Leader’s Hajj message to Muslims

Pesan Haji Rahbar 1433 H

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين و صلوات الله و سلامه علي الرسول الاعظم الأمين و علي آله المطهّرين المنتجبين و صحبه الميامين.
Musim haji yang penuh dengan rahmat dan berkah telah tiba dan kembali menyinari mereka yang beruntung hadir di tempat-tempat nurani itu dengan pancaran anugerah Ilahi. Di sini, waktu dan tempat mengajak Anda semua yang tengah melaksanakan ibadah haji untuk beranjak menaiki tangga menuju ketinggian maknawi dan materi. Di sini, dengan hati dan lisan, muslim dan muslimah bersama-sama memenuhi panggilan Allah Yang Maha Besar untuk melangkah ke arah kebaikan dan kejayaan. Di sini, semua orang mendapat kesempatan berlatih persaudaraan, kesamaan dan ketaqwaan. Di sinilah kamp pendidikan dan pengajaran; ajang pentas persatuan, keagungan dan keanekaan umat Islam; kancah bergumulan melawan syaitan dan thaghut. Inilah lokasi yang ditetapkan Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa sebagai tempat bagi kaum mukminin untuk bisa menyaksikan kepentingan dan kebaikan mereka. Sesaat ketika membuka mata akal dan ibrah, kita saksikan bahwa janji samawi ini meliputi seluruh sisi kehidupan individual dan sosial kita.

Keistimewaan syiar haji terletak pada kombinasi urusan dunia dan akhirat atau sisi individu dan sosial di dalamnya. Ka'bah yang tanpa hiasan namun megah; tawaf fisik dan hati mengelilingi satu poros yang berdiri kokoh dan abadi; gerak dan usaha yang berkesinambungan dan teratur antara satu titik awal dan titik akhir; perpindahan kolosal ke Arafah dan Masy'ar yang mirip kondisi hari kiamat dengan kekhusyukan di tempat konsentrasi agung itu yang memberi kejernihan dan kesegaran pada setiap kalbu; serbuan serentak melawan simbol syaitan; dan berikutnya adalah kesamaan semua orang yang datang dari semua tempat, dengan aneka warna dan jenis untuk bersama-sama mengikuti ritual yang penuh rahasia dan sarat dengan nuansa spiritual dan tanda-tanda hidayah… Semua itu adalah keistimewaan yang hanya ada pada ibadah yang penuh makna dan kandungan ini. Ritual seperti inilah yang mengikat hati dengan dzikir kepada Allah dan menyinari kalbu dengan cahaya taqwa dan iman. Ritual ini mengeluarkan orang dari kekangan diri dan meleburnya dalam kumpulan umat Islam dengan keberagamannya, membungkusnya dengan pakaian ketaqwaan yang melindungi jiwanya dari serangan anak-anak panah dosa yang beracun, serta membangkitkan semangat melawan syaitan dan thaghut dalam dirinya.

Di sini, dengan mata kepala sendiri, jemaah haji menyaksikan miniatur dari umat Islam yang besar dan menyadari akan kapasitas dan kemampuannya. Dengan itu, tumbuh optimisme akan masa depan dan kesiapan untuk berperan aktif di dalamnya. Selain juga, -jika mendapat taufik dan inayah dari Allah- ia akan mengikat baiat dengan Nabi yang agung dan memperkuat janji setia dengan Islam yang tercinta serta memperkuat tekad untuk memperbaiki diri dan umat serta meninggikan Islam. Kedua hal ini, yakni perbaikan diri dan perbaikan umat adalah dua kewajiban yang tak pernah dihapuskan. Bagi orang yang suka berpikir, dengan menggunakan akal budi dalam melaksanakan kewajiban agama dan dengan memanfaatkan logika dan kearifan, tidak sulit untuk menemukan cara untuk melaksanakan kewajiban ini.

Memperbaiki diri dimulai dari perang melawan hawa nafsu syaitani dan upaya untuk menjauhi dosa, sementara memperbaiki kondisi umat dimulai dengan mengenal musuh dan agendanya lalu berjuang untuk meredam dampak pukulan dan tipudayanya. Pada tahap berikutnya, keterikatan hati, tangan dan lisan antara umat Islam dan bangsa-bangsa Muslim akan terjalin.

Saat ini, salah satu masalah terpenting Dunia Islam yang berhubungan langsung dengan nasib umat Islam adalah revolusi-revolusi yang terjadi di kawasan utara Afrika dan kawasan kita. Sampai sekarang, transformasi ini sudah menggulingkan beberapa rezim bejat yang tunduk kepada Amerika Serikat (AS) dan bersekutu dengan zionisme, dan tengah mengguncang kekuasaan beberapa rezim yang lain. Rugi besar jika kaum muslimin tidak memanfaatkan kesempatan agung ini untuk memperbaiki nasib umat Islam. Sekarang, kubu istikbar agresor yang suka intervensi tengah menguras tenaga untuk menyimpangkan gerakan agung umat Islam ini.

Dalam gerakan-gerakan yang besar ini, muslim dan muslimah bangkit untuk melawan kediktatoran para penguasa dan menentang hegemoni AS yang berujung pada pelecehan dan penistaan bangsa-bangsa lain serta kedekatan dengan rezim zionis yang haus kejahatan. Dalam perjuangan hidup dan mati ini, faktor penyelamat bagi mereka adalah Islam serta ajaran dan syiar-syiarnya. Dan, inilah yang mereka nyatakan dengan suara lantang. Pembelaan kepada bangsa Palestina yang tertindas dan perjuangan melawan rezim perampas Zionis menjadi tuntutan utama mereka. Mereka mengulurkan tangan persahabatan kepada bangsa-bangsa Muslim dan menuntut persatuan umat Islam.

Inilah pilar-pilar utama yang menopang gerakan rakyat di negara-negara yang sejak dua tahun lalu mengibarkan panji kebebasan dan reformasi dengan partisipasi rakyat yang hadir di tengah medan revolusi dengan jiwa dan raga. Dan, inilah yang bisa menjadi pilar utama untuk menopang proses reformasi di tubuh umat Islam yang besar ini. Syarat yang harus dipenuhi untuk meraih kemenangan final dari gerakan kebangkitan rakyat di negara-negara itu adalah resistensi dalam memegang prinsip.
Musuh terus berusaha menggoyang pilar-pilar utama ini. Tangan-tangan keji AS, NATO, dan rezim zionis berusaha memanfaatkan celah-celah kelengahan dan pemikiran dangkal untuk memalingkan gerakan para pemuda Muslim yang mengalir deras ini lalu mengadu domba antara mereka dengan mengatasnamakan Islam. Mereka mengubah jihad anti imperialisme dan anti zionisme menjadi terorisme buta jalanan di Dunia Islam untuk menumpahkan darah umat Islam di tangan Muslim. Dengan demikian, musuh Islam akan terbebas dari kebuntuan dan citra Islam serta para mujahidnya akan tercoreng di mata dunia.

Setelah kecewa dan putus asa karena gagal menghapuskan Islam dan syiarnya, kini dengan menebar fitnah di tengah kelompok-kelompok Muslim dan dengan mengusung agenda Syiahphobia atau Sunniphobia mereka berusaha mencegah terwujudnya persatuan umat Islam.

Dengan bantuan kaki tangannya di kawasan, mereka menciptakan krisis di Suriah untuk memalingkan bangsa-bangsa lain dari krisis di negara masing-masing dan bahaya yang mengancam mereka. Itu semua dilakukan dengan menciptakan drama berdarah. Perang saudara di Suriah dan pembunuhan para pemuda Muslim di tangan saudaranya sendiri adalah kejahatan yang dimulai dan dimarakkan oleh AS, Zionis dan rezim-rezim dependen. Siapa yang bisa percaya bahwa negara-negara pelindung para diktator di Mesir, Tunisia, dan Libya kini tampil membela aspirasi rakyat Suriah yang menuntut demokrasi? Kisah Suriah adalah kisah balas dendam terhadap sebuah pemerintahan yang selama tiga dekade tampil sendirian melawan rezim perampas Zionis dan membela faksi-faksi perjuangan Palestina dan Lebanon.

Kami memihak rakyat Suriah dan menentang segala bentuk provokasi dan intervensi asing di negara itu. Reformasi apapun di Suriah harus dilakukan sendiri oleh rakyat di sana dan dengan cara-cara mereka sendiri. Adalah bahaya yang besar ketika kubu hegemoni internasional yang dibantu oleh rezim-rezim dependen di kawasan campur tangan dengan menciptakan krisis di suatu negara dan dengan alasan krisis, mereka merasa berhak melakukan kejahatan apa saja di negara itu. Bahaya besar ini harus disadari oleh rezim-rezim di kawasan. Jika tidak, maka mereka harus menanti giliran untuk dipermainkan kubu istikbar dengan cara seperti itu.

Saudara dan saudari! Musim haji adalah kesempatan untuk merenungkan dan memikirkan secara mendalam isu-isu penting di Dunia Islam. Nasib revolusi-revolusi di kawasan dan upaya yang dilakukan kubu adidaya untuk menyimpangkannya adalah bagian dari isu-isu penting itu. Agenda pengkhianatan dalam bentuk tebaran fitnah perselisihan di tengah umat Islam dan upaya menciptakan sangkaan buruk pada sebagian negara Islam terhadap Republik Islam Iran; isu Palestina dan pendeskriditan para pejuangnya serta upaya memadamkan gelora jihad; propaganda anti Islam yang dilakukan rezim-rezim Barat dan pembelaan mereka kepada para penista kesucian Nabi Muhammad Saw; agenda menciptakan perang saudara dan upaya memecah belah di sejumlah negara Islam; skenario menakut-nakuti negara dan bangsa-bangsa revolusioner akan bahaya melawan hegemoni Barat dan penyebaran anggapan bahwa masa depan mereka bergantung pada ketertundukan kepada kaum agresor… semua itu adalah isu-isu penting yang perlu direnungkan dan dipikirkan secara mendalam oleh Anda semua, jemaah haji, dalam suasana persaudaraan dan keakraban.

Tak diragukan bahwa hidayah dan bimbingan Ilahi akan menunjukkan jalan keamanan dan keselamatan kepada umat mukmin yang berjuang.

«و الذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا ..»

Dan mereka yang berjuang di jalan Kami maka Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…



Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sayyid Ali Khamenei

30 Mehr 1391 HS (21 Oktober 2012)

Gaya Hidup Islami



Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menilai generasi muda memiliki banyak poin positif dan menjadi harapan negara. Rahbar dalam pertemuan dengan ribuan mahasiswa, pelajar dan pemuda Khorasan Utara yang digelar pada hari Ahad (14/10) menyebut gaya hidup sebagai bagian terpenting dan hakiki bagi sebuah kemajuan dan upaya membangun peradaban Islam yang baru.   

