meraih hasil yang akan kita petik di alam sana, bukan di sini. Artinya di dunia ini, mungkin kita atau orang menganggap kita sebagai seorang pecundang atau yang seluruh kehidupannya penuh dengan penderitaan tiada akhir, tetapi yang di lihat oleh Tuhan adalah langkah perjuangan untuk dapat terus bertahan di jalanNYA, walau kebanyakan orang menentang. Inilah yang telah dicontohkan Tuhan pada para utusanNYA di muka bumi ini seperti yang di rekam di kitab suciNYA.

Apabila kita mengamati isi dari kitab suci Tuhan, semua para utusanNYA , para nabi Tuhan selalu dalam keadaan terdzalimi dan berakhir dengan keadaan terbunuh malah mengenaskan. Tetapi ajaran mereka, terus hidup hingga sekarang dan mereka masih dikenang dan di ikuti banyak pengikutnya. Kenapa ini dapat terjadi , karena apabila kita berjalan di jalanNYA dengan penuh ketulusan dan penuh pengetahuan tentang apa sesungguhnya kehidupan di dunia ini, kita akan merasa cukup dan 'content' - dengan apa yang ada pada diri kita dan akan senang apabila kita dapat memberikan sesuatu pada yang lain.

Yang dilarang dalam agama dan tidak boleh adalah membiarkan diri kita terhina tak ada perlawanan pada apa-apa yang menimpa diri kita, menerima begitu saja tanpa ada usaha keras memperbaikinya. Karena dalam kitab suciNYA , Tuhan tidak akan pernah merubah nasib hambaNYA sampai si Hamba itu merubah nasibnya sendiri.

Mengambil contoh para utusan Tuhan, dimana mereka terus mendidik umatnya dengan penuh keyakinan walau penuh dengan tantangan dan penderitaan, mereka dapat begitu tegar,  karena mereka mengetahui betul tentang apa tugas mereka dan akan janji Tuhannya, bahwa kemenangan yang hakiki itu ada di jalan Kebenaran- jalan Tuhannya. 

Sehingga hasil itu tidaklah penting di alam dunia yang sementara ini, tetapi lebih terus gigih menjalankannya dengan penuh konsisten dan penuh kesadaran bahwa yang di jalaninya itu adalah jalan kebenaran - jalan Tuhannya. Hasil yang sesungguhnya adalah bagaimana perjuangan di jalan kebenaran itu, sehingga menjadi sesuatu yang monumental dan terpatri pada setiap hati yang bersih yang mendamba kebahagiaan yang sesungguhnya.

Tentunya, apabila kita mengimani para utusan Tuhan yang Tuhan kirim ke bumiNYA untuk di jadikan contoh-contoh manusia teladan, dengan sendirinya kita akan melihat jalan mereka untuk di ikuti, bukan jalan-jalan yang mudah, instan tetapi dampaknya merugikan pihak lain yang sesungguhnya merugikan diri kita sendiri. Atau hanya mengikuti kelompok kebanyakan yang mengiming2i kebahagian sesaat.  

Imam Ali a.s : " Jalan kebenaran itu jalan yang sunyi yang mana engkau merasa kesepian "

Setiap manusia mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing yang satu sama lain tidaklah sama. Ujian kitapun berbeda dengan orang lain atau bahkan dengan keluarga kita sendiri, tidak pernah ada yang sama. Untuk itu kita tidak bisa selalu menyamakan apa yang kita punya ( bahagia atau derita ) dengan yang ada pada orang lain. Tuhan pun menyuruh kita agar berpuas akan apa yang di berikan pada kita dan berusaha selalu menyelesaikan segala masalah dengan jalan yang telah di tunjukiNYA.

Belajar dari kehidupan para utusanNYA, mereka diajarkan Tuhannya untuk mengabdi untuk kemanusian ( to serve the other human being ) dengan mendidik umatnya untuk tidak menjadi manusia yang egoistis yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya atau hanya mementingkan hawa nafsunya semata, mereka mengajarkan kita untuk menjadi pengkhidmat Tuhannya dengan tulus dan penuh pengorbanan. Ingatlah bahwa kehidupan kita yang sesungguhnya adalah di alam selanjutnya, begitu pula hasil dari perjuangan kita hanya dapat terbalas di alam sana, yang terlihat di alam ini hanyalah sebagian kecilnya saja.

Janji Tuhan sudah pasti benar dan pasti akan tergenapi. Berharaplah hanya padaNYA, cintailah Tuhan dengan mencintai sesama ciptaanNYA yang penuh dengan keragaman. Itulah ujian terindah yang Tuhan berikan pada setiap hambaNYA, agar dapat saling menghormati , saling menghargai sesama ciptaanNYA dengan penuh kasih sayang apapun latar belakangnya. Cinta padaNYA adalah sejatinya cinta yang tak akan mungkin bertepuk sebelah tangan.











A Life of Service: Honouring Imam Ali (as)



The English vocabulary while expansive suddenly finds itself too poor to produce sufficient words to describe the character of Imam Ali (as). The examples of his piety are an endless ocean that scholars have devoted their time to seeking. His worship remains the summit of submission to God and his humility: an everlasting illustration of how power can be used in the path of God.
Most remarkable to those who have studied the praise-worthy life and legacy of Imam Ali (as), however, is the fact he lived his in service. Many conscious Muslims who are in the process of discovering what a “life of service” is should look no further than the absolute examples left by Imam Ali (as).  What more does a person require when choosing a role model than a person who lived a life in service of God, humanity, and the truth?

In Service of God

In his final will, Imam Ali (as) said, “Fear Allah in relation to your prayers. It is the pillar of your religion.” Before attempting to engage in various domains of service and activism, one should consider the qualities and levels of our worship. Imam Ali (as) provides a model of leadership and service based on the key principles of prayer, fasting, and charity. Prayer is substantial and should be used as a foundation for our work and service. Imam Ali (as) was steadfast in the fulfillment of his prayers and fasts. Neither power nor other responsibilities distracted him from this duty.  In fact, Imam Ali (as) was the kind of man that could only be assassinated in his prayers because even his enemies were aware just how engrossed in prayer he would become.
During the Battle of Siffin, Imam Ali (as) would despite the danger, spread his prayer mat between two rows of fighters and perform his prayers even as arrows rained from all sides. He did not display fear of the arrows, nor the ongoing battles surrounding him.  He would then complete his prayers and remain on the prayer mat to perform additional supplications. What does this teach us? The most significant lesson we can gain from this is that conviction and submission to Allah (swt) are not defined by circumstances. Rather, they are a set of principles that we must protect and value as individuals before attempting to impose them upon others through our service and leadership.

In Service of Humanity

Imam Ali (as) said, “Verily part of worship is to talk to people in a gentle manner and to spread the greeting of peace among them” (Ghurar al-Hikam). Unfortunately we live in a profane society that many of us have subconsciously grown to tolerate and accept. While we may not use cursing to get our points across to others, we find little issue with degrading, humiliating, and disrespecting others who may disagree with us. How is it that we who run small and insignificant projects and organizations find the audacity to treat other humans with such disgrace and yet the man who at one point led the Islamic world, spoke to even his enemies with the utmost respect?
Imam Ali’s commitment to humanity and just leadership is recognized by Muslims and Non-Muslims alike. In 2002, the United Nations used quotes and sayings by Imam Ali (as) in its report on Arab Human Development in hopes of inspiring its leaders to move towards treating citizens with respect and justice. Among the sayings quoted in the report was one that focuses on qualities of those who should lead others, “He who has appointed himself an Imam (ruler) of the people must begin by teaching himself before teaching others. His teaching of others must be first by setting an example rather than with his words, for he who begins by teaching and educating himself is more worthy of respect than he who teaches and educates others.”

