Against all Odds

Waktu terus berjalan...Tahun terus berganti...Telah cukup lama kita hidup di bumiNYA, tetapi kenapa semua yang terlihat dan berjalan ini sepertinya malah membuat manusia dan peradabannya semakin mundur kebelakang,

Terus menjauh dari sisi kemanusiaannya sendiri, terpuruk sehingga manusia menjadi semakin jauh dari objek penciptaanNYA. ( Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKU "- QS 51 : 56 ). 

Sistim kehidupan yang telah dirancangNYA seolah telah di rekayasa agar semua menjadi jauh dari rancangan dan rencanaNYA semula.

Lihatlah semua apa yang sedang terjadi di sekitar kita, lihatlah kita yang selalu sibuk dengan gadget2 kita walau sedang berbincang atau berkumpul dengan sanak saudara dan teman2, juga ketika kita sedang berbelanja untuk kebutuhan sehari2, di super market , kita hanya ambil barang2 itu sendiri, lalu si kasir menyebut jumlah yang harus dibayar kadang tanpa melihat wajah kita, tidak ada komunikasi apalagi ramah tamah lagi diantara masyarakat sekeliling kita. 

Pada awalnya , memang sangat praktis dan efisien, tapi lambat laun perilaku seperti itu sudah menjadi kebiasaan dan telah melekat pada diri kita. Sepertinya kita telah mereduksi fitrah diri kita dengan hanya peduli pada kebutuhan kita saja , apabila kita melayani pun itu karena ada pamrih, karena kita dibayar untuk itu. 

Belum lagi jenis makanan yang kita konsumsi, semakin jauh dari nutrisi dan vitamin2 yang sesungguhnya di butuhkan oleh tubuh kita. 

Kita seperti telah dipaksa untuk mengkonsumsi makanan cepat saji alias fast food bahkan junk food ( makanan sampah ) , yang harganya pun kebanyakan tidak murah juga. Yang ekonominya pas2an , juga akhirnya tersedia makanan2 goreng2an yang sangat mudah di buat dan harganya sangat terjangkau dan sangat disukai semua kalangan. 

Pokoknya lumayan untuk ganjel2 kalo lagi laper... belum lagi banyak aneka cemilan kue2 kering dan basah yang terbuat dari terigu yang full karbohidrat. Sementara makanan atau buah2 an dan sayur2an pun yang di katagorikan sehat, yang masih 'pure', yang istilah kerennya ' organik' , itu harganya cukup mahal, padahal seharusnya yang langsung dari 'farmer' atau tinggal metik harusnya lebih murah...tapi kini semua dibuat nya eksklusif dengan packaging yang rapi sehingga harganya mahal. 

Sekarang bagaimana dengan orang miskin dan ekonomi pas2an ingin hidup sehat juga?..Aneh sekali, seharusnya, orang2 miskin jauh bisa lebih hidup sehat dan membeli dengan harga murah dan terjangkau. Masalahnya para petani hanya dapat menjual murah pada pedagang, dan pedagang akan menjual ke kota2 besar atau di ekspor dengan harga yang berpuluh2 kali lipat. 

Mata rantai itu terus bergulir dengan berjalannya waktu, hingga si miskin tetap miskin dan si kaya terus mengeruk keuntungan.

Logikanya, negeri kita ini negeri yang terkenal dengan gemah ripah loji nawi nya, tanah surga, apapun yang kita lempar di tanah kita langsung dapat tumbuh. Petani pun , dapat menjual murah pada masyarakat dan dapat mengambil keuntungan dengan mengekspor ke luar wilayahnya. 

Tetapi fakta yang ada masyrakat kita lebih menyukai barang impor , yang terparah nya sampai beras dan garam pun harus impor. Ini yang di luar akal sehat kita, kenapa kita tidak memproduksi yang bahan mentahnya tersedia di negeri sendiri, sehingga masyarakat kita dapat mengkonsumsi yang sehat dan murah dan dapat mengambil untung dengan mengekspor, 

Sebaliknya kita lebih suka membeli dari luar negeri yang harganya berlipat2 tentunya, sehingga kita menjadi bangsa yang konsumtif,dan tidak mempunyai kebanggaan pada produk negeri sendiri, bahkan melecehkannya dan lebih bangga menggunakan dan mengkonsumsi semua yang datang dari luar negeri. 

