Kado Imam Zaman atfs (1)
Sebuah Kejutan
Sungguh tidak mudah untuk merubah suatu kebiasaan. Disinilah kita diuji apakah kita dapat menguasai keinginan kita dengan kenyataan yang ada. Keikhlasan dan kesabaran serta berserah diri adalah atribut andalan untuk dapat mengatasinya.
Alhamdulillah selama ini, hampir setiap tahun saya mendapatkan kesempatan untuk berziarah ke haram-haram Imam Ahlulbait as. Sudah sejak tiga tahun lebih kesempatan itu tiba-tiba tak kunjung tiba. Hati ini tak kuasa menahan rindu. Lalu kuhibur diriku, bahwa apapun yang terjadi pada keadaan diri adalah yang terbaik dariNYA. Bersyukur karena sudah mendapatkan berbagai kesempatan untuk berziarah, tak patut bila mengeluhkannya karena diluar kebiasaan sebelumnya.
Berdoa adalah senjata terampuh untuk dapat terus tersambung denganNYA melalui perantara para Imam Suci Ahlulbait as. Menahan rindu tidak semudah yang di ucapkan tentunya. Mendengarkan beberapa ulama yang dapat menenangkan hati sangatlah membantu selain terus berziarah jarak jauh dan bertawasul. Satu pelajaran dari salah satu penceramah yang sangat menarik perhatianku, ketika beliau berkata bahwa meminta pada Sang Raja, haruslah sesuai dengan posisinya sebagai Raja, tidaklah pantas memohon pada Sang Maha Kaya hanya sesuatu yang remeh temeh. Beliaupun mengutip dari sikap Nabi Allah Ibrahim as yang memohon padaNYA untuk dikarunia anak yang akan menjadi Imam umatNYA. Jadi pelajaran yang dapat diambil adalah ketika kita ingin di karunia seorang anak , mohonlah anak yang nantinya akan menjadi seorang Marja misalnya. Kepada Allah Sang Maha Kaya kita dicontohkan untuk memohon yang terbaik dan tertinggi, bukan sekedarnya saja.
Saat mendapatkan masukan seperti itu, saya pun memohon agar dapat merayakan Millad Imam Zaman atfs dengan para pecinta yang sesungguhnya bersama dengan para pengikut setia Beliau atfs.
Sebulan sebelum 15 Syaban 1437H, saya mendapatkan sms dari nomor yang tidak dikenal , menanyakan kabar dan tawaran untuk dapat berangkat ke Iran dalam rangka Revolusi Islam Iran dan Haul Imam Khomeini ra. ternyata dari guru saya online di Imam Ali Knowledge Foundation yang di New Zealand, beliau yang pada saat itu sedang di Iran dan bertemu dengan teman dekatnya yang in charge di Kementerian Kebudayaan di Esfahan, ingin mengundang seorang non Iranian untuk dapat berkunjung ke Esfahan dalam rangka memperingati kemenangan tentara Iran di Khoramshar merebut kembali kotanya dari penjajahan Irak yang di tunggangi Amerika dan sekutunya dan sekaligus Haul Imam Khomeini ra yang ke 37 .
Guru saya merekomendasikan nama saya dengan penuh keyakinan dan spontan katanya. Saya pun seperti dapat kucuran karunia dari langit, pertama tak mau bersenang dulu karena takut kecewa, jadi semua di tahan dulu, make sure itu semua benar adanya. Beliau bilang tapi kamu harus siapakan beberapa pidato dan akan ada interview2 TV dan radio. Sayapun langsung setuju saja, toh temanya jelas sekali buat saya dan saya sangat mencintai sosok agung Imam Khomeini ra dan biasa mengamati dan sangat respek dengan Revolusi Islam Iran.
Belum berani bilang siapapun karena sadar juga paspor sudah ga berlaku sejak akhir tahun 2015. Jadi deg2an terus, takutnya buat paspor ribet dan lama sementara mereka sudah menentukan tanggal berangkat dan pulangnya. Tapi untungnya waktu sebulan dengan ini itu wara wirinya alhamdulillah pas sekali, masalahnya saya pindah kota dan harus ada surat dari RT rumah lama dlsbnya.
Saya sangat percaya akan ikhtiar dan doa dalam waktu yang bersamaan. Ikhtiar maksimum dan doa yang tulus inshaAllah bisa menghantarkan pada keinginan selama itu tentu masih dalam frame kehendakNYA jua. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, pasti tidak akan mengecewakan hamba2NYA selama ia masih selalu dalam koridor yang di ridhaiNYA. Sang Pencipta kita tentu sangat mengetahui yang terbaik untuk hamba2NYA.
Yang pasti tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, semua harus melalui proses sunnahNYA, mengikuti prosedur yang telah di upayakan. Disitu pun ada proses pembelajaran, ujian, pengaktualisasian potensi, semua adalah rangkaian proses yang harus di lewati terlebih dahulu. Tuhan akan menolong kita yang telah berupaya. Selangkah kita menuju padaNYA beberapa langkah IA akan meraih kita ke arahNYA.
Paspor selesai baru bisa booking tiket, alhamdulillah semua just in time. Dengan segenap persiapan, tiket online terkirim, dan 33 jam sebelum keberangkatan kita sudah bisa check in online, langsung bisa pesan tempat duduk juga. Hari H keberangkatan sudah pegang boarding pass dengan nomor tempat duduknya. Alhamdulillah.