Di pertemuan ini Rahbar berusaha menjelaskan kepada generasi muda soal gaya hidup sejati guna menemukan kehidupan ideal. Dalam pandangan Rahbar tujuan utama Revolusi Islam Iran adalah membangun peradaban baru Islam dan gaya hidup merupakan salah satu bagian utama dari revolusi ini. Terkait hal ini Rahbar mengatakan, "Peradaban baru memiliki dua unsur: Unsur pertama adalah sarana dan kedua adalah unsur pokok dan dasar... Kita harus menggapai keduanya."

Seraya mengajak para cendekiawan dan kaum pemikir untuk mengulas masalah ini dan membahas patologi bagi gaya hidup yang ada saat ini di Iran serta memikirkan cara penanganannya, beliau mengatakan, "Kemajuan di ranah ilmu, industri, ekonomi dan politik yang merupakan komponen penting bagi peradaban Islam adalah sarana untuk memperoleh gaya gaya dan budaya hidup yang benar sekaligus jalan untuk meraih kedamaian, keamanan, ketinggian dan kemajuan yang hakiki."

Kemajuan, kata Ayatollah al-Udzma Khamenei, mengandung makna gerakan, jalan dan perubahan. Beliau menambahkan, "Dalam kesimpulan apapun yang diambil dari kemajuan yang tak kenal kata henti (baik kesimpulan materi maupun spiritual) gaya hidup, perilaku sosial, dan metode kehidupan punya signifikansi yang besar."

Mengenai gaya hidup dan kaitannya dengan peradaban baru Islam, beliau menandaskan, "Jika kemajuan universal diartikan dengan membangun peradaban baru Islam, maka peradaban ini akan memiliki dua unsur, yaitu sarana dan hakikat. Dan masalah gaya hidup adalah unsurnya yang hakiki."

Seraya menyatakan bahwa kedua unsur itu harus diwujudkan dalam peradaban Islam, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, "Unsur sarana atau perangkat keras peradaban ini berhubungan dengan hal-hal yang dalam kondisi dunia saat ini disebut sebagai lambang kemajuan seperti sains, penemuan, ekonomi, politik, wibawa di pentas internasional, dan semisalnya."

Beliau menambahkan, "Dalam kaitan ini, kita sudah membukukan kemajuan yang cukup bagus. Tapi harus diingat bahwa semua prestasi itu terkait dengan unsur sarana untuk meraih unsur hakiki dan piranti lunak bagi peradaban Islam, yaitu gaya hidup."

Berbicara mengenai gaya dan budaya hidup, Rahbar menyinggung berbagai masalah seperti keluarga, pernikahan, model rumah, jenis pakaian, gaya konsumsi, hiburan, pekerjaan serta perilaku individu dan sosial di berbagai lingkungan. Beliau mengatakan, "Gaya hidup kembali kepada semua permasalahan yang membentuk kehidupan manusia."

Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan aturan Islam dalam masalah gaya hidup. "Dalam Islam ada istilah akal kehidupan yang maknanya sama dengan gaya dan budaya hidup, dan al-Qur'an dalam banyak ayat sucinya membahas masalah ini," kata beliau.

Menurut beliau, tanpa kemajuan pada unsur hakiki peradaban Islam yaitu gaya hidup, maka tujuan dari proses membangun peradaban yang besar ini tak akan bisa tercapai. "Sayangnya, dalam masalah ini kita tidak berhasil mengukir prestasi yang signifikan seperti yang kita raih di bagian pertama yang berhubungan dengan ranah keilmuan, industri dan semisalnya," imbuh beliau.

Rahbar menyebut patologi dan penelitian untuk mencari faktor penghalang kemajuan menyangkut gaya hidup sebagai satu keharusan. Beliau mengajak para cendekiawan, pemikir dan pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan untuk membahas masalah ini dan mencarikan jalan keluar terbaik.

Menyebut masalah gaya hidup sebagai topik pembahasan yang baru di Iran, Pemimpin Besar Revolusi Islam memberikan permisalan bahasan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan. Mengapa di Iran budaya kerja berkelompok lemah? Mengapa dalam hubungan sosial hak orang lain sering dilanggar? Mengapa angka perceraian di sejumlah daerah tinggi? Mengapa para pengemudi kendaraan tidak terlalu mengindahkan aturan lalu lintas? Apa saja aturan hidup di apartemen dan apakah aturan itu diindahkan? Apakah model yang ideal bagi hiburan yang sehat? Apakah dalam keseharian kita selalu berbicara jujur? Sejauh manakah masyarakat tercemari kebiasaan berbohong? Apakah yang memicu tindakan brutal dan ketidaksabaran dalam hubungan bermasyarakat?

Rahbar juga mengajukan pertanyaan mengenai, Selogis apakah model pakaian dan tatanan kota yang ada saat ini? Apakah hak-hak masyarakat dijaga di internet dan media massa? Apa penyebab munculnya penyakit berbahaya berupa kecenderungan melanggar hukum pada diri sebagian orang? Seberapa besar dedikasi kita dalam bekerja? Sejauh manakah kepedulian kepada kualitas produksi lokal? Mengapa masih banyak ide cemerlang yang hanya bertahan di tahap kata-kata dan impian? Berapa jamkah kerja manfaat yang dilakukan di kantor-kantor? Apa yang harus kita lakukan untuk memberantas riba'? Apakah hak-hak suami, istri, dan anak-anak diindahkan secara penuh dalam keluarga? Mengapa sebagian orang bangga dengan konsumerisme? Apa yang harus kita lakukan supaya perempuan bisa tetap menjaga kehormatan keluarganya dan di saat yang sama dapat melaksanakan tugas sosialnya dengan baik?

Di kesempatan tersebut, Rahbar juga menyinggung peradaban Barat. Budaya Barat dibentuk atas dasar meterialisme dan hanya memperhatikan sisi luar kehidupan manusia. Ideologi ini tidak terlalu mementingkan ajaran mendalam kemanusiaan. Namun di sini pertanyaan yang muncul adalah apakah manusia di kehidupannya hanya membutuhkan sarana dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan. Apakah sisi batin manusia juga menuntut hal-hal materi, ketenangan jiwa manusia apakah dapat dipenuhi dengan harta dan uang?

Di sini Ayatullah al-Udzma Khamenei menandaskan, "Esensi budaya Barat adalah gaya hidup meterial, pemenuhan tuntutan syahwat dan bergelimang dosa. Budaya Barat anti spiritualisme... Oleh karena itu, syarat utama untuk membentuk  budaya baru Islam adalah tidak mengikuti budaya Barat." Beliau menjelaskan, pada dasarnya budaya Barat adalah budaya agresi. Jika menyebar di sebuah negara, dengan alasan apapun, maka budaya tersebut akan menghancurkan budaya dan jatidiri bangsa itu. Di negara-negara Barat dan masyarakat yang mengekornya, perilaku dosa besar seperti praktik homoseksual, fenomena kehancuran rumah tangga, dan berbagai problema besar lainnya dipandang sebagai hal yang biasa.

Lebih lanjut Ayatollah al-Udzma Khamenei mengungkap skenario Barat dalam mengenalkan dan menyebarkan budayanya di dunia khususnya di Dunia Islam dengan berbagai cara, yang salah satunya dan yang terpenting adalah seni sinema. Mereka melibatkan para pakar untuk membantu mengenal kelemahan bangsa-bangsa di dunia khususnya umat Islam, sebelum akhirnya membuat dan menyebarkan film-film yang mengenalkan budaya dan gaya hidup ala Barat.

Beliau menegaskan, "Dalam hal ini, para pejabat negara dan rakyat secara umum harus mempertahankan budaya bangsa dan negara ini." Pemimpin Besar Revolusi Islam menyayangkan adanya sebagian kalangan yang meniru gaya hidup Barat di tengah masyarakat Iran. "Fenomena ini harus diperbaiki secara perlahan dengan cara sosialisasi," kata beliau.

Rahbar juga  mengimbau untuk sepenuhnya menolak gaya hidup ala peradaban Barat, Rahbar menggarisbawahi, "Kami tidak menginginkan konfrontasi dengan Barat. Yang kami katakan adalah bahwa sesuai penelitian yang sudah dilakukan, mengikuti Barat tidak mendatangkan manfaat bagi bangsa manapun."(IRIB Indonesia)


Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menilai generasi muda memiliki banyak poin positif dan menjadi harapan negara. Rahbar dalam pertemuan dengan ribuan mahasiswa, pelajar dan pemuda Khorasan Utara yang digelar pada hari Ahad (14/10) menyebut gaya hidup sebagai bagian terpenting dan hakiki bagi sebuah kemajuan dan upaya membangun peradaban Islam yang baru.   
Di pertemuan ini Rahbar berusaha menjelaskan kepada generasi muda soal gaya hidup sejati guna menemukan kehidupan ideal. Dalam pandangan Rahbar tujuan utama Revolusi Islam Iran adalah membangun peradaban baru Islam dan gaya hidup merupakan salah satu bagian utama dari revolusi ini. Terkait hal ini Rahbar mengatakan, "Peradaban baru memiliki dua unsur: Unsur pertama adalah sarana dan kedua adalah unsur pokok dan dasar... Kita harus menggapai keduanya."
Seraya mengajak para cendekiawan dan kaum pemikir untuk mengulas masalah ini dan membahas patologi bagi gaya hidup yang ada saat ini di Iran serta memikirkan cara penanganannya, beliau mengatakan, "Kemajuan di ranah ilmu, industri, ekonomi dan politik yang merupakan komponen penting bagi peradaban Islam adalah sarana untuk memperoleh gaya gaya dan budaya hidup yang benar sekaligus jalan untuk meraih kedamaian, keamanan, ketinggian dan kemajuan yang hakiki."
Kemajuan, kata Ayatollah al-Udzma Khamenei, mengandung makna gerakan, jalan dan perubahan. Beliau menambahkan, "Dalam kesimpulan apapun yang diambil dari kemajuan yang tak kenal kata henti (baik kesimpulan materi maupun spiritual) gaya hidup, perilaku sosial, dan metode kehidupan punya signifikansi yang besar."
Mengenai gaya hidup dan kaitannya dengan peradaban baru Islam, beliau menandaskan, "Jika kemajuan universal diartikan dengan membangun peradaban baru Islam, maka peradaban ini akan memiliki dua unsur, yaitu sarana dan hakikat. Dan masalah gaya hidup adalah unsurnya yang hakiki."
Seraya menyatakan bahwa kedua unsur itu harus diwujudkan dalam peradaban Islam, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, "Unsur sarana atau perangkat keras peradaban ini berhubungan dengan hal-hal yang dalam kondisi dunia saat ini disebut sebagai lambang kemajuan seperti sains, penemuan, ekonomi, politik, wibawa di pentas internasional, dan semisalnya."
Beliau menambahkan, "Dalam kaitan ini, kita sudah membukukan kemajuan yang cukup bagus. Tapi harus diingat bahwa semua prestasi itu terkait dengan unsur sarana untuk meraih unsur hakiki dan piranti lunak bagi peradaban Islam, yaitu gaya hidup."
Berbicara mengenai gaya dan budaya hidup, Rahbar menyinggung berbagai masalah seperti keluarga, pernikahan, model rumah, jenis pakaian, gaya konsumsi, hiburan, pekerjaan serta perilaku individu dan sosial di berbagai lingkungan. Beliau mengatakan, "Gaya hidup kembali kepada semua permasalahan yang membentuk kehidupan manusia."
Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan aturan Islam dalam masalah gaya hidup. "Dalam Islam ada istilah akal kehidupan yang maknanya sama dengan gaya dan budaya hidup, dan al-Qur'an dalam banyak ayat sucinya membahas masalah ini," kata beliau.
Menurut beliau, tanpa kemajuan pada unsur hakiki peradaban Islam yaitu gaya hidup, maka tujuan dari proses membangun peradaban yang besar ini tak akan bisa tercapai. "Sayangnya, dalam masalah ini kita tidak berhasil mengukir prestasi yang signifikan seperti yang kita raih di bagian pertama yang berhubungan dengan ranah keilmuan, industri dan semisalnya," imbuh beliau.
Rahbar menyebut patologi dan penelitian untuk mencari faktor penghalang kemajuan menyangkut gaya hidup sebagai satu keharusan. Beliau mengajak para cendekiawan, pemikir dan pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan untuk membahas masalah ini dan mencarikan jalan keluar terbaik.
Menyebut masalah gaya hidup sebagai topik pembahasan yang baru di Iran, Pemimpin Besar Revolusi Islam memberikan permisalan bahasan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan. Mengapa di Iran budaya kerja berkelompok lemah? Mengapa dalam hubungan sosial hak orang lain sering dilanggar? Mengapa angka perceraian di sejumlah daerah tinggi? Mengapa para pengemudi kendaraan tidak terlalu mengindahkan aturan lalu lintas? Apa saja aturan hidup di apartemen dan apakah aturan itu diindahkan? Apakah model yang ideal bagi hiburan yang sehat? Apakah dalam keseharian kita selalu berbicara jujur? Sejauh manakah masyarakat tercemari kebiasaan berbohong? Apakah yang memicu tindakan brutal dan ketidaksabaran dalam hubungan bermasyarakat?
Rahbar juga mengajukan pertanyaan mengenai, Selogis apakah model pakaian dan tatanan kota yang ada saat ini? Apakah hak-hak masyarakat dijaga di internet dan media massa? Apa penyebab munculnya penyakit berbahaya berupa kecenderungan melanggar hukum pada diri sebagian orang? Seberapa besar dedikasi kita dalam bekerja? Sejauh manakah kepedulian kepada kualitas produksi lokal? Mengapa masih banyak ide cemerlang yang hanya bertahan di tahap kata-kata dan impian? Berapa jamkah kerja manfaat yang dilakukan di kantor-kantor? Apa yang harus kita lakukan untuk memberantas riba'? Apakah hak-hak suami, istri, dan anak-anak diindahkan secara penuh dalam keluarga? Mengapa sebagian orang bangga dengan konsumerisme? Apa yang harus kita lakukan supaya perempuan bisa tetap menjaga kehormatan keluarganya dan di saat yang sama dapat melaksanakan tugas sosialnya dengan baik?
Di kesempatan tersebut, Rahbar juga menyinggung peradaban Barat. Budaya Barat dibentuk atas dasar meterialisme dan hanya memperhatikan sisi luar kehidupan manusia. Ideologi ini tidak terlalu mementingkan ajaran mendalam kemanusiaan. Namun di sini pertanyaan yang muncul adalah apakah manusia di kehidupannya hanya membutuhkan sarana dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan. Apakah sisi batin manusia juga menuntut hal-hal materi, ketenangan jiwa manusia apakah dapat dipenuhi dengan harta dan uang?
Di sini Ayatullah al-Udzma Khamenei menandaskan, "Esensi budaya Barat adalah gaya hidup meterial, pemenuhan tuntutan syahwat dan bergelimang dosa. Budaya Barat anti spiritualisme... Oleh karena itu, syarat utama untuk membentuk  budaya baru Islam adalah tidak mengikuti budaya Barat." Beliau menjelaskan, pada dasarnya budaya Barat adalah budaya agresi. Jika menyebar di sebuah negara, dengan alasan apapun, maka budaya tersebut akan menghancurkan budaya dan jatidiri bangsa itu. Di negara-negara Barat dan masyarakat yang mengekornya, perilaku dosa besar seperti praktik homoseksual, fenomena kehancuran rumah tangga, dan berbagai problema besar lainnya dipandang sebagai hal yang biasa.
Lebih lanjut Ayatollah al-Udzma Khamenei mengungkap skenario Barat dalam mengenalkan dan menyebarkan budayanya di dunia khususnya di Dunia Islam dengan berbagai cara, yang salah satunya dan yang terpenting adalah seni sinema. Mereka melibatkan para pakar untuk membantu mengenal kelemahan bangsa-bangsa di dunia khususnya umat Islam, sebelum akhirnya membuat dan menyebarkan film-film yang mengenalkan budaya dan gaya hidup ala Barat.
Beliau menegaskan, "Dalam hal ini, para pejabat negara dan rakyat secara umum harus mempertahankan budaya bangsa dan negara ini." Pemimpin Besar Revolusi Islam menyayangkan adanya sebagian kalangan yang meniru gaya hidup Barat di tengah masyarakat Iran. "Fenomena ini harus diperbaiki secara perlahan dengan cara sosialisasi," kata beliau.
Rahbar juga  mengimbau untuk sepenuhnya menolak gaya hidup ala peradaban Barat, Rahbar menggarisbawahi, "Kami tidak menginginkan konfrontasi dengan Barat. Yang kami katakan adalah bahwa sesuai penelitian yang sudah dilakukan, mengikuti Barat tidak mendatangkan manfaat bagi bangsa manapun."(IRIB Indonesia)

Ahmadinejad monumental speech at UN


In the Name of God, the Compassionate, the Merciful

"All praise be to Allah, the Lord of the Universe, and peace and blessing be upon our Master and Prophet, Mohammad, and his pure Household, and his noble Companions"

"Oh, God, hasten the arrival of Imam Al-Mahdi and grant him good health and victory and make us his followers and those who attest to his rightfulness"

Mr. President,

Excellencies,

Ladies and gentlemen,

I thank the Almighty God for granting me, once more, this opportunity to address this important international meeting.

I wish to begin by congratulating you, Mr. President, for having assumed the presidency of the 64th Session of the UN General Assembly and wish you all the success. I also extend my thanks to H.E. Mr. Miguel d'Escoto Brockmann, President of the 63rd Session of the General Assembly, for his excellent stewardship of the work of the General Assembly during his term.

Over the past four years I have talked to you concerning the main challenges facing our world. I have talked about the roots and underlying causes of these challenges and the need for the world powers to review their outlook and workout new mechanisms to address the pressing international problems. I have talked about the two conflicting outlooks prevailing in our world; one that is based on the predominance of its materialistic interests through spreading inequality and oppression, poverty and deprivation, aggression, occupation and deception, and tends to bring the entire world under its control and impose its will on other nations. This outlook has produced nothing but frustration, disappointment and a dark future for the entire humanity.

The other outlook is the one that spouses with the belief in the oneness of the Almighty God, follows the teaching of His messengers, respects human dignity and seeks to build a secure world for all members of the human community, in which everybody can equally enjoy the blessings of sustainable peace and spirituality. The latter is an outlook that respects all human beings, nations, and valuable cultures in defiance of all types of discrimination in the world, and commits itself into a constant fight to promote equality for all before the law on the basis of justice and fraternity, laying a solid foundation to guarantee equal access for all human beings in their quest to excel in knowledge and science.

I have laid emphasis time and again on the need to make fundamental changes in the current attitudes towards the world and the human being in order to be able to create a bright tomorrow.

Friends and Colleagues;

Today, I wish to share with you a few points about the changes that should take place.

First,

Clearly, continuation of the current circumstances in the world is impossible. The present inequitable and unfavorable conditions run counter to the very nature of human kind and move in a direction which contravenes the truth and the goal behind the creation of the world.

It is no longer possible to inject thousands of billions of dollars of unreal wealth to the world economy simply by printing worthless paper assets, or transfer inflation as well as social and economic problems to others through creating sever budget deficits. The engine of unbridled capitalism with its unfair system of thought has reached the end of road and is unable to move. The era of capitalist thinking and . imposition of one's thoughts on the international community, intended to predominate the world in the name of globalization and the age of setting up empires is over. It is no longer possible to humiliate nations and impose double standard policies on the world community.

Approaches in which realization of the interests of certain powers is considered as the only criteria to weigh democracy, and using the ugliest methods of intimidation and deceit under the mantle of freedom as a democratic practice, and approaches through which sometimes dictators are portrayed as democrats, lack legitimacy and must be totally rejected.

The time has come to an end for those who define democracy and freedom and set standards whilst they themselves are the first who violate its fundamental principles. They can no longer sit both the judge and the executor and challenge the real democratically- established governments.

The awakening of nations and the expansion of freedom worldwide will no longer allow them to continue their hypocrisy and vicious attitudes. Because of all these reasons most nations including the people of the Untied States are waiting for real and profound changes. They have welcomed and will continue to welcome changes.

How can one imagine that the inhuman policies in Palestine may continue; to force the entire population of a country out of their homeland for more than 60 years by resorting to force and coercion; to attack them with all types of arms and even prohibited weapons; to deny them of their legitimate right of self-defense, while much to the chagrin of the international community calling the occupiers as the peace lovers, and portraying the victims as terrorists.

How can the crimes of the occupiers against defenseless women and children and destruction of their homes, farms, hospitals and schools be supported unconditionally by certain governments, and at the same time, the oppressed men and women be subject to genocide and heaviest economic blockade being denied of their basic needs, food, water and medicine.

They are not even allowed to rebuild their homes which were destroyed during the 22-day barbaric attacks by the Zionist regime while the winter is approaching. Whereas the aggressors and their supporters deceitfully continue their rhetoric in defense of human rights in order to put others under pressure.

It is no longer acceptable that a small minority would dominate the politics, economy and culture of major parts of the world by its complicated networks, and establish a new form of slavery, and harm the reputation of other nations, even European nations and the U.S., to attain its racist ambitions.

It is not acceptable that some who are several thousands of kilometers away from the Middle East would send their troops for military intervention and for spreading war, bloodshed, aggression, terror and intimidation in the whole region while blaming the protests of nations in the region, that are concerned about their fate and their national security, as a move against peace and as interference in others' affairs. Look at the situations in Iraq and Afghanistan.