Inilah penyakit di jaman kontemporer ini, selalu mencari di luar diri kita, bukan hanya barang2 yang akan dikonsumsinya, bahkan keotentikan dirnya pun tak di hiraukan hingga lambat laun hilang lenyap dan menjadi asing . Mereka menjadi asing bagi dirinya sendiri. 

Dan ini adalah awal dari sebuah kehancuran , karena akan menjauhkan diri kita dari tempat asalnya, sehingga kita tidak lagi mengenal diri kita lagi. 

 Melawan arus deras pengaruh 'asing harus di jadikan awal resolusi di tahun baru ini. Belajar mengenal diri diawali dengan menggali potensi2 yang kita punyai dan perlahan2 mencoba mengaktualisasikannya di kehidupan kita. Otomatis apabila kita telah mengenal potensi diri. kita akan mencintai apa yang ada di dalam diri kita dan tidak membutuhkan lagi apa2 yang datang dari luar. Formula yang sama , hendaknya kita terapkan pada semua yang kita sedang jalani di kehidupan ini. 

Melawan gravitasi adalah menjadi sebuah keniscayaan bagi yang tidak ingin kehilangan jati dirinya, Diri yang kian hari tercemar, tergerus dengan arus superfisial kehidupan yang hanya menampilkan cangkang, imej semata, 

Upaya menjauhkan manusia dari fitrah dirinya adalah sebuah agenda konspirasi yang telah di canangkan oleh para iblis setan yang terkutuk sejak terusir dari surga. Dan mereka benar2 kehilangan harapannya ketika Nabi Allah kekasihNYA lahir di muka bumi ini, karena mereka para iblis itu tak dapat lagi keluar masuk surga. 

Selamat pada Muhammad terakhir dan para muslimin di hari kelahiran manusia suci nan agung kekasih Allah Muhammad pertama putra Abdullah. 

Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. Adrikna Ya Mahdi

Just Be 'your' self Lady...


" Woman is a delicate creature with strong emotions, who has been created by the Almighty God to shoulder responsibility for educating society and moving forward perfection. God created woman as symbol of His own Beauty and give solace to her partner and her family
( Imam Ali a.s )

yang kurang lebih terjemahannya adalah

 " Perempuan itu adalah makhluk ciptaanNYA yang lemah lembut, peka dengan emosi yang kuat, yang Allah SWT ciptakan untuk mengemban tanggung jawab dalam mendidik masyarakat dan menggerakannya ke sebuah kesempurnaan . Allah SWT ciptakan perempuan sebagai simbol dari KeindahanNYA dan menjadikan hiasan untuk pasangannya dan keluarganya ".

Ini adalah sebuah ungkapan yang sangat dahsyat yang dijabarkan oleh Imam Ali a.s untuk mendifinisikan seorang perempuan. Sungguh ironis tentunya apabila perempuan di dalam masyarakat di dunia ini masih sering dijadikan polemik perdebatan, dimana perempuan masih dianggap sebagai makhluk ciptaanNYa yang rendah atau dimasukan sebagai masyarakat seken klas di sebuah komunitas, baik di masyarakat muslim maupun di masyarakat barat, yang hingga menimbulkan istilah feminisme , kesetaraaan gender dlsbnya.

Tuhan saja Sang Pencipta makhluk-makhluk sekaligus pencipta seluruh yang ada di alam semesta ini saja, begitu sangat meninggikan derajat  perempuan . Betapa aneh masih banyak perempuan sendiri yang dengan suka rela ataupun secara tidak sadar telah merendahkan dirinya dan membenarkan tuduh-tuduhan pernyataan opini publik yang tentunya tidak benar ini.