In Service of Reform

Many in our community hold tight to the notion that reform is to do away with many current practices in order to advance. This is not always a valid belief. True reform should be geared towards becoming compliant with Islamic laws, the expectations Allah (swt) has for each of us, and the teachings of the Prophet and Imams (peace be upon them all). Imam Ali (as) during his Imamate sought to enhance the conditions of the Ummah to allow it to reach its full potential. He was among few during and after his era who maintained the highest regard for human rights. He ruled based on four Islamic principles: the right to live, the right of thought, the right of action, and the right of racial equality. Although Imam Ali (as) was ruling based on Islamic decrees, he was politically and socially  ahead of his time. In fact, many Western societies have only in the past century or two began to embrace concepts that to Imam Ali (as) were non-negotiable and afforded by him to all individuals living under his leadership.

In Service to the Prophet (pbuh)

Imam Ali’s life was also defined by his unwavering loyalty to the Prophet Muhammad (pbuh). In an age where many defeated individuals continue to launch attacks against the esteemed character of our Prophet, it is important to be reminded that we owe him a service also. We can look towards Imam Ali’s actions and words for inspiration on how to defend and represent our Prophet. It is true that none of us will be able to achieve the level of loyalty and brotherhood found between the Prophet and Imam Ali who slept in the Prophet’s bed when he knew an assassination attempt was about to occur. However, his dedication to the Prophet in life and death situations should inspire us who are functioning under much more ideal circumstances to rise to the occasion and become the Prophet’s representatives through our words, actions, and beliefs.
Imam Ali (as) said, “Blessings are for the man who humbles himself before Allah, whose sources of income are honest, whose intentions are always honorable, whose character is noble, whose habits are sober, who gives away in the cause and in the Name of Allah, the wealth which is lying surplus with him, who controls his tongue from vicious and useless talk, who abstains from oppression, who faithfully follows the traditions of the Holy Prophet and who keeps himself away from innovation in religion."

 By Huda Jawad

Huda Jawad is a writer and editor of Islamic texts who currently lives in the United States. She has a degree in teaching with an emphasis on social sciences and manages various educational outreach projects in the United States including leading the Committee to Improve Islamic School Teaching in the United States (CIS)

The Wolves Surrounding The Syrian Nation



The Wolves Surrounding The Syrian Nation:

1)Western Imperialism:

Syria is outside their sphere of influence unlike most Arab nations.These nations of the West were the creators of Zionism in Palestine,they are its nourishers and they insured its ignoble existence.Nations such as the US,UK,France,Germany,Canada etc are active constituents of this Western axis.

Their primary concern is the security of the Zionist regime and to ensure the total surrender of the Arabs in relation to the Palestinian question.Among the nations bordering occupied Palestine,the Egyptians and the Jordanians had already surrendered,what remained are Syria and Lebanon.The Hezbullah factor in Lebanon is the obstacle for the surrender of that country and the Assad regime in Syria is the obstacle for the surrender of that country.

These countries provides weapons,trainings,money,intelligence information and political support to the terrorist fighting in Syria.

2)Zionism In Palestine:

What forced the Zionist withdrawal from South Lebanon and Gaza was the Resistance axis that included Iran,Syria,Hezbullah and Hamas.Without these Resistance the criminal Zionist entity will still be occupying those places.Syria is the 'bridge' of this Resistance axis and 'Israel' will be most happy if this bridge is broken and destroyed.

That is why it renders all sort of support to the armed-terrorist in Syria.A weak and balkanised Syria is in the interest of the Zionist regime occupying Syria.And inversely this is detrimental to the Palestinian cause.Sadly enough we see Palestinian fighters siding with the armed-terrorist in Syria thus weakening the Palestinian cause.

3)Sectarianism:

You can call them Wahhabi or Salafist or Takfirist,they are one and the same in origin,content and substance.They hide behind Sunnism to deceive the adherents of the Sunni majority despite the fact that they considered Sunnis to be infidels or heretics.

Their home is Saudi Arabia and the official Wahhabi Clergies in that country are their spiritual masters.They follow a narrow and deviant interpretation of Islam and politically they follow the British Empire that created Saudi Arabia and after the decline of the British Empire,the leaders of Saudi Arabia are American puppets.

The countries of Saudi Arabia,Qatar and other Gulf states provides money,weapons and mobilized al-Qaida terrorist fighters across the world to Syria.

4)Erdogan Treachery:

I deliberately didn't use 'Turkish' because a large section of the Turkish society are against the treachery of Erdogan.Before the Israeli attack on the Turkish aid ship to Gaza,Turkey and Israel been American close allies were best of friends.Erdogan been a faithful servant of American imperialism serves that cause in Syria.

Turkey is the polar axis of all these aggression against the Syrian nation.Turkey offers bases for training,all weapons are channeled through Turkey to the terrorist.

5)Mercenaries And Professional Killers:

Since the petro-dollars nations are actively involved,there are lots of money in circulation.There are agents that recruits these mercenaries and we hear in Yemen of a family been given as much as 20,000 USD to release a fighter.Prisoners on death row were released and trained and send to Syria to fight by Saudi Arabia.These mercenaries are paid to fight in Syria and they come and go as the payment progresses.Some of them are retired military personnel from other nations across the world.

6)Western Puppets:

These includes countries such as Jordan and most countries of the Arab world.These are the countries that gave the sit of the Syrian government to the armed-terrorist in the Arab League.They are semi-independed nations since their rulers are lackeys of Western imperialist nations.They take orders from Washington,London and Paris on what to do and not to do.

They mostly provides political support to the armed-terrorist though we see in recent months Jordan is increasingly become a base where these terrorist are been trained.

These are the six(6) wolves surrounding the Syrian nation today


By Harun Elbinawi - Ahmadu Bello University , Zaria

Kisah teladan seorang pengikut FATIMAH Az-Zahra a.s putri Rasulullah saww


Farank Ebrahimi lahir di Arak, Iran tengah pada tahun 1971. Perempuan teladan Iran ini sarjana bahasa dan sastra Inggris ini menyelesaikan studinya di fakultas Ilmu Perhubungan Universitas New South Wales, Australia. Dengan pengalaman 13 tahun mengajar, dia aktif dalam berbagai riset. Dalam festival Sheikh Bahaee yang diselenggarakan tahun 2010, Farank Ebrahimi meraih penghargaan peneliti terbaik, perempuan teladan dan ibu inventor terkecil. Gelar terakhir ini diberikan kepadanya karena bebagai penemuan ilmiah yang dibuat putrinya, Bita Parinejad, yang baru berusia 10 tahun.

Nyonya Ebrahimi yang saat ini duduk sebagai Direktur rumah budaya ‘Mother' juga menjabat sebagai Direktur Bimbingan Belajar ‘Padideh Ertebat'. Dia sudah mematenkan tiga penemuan. Di Australia dia berhasil mematenkan penemuan teknik pendidikan bahasa. Penemuannya menempati rangking ketiga dari 300 karya yang diajukan para peserta. Patut dicatat bahwa penemuan Farank Ebrahimi ini juga dikukuhkan oleh sejumlah pakar di berbagai negara Eropa. Dia juga telah mematenkan penemuan mesin perkebunan dan formula analis kimia. Ebrahimi berhasil meraih penghargaan medali emas dan perunggu untuk penemuan tingkat dunia.