It is no longer possible to bring a country under military occupation in the name of fight against terrorism and drug trafficking while the production of illicit drugs has multiplied, terrorism has widened its dimensions and has tightened its grips, thousands of innocent people have been killed, injured or displaced, infrastructures have been destroyed and regional security has been seriously jeopardized; and those who have created the current disastrous situation continue to blame others. How you can talk about friendship and solidarity with other nations while you expand your military bases in different parts of the world including in Latin America. This situation cannot continue. It is all the more impossible to advance expansionist and inhuman policies on the basis of militaristic logic. The logic of coercion and intimidation will produce dire consequences, exacerbating the present global problems.

It is not acceptable that the military budget of some governments exceeds far larger than those of the entire countries of the world. They export billions of dollars of arms every year, stockpile chemical and biological weapons, establish military bases or have military presence in other countries while accusing others of militarism, and mobilize all their resources in the world to impede scientific and technological progress of other nations under the pretext of countering arms proliferation. It is not acceptable that the United Nations and the Security Council, whose decisions must represent all nations and governments by the application of the most democratic methods in their decision making processes, be dominated by a few governments and serve their interests. In a world where cultures, thoughts and public opinions should be the determining factors, the continuation of the present situation is impossible, and fundamental changes seem to be unavoidable.

Second;

Any change must be structural and fundamental both in theory and practice, involving all domains of our life. The outdated mechanisms which themselves were instrumental in and the root cause for present problems in human societies can never be used to bring changes and create our desired world. Liberalism and capitalism that have alienated human beings from heavenly and moral values will never bring happiness for humanity because they are the main source of all misfortune wars, poverty and deprivation.

We have all seen that how the inequitable economic structures controlled by certain political interests have been used to plunder national wealth of countries for the benefit of a group of corrupt business giants. The present structures are incapable of reforming the present situation.

The political and economic structures created following the World War II that was based on intentions to dominate the world failed to promote justice and lasting security.

Rulers whose hearts do not beat for the love of humankind and who sacrificed the spirit of justice in their minds never offer the promise of peace and friendship to humanity. By the grace of God, Marxism is gone. It is now history. The expansionist Capitalism will certainly have the same fate. Because based on the divine traditions referred to as a principle in the Holy Quran, the wrong like the bubbles on the surface of water, will disappear. There remains only what that can be used forever towards the interest of human societies.

We must all remain vigilant to prevent the pursuit of colonialist, discriminatory and inhuman goals under the cover of the slogans for change and in new formats. The world needs to undergo fundamental changes and all must engage collectively to make them happen in the right direction, and through such efforts no one and no government would consider itself an exception to change or superior to others and try to impose its will on others by proclaiming world leadership.

Third;

All problems existing in our world today emanate from the fact that rulers have distanced themselves from human values, morality and the teachings of divine messengers. Regrettably, in the current international relations, selfishness and insatiable greed have taken the place of such humanitarian concepts as love, sacrifice, dignity, and justice. The belief in the One God has been replaced with selfishness.

Some have taken the place of God and insist to impose their values and wishes on others. Lies have taken the place of honesty; hypocrisy has replaced integrity and selfishness has taken the place of sacrifice. Deception in interactions is called foresight and statesmanship; looting the wealth of other nations is called development efforts; occupation is introduced as a gift towards promotion of freedom and democracy, and defenseless nations are subjected to repression in the name of defending human rights.

Friends and Colleagues;

Settlement of global problems and administration of justice and maintenance of peace will only be materialized with collective determination and cooperation of all nations and states. The age of polarizing the world on the premises of the hegemony or domination of a few governments is over.

Today we must rise together in a collective commitment against the present challenges; we must take change seriously and help others through collective work to return to the basic moral and human values. Messengers were sent by God to show the light of the truth to human kind, they came to make people aware of their individual and social obligations. Piety, having faith to Allah and its judgment of human behavior or conduct in the next world, belief in the primacy of justice in both lives, seeking one's happiness, well being and security in the happiness, well-being and security of others, respecting human kind, making efforts to expand love and compassion against hostility were all on top of the teachings offered by the Messengers of God from Adam to Noah, from Noah to Abraham, Moses, Jesus Christ and the last one Prophet Mohamamd (PUH). All of them came to do something to eliminate war and ignorance, to eradicate poverty and uproot discrimination in order to spread happiness in the entire world. They are the best gifts that God Almighty has granted to human beings.

If the belief in Entezar( A waiting patiently for the Imam to return) will turn into a common and we join hands to achieve prosperity for all, then there will be more real and increasing hopes for reform.

Fourth;

In my opinion, we have several important agendas in front of us. The Secretary-General and the UN General Assembly can take the lead by undertaking necessary measures for the fulfillment of our shared goals on the basis of:

1. Restructuring the United Nations in order to transform this world body to an efficient and fully democratic organization, capable of playing an impartial, equitable, and effective role in the international relations; reforming the structure of the Security Council, specially by abolishing the discriminatory privilege of veto right; restoration of the inalienable rights of the Palestinian people by organizing a referendum and free elections in Palestine in order to prepare a conducive ground for all Palestinian populations, including Muslims, Christians and Jews to live together in peace and harmony; putting an end to all types of interferences in the affairs of Iraq, Afghanistan, Middle East, and in all countries in Africa, Latin America, Asia and Europe.

As our great Prophet said, a government may survive with blasphemy, but never with oppression. Oppression against Palestinians and violation of their rights still continue; a new group of Palestinians who lived in al-Qod al-Sharif were again forced out of their homes as the destruction of their residential homes continues by the occupiers; bombings in Afghanistan and Pakistan have not yet sopped; and Guantanamo Prison has not yet been shut down and there are still secret prisons in Europe.

Continuation of the present situation adds to hostilities and violence. Oppression and military aggression must be stopped. Regrettably, official reports concerning the brutalities of the Zionist regime in Gaza have not been completely published. The Secretary-General and the United Nations have crucial responsibilities in this respect and the international community is impatiently waiting for the punishment of the aggressors and the murderers of the defenseless people of Gaza.

2. Reforming the current economic structures and setting up a new international economic order based on human and moral values and obligations. A new course is needed that would help promote justice and progress worldwide by flourishing the potentials and talents of all nations thus bringing well-being for all and for future generations;

3. Reforming the international political relations based on the promotion of lasting peace and friendship, eradication of arms race and elimination of all nuclear, chemical and biological weapons;

4. Reforming cultural structures , respect for diverse customs and traditions of all nations, fostering moral values and spirituality aimed at institution of family as the backbone of all human societies;

5. Worldwide efforts to protect the environment and full observance of the international agreements and arrangements to prevent the annihilation of nature's non-renewable resources.

Fifth;

Our nation has successfully gone through a glorious and fully- democratic election, opening a new chapter for our country in the march towards national progress and enhanced international interactions. They entrusted me once more with a large majority this heavy responsibility.

And now, I want to declare that our great nation that has made great contribution to the world civilization, and the Islamic Republic of Iran as one of the most democratic and progressive governments of the world is ready to mobilize all its cultural, political and economic capabilities to engage into constructive process aimed at addressing the international concerns and challenges. Our country has been a main victim of terrorism and the target of an all-out military aggression during the first decade of the revolution.

All through the past thirty years we have been subject to hostile attitudes of those who supported Saddam's military aggression and his use of chemical weapons against us, and then they took military action in Iraq to get rid of him. Today, our nation seeks to create a world in which justice and compassion prevail. We announce our commitment to participate in the process of building a durable peace and security worldwide for all nations based on justice, spirituality and human dignity, while being dedicated to strongly defending our legitimate and legal rights.

To materialize these goals, our nation is prepared to warmly shake all those hands which are honestly extended to us. No nation can claim to be free from the need to change and reform in this journey towards perfectness. We welcome real and humane changes and stand ready to actively engage in fundamental global reforms.

Therefore, we emphasize that:

The only path to remain safe is to return to Mmonotheism (believing in the Oneness of God) and justice, and this is the greatest hope and opportunity in all ages and generations. Without belief in God and commitment to the cause of justice and fight against injustice and discrimination, the world architect would not get right.

Man is at the center of the universe. The man's unique feature is his humanity. The same feature which seeks for justice, piety, love, knowledge, awareness and all other high values. These human values should be supported, and each and every fellow humans should be given the opportunity to acquire them. Neglecting any of them is tantamount to the omission of a constituting piece of humanity. These are common elements which connect all human communities and constitute the basis of peace, security and friendship.

The divine religions pay attention to all aspects of human life, including obedience to God, morality, justice, fighting oppression, and endeavor to establish just and good governance. Prophet Abraham called for Oneness of God against Nimrod, as Prophet Moses did the same against Pharaohs and the Jesus Christ and Prophet Muhammad (Peace be upon them) did against the oppressors of their own time. They were all threatened to death and were forced out of their homelands. Without resistance and objection, the injustices would not be removed from the face of the earth.

Sixth;

Dear friends and colleagues;

The world is in continuous change and evolution. The promised destiny for the mankind is the establishment of the humane pure life. Will come a time when justice will prevail across the globe and every single human being will enjoy respect and dignity. That will be the time when the Mankind's path to moral and spiritual perfectness will be opened and his journey to God and the manifestation of the God's Divine Names will come true. The mankind should excel to represent the God's "knowledge and wisdom", His "compassion and benevolence", His "justice and fairness", His "power and art", and His "kindness and forgiveness".

These will all come true under the rule of the Perfect Man, the last Divine Source on earth, Hazrat Mahdi (Peace be upon him); an offspring of the Prophet of Islam, who will re-emerge, and Jesus Christ (Peace be upon him) and other noble men will accompany him in the accomplishment of this, grand universal mission. And this is the belief in Entezar (Awaiting patiently for the Imam to return). Waiting with patience for the rule of goodness and the governance of the Best which is a universal human notion and which is a source of nations' hope for the betterment of the world.

They will come, and with the help of righteous people and true believers will materialize the man's long-standing desires for freedom, perfectness, maturity, security and tranquility, peace and beauty. They will come to put an end to war and aggression and present the entire knowledge as well as spirituality and friendship to the whole world.

Yes; Indeed, the bright future for the mankind will come.

Dear friends,

In waiting for that brilliant time to come and in a collective commitment, let's make due contributions in paving the grounds and preparing the conditions for building that bright future.

Long live love and spirituality; long live peace and security; long live justice and freedom.

God's Peace and blessing be upon you all.
 — withKhomsah NazarNasrin SarafraazHarun Elbinawiand 15 others.

Kami adukan duka kami YA ALLAH

Duka cita mendalam kami sampaikan pada Hujjah Allah terakhir atas kejadian yang ditimpakan pada Nabi penutup kekasih Allah Muhammad ibn Abdillah saww.

Kejadian demi kejadian yang kita alami akhir-akhir ini , sangatlah menyayat hati. Bagaimana tidak,  di hampir seluruh belahan dunia ini kita menyaksikan berbagai pelanggaran demi pelangaran kemanusiaan yang telah direncanakan dan diatur sedemikian rupa atas nama demokrasi, kemanusiaan, dan agama. Yang ujung2nya adalah menyerang kaum Muslimin dan agama Islam pada khususnya.