Tidak ada satu ciptaan Tuhan di alam ini yang diciptakan sama. Bahkan si kembar pun setelah di teliti DNA dan sidik jari nya tidak pernah ada yang sama. Perempuan dan laki-laki memang dari jenis yang sama yaitu makhluk yang bernama manusia , seperti juga buah-buahan, ada buah jeruk, apel dlsb. 
Ya, mereka dari spesies buah-buahan tetapi rasa dan khasiat masing-masing berbeda. Begitu juga perempuan dan laki-laki , Tuhan ciptakan dengan bentuk dan fungsi yang berbeda. Sungguh aneh, apabila perempuan ingin disamakan seperti laki-laki, karena takut disebut bahwa dirinya lebih rendah dari lelaki atau takut disebut lemah dibandingkan laki-laki.

Adapun Islam sebagai agama samawi dengan nabi penutup Muhammad ibn Abdillah saww , dengan jelas meletakan perkara ini secara komprehensif dan masuk akal , sebagaimana di ungkap oleh Ayatullah Ali Khamanei- Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran :

"Islam memandang laki-laki itu kuat dan perempuan itu lemah lembut dan elegant. Ini bukan berarti penghinaan terhadap kaum perempuan ataupun laki-laki; dan bukan menafikan hak-hak perempuan ataupun laki-laki; ini adalah pandangan natur yang benar.  Sesungguhnya  inilah yang setara dan seimbang 
, yang mana apabila kita letakkan timbangan , gender kelemah lembutan dan elegan pada sumber ketenangan dan keindahan di dalam rumah dan keseimbangan lain pada gender mengatur pekerjaan yang mana itu adalah sumber kepercayaan, tempat bergantung dan pelindung kaum perempuan ada di timbangan yang lain, sehingga kedua timbangan itu menjadi seimbang. Tidak ada yang lebih baik tanpa adanya satu dan lainnya". ( Ayatullah Ali Khamanei )

Apabila setiap makhluk ciptaanNYA itu mengetahui apa sesungguhnya fungsi dirinya dan mengetahui untuk apa dia diciptakan, maka semuanya akan berjalan seiring sejalan sesuai dengan yang telah diaturNYA. Semua diatur sesuai dengan perintahNYA, matahari tidak harus menjadi bulan, begitu juga bulan tidak ingin menjadi matahari, semua berfungsi sesuai dengan yang di perintahkanNYA. Maka semua berjalan dengan harmonis dan teratur. Ini yang di dalam ilmu agama disebut sunatullah. Dengan menjalankan sunatullah tentunya selain mendapatkan berkah dan pahala juga akan menyelamatkan kita dari segala kerusakan diri dan alam sekitar kita. Karena hanya DIA lah yang Maha Mengetahui dan DIA pulalah yang Maha Pengatur Alam Semesta dan semua sistem Penciptaan alam ada di bawah pantauanNYA.

Jelas , barangsiapa yang melawan sunatullah ,  maka ketidak nyamanan dan kerusakan akan mendekati dirinya. Sehingga dirinya akan mengalami berbagai keresahan diri dan akan cenderung merusak lingkungan sekitarnya ( sadar ataupun tidak )

Ternyata dampak dari tidak mengenal diri, tidak se simple yang kita bayangkan.  Timbulnya penyakit akibat tidak mengenal dirinya, biasanya mereka selalu ingin mencari sesuatu di luar dirinya, dengan mengkopi perilaku orang-orang yang dianggapnya ok oleh dirinya sebagai role model. Sialnya yang di jadikan role modelnya biasanya seorang yang populer yang sebetulnya dianya sendiri tidak mengenal siapa dirinya yang sebenarnya, hanya modal berani dan nekad tampil beda, lalu kita memandangnya seperti seorang yang 'cool' . Karena dalam diri-diri  orang yang 'kehilangan diri'nya, ada semacam dorongan untuk memberontak dan mendamba perhatian banyak orang. 