Mengenai penemuannya yaitu teknik terbaru pengajaran bahasa, Farank Ebrahimi mengatakan, "Penemuan ini adalah sejenis teknik dalam dunia pengajaran bahasa seperti bahasa Perancis, Italia, Jerman, dan Arab, dan tidak ada batasannya. Untuk mematenkan penemuan ini di Australia diperlukan waktu empat tahun. Selama masa itu, penemuan ini sudah dikaji dan dikukuhkan oleh para pakar dan ahli bahasa di Australia. Dengan metode ini bahasa diajarkan melalui bahasa ibu atau bahasa asal. Misalnya, orang Italia yang bahasa ibunya adalah bahasa Italia, jika ingin belajar bahasa Perancis maka ia mesti mempelajarinya dari bahasa ibunya yaitu bahasa Italia. Setelah mematenkan penemuan ini di Australia pada tahun 2003, saya kembali ke Iran. Sekarang, setelah mendapat pengukuhan dari Departemen Sains saya sedang menerapkan teknik ini di Iran."

Menurut wanita muslimah yang sukses ini, keimanan dan kepercayaan punya andil yang sangat besar dalam keberhasilannya. Ebrahimi mengatakan, "Kita percaya, jika Allah tidak menghendaki, selembar daunpun tidak akan jatuh dari pohon. Keimanan dan kepercayaan agama punya pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan iman, orang akan meyakini bahwa dalam setiap langkahnya, ada Yang mengawasi dan Yang membimbingnya. Dialah yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan di atas segala kekuatan materi. Mungkin fenomena materi punya posisi dan signifikansinya sendiri. Tapi kekuasaan Allah yang tak terbataslah yang menuntun manusia. Saya sekeluarga tidak mengaku sebagai keluarga yang sangat sukses. Tapi keberhasilan yang relatif kami dapatkan adalah berkat tawakal kepada Allah dan memohon tawasul dengan para imam Ahlul Bait as. Dan tentunya, ada faktor-faktor lain yang membantu keberhasilan termasuk hubungan dengan sesama manusia."

Mengenai kesulitan dalam meraih sukses, Farank Ebrahimi mengungkapkan, "Sejak tahun 2007 saya melakukan penelitian 12 program rancangan, dan tiga penemuan diantaranya berhasil saya patenkan. Saya hijrah ke Australia bersama keluarga. Sangat sulit untuk menanggung ongkos kepergian ke sana dan biaya hidup di negara dengan bahasa dan budaya yang asing apalagi dengan membawa anak yang masih kecil. Untuk membantu program kami, kami juga terpaksa menyewa jasa pengacara. Biaya untuk pengacara dam berbagai urusan hukum tentu punya msalah tersendiri. Saya hanya bisa memohon kepada Allah untuk membantu kami menanggung segala kesulitan yang ada. Sebab, saya hanya memikirkan keberhasilan dan prestasi untuk Iran. Saya ingin negara saya maju di bidang keilmuan. Setelah mematenkan penemuan, peringkat negara kita dari sisi teknik pengajaran bahasa meningkat cukup signifikan. Sekarang saya sedang berusaha agar rakyat di negara kita bisa memanfaatkan temuan ini."

Saat ditanya apakah dia menemukan kendala untuk terlibat dalam kegiatan masyarakat? Ebrahimi menjawab, "Dalam menjalankan aktivitas, saya tidak menemukan kesulitan apapun. Tentunya, ketika orang punya tujuan dam ketekunan dalam kegiatan kemasyarakatan, sekalipun gagal, dia akan bangkit kembali dengan tekad yang lebih besar untuk bergerak dan meraih sukses."

Ebrahimi menyinggung soal jilbab dan menyebutnya sebagai kehormatan dan norma kesusilaan bagi perempuan yang harus diperhatikan saat berada di tengah masyarakat. Menurutnya, perempuan ibarat mutiara dalam kerang sementara jilbab tak ubahnya bagai kerang yang menutupinya. Ketika memiliki berlian atau barang berharga tentunya kita akan melindungi dan menjaganya dengan baik supaya tidak dicuri atau dirusak oleh musuh. Jilbab bagi perempuan ibarat penjaga dan memberinya keamanan dan perlindungan di tengah masyarakat.

Bita Parinejad, putri Farank Ebrahimi lahir di kota Ahvaz, Khozestan, Iran pada tahun 2000. Sejak usia enam tahun, gadis cilik dengan kecerdasan luar biasa ini sudah mulai melakukan berbagai penelitian dengan bantuan ibunya. Dia bercita-cita menjadi ahli di bidang ilmu tanamanatau botani. Sampai saat ini, dengan usianya yang 10 tahun, Bita sudah mempatenkan empat penemuan yang meliputi alat petik buah, kursi roda pintar, vegetasi dan gardu polisi. Dia mengatakan sedang menyempurnakan ide pembuatan pesawat yang tidak memerlukan lapangan terbang. Gadis cilik ini juga sedang memikirkan membuat robot yang bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Bita Parinejad sudah mengantongi empat medali tingkat dunia. Satu medali emas satu medali perunggu didapatkannya dari pameran penemuan dunia di London tahun 2009. Di tahun yang sama, dia juga menyabet peringkat ketiga nasional dalam festival nasional inovasi yang diadakan kantor kepresidenan Iran. Saat ini, Bita mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak usia 4-6 tahun.(IRIB Indonesia)

Sebuah Renungan


Jika kita menoleh ke belakang atau mencari titik akhir dari alam material, maka kita akan menemukan benda pertama dan terkecil di dalamnya, yang disebut dengan partikel atom, energi, atau apa pun namanya. Yang pasti, terdapat sebuah entitas material yang merupakan asal-muasal alam yang kompleks ini. Ia sangat kecil dan kuat sekali.

Di antara atom, ada yang beruntung menjadi benda dan entitas fisikal (molekul) serta menyandang ciri-ciri esensial: cair, padat, atau gas. Air, batu, dan udara pun menempati level berikutnya, yang meninggalkan partikel pada level atomiknya.

Ada sekelompok benda yang berevolusi hingga mampu berkembang. Ia menjadi benda yang berkembang (tetumbuhan), mulai dari akar, bunga, tangkai, putik, buah, biji, dan daun. Ia bukan sekadar benda tetapi berkembang, mekar, dan layu. Ia bahkan dapat bernafas: menghirup udara dan menghembuskannya.

Di antara tetumbuhan, ada sekelompok maujud yang naik ke level berikutnya dan menyandang sejumlah identitas pelengkap seperti “berpenginderaan” dan “berperasaan”. Ia bukan hanya benda yang berkembang dan dinamis tetapi juga memiliki naluri dan emosi. Ia bisa merasakan benci, cinta, sayang, sedih, dan bahagia. Ia bahkan memiliki keterikatan untuk melakukan kontak seksual dan bereproduksi.

Di tengah hewan-hewan, ada yang beruntung menyandang identitas tambahan dan menjadi “berakal”. Ia tidak hanya entitas yang berperasaan dan melakukan penginderaan, tetapi mempunyai alat untuk membedakan benar dan salah; baik dan buruk; indah dan kacau. Ia pun mampu menentukan kesempurnaan dan kepatutan.

Ia adalah maujud unik (satu-satunya) yang menjadi miniatur dari semua makhluk alam ini. Semua representasi kebendaan ada di dalamnya. Ia bahkan terdiri dari tiga lapis: ruh, jiwa, dan raga. Ia merdeka dalam berkehendak bila dibandingkan dengan entitas-entitas pada level di bawahnya: binatang dan tetumbuhan. Dibanding makhluk-makhluk lainnya, ia telah menikmati kebebasan berkehendak secara lebih sempurna meskipun sarananya kadang lemah. Dialah manusia. Allah berfirman, Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah (QS. an-Nisa:27).

Ironisnya, ada saja manusia yang secara sukarela terjun bebas ke level terendah sembari melepas semua identitas-identitas kesempurnaannya. Ia puas dengan identitas ‘atomman’. Ia lebih keras daripada batu karena mengabaikan hati nurani, memakzulkan logika, serta mencerabut ciri-ciri kesempurnaannya. Dalam al-Quran, ia disebutkan, laksana batu, bahkan lebih keras.