Jelas sudah wajah-wajah mereka yang sesungguhnya,  wajah binatang buas yang berbadan manusia, tersenyum manis seolah mereka datang untuk membantu, menolong bangsa2 yang tertindas menggunakan badan2 International yang berbendera demokrasi, kemanusiaan dan agama.

Hak-hak setiap bangsa kian hari kian teraniaya. Hak sebagai manusia pun di rampas, tanah2 air mereka di rampok sehingga mereka terusir, aset-aset bangsa2 yang dikalahkan secara langsung dan tidak langsung dirampas, jati diri bangsa2 terjajah itupun di gantikan dengan model yang mereka ciptakan. Agama dan budaya2 mereka pun di nistakan dengan gaya hidup liar dan tak berperikemanusiaan.

Nabi kami tercinta dan keluarganya pun di hinakan mereka.....Ya ALLAH, kami mengadu padaMU, betapa sakitnya hati ini,  sungguh hal ini telah mendidihkan darah kami yang begitu sangat mencintai Nabi kami Muhammad saww , yang setiap hari kami kirimkan salawat padanya ,yang setiap harinya kami ingat dan agungkan , yang setiap harinya kami mencoba mencontoh perilakunya, yang setiap harinya diri kami , kami medoakan agar dapat mendapatkan ridhaNYA...

Tahukah , wahai musuh2 Allah, keberadaan bumi ini beserta seluruh isinya ada itu berkat keberadaan Muhammad saww Sang kekasih Allah Sang Pencipta Alam Semesta ini, kalian pun dapat menghirup udara ini berkat kasih sayangNYA atas permintaan Muhammad saw Sang Nabi Allah . Cinta kami pada Nabi kami Muhammad saw lebih dari cinta pada diri kami sendiri dan keluarga kami.

Kesombongan dan kedunguan kalian wahai musuh2 Allah yang membuat mata hati kalian buta sehingga tidak dapat merasakan lagi indahnya kebaikan. Apakah kalian rela ibu2 kalian  atau siapapun yang kalian cintai dari keluarga kalian yang kalian cintai di cela dan di hinakan? JAWABLAH pertanyaan ini!!!! Untuk kami Nabi Muhammad saww jauh lebih berharga dari pada apapun yang ada di dunia ini dan seisinya , kecintaan pada beliau saww lebih dari pada kecintaan pada diri kami sendiri dan keluarga kami. Nyawa kami yang paling berharga di dunia ini pun tak ada apa2nya dibandingkan dengan kecintaan kami pada beliau saww.

TeTAPI, kami tidak akan bertindak kriminal seperti yang kalian lakukan pada kami. Karena ajaran agama kami yang telah di ajarkan oleh Nabi tercinta kami Muhammad saww untukselalu  bertindak dengan kasih sayang, berdialog dengan indah dan elok ,  sambil menyamakan persepsi , tidak dengan menghina apalagi dengan menyerang. Karena itu jauh dari ajaran yang diajarkan beliau saww. Islam mengajarkan kami untuk menjadi MANUSIA bukan binatang buas seperti yang kalian lakukan pada banyak kaum muslimin di dunia ini. TETAPI KAMI MENUNTUT KEADILAN.....YA KEADILAN....SIAPAPUN YANG MENYAKITI RASULULLAH SAWW BERARTI MENYAKITI ALLAH ....SEBELUM DI ADILI DI ALAM SANA , MEREKA HARUS DIADILI DI MUKA BUMI INI!!!! YA ALLAH....HANCURKAN MEREKA PARA MUSUH2 MU YA RABB AL MUHAMMAD....

Oleh karena itu,  KAMI MENOLAK DAN TIDAK MENERIMA NABI KAMI DI HINAKAN!!!!

KAMI PERINGATKAN PADA KALIAN WAHAI SETAN2 BESAR!!! BERTINDAKLAH  SESUAI DENGAN APA YANG KALIAN INGIN ORANG LAIN BERTINDAK PADA KALIAN!!!

MENGAKU BANGSA YANG BERADAB, TUNJUKANLAH ...APAKAH MENGHINA MANUSIA TERMULIA DI MUKA BUMI INI , ADALAH TINDAKAN BANGSA YANG BERADAB???

LAKNAT ALLAH PADA PARA DZALIMIN DARI AWAL HINGGA AKHIR ZAMAN...

ALLAHUMMA SHALI ALA MUHAMMAD WA ALI MUHAMMAD WA AJIL FARAJAHUM
ADRIKNA YA MAHDI





KONFLIK SURIAH BUKAN PERTARUNGAN SUNNI-SYIAH Sebuah Momen Simpul Menuju Tatanan Dunia Baru?


Agaknya kita mesti kritis dan berhati-hati menyikapi konflik Suriah yang telah menjadi sebuah isu global yang panas dalam 17 bulan terakhir.  Hendaknya kita jangan sampai turut bermain dalam gendang yang dimainkan oleh musuh-musuh peradaban Islam dan kemanusiaan, yang sejak awal mengarahkannya ke konflik sektarianisme antara Sunni dan Syiah atau bahkan Islam versus Kristen. Inilah yang dikehendaki Zionis dan AS/Barat, yakni mengadu domba umat Islam atau sesama umat beragama.

Apa yang terjadi di Suriah secara genealogis sama sekali tidak ada hubungannya dengan isu Sunni-Syiah. Fakta yang sangat nyata adalah pendukung Assad berasal dari kaum Sunni (komponen terbesar), Alawiyyin, Syiah, Kristen Ortodoks, dan minoritas lainnya. Sementara penentang Assad awalnya juga beragam meski kemudian ketika mereka bersenjata didominasi oleh jaringan jihadis global kaum ekstrimis Salafi-Wahabi.  Setelah 17 bulan berlalu, Barat dan antek-antek regionalnya (Arab Saudi, Qatar, Turki) gigit jari, gemas, dan akhirnya putus asa karena ekspektasi mereka gagal total. 

Pertama, mereka berharap terjadi defeksi/pembelotan besar-besaran tentara Suriah yang 80% adalah penganut Sunni. Kedua, mereka meramal, sebagaimana dugaan pemberontak, Aleppo bisa menjadi "Bengazi" nya Suriah, yi, menjadi pusat gerakan pemberontakan mengingat 90% penduduknya adalah Sunni atau kabilah-kabilah Arab yang Sunni. Ternyata, di luar ekspetasi mereka, banyak penduduk Aleppo yang menentang pemberontak, tidak hanya secara politis tapi juga secara militer. Alhasil, kedua ekspektasi ini tak kunjung datang dan sirna. Hal itulah diantaranya yang membuat Presiden Perancis Hollande sampai kehilangan akal sehat dengan mengeluarkan kata-kata kasar yang seakan masih memperlakukan Suriah sebagai koloninya.

Jadi, bukti di lapangan tidak menunjukkan secara substansial adanya peran Sunni-Syiah dalam menggelorakan kerusuhan di Suriah. Saya katakan 'secara substansial' karena secara aksidental, kaum pemberontak Salafi dan majikan mereka (Arab Saudi, Qaar, Turki, AS/Inggris/Perancis) yang menggaji dan mempersenjatai mereka berusaha menggunakan isu Sunni-Syiah untuk memprovokasi kaum Sunni Suriah, dan juga sekaligus digunakan oleh jaringan global Wahabi untuk merusak persaudaraan Islam seperti yang terjadi di tanah air kita (catatan: saya kerap menemukan orang-orang yang memaki Syiah dengan alasan apa yang mereka imajinasikan sebagai 'pembantaian Sunni oleh Syiah' di Suriah). 

Jadi, provokasi Wahabi ini telah berdampak buruk di negeri kita; sementara rakyat Suriah sendiri, yang mengalami langsung konflik yang terjadi, hampir tak terpengaruh oleh agitasi Wahabi ini. Kita berharap mudah-mudahan rakyat Suriah -apapun mazhab dan agamanya- tetap tak terpengaruh oleh hasutan ini dan berdoa semoga mereka segera keluar dari penderitaan yang berkepanjangan ini.

Lalu, apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah? Jenis konflik apa yang berlangsung di negeri klasik, yang merupakan tempat pertemuan sejumlah peradaban dan agama-agama dunia ini?

Memang sulit mengidentifikasi dan membuat kategorisasi mengenai kerusuhan di Suriah. Ia jelas bukan konflik Sunni-Syiah. Ia juga bukan konflik pro-demokrasi dan pro-kerajaan (seperti di Bahrain) mengingat pendukung pemberontak Suriah adalah justru monarki-monarki absolut, yang sama sekali tidak punya legitimasi untuk berbicara tentang demokrasi. Sejumlah pemimpin Iran membaca kerusuhan Suriah ini sebagai skenario yang diciptakan oleh AS/Barat untuk menyelamatkan eksistensi Zionis Israel yang kini dicekam ketakutan menyusul lahirnya Islamic Awakening (istilah Iran) atau Arab Spring (istilah Barat). 

Mungkin kita bisa juga membuat kategorisasi lain; semisal bahwa konflik Suriah adalah pertarungan nasionalisme-sosialisme Arab (Suriah kini menjadi satu-satunya negara Arab yang berdaulat, tidak tunduk kepada Barat) melawan sekutu kapitalisme global. Rusia (pewaris komunisme Uni Soviet) dan China (komunisme-nasionalis) hingga detik ini masih sangat kuat mendukung pemerintah Suriah.  Atau dimungkinkan juga untuk mengidentifikasi bahwa konflik Suriah merupakan sebuah titik balik kurva perubahan dari tatanan dunia lama (paradigma mekanistik) ke tatanan dunia baru (paradigma holistik) yang ditandai oleh kesalinghubungan yang organis di antara titik-titik kejadian di planet ini.

Apapun identifikasi dan kategorisasi yang dibuat, yang harus ditegaskan adalah bahwa "konflik di Suriah" (bedakan dengan "konflik Suriah") tidak terkait dengan pertarungan Sunni-Syiah. Ini yang paling penting kita garisbawahi. "Konflik di Suriah" artinya sebuah peristiwa konflik yang melibatkan kepentingan semua kelompok di dunia dengan menggunakan tanah Suriah. 

Tentu saja, istilah Sunni-Syiah yang saya pakai di sini mengacu kepada pengertian sebagai identitas kelompok, sebagai kata benda, sebagaimana umumnya dipahami. Akan berbeda halnya bila istilah Sunni-Syiah dimaknai sebagai kata kerja/sifat. Shah Iran Pahlevi dan para pengikutnya yang kini tinggal di AS tercatat sebagai penganut Syiah dalam pengertian identitas dan kata benda, akan tetapi mereka penentang keras gagasan keadilan dan peradaban Islam. Sebaliknya, tak sedikit kaum Sunni atau bahkan umat beragama lain, yang menyuarakan keadilan dan perlawanan terhadap arogansi dan dominasi kapital. 