Mereka yang tidak mengenal jati dirinya itu, selalu dalam keadaan resah , hanya 'concern' dengan segala penampilan fisik dirinya, takut disebut 'jelek', tidak trendy, dlsbnya. Sehingga terus berusaha meng-update dirinya dengan berbagai penampilan fisik , dengan menggunakan asesoris yang sedang nge-trend, pokoknya harus seperti yang di jajakan produsen iklan yang sedang di iklankan di TV, majalah-majalah populer , pokoknya terlihat trendy , dan itu akan membiarkan kepuasan sementaranya. ( karena setelah itu, masalah dirinya terus akan muncul dan ia terus tambah nekat untuk bergaya agar dapat menjadi pusat perhatian ).

Inilah akibat seorang yang sebenarnya adalah telah kehilangan dirinya dan tidak tahu lagi siapa dirinya yang sebenarnya , sehingga menjadi seperti yang dia idolakan seolah itulah dirinya. Sementara kita tadi telah bahas, Tuhan Sang Pencipta , tidak pernah ciptakan satupun yang sama di bumiNYA ini. Kita semua saling melengkapi satu dengan yang lain agar semua berjalan harmonis sesuai dengan sunatullah. ( tlah banyak contoh, misalnya untuk membangun sebuah rumah, itu harus ada berbagai banyak unsur untuk bisa menjadi sebuah rumah, ada pasir, semen, batu bata, dlsbnya, bayangkan apabila hanya di buat dengan bata saja tanpa semen dan pasir? so never wanna be like others, as other got other task and nobody has the same tasks anyway ) . Kesempurnaan sesuatu itu akan tumbuh dengan memadukan berbagai unsur , sehingga terlihat indah, itulah cara Tuhan menciptakan setiap ciptaanNYA di muka bumiNYA ini, tidak terkecuali perempuan dan laki-laki untuk spesies manusia. 

Mengetahui , siapa diri kita sebenarnya ( mengenal diri kita, utk apa kita diciptakan ) akan memudahkan hidup kita untuk menjalankan kehidupan di bumiNYA. Bagi seorang perempuan, menyadari siapa dirinya, sebagai seorang perempuan yang Allah SWT ciptakan tanpa kesalahan bahwa anda adalah seorang perempuan bukan seorang laki-laki. Lalu mengetahui 'persyaratan' ( cek fiqih nya/ahkam ) bagaimana berperilaku atau menjalani hidup sebagai seorang perempuan. Intinya apabila kita mengetahui siapa diri kita, kita akan mengenal potensi-potensi yang Tuhan berikan pada diri kita, sehingga kita akan terus menggali potensi-potensi tsb sebagai aset diri kita dan terus mencoba mengaktualisasikan semaksimal mungkin sesuai dengan sunatullah ( spt yang Tuhan inginkan dari kita sebagai seorang perempuan - termaktub semua di dalam kitab suciNYA Al Quran ) .

Inilah keadilan Tuhan, dan ajaran Islam yang sesungguhnya, menempatkan sesuatu pada tempatnya . Islam ajaran satu2nya yang meninggikan derajat perempuan, menempatkan sesuai dengan kadarnya sebagai perempuan. Publik opini yang terbentuk untuk menjatuhkan Islam melalui kaum perempuan adalah masa lalu, marilah kita bangun opini sesuai dengan ajaran Tuhan Yang SATU ajaran terakhir ISLAM. Perempuan adalah kaum pendidik, dan pendidik itu harus berilmu pengetahuan dan perempuan bertanggung jawab untuk mendidik masyarakat sekitarnya, mustahil masyarakat akan berjaya, bila para pendidiknya bukan dari muslimah yang saleh dan tidak mengenal ajaran Sang Pencipta dan Peciptanya.Dan bagaimana mungkin keluarga dan pasangannya akan merasa tenang dan nyaman apabila perempuan yang hanya sibuk mengekspos dirinya sehingga tidak menjaga ajaran Tuhannya. 