Ada pula yang memilih untuk menjadi batu atau pasir seraya menanggalkan identitas hewani dan insaninya. Ia puas menyandang predikat ‘stoneman’ atau ‘sandman’ yang tidak bisa tegak tanpa perekat. Ia bagai debu yang berhamburan diterpa badai. Mereka bagaikan batu-batu. Ia tidak punya indera, tuli, buta, dan mati rasa. Ia hanya mengisi ruang, statis, dan jumud (padat).

Ada yang memutuskan untuk menjadi penghuni level tetumbuhan. Ia hanya peduli dengan ‘pertumbuhan’. Ia sangat merisaukan penampilan fisik serta mengkhawatirkan kelayuan, kerutan di wajah, dan lemak di tubuh. Ia seringkali menyesali bentuk-bentuk fisiknya: hidung yang terlalu mancung atau terlalu pesek, sehingga berpikir untuk ‘mempermaknya’. Ia sangat merisaukan ukuran tubuh atau siluet di perutnya karena bersalin. Ia bagaikan ‘vegetableman’, ‘woodman’ atau ‘jengkolman’ karena, baginya, pertumbuhan adalah puncak kesempurnaan. Ada pula yang tumbuh superagresif sehingga menjadi ‘parasitman’ yang merusak apa pun yang di sekitarnya.

Ada pula yang memilih bertahan di ‘kebun binatang’ dan puas dengan menjadi ‘spiderman’, ‘batman’, ‘elephantman’, atau lainnya karena, baginya, yang terpenting adalah birahi, kepuasan, keliaran, dan kebebasan. Sebagian dari mereka mengalami mutasi menjadi lalat yang berpesta dalam tong sampah, mendistrubiskan fitnah, menebar dusta, dan bahkan merawat kebencian. Sebagian lagi menjadi an’âm (hewan rumahan) yang tidak memiliki kemandirian sikap dan pendapat. Ada pula yang menjadi liar dan buas bagai aligator atau piranha. Ia tidak merisaukan soal benar dan salah, patut dan tidak patut, apalagi legal dan ilegal. Baginya, yang terpenting adalah kepuasan yang memanjakan perut dan kelamin, dan al-Quran menyebutnya sebagai “lebih keras (buas).”

Manusia sejati adalah ia yang tidak hanya puas sebagai makhluk berakal, tetapi bergerak ke atas menjadi pengiman Tuhan, agama, dan hari kebangkitan. Karena keyakinan inilah, Ali bin Abi Thalib berani memanaskan sepotong besi lalu mendekatkannya ke tubuh saudaranya, Aqil bin Abi Thalib setelah Aqil memohon untuk diberi dana “non-bugeter” dari baitulmal. Saat Aqil merintih kesakitan, Ali berkata, “Wahai Aqil, saudaraku! Apakah kau menangis karena besi ini, padahal ia dibuat oleh manusia? Lalu, mengapakah engkau suruh aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu terbakar oleh besi panas yang disiapkan Allah di akhirat?”

Rupanya di era microchip ini, manusia sejati (tanpa embel-embel ‘kebinatangan’) sudah dianggap ‘kurang manusiawi’. Karena itulah, kini yang mulai dipandang sebagai idola dan tumpuan harapan (sekaligus jurus meraih keuntungan) adalah para kelelawar, laba-laba, pinguin, dan mungkin masih banyak lagi. 

So, welcome to the jungle


( Renungan ' Spiderman ' by Dr. Muhsin Labib )

Imam Khomeini & Xmas


French physician, Dr. Louie, who was in his teens in the closing months of 1978, when the Imam made the Paris suburb of Neuphal Le Chatoux  as his temporary residence prior to his historic return form exile to Tehran, says, "That day when my father returned home from work he angrily took off his coat, sat on the sofa and said, “This year I have been stalked by misfortune. On one hand the company is facing bankruptcy and on the other, our suburb has lost its peace." My mother consoled him saying, "Don’t worry, it is said that Ayatollah Khomeini will leave within some days to Iran, so this place will become tranquil soon.”

Louie adds, "I was curious to see this great religious leader of Iran who was in our neighbourhood. I joined reporters who were daily converging on the area and went to the edge of the orchard where Imam Khomeini was staying. I saw an old but enlightened man in robes sitting cross-legged under a shady tree and talking in cool and calm voice. An aura of spirituality oozed from him. I did not realise how quickly that hour passed. I returned home in state of ecstasy and enthusiasm on having seen this divine person."

Dr Louie continues, "I told my father that if he wanted to see a personality, who inspired the same feelings as Jesus (PBUH), than he should come and hear Ayatollah Khomeini." My father was at first indifferent and said there was no difference since all priests have the same resemblance. I finally managed to convince my father and the next day we went together to see this great spiritual leader from Iran.

Ayatollah Khomeini's punctuality very much impressed me. He came on time and sat at the usual place where he used to meet the press. All stood up as a sign of respect to this great Ayatollah. He soon started speaking. Translators were on hand to render his speech into French. Minutes later, I looked at my father’s face. He was listening carefully. There was a glint in his eyes and it was apparent that he was very much impressed by Ayatollah Khomeini.

A few days later it was Christmas. We sat for the celebrations, when the doorbell suddenly rang. My father went towards the door and I followed him. A man with a bouquet of flowers and package of confectionery was standing at the door. He greeted us cheerfully and handed to my father the bouquet and the confectionery, saying, "This is a present from Ayatollah Khomeini." He congratulated us on the birthday of Jesus (PBUH) and asked forgiveness in a courteous manner if he had disturbed our Christmas celebration. My father thanked the man and stood amazed at all this love and affection from a Muslim divine."

Kenalkah kita pada diri kita?


" Barangsiapa yang mengenali dirinya , maka dia menjadi 'imaterial' "   ( Imam Ali a.s )

Mencoba memahami hadis ini, sungguh menggugah hati dan membuka mata hati kita, sehingga diri ini mulai tersadarkan, bahwa sesungguhnya apabila kita sudah dapat mengenal diri kita, kita sudah tidak tertarik lagi dengan hal-hal yang berbau materi. Oleh karenanya di hadis yang lainnya Imam Ali a.s berkata bahwa :

 ' barangsiapa yang mengenal dirinya , maka dia mengenal Tuhannya '.  

Apabila kita mengambil benang merah  dari kedua hadis ini,  terlihat bahwa jika kita telah mengenal diri kita , kita akan dapat mengenal Tuhan, dimana Tuhan itu berada di alam non materi, dan Tuhan itu sendiri adalah sesuatu yang imaterial ( abstrak )

Jadi ini dapat menjadi tolok ukur kita untuk mengetahui apakah kita sudah mengenal diri kita?, apakah kita sudah mengenal Tuhan? Karena apabila kita sudah mencapai  derajat pengenalan diri atau Tuhan ( Marifat al nafs / Marifatullah ) , kita dengan sendirinya akan menjadi 'immaterial' atau tidak menginginkan sesuatu yang bersifat materi lagi.

Sebagaimana yang pernah dikatakan Imam Ali a.s tentang dunia, seperti beliau a.s  telah menalak dunia sebanyak tiga kali. Dan masih banyak lagi hadis-hadis Imam Ali a.s tentang hinanya dunia di mata beliau a.s. 