Nah, sekalipun identitas Bashar Assad tidak diketahui persis apakah Sunni atau Syiah (dan menurut saya, ini tidak relevan), kita bisa membacanya dalam kategorisasi kata kerja melalui pertanyaan berikut: Apa yang telah dia lakukan selama ini dalam perlawanan bersama rakyat Palestina dan Lebanon terhadap kepongahan dan penindasan Zionis/Barat?

La hawla wa la quwwata illa billah

Wassalam
Husain Heriyanto

Introducing SAYYID HASSAN NASRULLAH - The Leader of the Lebanese Resistance


The leader of the Muqawama is little known , he is known for scaring the Israelis and looking after his people and defending the country and securing the safety of the borders .The Israelis know very well that they cannot mess with him .He is the only Arab who succeeded into driving them out of the country and introduce
d them to their own weakness and cowardice and this the Israelis cannot forget nor forgive, the whole world saw them defeated and withdrawing shamefully while the Resistance was celebrating the victory.

The man who hardly sleeps and seldom eats and spends his nights over a thin cover on the floor , does not interrupt his prayers except to cater to political matters and resumes his prayers after that , has been wearing the same pair of shoes for many years, has never enjoyed any present sent to him by the friends of the Resistance but hurries to distribute all to the ones who deserve them most . On one rare occasion , responding to an official invitation to a banquet to honor the Lebanese orphans , Sayyed Hassan greeted the politicians from far and then approached the orphans to greet them personally one by one and left the official table where wealthy contributors where sitting to join the orphans in their meal.

This is Sayyed Hassan Nasrullah , this is the terrorist the International Infamous Court is tracking , this is the liberator of the country , the great sacrificer whose eldest son died on the battlefield ground , this is the man of great austerity , the lover of his country , the dedicated leader of his people , of all people ; God bless him and preserve him and support him with all his might ; all the International Infamous Courts on earth will not affect our strong willed leader who said many a times that even if he were offered the sun in one hand and the moon in the other, he will never forsake the act of Resistance , NEVER. This is no fairy tale and no fantasy , this is truth and this is reality , we have seen this with our own eyes and we have heard it with our own ears and we have felt it in our whole heart
 





by Daniel Mabsout

SIARAN PERS AHLULBAIT INDONESIA - Kasus SAMPANG


SIARAN PERS AHLULBAIT INDONESIA (ABI)

“ Nak, jangau kau menaruh dendam pada pembunuh bapak. Sayangi mereka karena hidup dalam kegelapan dan kebodohan.” (Wasiat Muhammad Hasyim bin Masyhuri, 50, warga Syiah di Nangkrenang, Sampang, di detik-detik terakhir hayatnya kepada putranya Muhaimin Hamama. Muhammad Hasyim, kerap disapa Hamama, meninggal dengan usus terburai dan luka sayatan di punggung. Dia jadi korban keberingasan setelah berupaya menyelamatkan keluarganya dari amukan massa. Dia mati dengan meninggalkan seorang istri dan enam orang anak. Muhaimin, putra tertuanya, saat ini masih berusia 15 tahun.)

JAKARTA, 31 AGUSTUS – Untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Indonesia, organisasi induk warga Syiah mengajukan sikap sekaligus tuntutan resmi ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait Tragedi Berdarah Sampang, sebuah isyarat besarnya harapan mereka pada komitmen dan kesungguhan pemerintah untuk menegakkan keadilan yang sobek oleh kegelapan atas nama agama.
Meletus pada 26 Agustus, Tragedi Berdarah Sampang ditandai dengan penyerbuan terencana atas kediaman sekitar 600 orang warga Syiah yang menetap di tiga dusun di Kecamatan Omben, Sampang, Madura. Berbagai kesaksian menggabarkan kawanan penyerbu maju dengan clurit, parang dan bom molotov. Tak ada yang bisa membendung. Polisi Sampang, meski telah mendengar rencana penyerangan itu, kalah dalam jumlah. Cerita selebihnya adalah fakta getir: dalam hitungan jam, keberingasan kawanan itu menewaskan satu orang, melukai belasan orang lainnya. Beberapa di antara korban luka masih terbaring kritis di rumah sakit hingga kini. Laporan dari lapangan juga menyebutkan kalau kawanan penyerang membakar puluhan rumah warga Syiah lepas menjarah habis isinya – termasuk ternak sapi yang menjadi andalan kehidupan warga yang umumnya petani. Sementara itu, hingga hari ini, Brimob dan TNI masih bekerja keras mengevakuasi ratusan warga yang terpaksa bersembunyi di hutan-hutan seputaran desa dengan bekal seadanya karena ketakutan.
Syiah, kata Ketua Umum Ahlul Bait Indonesia, Hasan Alaydrus, sudah lama menjadi bagian dalam kehidupan sederhana dan bersahaja orang-orang di Sampang. “Masalah memang ada saja, tapi tak pernah berakhir hingga kekerasan apalagi pembunuhan,” katanya. Eskalasi kebencian dan penyerangan, kata Hasan Alaydrus lagi, mulai menggejala lepas munculnya fatwa sesat Syiah oleh MUI Jatim pada 2007 dan fatwa serupa datang dari PWCU Sampang tak lama setelahnya. “Ini diperparah oleh segelintir muballigh yang menyalakan api kebencian atas Syiah, termasuk menyebut kalau orang Syiah halal darahnya, wajib „dikarungi‟,” kata Hasan menyesalkan hukum tak pernah ditegakkan pada para penyebar kebencian itu.

DEWAN PENGURUS PUSAT
Lebih jauh, Hasan Alaydrus berpendapat fatwa sesat Syiah dan laku memalukan sebagian penceramah di Jawa Timur itu janggal dari sisi manapun. Dia bilang MUI Pusat dan Kementrian Agama tak pernah mengeluarkan fatwa sesat atas Syiah. “Di negara-negara lain, Syiah tak pernah difatwakan sesat. Bahkan di Arab Saudi tak pernah muncul fakta serupa.”
Di Sampang pada Desember 2011, fatwa sesat dan provokasi anti Syiah menemukan bentuk awalnya: teror dan pembakaran mesjid, pesantren dan rumah warga Syiah pada 26 Desember 2011. Jika ini saja sudah memilukukan, lebih gelap fakta bahwa lepas kejadian itu, justru korban teror dan kekerasan, dalam hal ini Ustadz Tajul Muluk, pimpinan warga Syiah di Sampang, yang dimejahijaukan oleh polisi di Sampang. Pengadilan di Madura belakangan menjatuhkan hukuman dua tahun penjara untuk Tajul. Hakim berkesimpulan Tajul mendakwahkan Al Qur’an palsu, sebuah putusan sesat mengingat hingga persidangan berakhir tak pernah ada bukti Tajul memiliki Al Quran palsu seperti yang dituduhkan.
Sementara itu, Ketua Dewan Syura ABI, Umar Shahab, mengungkap harapan agar semua pihak bahu-membahu menutup lembar perselisihan mazhab Islam. Umar mengatakan, dalam KTT OKI terakhir di Arab Saudi, Raja Abdullah, menawarkan kesediaan dan meminta semua negara Islam memfasilitas dialog antar mazhab, di mana Syiah menjadi bagian di dalamnya. “Sungguh tragis di saat negara-negara lain berjuang menutup jurang perbedaan, Sampang justru berdarah-darah,” katanya.
Terkait semua itu, Sekretaris Jenderal Ahlul Bait Indonesia, Ahmad Hidayat, menyebut organisasi, dalam satu-dua hari kedepan, bakal bersurat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Surat memuat sikap dan tuntutan organisasi dan kami berharap pemerintah menaruh perhatian serius pada tragedi berdarah ini dan mengupayakan penegakan keadilan sesegera mungkin agar tak ada lagi tragedi serupa di masa datang,” katanya menyebut surat yang sama juga ditujukan ke Kementrian Agama, Kementrian Sosial, MUI, Kepolisian Republik Indonesia dan Badan Intelijen Negara.

DEWAN PENGURUS PUSAT
SIKAP AHLULBAIT INDONESIA (ABI)

1. Meminta pemerintah mengupayakan dengan segera dialog dan pencabutan fatwa sesat Syiah yang terbukti menjadi pemicu lahirnya kebencian dan keberingasan ekstrim yang tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur Pancasila.
2. Meminta pemerintah bekerja keras memulihkan hak-hak korban, termasuk membangun kembali rumah-rumah mereka yang hancur, mengganti harta benda yang dijarah, serta memberikan jaminan perlindungan dan keamanan sehingga warga Syiah di Sampang bisa kembali hidup normal di kampung sendiri.
3. Meminta pemerintah mengesampingkan gagasan relokasi warga karena hal itu sama saja memberi kemenangan dobel bagi para provokator Tragedi Berdarah Sampang.
4. Meminta pemerintah melibatkan warga Syiah di Sampang dalam setiap musyawarah terkait hak-hak mereka, yang dalam hal ini diwakili oleh ABI.
5. Meminta pemerintah menghentikan semua bentuk kriminalisasi atas warga Syiah, termasuk atas terpindana dua tahun penjara Tajul Muluk.
6. Meminta pemerintah menindak dan mengadili kawanan penyerang di Sampang serta otak di balik tragedi berdarah itu.
Jakarta, 31 Agustus 2012 M
13 Syawal 1433 H


DEWAN PENGURUS PUSAT
AHLULBAIT INDONESIA
HASSAN ALAYDRUS AHMAD HIDAYAT
KETUA UMUM SEKRETARIS JENDERAL
DEWAN PENGURUS PUSAT

PIDATO Lengkap Sayid Ali Khamanei- Pemimpin Tertinggi Republik Islam IRAN di KTT GNB ke 16 - Tehran

Pidato Lengkap Rahbar di KTT GNB Ke-16 Tehran

بسم‌اللّه‌الرّحمن‌الرّحیم‌

الحمد للّه ربّ العالمین و الصّلاة و السّلام على الرّسول الأعظم الأمین و على اله الطّاهرین‌ و صحبه المنتجبین و على جمیع الأنبیاء و المرسلین.‌

Saya mengucapkan selamat datang kepada Anda para tamu yang mulia, para pemimpin dan delegasi negara-negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) dan para peserta lainnya di konferensi besar internasional ini.

Kita berkumpul di sini dengan hidayah dan pertolongan Allah Swt, memberikan kembali kehidupan baru kepada gerakan yang dibentuk enam dekade lalu berkat keawasan dan penguasaan atas kondisi serta keberanian sejumlah pemimpin politik yang peduli dan bertanggung jawab, sesuai dengan tuntutan masa dan situasi dunia saat ini.