Be real, be your self Lady, jadilah seperti yang Tuhan inginkan, karena tanggung jawabmu begitu besar, melahirkan serta mendidik generasi penerus bangsa , untuk memaslahatkan masyarakat sekitar dengan potensi dan aset yang Tuhan telah berikan padamu. At the end of the Time, itulah yang akan Tuhanmu pertanyakan pada dirimu, sudahkah kita berada di jalanNYA seperti yang telah diperintahkanNYA. Plz do NOT underestimate your potential of your self ( akibat tidak mengenal diri kita yang sebenarnya ) .

Bihaqi Fatimah wa abiha wa baliha wa baniha, semoga kita dapat menjalankan tugas kita yang telah Tuhan berikan pada kita dengan sebaik mungkin dan apapun usaha kita diterimaNYA dan selalu menjadikan Fatimah Az Zahra a.s putri Rasulullah sebagai role model dalam setiap usaha kita sehingga in sha Allah beliau a.s. menerima dan memberikan syafaatnya kelak.

Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. Adrikna YA MAHDI











The TEST


" Life is the most difficult Exam , many people fail because they try to copy others. Not realising that everyone has a different question paper! "  
( unknown)
 
' Hidup adalah ujian yang sulit, banyak orang gagal karena mereka mecoba mengkopi orang lain. Tanpa menyadari bahwa setiap manusia mempunyai pertanyaan ujian yang berbeda.'

Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan satu dengan yang lainnya, bahkan si kembar sekalipun walau bentuk fisiknya sama, tetapi sidik jarinya atau karakternya pun berbeda, tidak pernah ada yang sama. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian ilmiah sekalipun.

Keaneka ragamaan yang Tuhan ciptakan ini adalah sebuah karunia indah Sang Pencipta Alam Semesta ini.

Sungguh aneh bin ajaib, apabila kita sebagai makhluk ciptaanNYA sangat menginginkan apapun yang kita lihat di sekitar kita itu harus sama, seperti kita, harus sesuai dengan yang kita kehendaki, sementara Tuhan Sang Pencipta Seluruh alam semesta ini saja, menciptakan keragaman pada setiap ciptaanNYA.

Inilah cikal bakal penderitaan manusia, yang di ciptakannya sendiri, demi memenuhi kepuasaan egonya. Apabila kita urai satu persatu segala konflik yang terjadi di sekitar kita atau yang sedang terjadi di dunia ini , semua berasal dari penolakan manusia pada yang berbeda dari apa yang ada pada dirinya, TETAPI aneh bin ajaib pula bahwa pada saat yang sama mereka ingin sama seperti yang lain, yang mereka anggap baik sesuai dengan selera nya sehingga dia merasa bagian dari kebanyakan. Untuk hal ini pun mereka rela untuk berpura-pura menjadi seperti orang lain atau masyarakat umum.

Potret paradoks yang kita sering lihat dan alami dalam keseharian kita ini, kebanyakan akibat cara pandang dunia kita yang salah sehingga kita terus menerus di dera di keadaan 'catch 22' yang pada akhirnya saling menyalahkan tanpa ingin mengetahui akar permasalahannya.

Seperti yang di jelaskan Tuhan di dalam kitab suciNYA bahwa hidup di dunia ini adalah ujian, hanya yang lulus ujiannya saja yang akan selamat sampai ke tujuan. Dunia ini adalah tempat kita berkarya demi meraih hasil yang akan kita petik di alam sana, bukan di sini. Artinya di dunia ini, mungkin kita atau orang menganggap kita sebagai seorang pecundang atau yang seluruh kehidupannya penuh dengan penderitaan tiada akhir, tetapi yang di lihat oleh Tuhan adalah langkah perjuangan untuk dapat terus bertahan di jalanNYA, walau kebanyakan orang menentang. Inilah yang telah dicontohkan Tuhan pada para utusanNYA di muka bumi ini seperti yang di rekam di kitab suciNYA.