Dunia bukan hanya berarti alam yang kita tempati sekarang, ya kita berada di alam dunia , tetapi dunia yang dibenci Imam Ali a.s adalah sifat keduniaannya, sifat kebendaannya, yang tidak abadi dan hanya sementara. Kita tidak membenci alam yang Allah SWT telah ciptakan untuk kita, tetapi dikarenakan akan sifat kebendaannya yang dapat membuat kita terpana dan terikat sehingga kita tidak dapat menanjak ke alam- alam berikutnya , kita tak dapat menjadi seperti yang Tuhan inginkan, yaitu sebagai insan yang sesungguhnya kita berasal dari alamNYA yang non materi , alam ruh. Yang di karenakan kita berada di alam materi bukan berarti kita harus tetap menjadi materi. Tuhan ciptakan kita dengan 2 dimensi yaitu dimensi materi ( fisik/badani dan non materi ( ruh/batiniah ). Manusia itu diciptakan dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan (alam ruh/malakut - alam dunia/materi - alam ruh) yang disebut dalam firmanNYA  " Inna lillahi wa inna ilaihi rajiiun ".

Perjalanan yang manusia harus lalui adalah demikian, dari alamNYa di turunkan ke alam materi ( dunia) lalu akan kembali ke alamNYA, sehingga untuk menyempurnakan dirinya manusia di himbau untuk tidak terikat oleh alam dunia ini agar dengan mudah dapat kembali ke alam asalNYA yang non materi. Ini adalah penyempurnaan wujud agar manusia dapat menyerupai wujud mutlakNYA, menjadi insan, manusia yang di inginkanNYA, yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, sebagai 'manusia', bukan selain insan ( hewan, tumbuh2an ataupun tanah ) .

Selama kita masih berkutat dengan 'hanya' memenuhi kebutuhan2 duniawi, maka jelaslah bahwa kita sesungguhnya belum mengenal siapa diri kita sebenarnya. Juga apabila kita mengklaim sedang melakukan pemenuhan kebutuhan akhirat, tetapi masih selalu disibukkan dengan segala kebendaan, asesoris dunia, berarti kita masih jauh dari mengenal siapa diriNYA, berarti masih harus terus melakukan penyucian diri ( tazkia al nafs ) dan banyak memohon ampun atas segala dosa2 yang kita ketahui maupun yang tdk ketahui ( utk hal ini perlu kiranya kita mengetahui 'ahkam'/ fiqih' yang karena tak mengetahuinya dapat menjauhkan tujuan kita dari mendekatiNYA ) .

Yang akan menjauhkan kita dengan Sang Pencipta kita adalah keasyikan mencintai dunia, sehingga kita menjadi 'addicted to ' dunia, sehingga melupakan segalanya, bahkan Tuhan yang menciptakan dunia dan diri kita. 

Kita tidak pernah dilarang memiliki dunia ( benda-benda materi) , malah kita diharuskan untuk keberlangsungan kehidupan kita di alam ini, yang di larang dan di benci Tuhan adalah mencintai dan terikat oleh dunia sehingga kita dapat lupa diri. 

Lupa diri , hanya di perbudak oleh mencari sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan duniawi semata yang sangat tidak kekal dan mudah hilang. Hanya dibatasi dengan waktu tertentu semua yang kita miliki di dunia ini dapat hilang begitu saja, sedangkan yang tersisa adalah 'diri kita' ( ruh kita ) yang akan nantinya membentuk wujud kita untuk dapat menghadap kembali kepada Sang Pemilik Diri kita.

Banyak dari kita sibuk mencari barang-barang kita yang hilang, tetapi apabila diri kita yang telah hilang kita jarang sekali mencarinya. Dan inilah musibah terbesar dalam hidup ini. Bagaimana kita dapat melakukan perjalanan menujuNYA apabila kita selalu disibukkan dengan alam materi ini, sehingga kita seperti jalan di tempat, sibuk, lelah , tetapi tak pernah akan mencapai tujuan. 

Begitulah gambaran kita yang masih sibuk dengan sesuatu selainNYA, berkutat di alam material yang seperti fatamogana, sejauh manapun kita telah mencapainya, masih saja kita merasa belum terpuaskan, seperti kita meminum air garam, semakin banyak air yang diminum semakin dahaga kita meningkat, dan itulah kita, yang masih belum mengenal diri kita, yang masih harus terus mencari diri kita yang hilang. Sayangnya kita tidak merasa diri kita hilang, karena pengetahuan kita tentang diri adalah badan kita ( yang sangat fragile ini, yang mudah rusak ini ), ruh kita terus menangis tetapi jarang dari kita yang mendengar tangisan ruh kita yang tak pernah kita pedulikan itu, yang tak pernah masuk asupan2 ruhani yang baik. 

Apabila alat pengukur ( spt : spedometer pada setiap mobil - itu telah rusak,  kita tidak pernah tahu kapan harus ganti oli, isi bensin dsb ) sudah tidak berfungsi, maka kita seperti zombi yang masih hidup. Alat pengukur itu dapat kita dapati dan kenali dengan melihat, apakah kita masih heboh dengan dunia materi? karena ukuran dari kita dapat mengenal diri atau Tuhan apabila kita telah menjadi tidak materi menganggap segalanya tdk penting kecuali Allah SWT ( sbgmna hadis diatas ) , tidak tertarik lagi pada yang berbau kebendaan, kesementaraan.

" Ya Allah, perkenalkanlah Engkau kepadaku , karena apabila tak KAU kenalkan MU pada ku, akan tak akan dapat mengenal NabiMU. Ya Allah , perkenalkanlah aku pada NabiMU, karena apabila tak KAU kenalkan aku pada NabiMU, akan tak akan mengenal HujjahMU ( argumenMU - waliMU). Ya Allah, perkenalkanlah aku pada HujjahMU, karena apabila tak KAU kenalkan aku pada HujjahMU, aku akan tersesat dari agamaku "

Smoga dengan segala keikhlasan kita dalam membaca doa tsb, kita mengharap Allah akan membantu kita menemukan diri-diri kita yang telah hilang dan dapat menemukan kembali sehingga kita dapat mengenalNYA dan berjalan di jalanNYA, sehingga dapat kembali padaNYA dalam keadaan yang di inginkanNYA inshaAllah.

Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. Adrikna YA MAHDI



Ghadir Khom


GHADIR KHOM AND SUCCESSION IN ISLAM PART I

Congratulations for all Muslims in celebration of Ghadir day . This is the day of the year 10 of al Hijra , 18th of al Hujja when The Holy Prophet of Islam -on his way back from Mekka where he had performed Hajj and triumphed over the enemies of God - was inspired to address his people regarding an urgent matter that could not wait . He was told that if

this urgent matter is not carried on all the previous achievements would be worth nothing يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَم تَفْعَل فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللهُ يَعصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ) (المائدة/ 67) “ O Messenger, announce that which has been revealed to you from your Lord, and if you do not, then you have not conveyed His message. And Allah will protect you from the people. Indeed, Allah does not guide the disbelieving people.” .

So did the Holy Prophet in the place called Ghadir Khom -which is a valley between Mekka and al Madina-addressing his people and leaving them his legacy after his death that he felt near and seeking to arrange for his succession .

Showing the way for the survival of the faithful , the Prophet told his people to abide by the two major legacies that he had left them : One of them provides the divine connection that is in the hands of God the Almighty and this is to be done through the Holy Kuran , and the other that the people provide to themselves by attaching themselves and being devoted to the progeny of the Holy Prophet .

It is in this message of Ghadir Khom that the Holy Prophet completed his religious message and mission and named his successor for leading the faithful. This successor was none other than Imamu ‘Ali , his cousin and the husband of his daughter Fatima who is the first to have surrendered to Islam after his wife Khadija.. By this the Holy Prophet had achieved his Holy mission .