( bersambung )
Sungguh tidak mudah untuk merubah suatu kebiasaan. Disinilah kita diuji apakah kita dapat menguasai keinginan kita dengan kenyataan yang ada. Keikhlasan dan kesabaran serta berserah diri adalah atribut andalan untuk dapat mengatasinya.
Alhamdulillah selama ini, hampir setiap tahun saya mendapatkan kesempatan untuk berziarah ke haram-haram Imam Ahlulbait as. Sudah sejak tiga tahun lebih kesempatan itu tiba-tiba tak kunjung tiba. Hati ini tak kuasa menahan rindu. Lalu kuhibur diriku, bahwa apapun yang terjadi pada keadaan diri adalah yang terbaik dariNYA. Bersyukur karena sudah mendapatkan berbagai kesempatan untuk berziarah, tak patut bila mengeluhkannya karena diluar kebiasaan sebelumnya.
Berdoa adalah senjata terampuh untuk dapat terus tersambung denganNYA melalui perantara para Imam Suci Ahlulbait as. Menahan rindu tidak semudah yang di ucapkan tentunya. Mendengarkan beberapa ulama yang dapat menenangkan hati sangatlah membantu selain terus berziarah jarak jauh dan bertawasul. Satu pelajaran dari salah satu penceramah yang sangat menarik perhatianku, ketika beliau berkata bahwa meminta pada Sang Raja, haruslah sesuai dengan posisinya sebagai Raja, tidaklah pantas memohon pada Sang Maha Kaya hanya sesuatu yang remeh temeh. Beliaupun mengutip dari sikap Nabi Allah Ibrahim as yang memohon padaNYA untuk dikarunia anak yang akan menjadi Imam umatNYA. Jadi pelajaran yang dapat diambil adalah ketika kita ingin di karunia seorang anak , mohonlah anak yang nantinya akan menjadi seorang Marja misalnya. Kepada Allah Sang Maha Kaya kita dicontohkan untuk memohon yang terbaik dan tertinggi, bukan sekedarnya saja.
Saat mendapatkan masukan seperti itu, saya pun memohon agar dapat merayakan Millad Imam Zaman atfs dengan para pecinta yang sesungguhnya bersama dengan para pengikut setia Beliau atfs.
Sebulan sebelum 15 Syaban 1437H, saya mendapatkan sms dari nomor yang tidak dikenal , menanyakan kabar dan tawaran untuk dapat berangkat ke Iran dalam rangka Revolusi Islam Iran dan Haul Imam Khomeini ra. ternyata dari guru saya online di Imam Ali Knowledge Foundation yang di New Zealand, beliau yang pada saat itu sedang di Iran dan bertemu dengan teman dekatnya yang in charge di Kementerian Kebudayaan di Esfahan, ingin mengundang seorang non Iranian untuk dapat berkunjung ke Esfahan dalam rangka memperingati kemenangan tentara Iran di Khoramshar merebut kembali kotanya dari penjajahan Irak yang di tunggangi Amerika dan sekutunya dan sekaligus Haul Imam Khomeini ra yang ke 37 .
Guru saya merekomendasikan nama saya dengan penuh keyakinan dan spontan katanya. Saya pun seperti dapat kucuran karunia dari langit, pertama tak mau bersenang dulu karena takut kecewa, jadi semua di tahan dulu, make sure itu semua benar adanya. Beliau bilang tapi kamu harus siapakan beberapa pidato dan akan ada interview2 TV dan radio. Sayapun langsung setuju saja, toh temanya jelas sekali buat saya dan saya sangat mencintai sosok agung Imam Khomeini ra dan biasa mengamati dan sangat respek dengan Revolusi Islam Iran.
Belum berani bilang siapapun karena sadar juga paspor sudah ga berlaku sejak akhir tahun 2015. Jadi deg2an terus, takutnya buat paspor ribet dan lama sementara mereka sudah menentukan tanggal berangkat dan pulangnya. Tapi untungnya waktu sebulan dengan ini itu wara wirinya alhamdulillah pas sekali, masalahnya saya pindah kota dan harus ada surat dari RT rumah lama dlsbnya.
Saya sangat percaya akan ikhtiar dan doa dalam waktu yang bersamaan. Ikhtiar maksimum dan doa yang tulus inshaAllah bisa menghantarkan pada keinginan selama itu tentu masih dalam frame kehendakNYA jua. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, pasti tidak akan mengecewakan hamba2NYA selama ia masih selalu dalam koridor yang di ridhaiNYA. Sang Pencipta kita tentu sangat mengetahui yang terbaik untuk hamba2NYA.
Yang pasti tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, semua harus melalui proses sunnahNYA, mengikuti prosedur yang telah di upayakan. Disitu pun ada proses pembelajaran, ujian, pengaktualisasian potensi, semua adalah rangkaian proses yang harus di lewati terlebih dahulu. Tuhan akan menolong kita yang telah berupaya. Selangkah kita menuju padaNYA beberapa langkah IA akan meraih kita ke arahNYA.
Paspor selesai baru bisa booking tiket, alhamdulillah semua just in time. Dengan segenap persiapan, tiket online terkirim, dan 33 jam sebelum keberangkatan kita sudah bisa check in online, langsung bisa pesan tempat duduk juga. Hari H keberangkatan sudah pegang boarding pass dengan nomor tempat duduknya. Alhamdulillah.
( bersambung )
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
The Impact of Islamic Revolution on my life (Shaban 1437H - Haul of Imam Khomeini (ra ) Bismilillahirahmanirrahim Allahumma s...