Apabila kita mengamati isi dari kitab suci Tuhan, semua para utusanNYA , para nabi Tuhan selalu dalam keadaan terdzalimi dan berakhir dengan keadaan terbunuh malah mengenaskan. Tetapi ajaran mereka, terus hidup hingga sekarang dan mereka masih dikenang dan di ikuti banyak pengikutnya. Kenapa ini dapat terjadi , karena apabila kita berjalan di jalanNYA dengan penuh ketulusan dan penuh pengetahuan tentang apa sesungguhnya kehidupan di dunia ini, kita akan merasa cukup dan 'content' - dengan apa yang ada pada diri kita dan akan senang apabila kita dapat memberikan sesuatu pada yang lain.

Yang dilarang dalam agama dan tidak boleh adalah membiarkan diri kita terhina tak ada perlawanan pada apa-apa yang menimpa diri kita, menerima begitu saja tanpa ada usaha keras memperbaikinya. Karena dalam kitab suciNYA , Tuhan tidak akan pernah merubah nasib hambaNYA sampai si Hamba itu merubah nasibnya sendiri.

Mengambil contoh para utusan Tuhan, dimana mereka terus mendidik umatnya dengan penuh keyakinan walau penuh dengan tantangan dan penderitaan, mereka dapat begitu tegar,  karena mereka mengetahui betul tentang apa tugas mereka dan akan janji Tuhannya, bahwa kemenangan yang hakiki itu ada di jalan Kebenaran- jalan Tuhannya. 

Sehingga hasil itu tidaklah penting di alam dunia yang sementara ini, tetapi lebih terus gigih menjalankannya dengan penuh konsisten dan penuh kesadaran bahwa yang di jalaninya itu adalah jalan kebenaran - jalan Tuhannya. Hasil yang sesungguhnya adalah bagaimana perjuangan di jalan kebenaran itu, sehingga menjadi sesuatu yang monumental dan terpatri pada setiap hati yang bersih yang mendamba kebahagiaan yang sesungguhnya.

Tentunya, apabila kita mengimani para utusan Tuhan yang Tuhan kirim ke bumiNYA untuk di jadikan contoh-contoh manusia teladan, dengan sendirinya kita akan melihat jalan mereka untuk di ikuti, bukan jalan-jalan yang mudah, instan tetapi dampaknya merugikan pihak lain yang sesungguhnya merugikan diri kita sendiri. Atau hanya mengikuti kelompok kebanyakan yang mengiming2i kebahagian sesaat.  

Imam Ali a.s : " Jalan kebenaran itu jalan yang sunyi yang mana engkau merasa kesepian "

Setiap manusia mempunyai tugas dan kewajiban masing-masing yang satu sama lain tidaklah sama. Ujian kitapun berbeda dengan orang lain atau bahkan dengan keluarga kita sendiri, tidak pernah ada yang sama. Untuk itu kita tidak bisa selalu menyamakan apa yang kita punya ( bahagia atau derita ) dengan yang ada pada orang lain. Tuhan pun menyuruh kita agar berpuas akan apa yang di berikan pada kita dan berusaha selalu menyelesaikan segala masalah dengan jalan yang telah di tunjukiNYA.

Belajar dari kehidupan para utusanNYA, mereka diajarkan Tuhannya untuk mengabdi untuk kemanusian ( to serve the other human being ) dengan mendidik umatnya untuk tidak menjadi manusia yang egoistis yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya atau hanya mementingkan hawa nafsunya semata, mereka mengajarkan kita untuk menjadi pengkhidmat Tuhannya dengan tulus dan penuh pengorbanan. Ingatlah bahwa kehidupan kita yang sesungguhnya adalah di alam selanjutnya, begitu pula hasil dari perjuangan kita hanya dapat terbalas di alam sana, yang terlihat di alam ini hanyalah sebagian kecilnya saja.

Janji Tuhan sudah pasti benar dan pasti akan tergenapi. Berharaplah hanya padaNYA, cintailah Tuhan dengan mencintai sesama ciptaanNYA yang penuh dengan keragaman. Itulah ujian terindah yang Tuhan berikan pada setiap hambaNYA, agar dapat saling menghormati , saling menghargai sesama ciptaanNYA dengan penuh kasih sayang apapun latar belakangnya. Cinta padaNYA adalah sejatinya cinta yang tak akan mungkin bertepuk sebelah tangan.