Sunnis and Shi’as vary regarding the interpretation of what has happened at Ghadir Khum that day . And while both of them admit that such event took place , the Sunnis object that the other legacy mentioned -besides the Kuran -was not to show devotion to the Progeny of the Holy Prophet and take them as models -but to abide by the acts and words and life as lived by the Messenger of God and which constitutes the Sunna or the tradition that was implemented by him during his lifetime and which is to constitute a model for them - . This Sunna -meaning tradition - is from where the name Sunni originates . The Sunnis also object to the fact that the Holy Prophet named Imamu ‘Ali “as his successor and leader of the faithful after his death , they say that such thing did not happen and no successor was appointed , leaving the matter of succession unresolved . This is still a point of difference between the Sunnis and the Shi’as and a major one.







GHADIR KHOM AND SUCCESSION IN ISLAM PART II

We have chosen to bring up this matter of Ghadir day to be discussed objectively among objective people that are impartial and well wishers of humanity and this not in order to promote or increase differences but in order to have the matter debated in the right place by the right people, instead of being fought over in several battlefields causing b

loodshed and loss of lives and victims as we are witnessing nowadays . Overlooking the whole thing would not help , let us try to cast a light on what really happened on that day in the light of what has been revealed by the holy Koran itself.

The context definitely of the Ghadir day was that of tension; there was tension among the believers and between them and the Prophet of Islam and this tension had started before the Ghadir day and probably continued till after the death of the Prophet of Islam and increased even more in the days of the four Caliphs to culminate in the event of Karbala’ . But this had started during the lifetime of the Prophet.

The context of the ‘Aya 67 of Sourat Al Ma’ida is that of enmity between the previous messengers of God who preceded the Prophet and their congregation, of how the community around Christ or other messengers had swayed from the injunctions of the religion . This enmity -experienced by Christ or Prophet Ibrahim - and the failure of their followers to apply the religious rules and injunctions reveal the situation of the Prophet of Islam himself who had the same experience with his own community of rebellion and non obedience to the word of God.

There is warning in this Sourat and recall of how the congregation of previous messengers did not carry on the ordinances of God . This is the general context and spirit of the Sourat and reveals the fact that the Prophet of Islam felt unsafe within his own community , and the important message- he wanted to convey to them- was hindered because it contained material that endangered the life of the Prophet because it would be considered provocative by the community and- for this reason- had to wait for a sign from God whereby the Prophet of Islam would be granted protection .

This ‘Aya 67 was revealed to grant divine protection to the Prophet of Islam in relation to the important message he had to deliver in Ghadir day, and to order him to reveal it to the community- without delay- because such message was of great importance to the point that it exposed and threatened the life of the Prophet .

Now – logically speaking - this cannot be a secondary matter that threatened the life of the Prophet or an inoffensive message that had to do with the completion of religion or pointing out the two legacies : that of the Holy Koran and the Tradition . These facts could not and should not be considered as provocative or life threatening .

What was revealed in Ghadir day was of extreme importance for the future of the community, in addition to being life threatening to the Prophet and- logically- this could have been succession and it is succession . Once granted divine protection- according to the interpretation of the ‘Aya 67- the Prophet dismissed the guards who were assuring his protection and relied on God , the message was thus revealed by God’s will and religion had entered a new phase of confrontation.







THE BEST OF RULERS FOR THE BEST UMMAH! PART III

The matter to be revealed in Ghadir Khom was of a major importance . The question is that: if this matter was not that of succession then what was it about ? Some answer must be given and the thing cannot remain unanswered because then it will have the form of a riddle and there are no riddles in the Koran . The Aya 67 of the Sourat

al Ma’ida is clear in ordaining the Prophet to carry on this matter and granting him protection while doing this .

What was the thing that completed the religion of the Prophet of Islam and what was the final task fallen upon him when he felt that his death was drawing near ? It was a major thing – no doubt - of great importa-nce without which the message - for the sake of which the Prophet of Islam dedicated his whole life and sacrificed everything- would remain incomplete . It was the final touch that- not only concluded the life and message of the last of the Prophets- but concluded –as well- all the messages of the Messengers who preceded him since the Prophet of Islam came to confirm them all .

How can we deny the Prophet the worry and concern about his own succession and about the future of the community when we do not deny this to the average person who will prepare for his eventual death and arrange and organize things for his children in terms of will and other measures and steps ? We have no right to deny the Prophet this attempt at arranging for after his death , or think that the Prophet- who spent his life time guiding and teaching and expounding and leading- will leave his community unattended .. This is completely illogical and not in tune with the kind of person the messenger of Islam was .

And how can we- when his own community -composed of the Muhajireen and Ansaar - seemed so much concerned with the succession -especially in the gathering of bani Saa’ida- where they were fighting over it – deny that the Prophet felt the same urgency ? This is beyond all logic. The Prophet addressed the faithful in Ghadir saying : “today I completed this religion that is yours ” which means that something the Prophet of Islam said and did that day made the message and the religion complete , there was no more anything to add and no room for further developments .

Some people might object that this succession was not a divine ordinance that -in case it happened on Ghadir day - this was a personal initiative -on behalf of the Prophet- but not divinely ordained . The answer is that : if the order is divine- as the Soura reveals- then its content must be divine as well, and the Prophet of Islam acted as ordained and even if ‘Ali’s name was not delivered as such , the Prophet being infallible , his acts and words must have also this quality of infallibility . So, in choosing his successor, he enjoyed the same quality .

And who would the Prophet of Islam choose ? He would choose the best for his community and the best is no doubt: Imam ‘Ali . The wisest, the most devout and learned , the most committed whom he chose as husband for his only daughter , the lady of the ladies , her father’s mother- the blessed Fatima- to whom he chose the best of men.

By the testimony of all , universally acknowledged, is the wisdom of the Imam that no one would question or doubt , a universal school by himself, a manual and a model for all spiritual aspirants of all religions and cultures . Qualified for teaching and leading and fighting , the door to the realm of true Islam. Who can deny the qualities of such Imam ? It is these qualities of the leader that the Prophet of Islam meant and not only the person of ‘Ali. Addressing his community, he did not just tell them to acknowledge ‘Ali in that day and time and place of the Ghadir , he told them to acknowledge these qualities in each time, in each day , and in each place.

Wherever and whenever, let the choice fall on people like the Imam, for leadership , for model and reference, let people like the Imam- in every age- lead the community to its salvation . Until now we can hear the Prophet of Islam telling us to make the right choice, as in Ghadir day , and until now we have objected and turned the deaf ear and defied the divine injunctions and kept on going as if God and religion had no existence , as if there was no difference between right and wrong .

Until now , we are reaping the fruits of such wrong thinking and wrong choice , reaping the fruit of disobeying God . For this reason religion has deteriorated and in consequence the quality of life , the spiritual quality of life and the human and spiritual values have deteriorated. Until we hear and yield to the call of the Ghadir , there will be no salvation for us and no justice for the world and no awakening to the Spirit of religion.


WISE ADMINISTRATION NEEDED PART IV


Ghadir day was major event in deciding the future of the religion. The Godly part or the divine Legacy had been completed fully , remained the human part, or the human legacy, that had to be fulfilled on behalf of the community. We will not be exaggerating if we said that what we are witnessing nowadays in the deterioration of the religion whereb
y, in the name of Islam and while calling Allahu Akbar , innocents and civilians-among them children- are being slain- had thus started when the divine injunctions were not carried on by the community .

The reason why the community did not follow the ordinances of the Religion and did not obey the Messenger of God was due to reasons inherent to the community of the believers itself and not to the religion that had been completed . The community had failed the Prophet as it had failed previous Prophets as the subsequent ‘Aayas of the sourat al Maa’ida show .

In order to understand why the community did this , we have only to look at ourselves and see how we act and how we think and what motivates us while we claim to be religious and committed . Greed, ambition and competition divided the Umma . There was turmoil within the community and a tendency to bring back the Jaahillyya days and restore the Quraish hegemony which happened with the advent of Mo’aawiy .