Para tamu kami dari berbagai wilayah geografi jauh dan dekat berkumpul di sini dan milik berbagai bangs adan etnis serta memiliki keyakinan, budaya, sejarah, dan warisan yang beragam, akan tetapi seperti yang ditekankan oleh Ahmad Soekarno, salah satu pendiri gerakan ini di Konferensi—yang terkenal—Bandung pada 1955, bahwa prinsip pembentukan GNB, bukan kesatuan geografis, etnis atau agama, melainkan persatuan itu sendiri. Di hari itu, negara-negara anggota GNB sangat membutuhkan sebuah ikatan yang mampu melindungi mereka dari dominasi jaringan kekuatan adidaya dan hegemonis; sekarang dengan perkembangan dan kemajuan sarana hegemoni, tuntutan tersebut tetap ada.

Saya ingin mengungkapkan fakta lain:

Islam mengajarkan bahwa manusia dengan keragaman etnis, bahasa dan budaya, memiliki fitrah yang setara yang menyeru mereka pada kesucian, keadilan, kebajikan, solidaritas dan kerjasama, dan watak kebersamaan ini yang jika dapat selamat melintasi keinginan menyimpang, maka ia dapat membimbing manusia kepada tauhid, makrifat zat Allah Swt. 

Ini adalah hakikat terang yang sedemikian memiliki kapasitas yang mampu membentuk pilar dan pondasi masyarakat yang bebas, mulia, maju dan adil, serta meresapkan pancaran spiritualitas ke seluruh aktivitas materi dan duniawi manusia, dan dapat mewujudkan sorga dunia sebelum sorga yang dijanjikan Allah Swt. Dan dalam fakta kolektif dan menyeluruh yang dapat membentuk ikatan kerjasama persaudaraan bangsa-bangsa yang dari sisi lahiriyah, jejak historis dan geografis tidak memiliki kemiripan satu sama lain.

Setiap kali kerjasama internasional berdasarkan pada ikatan seperti ini, maka hubungan antarnegara bukan berdasarkan kekhawatiran, ancaman atau ketamakan, dan kepentingan sepihak atau mediasi oknum-oknum pengkhianat, melainkan berasaskan pada prinsip kepentingan kolektif yang benar, dan lebih tinggi dari itu, kepentingan kemanusiaan, yang dapat melegakan jiwa mereka yang sadar dan opini rakyat mereka.

Sistem ideal ini berada di titik yang berlawanan dengan sistem imperialisme yang dalam beberapa abad terakhir kekuatan kolonial Barat dan sekarang negara-negara arogan dan agresor Amerika Serikat, sebagai pengklaim, penyebar luas, dan pionir dalam hal ini. 

Para tamu yang mulia!

Sekarang tujuan utama Gerakan Non-Blok setelah enam dekade berlalu dan tetap hidup dan tegak berdiri; adalah tujuan-tujuan seperti anti-penjajahan, independensi politik, ekonomi dan budaya, tidak berkomitmen pada kutub-kutub kekuatan, serta peningkatan solidaritas dan kerjasama antarnegara anggota. Fakta-fakta dunia saat ini sangat jauh dari tujuan-tujuan tersebut, akan tetapi tekad bersama dan upaya menyeluruh untuk melalui fakta-fakta tersebut dan dalam mencapai tujuan, meski penuh kendala, akan tetapi sangat memberikan harapan dan hasil. 

Di masa lalu yang tidak begitu jauh, kita menyaksikan kegagalan politik era Perang Dingin dan unilateralisme setelahnya. Dengan menimba pelajaran dari pengalaman bersejarah itu, kita sedang bergerak menuju sistem global baru dan Gerakan Non-Blok dapat dan harus menunjukkan peran barunya. Sistem (baru) tersebut harus berdasarkan partisipasi komprehensif serta kesetaraan hak bangsa-bangsa. Solidaritas dan kerjasama kita negara-negara anggota GNB ini, merupakan tuntutan utama dalam membentuk sistem itu.

Untungnya, prospek transformasi dunia, mengindikasikan sebuah sistem multi-dimensional yang di dalamnya, kutub-kutub kekuatan kuno menyerahkan posisinya kepada sekelompok negara, kebudayaan dan peradaban yang beragam dan memiliki berbagai tuntutan ekonomi, sosial dan politik. Berbagai peristiwa besar yang kita saksikan dalam tiga dekade terakhir, semuanya menunjukkan munculnya kekuatan-kekuatan baru yang dibarengi dengan pelemahan kekuatan-kekuatan (adidaya) kuno. Peralihan kekuasaan secara gradual ini, memberikan kesempatan kepada negara-negara Gerakan Non-Blok untuk memainkan pengaruh penting dan proporsional di kancah global dan mempersiapkan sebuah manajemen yang adil dan menyeluruh di tingkat dunia. Kita negara-negara anggota GNB, dalam periode lama dan dengan keragaman pandangan serta kecenderungan, mampu melestarikan solidaritas dan hubungan kita demi tujuan kolektif dan keberhasilan ini bukan masalah sederhana dan sepele. Ikatan ini dapat menjadi bekal menuju sebuah sistem yang adil dan berprikemanusiaan.

Kondisi dunia saat ini, mungkin menjadi kesempatan yang tidak akan terulang lagi untuk GNB. Pernyataan kami bahwa ruang kontrol dunia tidak boleh ditangani dengan diktatorisme segelintir negara Barat. Partisipasi demokratis global di sektor manajemen internasional harus dapat diwujudkan dan dijamin. Inilah tuntutan semua negara yang secara langsung maupun tidak langsung telah atau sedang menderita kerugian akibat interferensi sejumlah negara arogan.


Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki struktur dan kinerja yang tidak logis dan adil serta benar-benar tidak demokratis; Ini adalah diktatorismenyata dan sebuah kondisi kuno, ditolak, dan kadaluarsa. Dengan penyalahgunaan metode keliru ini, Amerika Serikat dan sekutunya dapat memaksakan kesewenag-wenangannya kepada dunia di balik kedok nilai-nilai tinggi. Mereka mengatakan bahwa hak asasi manusia yang menginginkan kepentingan Barat, mereka mengatakan demokrasi, dan menggulirkan intervensi militer ke berbagai negara dengan alasan tersebut, mereka mengungkapkan pemberantasan terorisme, serta menyerang warga tak berdaya di desa dan kota-kota dengan bom-bom dan senjata mereka. Di mata mereka, kemanusiaan dibagi menjadi dua kategori, kelas pertama dan kelas kedua atau ketiga. Nyawa manusia di Asia, Afrika dan Amerika Latin sangat murah dan adapun nyawa di Amerika Serikat dan Eropa sangat murah. Keamanan Amerika Serikat dan Eropa sangat penting, adapun keamanan umat manusia lainnya tidak penting. Penyiksaan dan teror jika dilakukan oleh Amerika Serikat, rezim Zionis Israel, dan antek-antek mereka legal dan sepenuhnya dapat dimaklumi. Penjara-penjara rahasia mereka di berbagai penjuru dunia menjadi saksi perlakuan buruk dan tidak manusiawi para sipir penjara terhadap para tahana yang tidak memiliki pengacara dan dipenjara tanpa melalui proses hukum. Baik dan buruk sepenuhnya relatif dan didefinisikan secara sepihk. Kepentingan-kepentingan mereka dipaksakan kepada bangsa-bangsa dunia dengan mengatas namakan ketentuan internasional. Dengan menggunakan jaringan medianya, mereka memperkuat pernyataan mereka dengan memperkenalkan sebagai "masyarakat internasional, serta mengubah kebohongan menjadi kejujuran, kebatilan menjadi kebenaran, kezaliman menjadi upaya penegakan keadilan, dan dalam menyikapi setiap pernyataan benar yang mengungkap penipuannya, mereka melabelnya sebagai kebohongan serta menilai setiap tuntutan sah sebagai kenakalan." 

Rekan-rekan!

Kondisi yang cacat dan penuh cela ini tidak boleh berlanjut. Semua pihak telah lelah menghadapi struktur internasional yang keliru ini. Gerakan 999 persen warga di Amerika Serikat dalam melawan sentra-sentra kekayaan dan kekuasaan di negara itu, serta protes warga negara-negara Eropa Barat terhadap politik ekonomi pemerintahan mereka juga menunjukkan habisnya kesabaran rakyat menghadapi kondisi ini. Kondisi yang tidak logis ini harus disembuhkan.

Hubungan kokoh, logis, dan komprehensif negara-negara anggota GNB dapat memberikan pengaruh besar dan esensial dalam menemukan penawar tersebut.

Para hadirin yang mulia!


Perdamaian dan keamanan internasional adalah salah satu isu vital dunia saat ini dan pemusnahan senjata bencana pemusnah massal merupakan tuntutan mendesak dan seruan universal. Di dunia sekarang ini, keamanan merupakan tuntutan bersama di mana tidak ada ruang untuk diskriminasi. Mereka yang menimbun senjata anti-kemanusiaan di gudang senjata tidak berhak untuk menyatakan diri sebagai penegak keamanan global. Tidak diragukan lagi, itu tidak akan mewujudkan keamanan bagi diri mereka sendiri. Sangat disayangkan sekali negara-negara yang memiliki persenjataan nuklir terbesar tidak punya niat serius dan tulus untuk memusnahkan senjata mematikan itu dari doktrin militer mereka dan mereka masih menganggap senjata tersebut sebagai instrumen yang menghalau ancaman dan sebagai standar penting dalam mendefinisikan politik dan posisi internasional mereka. Perspektif seperti ini harus ditolak dan dikutuk.

Senjata nuklir tidak menjamin keamanan, juga tidak mengkonsolidasikan kekuatan politik, melainkan ancaman bagi keamanan dan kekuatan politik. Peristiwa yang terjadi pada 1990-an menunjukkan bahwa kepemilikan senjata tersebut bahkan tidak mampu menjaga keruntuhan sebuah rezim seperti Uni Soviet. Dan sekarang kita menyaksikan sejumlah negara tertentu menghadapi gelombang ketidakamanan mematikan meski memiliki bom atom.

Republik Islam Iran menilai penggunaan senjata nuklir, kimia dan sejenisnya sebagai dosa besar dan tidak terampuni. Kami mengusulkan gagasan "Timur Tengah bebas dari senjata nuklir" dan kami berkomitmen dalam hal ini. Bukan berarti kami menepikan hak kami untuk mendayagunakan tenaga nuklir sipil dan produksi bahan bakar nuklir. Berdasarkan hukum internasional, penggunaan damai energi nuklir adalah hak setiap negara. Semua harus dapat menggunakan sumber energi yang bersih untuk berbagai tuntutan penting negara mereka dan masyarakat, tanpa harus bergantung pada pihak lain dalam mewujudkannya. Sejumlah negara Barat, mereka memiliki senjata nuklir dan yang bersalah dalam aksi ilegal ini, ingin memonopoli produksi bahan bakar nuklir. Gerakan secara diam-diam sedang bergulir untuk mengkonsolidasikan monopoli permanen atas produksi dan penjualan bahan bakar nuklir di pusat-pusat yang membawa label internasional tetapi pada kenyataannya beradai di bawah kontrol segelintir negara Barat saja.