A Life of Service: Honouring Imam Ali (as)



The English vocabulary while expansive suddenly finds itself too poor to produce sufficient words to describe the character of Imam Ali (as). The examples of his piety are an endless ocean that scholars have devoted their time to seeking. His worship remains the summit of submission to God and his humility: an everlasting illustration of how power can be used in the path of God.
Most remarkable to those who have studied the praise-worthy life and legacy of Imam Ali (as), however, is the fact he lived his in service. Many conscious Muslims who are in the process of discovering what a “life of service” is should look no further than the absolute examples left by Imam Ali (as).  What more does a person require when choosing a role model than a person who lived a life in service of God, humanity, and the truth?

In Service of God

In his final will, Imam Ali (as) said, “Fear Allah in relation to your prayers. It is the pillar of your religion.” Before attempting to engage in various domains of service and activism, one should consider the qualities and levels of our worship. Imam Ali (as) provides a model of leadership and service based on the key principles of prayer, fasting, and charity. Prayer is substantial and should be used as a foundation for our work and service. Imam Ali (as) was steadfast in the fulfillment of his prayers and fasts. Neither power nor other responsibilities distracted him from this duty.  In fact, Imam Ali (as) was the kind of man that could only be assassinated in his prayers because even his enemies were aware just how engrossed in prayer he would become.
During the Battle of Siffin, Imam Ali (as) would despite the danger, spread his prayer mat between two rows of fighters and perform his prayers even as arrows rained from all sides. He did not display fear of the arrows, nor the ongoing battles surrounding him.  He would then complete his prayers and remain on the prayer mat to perform additional supplications. What does this teach us? The most significant lesson we can gain from this is that conviction and submission to Allah (swt) are not defined by circumstances. Rather, they are a set of principles that we must protect and value as individuals before attempting to impose them upon others through our service and leadership.

In Service of Humanity

Imam Ali (as) said, “Verily part of worship is to talk to people in a gentle manner and to spread the greeting of peace among them” (Ghurar al-Hikam). Unfortunately we live in a profane society that many of us have subconsciously grown to tolerate and accept. While we may not use cursing to get our points across to others, we find little issue with degrading, humiliating, and disrespecting others who may disagree with us. How is it that we who run small and insignificant projects and organizations find the audacity to treat other humans with such disgrace and yet the man who at one point led the Islamic world, spoke to even his enemies with the utmost respect?
Imam Ali’s commitment to humanity and just leadership is recognized by Muslims and Non-Muslims alike. In 2002, the United Nations used quotes and sayings by Imam Ali (as) in its report on Arab Human Development in hopes of inspiring its leaders to move towards treating citizens with respect and justice. Among the sayings quoted in the report was one that focuses on qualities of those who should lead others, “He who has appointed himself an Imam (ruler) of the people must begin by teaching himself before teaching others. His teaching of others must be first by setting an example rather than with his words, for he who begins by teaching and educating himself is more worthy of respect than he who teaches and educates others.”

In Service of Reform

Many in our community hold tight to the notion that reform is to do away with many current practices in order to advance. This is not always a valid belief. True reform should be geared towards becoming compliant with Islamic laws, the expectations Allah (swt) has for each of us, and the teachings of the Prophet and Imams (peace be upon them all). Imam Ali (as) during his Imamate sought to enhance the conditions of the Ummah to allow it to reach its full potential. He was among few during and after his era who maintained the highest regard for human rights. He ruled based on four Islamic principles: the right to live, the right of thought, the right of action, and the right of racial equality. Although Imam Ali (as) was ruling based on Islamic decrees, he was politically and socially  ahead of his time. In fact, many Western societies have only in the past century or two began to embrace concepts that to Imam Ali (as) were non-negotiable and afforded by him to all individuals living under his leadership.