Imam ‘Ali did not impose himself and was- in no way- part of the secret or open deals that were struck between the poles of the community. He was in no way seeking power but the benefit of the Umma and this what made him different from the others who aspired for power .Though he ruled after the third Caliph was assassinated, he could not continue his rule that was usurped from him by the Ruler of Syria Mu’aawiya who represents the coming back of the pre Islamite ruling class of Quraish dressed in the garbs of Islam.

The issue of Ghadir day was totally obscured and still is, and this has caused and is still causing great unsettlement for the Umma . The destitution of ’Ali was a turning point, and the assassination of Imam al Hussein- grand son of the Prophet- was another turning point : a tragedy by all means where the son of Fatima -daughter of the Prophet of Islam- and of ‘Ali- his cousin - was killed and his whole family by the son of Mu’aawiya in a crime that has no equal in the history of religions . The Umma had turned against itself and the Caliphate became continuously haunted by the presence of the Holy progeny of the Rasul whose rights were continuously violated, their cause usurped and their blood continuously spilled.

Look at the religion right now , look at Islam , and look at the majority of Muslims . In number they are faring well but other than that they are doing poorly . Their rulers are rotten, their countries corrupt, their acts and deeds far from being religious . Look at the Muslims now and judge for yourself , look at the Libyans lead by Henry Levy look at Mursi bowing before Clinton . look at the Prince of Qatar and the Saudi king . Look who holds the keys to Mekka , look at the fanatics of Syria , the bearded fanatics bred by Clinton who get paid to kill ; look at Erdugan , look at the surrender to the enemies of the religion , look at all this . Look at the whole world . Look at the wars and famine and genocides and extermination of all forms of life . look at the oppression, the misery , the illiteracy , the spiritual ignorance and the deterioration of moral values . Look at all this and judge for yourself and ask yourself whether this could have been otherwise and why has it ended the way it ended.



SEEKING A WISDOM ORIENTED ADMINISTRATION

Raise the individuals by society and raise the society by the individuals. This must be true in our seeking for better government and administration. Our seeking for better administration is at the same time a seeking for the betterment of society and the individuals.
It is not something that really needs to be divinely revealed , it is our practical exper
ience that we are connected to those who are better knowing than us and to those who are more ignorant than us .

Intelligent people chose to follow their betters and certainly cherish a good leader and a wise administration that is not only trustworthy but also well guided . And this is not something impossible among people who respect and value their betters , because then society will be oriented for passage of knowledge to its recipient as the mountain slope is oriented for the passage of water to its destination .

There are certainly plenty of good people who have the qualities of leadership along with the ethics that go with it, and good administration is as feasible as bad administration, though it is more difficult to attain and has to be sought knowingly .

These qualified people exist but have been marginalized and deprived of rule and leadership while the rogues have taken their place and this is how we ended up with the worst administration and the worst society most resistant to the passage of knowledge ever witnessed on earth . This is something that should be knowingly avoided , namely : a society resistant to administration and an administration resistant to knowledge .
As a ship reaches its safe destination by the merit of its captain and crew, so also a society reaches its destination by the merit of its administration guided by the wisdom of life

All the calamities we are encountering are due to the lack of wise administration that is connected to a higher moral authority . It is universal wisdom that should lead the ship of human society through the administration , because , we are universal people, children of this universe and brothers and sisters to each other , we are all one fabric but have forgotten who we are .

For this reason, when the Messenger of God wanted to choose his successor, he chose the most trustworthy : ‘Ali ben Abi Taleb whom he could trust with religion because he knew him well to be so since he said : I am the city of Knowledge and ’Ali is its gate. The Prophet had no choice but to entrust religion to the kind of person ‘Ali was . In case there was no such person, religion would be in great peril, and this is what happened when the will of the Prophet was obstructed.

This is not to demean the other aspirants for the position but to point out that Imam ‘Ali was not seeking that position and he has proved it historically as Imam Hussein proved it later 



*By Daniel Mabsout ( on his FB )

Kisah Seorang Mualaf asal Australia

Nama saya Suraya. Saya dilahirkan dan dibesarkan di Australia. Kini saya sedang belajar di Iran. Saya yakin bahwa Allah ada dalam semua jiwa kita. Keberadaan ini merupakan suatu hal yang fitrah. Tidak peduli apakah sebagian dari manusia memilih dan mengakui serta berserah diri kepada Yang Maha Kuasa, sementara yang lain tidak peduli dengan-Nya dan melewati kehidupan menurut keinginan dan kehendaknya sendiri.

Sebagai seorang anak, saya merasakan keberadaan Tuhan dalam hati saya dan keinginan untuk berserah diri Sekalipun demikian saya tidak tahu jalan yang dapat mengantarkan saya ke pada tujuan itu. Saya sering merenung dari mana saya datang, mengapa saya di sini dan kemana saya akan pergi?

Saya besar di Australia dan hidup dalam sebuah lingkungan Kristen Katolik. Kondisi ini tidak memperbolehkan saya untuk melakukan penelitian berkaitan keimanan. Artinya, saya harus mengikuti ibu bapa saya dan mengikuti agama mereka secara membabi buta.

Banyak sekali konsep seperti doktrin Trinitas, di mana Tuhan wujud dalam tiga bagian termasuk Nabi Isa as sebagai anak Tuhan dan menyembah berhala, merupakan sebagian kepercayaan Kristen yang menjadi pertanyaan buat saya sejak berusia muda.

Saya benar-benar tidak puas hati dengan jawaban yang tidak masuk akal dan malah hal ini membuat saya menjadi nakal dan dikenakan hukuman oleh Sekolah Biarawati Kristen karena sikap jujur dan ingin tahu saya.

Ketika saya berusia 13 tahun, biarawati bertanya dengan murid-murid, siapa yang tidak menyukai Injil? Hanya saya yang menjawab pertanyaan tersebut, saya katakan, "Injil telah disimpangkan oleh tangan manusia, ia memuat pornografi, dan saya yakin bahwa ia bukanlah kata-kata Tuhan yang benar." Mendengar itu, saya diusir keluar dari kelas.

Pada usia remaja, saya meninggalkan Kristen untuk selamanya, lelah dengan sistem agama Barat.

Apa yang saya impikan ialah sekelompok manusia dari berbagai warga berbalut kain putih, berjalan secara sistematis di sebuah tempat dengan tiang-tiang yang besar. Saya hubungkan dengan Ghandi; ketika berusia lebih dewasa saya mula belajar berkaitan agama-agama Timur. Pencarian saya cenderung ke arah Buddhisme.

Waktu ini ibu saya sibuk mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke Mesir, mengisi impiannya. Saya sering mengejek keinginan ibu untuk ke Mesir. Bagaimanapun, itulah yang direncanakan oleh Allah.

Ibu saya melakukan kunjungannya ke Mesir pada tahun 1997. Tidak lama selepas itu, saya ke Eropa untuk mengunjungi sanak saudara saya. Walaupun saya tidak berminat untuk mengunjungi Mesir, saya berencana untuk tinggal di Mesir selama lima hari untuk menemui ibu saya.

Saya menggunakan pesawat Gulf Airlines. Di dalam pesawat saya menggunakan headset untuk mendengar musik; saya berhenti saat mendengar suara indah yang menusuk ke dalam kalbu saya, walaupun saya tidak memahami maksudnya.

Setelah tiba di Mesir, saya tinggal lebih lama dari yang telah saya rencanakan. Malah, setiap kali saya berkeinginan untuk meninggalkan negara ini, ada saja yang menghalang kepergian saya.

Saya berjalan ke semua tempat, saya diberitahu banyak kali mengenai sebuah masjid milik Ahlul Bait di Kairo. Ketika saya ke tempat tersebut, impian saya bakal terpenuhi. Saya tidak tahu langsung apa saja tentang Ahlul Bait, tetapi orang-orang di sana begitu menyayangi mereka sehingga membuat saya turut terilhami. Sisa-sisa kekalifahan Fatimiyah yang menyintai Ahlul Bait masih terdapat di kalangan orang-orang Mesir hari ini.