Sebuah ironi pahit dari masa kita adalah bahwa pemerintah AS, yang memiliki stok senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya terbesar dan paling mematikan dan satu-satunya negara bersalah karena penggunaannya, saat ini ingin memegang panji penentangan terhadap proliferasi nuklir. AS dan sekutu Baratnya telah mempersenjatai rezim penjajah Zionis dengan senjata nuklir dan menciptakan ancaman besar bagi wilayah sensitif ini. Namun kelompok penipu yang sama tidak mentolerir penggunaan damai energi nuklir oleh negara-negara independen, dan bahkan menentang dengan segala kekuatannya, produksi bahan bakar nuklir untuk tujuan damai, radiofarmasi dan tujuan manusiawi lain. Alasan mereka adalah kekhawatiran produksi senjata nuklir. Dalam kasus Republik Islam Iran, mereka sendiri tahu bahwa mereka berbohong, tetapi kebohongan itu dibenarkan oleh sebuah jenis politik yang benar-benar tidka memiliki jejak spiritualitas sedikit pun. Apakah pihak yang tidak malu menciptakan ancaman nuklir di abad ke-21, akan malu ketika berbohong?

Saya menekankan bahwa Republik Islam tidak pernah mengacu senjata nuklir dan bahwa hal itu tidak akan pernah merelakan hak bangsanya untuk menggunakan energi nuklir demi tujuan damai. Moto kami adalah: "Energi nuklir untuk semua dan senjata nuklir tidak untuk siapapun." Kami menekankan masing-masing dua prinsip tersebut, dan kami tahu bahwa mematahkan monopoli sejumlah negara Barat dalam produksi energi nuklir dalam koridor Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) adalah demi kepentingan semua negara independen, termasuk para anggota Gerakan Non-Blok.

Pengalaman sukses Republik Islam dalam melawan arogansi dan tekanan komprehensif Amerika dan sekutunya telah membuktikan bahwa perlawanan dari bangsa yang bersatu dan tegas dapat mematahkan segala permusuhan dan membuka lebar jalan menuju tujuan mulianya. Kemajuan yang komprehensif yang dicapai negara kami dalam dua dekade terakhir merupakan fakta bagi kita semua untuk melihatnya, seperti yang berulang kali dibuktikan oleh para pengamat resmi internasional. Semua ini terjadi di bawah sanksi, tekanan ekonomi dan kampanye propaganda oleh jaringan yang berafiliasi dengan Amerika dan Zionisme. Sanksi, yang dinilai melumpuhkan oleh para komentator tidak masuk akal, bukan hanya tidak melumpuhkan kami, namun justru membuat langkah kami lebih mantap, meningkatkan tekad kami dan memperkuat kepercayaan diri kami terkait kebenaran analisa kami dan kemampuan bangsa kami. Berualng kali kjmi menyaksikan bantuan ilahi dengan mata kepala kami sendiri dalam menghadapi tantangan.

Para tamu terhormat!

Saya menganggap perlu untuk berbicara tentang isu yang sangat penting, yang meski berhubungan dengan wilayah kami, namun telah merambah dimensi yang lebih luas melampauinya dan mempengaruhi kebijakan global selama beberapa dekade. Isu tersebut adalah krisis tragis Palestina. Ringkasan dari masalah ini adalah bahwa berdasarkan plot mengerikan Barat dan di bawah bimbingan Inggris pada 1940-an, sebuah negara yang merdeka dengan identitas sejarah jelas yang disebut "Palestina" telah dirampas dari rakyatnya melalui penggunaan senjata, pembunuhan dan penipuan dan telah diberikan kepada sekelompok orang yang sebagian besarnya adalah imigran dari negara-negara Eropa. Perampasan besar ini- yang awalnya disertai dengan pembantaian orang-orang tak berdaya di kota dan desa-desa serta pengusiran mereka dari rumah kediaman dan tanah air mereka ke negara-negara jiran - telah berlangsung selama lebih dari enam dekade dengan bentuk kejahatan yang sama dan berlanjut hingga hari ini. Ini merupakan isu yang paling penting umat manusia.

Para pemimpin politik dan militer rezim Zionis merampas tidak mengelak dari kejahatan apapun selama ini: mulai dari membunuh warga (Palestina), menghancurkan rumah dan peternakan mereka, menangkap dan menyiksa pria dan wanita dan bahkan anak-anak mereka, menistakan dan menghina bangsa itu serta berupaya menghancurkannya agar dapat dicerna dalam perut pemakan haram rezim Zionis, hingga menyerang kamp-kamp pengungsi di dalam Palestina sendiri dan di negara-negara tetangga tempat jutaan pengungsi hidup. Nama seperti Sabra dan Shatila, Qana dan Deir Yasin telah terukir dalam sejarah wilayah kami dengan darah rakyat Palestina yang tertindas.

Bahkan sekarang setelah 65 tahun berlalu tetap bergulir kejahatan terhadap warga Palestina yang tersisa di wilayah pendudukan oleh para serigala ganas Zionis. Mereka melakukan kejahatan baru satu demi satu dan menciptakan krisis baru di wilayah tersebut. Nyaris tidak ada sehari yang terlewatkan tanpa ada laporan korban nyawa, cedera dan penangkapan para pemuda yang berdiri untuk membela tanah air dan kehormatan mereka dan memprotes penghancuran wilayah perkebunan dan rumah mereka. Rezim Zionis, yang telah melakukan pembunuhan dan menciptakan konflik dan kejahatan selama beberapa dekade dengan melancarkan perang tragis, membunuh orang, menduduki wilayah Arab dan mengorganisir terorisme yang disponsori negara di kawasan dan di dunia, melabel rakyat Palestina sebagai "teroris", orang-orang yang berdiri untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dan jaringan media yang dimiliki oleh Zionisme dan banyak media Barat serta antek-antek bayaran mereka, mengulangi kebohongan besar yang melanggar nilai-nilai etika dan komitmen jurnalistik itu, serta para pemimpin politik yang mengklaim membela hak asasi manusia telah menutup mata di hadapan semua kejahatan dan tanpa malu mendukung bahwa rezim kriminal tersebut dan berani berperan sebagai pendukungnya.

Menurut sudut pandang kami, Palestina adalah milik rakyat Palestina dan bahwa berlanjutnya pendudukan merupakan ketidakadilan besar dan tidak dapat ditoleransi serta ancaman besar bagi perdamaian dan keamanan global. Semua solusi yang disarankan dan ditindaklanjuti oleh Barat serta afiliasi mereka untuk "menyelesaikan masalah Palestina" keliru dan tidak berhasil, dan akan tetap demikian di masa depan. Kami telah mengajukan sebuah solusi demokratis adil dan menyeluruh. Semua rakyat Palestina - baik yang ada di Palestina sekarang dan yang telah dipaksa mengungsi ke negara-negara lain namun tetap mempertahankan identitas sebagai warga Palestina, termasuk Muslim, Kristen, dan Yahudi - harus mengambil bagian dalam referendum yang diawasi secara berhati-hati, membangun kepercayaan dan memilih sistem politik negara mereka, dan semua orang Palestina yang telah menderita bertahun-tahun di pengasingan harus kembali ke negara mereka dan ambil bagian dalam proses referendum ini kemudian membantu merancang konstitusi dan menyelenggarakan pemilihan umum. Setelah itu, baru perdamaian dapat ditegakkan.

Sekarang saya ingin memberikan sedikit hati nasihat kepada para politisi Amerika yang selalu berdiri untuk membela dan mendukung rezim Zionis. Sejauh ini, rezim ini telah menciptakan masalah yang tak terhitung jumlahnya untuk Anda. Ini telah menciptakan kesan buruk bagi Anda di opini masyarakat regional, dan itu telah membuat Anda terlihat seperti kaki tangan dalam kejahatan penjajahan Zionis. Tebusan materi dan moral yang ditanggung oleh pemerintah Amerika dan rakyatnya dalam hal ini sangat mengejutkan, dan jika ini terus berlanjut, terbusan akan menjadi lebih berat di masa depan. Pikirkan tentang proposal referendum dari Republik Islam dan dengan keputusan berani, selamatkan diri kalian dari situasi mustahil saat ini. Tidak diragukan lagi, masyarakat regional dan semua pemikir independen di seluruh dunia akan menyambut langkah tersebut.

Para tamu yang terhormat!

Sekarang saya ingin kembali ke titik awal saya. Kondisi global sangat sensitif dan dunia sedang melintasi sebuah titik sejarah penting. Hal ini diharapkan akan melahirkan tatanan dunia baru. Gerakan Non-Blok, yang mencakup hampir dua pertiga dari masyarakat dunia, dapat memainkan peran poros dalam membentuk masa depan tersebut. Penyelenggaraan konferensi utama di Tehran itu sendiri merupakan peristiwa penting yang harus dipertimbangkan. Dengan penyatuan sumber daya dan kapasitas kita sebagai anggota, gerakan ini dapat menciptakan peran sejarahnya dalam menyelamatkan dunia dari ketidakamanan, perang dan hegemoni.

Tujuan ini hanya dapat dicapai melalui kerja sama komprehensif antar satu sama lain. Di antara kita hanya segelintir negara yang makmur dan menikmati pengaruh internasional. Sepenuhnya mungkin untuk menemukan solusi masalah melalui kerjasama ekonomi dan media dan melalui berbagai pengalaman yang membantu kita berkembang dan mencapai kemajuan. Kita perlu memperkuat tekad. Kita perlu tetap loyal pada tujuan kita. Kita tidak perlu takut kekuatan intimidator ketika mereka mengerutkan kening kepada kita dan tidak seharusnya kita senang ketika mereka tersenyum. Kita harus memperhatikan kehendak Tuhan dan hukum-hukum penciptaan sebagai dukungan kita. Kita harus belajar dari apa yang terjadi ke kamp komunis dua dekade lalu dan dari kegagalan kebijakan yang disebut "demokrasi liberal Barat" sekarang, yang tanda-tandanya dapat disaksikan oleh semua orang di jalan-jalan negara-negara Eropa dan Amerika dan dalam masalah ekonomi berkepanjangan di negara tersebut. Dan akhirnya, kita harus mempertimbangkan Kebangkitan Islam di kawasan ini dan tumbangnya diktator di Afrika Utara, yang sangat bergantung pada Amerika dan menjadi antek Zionis, sebagai kesempatan besar. Kami dapat membantu meningkatkan "produktivitas politik" Gerakan Non-Blok di pemerintahan global. Kami dapat mempersiapkan dokumen bersejarah yang bertujuan untuk membawa perubahan dalam struktur ini dan untuk menyediakan sarana-sarana administratifnya. Kami dapat merencanakan kerjasama ekonomi yang efektif dan menentukan paradigma hubungan budaya di antara kita. Tidak diragukan lagi, pembentukan sekretariat yang aktif dan bersemangat untuk organisasi ini akan memberikan bantuan besar dan signifikan dalam mencapai tujuan-tujuan ini.

Terima kasih.

(IRIB Indonesia/MZ)