Akhirnya saya pergi ke Masjid dengan penuh harapan. Saat memegang zarih masjid, saya dengan jujur meminta kepada Tuhan supaya membimbing saya ke jalan yang benar dan mengakhiri pencarian saya serta mengubah kehidupan saya yang kosong di Australia.


Karena besar di barat, saya sering diberi gambaran negatif berkaitan Islam dan umat Islam. Bagaimanapun ketika saya di Mesir, saya melihat nilai-nilai kekeluargaan yang kuat, menghormati orang tua, dan semangat dermawan yang besar. Rakyat hidup dalam kemiskinan, tetapi mereka rela dan puas hati. Mereka mengetahui tujuan hidup ini. Saya tidak melihat sama sekali kecenderungan ke arah materialisme dan tidak bimbang akan masa depan. Saya membuat kesimpulan bahwa semuanya ini adalah dari asas agama yang mereka miliki.

Ini menyebabkan saya mulai melakukan kajian tentang Islam. Semakin banyak yang saya ketahui, semakin saya tertarik padanya. Saya dapati Islam merupakan agama yang sempurna, menyelubungi semua aspek kehidupan, dari kesehatan hingga keberhsihan, dari sains sehinggalah nilai-nilai moral, dan masalah dunia yang tak terlihat.


Satu hari saat saya sedang berjalan, saya mendengar musik indah seperti yang saya dengar dalam pesawat. Musik itu datang dari warung kopi. Saya diberitahu bahwa itulah bacaan al-Quran.

Akhirnya saya diberikan sebuah al-Quran berbahasa Inggris. Ketika membukanya, saya tersadar bahwa pencarian saya selama ini telah sampai ke penghujungnya. Saat saya mula membacanya, ia seolah-olah turun dari langit terus ke tangan saya. Kata-katanya begitu indah, terus kepada poin. Saya merasakan bahwa untuk pertama kalinya Tuhan berkata-kata dengan saya. Ini merupakan kata-kata Tuhan yang jelas, dan bukan kata-kata dari fikiran manusia.

Banyak sekali ayat yang memperlihatkan transparansinya seperti surah at-Tauhid. Dan secara instan menakhiri segala kekacauan seumur hidup.


Pagi itu juga saya memeluk agama Islam. Allah Swt telah mengutuskan banyak rasul dan nabi seperti Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Isa dan Nabi Muhammad Saw, untuk membimbing umat lewat berbagai generasi, masyarakat, dan budaya. Islam merupakan rangkaian pesanan terakhir dan Nabi Muhammad merupakan penutup para Rasul yang diutus Allah Swt.


Sekalipun, pencarian saya tidak berakhir di sini… Saya kembali ke Australia dan setelah 6 tahun menganut Islam, saya bertemu dengan beberapa orang penganut Syiah. Saya amat terperanjat dengan perbedaan yang terdapat di antara Sunni dan Syiah.


Tiba-tiba saya menyadari betapa pentingnya memilih mazhab untuk dianut. Haus akan kebenaran, membuah saya melakukan kajian selama selama setahun. Saya berdoa sebanyak-banyaknya dan meminta Allah membimbing saya serta tidak meninggalkan saya dalam keadaan kesulitan.


Pada awalnya saya menemui banyak sekali pandangan negatif dan bodoh yang diarahkan terhadap syiah. Bagaimanapun, secara berangsur-angsur saya mulai cenderung dengan ide-ide Syiah. Bukan sekedar bukti, tetapi juga dasar yang logis.


Banyak teman Sunni yang memberi nasihat agar saya lebih baik bersama dengan mayoritas umat Islam dan akan selamat. Jika mengikuti peraturan ini, sudah tentu saya masih saja mengikuti agama nenek moyang saya.


Sayangnya, saya mendapati bahwa perpecahan agama suci ini hanya berlaku selepas wafatnya Rasulullah Saw.


Saya pun mulai mencari sumber-sumber Sunni guna mendapatkan bukti lebih banyak. Saya menemui lebih dari 140 hadis Sunni yang mendukung peristiwa Ghadir. Malah Umar sendiri turut mengucapkan selamat ketika Imam Ali dilantik. Logika menyebutkan tidak mungkin Rasulullah Saw menghentikan sekelompok besar jemaah haji di tengah sinar mentari panas dan padang pasir yang membakar tanpa sesuatu yang penting. Terdapat ayat-ayat al-Quran yang memberikan kesaksian akan pentingnya deklarasi yang dibuat pada hari tersebut. Allah memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk menyempurnakan misi agama Islam.


Lagi pula, mengapa Allah meninggalkan hal penting kepemimpinan tanpa diputuskan? Kepemimpinan bukanlah satu hal yang diputuskan oleh manusia. Sejak dari zaman Nabi Adam as, ia senantiasa menjadi pilihan langit.


Berbagai statemen yang dibuat oleh Rasulullah pada masa hidupnya menkonfirmasikan posisi Imam Ali as, "Ali adalah seperti Harun kepada Musa, kecuali tidak ada Nabi selepas ku", "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya". Saat khalifah-khalifah lain sedang memerintah, jika tidak karena pintu ilmu ini, sudah tentu kita akan binasa, kata-kata yang dilahirkan dari Umar sendiri.


Yang paling penting, saya menemui sifat Imam Ali bersinar saat membaca Nahjul Balaghah. Seseorang yang membaca karya sastera ini sudah cukup untuk menyakinkan saya siapa yang lebih layak dan berupaya menjadi pemimpin.


Fondasi empat mazhab sunni juga ditegakkan lewat Ahlul Bait. Karena para Imam Sunni adalah murid Imam Jakfar al-Sadiq as.


Sebenarnya bukti masih banyak, hanya masa tidak mengizinkan saya untuk memaparkan kesemuanya.

Saya mempelajari mazhab Syiah di Pusat Islam Imam Husein Sydney Australia. Ketika saya memasuki pusat ini, saya merasakan energi spiritual yang kuat, hubungan yang kuat antara jiwa dan Allah. Terutama ketika mendengarkan lantunan doa-doa seperti doa Kumail.


Pada masa inilah saya dapati bahwa konsep tawasul dan tokoh besar Imam Husein as (yang telah disimpan dalam gelap selama bertahun-tahun oleh Sunni) termasuk pengorbanan besarnya terhadap Islam. Saya menyadari bahwa Imam Husein as merupakan bahtera keselamatan saya, doa yang selama ini saya panjatkan kepada Allah saat berada di Masjid Kairo (Masjid Husein) saat pertama saya memohon bimbingan dan sampai detik ini, Allah membimbing saya.


Saya membuat kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain selain memeluk mazhab ini sebagai bimbingan spiritual saya; seterusnya saya merasakan untuk pertama kali bahwa keyakinan saya telah sempurna.


Sejak itu, beberapa kali saya melakukan kunjungan ke Iran dan Irak setiap tahun untuk melakukan ziarah atau ikut berpartisipasi dalam konferensi. Saya mendapati bahwa setiap tahun saya meninggalkan Australia untuk menghidupkan semula jiwa saya. Setiap tahun saya ketagihan dengan injeksi spiritual tahunan ini.


Ini jugalah yang menyebabkan saya meninggalkan kehidupan ala Barat berubah kepada kehidupan yang lebih islami, sederhana dan kurang materialistik. Kehausan terhadap agama dan pemahaman yang lebih jauh, menyebabkan saya belajar bahasa Persia. Untuk masa depan, saya berserah kepada apa yang telah diatur Allah Swt.