In Service to the Prophet (pbuh)

Imam Ali’s life was also defined by his unwavering loyalty to the Prophet Muhammad (pbuh). In an age where many defeated individuals continue to launch attacks against the esteemed character of our Prophet, it is important to be reminded that we owe him a service also. We can look towards Imam Ali’s actions and words for inspiration on how to defend and represent our Prophet. It is true that none of us will be able to achieve the level of loyalty and brotherhood found between the Prophet and Imam Ali who slept in the Prophet’s bed when he knew an assassination attempt was about to occur. However, his dedication to the Prophet in life and death situations should inspire us who are functioning under much more ideal circumstances to rise to the occasion and become the Prophet’s representatives through our words, actions, and beliefs.
Imam Ali (as) said, “Blessings are for the man who humbles himself before Allah, whose sources of income are honest, whose intentions are always honorable, whose character is noble, whose habits are sober, who gives away in the cause and in the Name of Allah, the wealth which is lying surplus with him, who controls his tongue from vicious and useless talk, who abstains from oppression, who faithfully follows the traditions of the Holy Prophet and who keeps himself away from innovation in religion."

 By Huda Jawad

Huda Jawad is a writer and editor of Islamic texts who currently lives in the United States. She has a degree in teaching with an emphasis on social sciences and manages various educational outreach projects in the United States including leading the Committee to Improve Islamic School Teaching in the United States (CIS)

The Wolves Surrounding The Syrian Nation



The Wolves Surrounding The Syrian Nation:

1)Western Imperialism:

Syria is outside their sphere of influence unlike most Arab nations.These nations of the West were the creators of Zionism in Palestine,they are its nourishers and they insured its ignoble existence.Nations such as the US,UK,France,Germany,Canada etc are active constituents of this Western axis.

Their primary concern is the security of the Zionist regime and to ensure the total surrender of the Arabs in relation to the Palestinian question.Among the nations bordering occupied Palestine,the Egyptians and the Jordanians had already surrendered,what remained are Syria and Lebanon.The Hezbullah factor in Lebanon is the obstacle for the surrender of that country and the Assad regime in Syria is the obstacle for the surrender of that country.

These countries provides weapons,trainings,money,intelligence information and political support to the terrorist fighting in Syria.

2)Zionism In Palestine:

What forced the Zionist withdrawal from South Lebanon and Gaza was the Resistance axis that included Iran,Syria,Hezbullah and Hamas.Without these Resistance the criminal Zionist entity will still be occupying those places.Syria is the 'bridge' of this Resistance axis and 'Israel' will be most happy if this bridge is broken and destroyed.

That is why it renders all sort of support to the armed-terrorist in Syria.A weak and balkanised Syria is in the interest of the Zionist regime occupying Syria.And inversely this is detrimental to the Palestinian cause.Sadly enough we see Palestinian fighters siding with the armed-terrorist in Syria thus weakening the Palestinian cause.

3)Sectarianism:

You can call them Wahhabi or Salafist or Takfirist,they are one and the same in origin,content and substance.They hide behind Sunnism to deceive the adherents of the Sunni majority despite the fact that they considered Sunnis to be infidels or heretics.

Their home is Saudi Arabia and the official Wahhabi Clergies in that country are their spiritual masters.They follow a narrow and deviant interpretation of Islam and politically they follow the British Empire that created Saudi Arabia and after the decline of the British Empire,the leaders of Saudi Arabia are American puppets.

The countries of Saudi Arabia,Qatar and other Gulf states provides money,weapons and mobilized al-Qaida terrorist fighters across the world to Syria.

4)Erdogan Treachery:

I deliberately didn't use 'Turkish' because a large section of the Turkish society are against the treachery of Erdogan.Before the Israeli attack on the Turkish aid ship to Gaza,Turkey and Israel been American close allies were best of friends.Erdogan been a faithful servant of American imperialism serves that cause in Syria.

Turkey is the polar axis of all these aggression against the Syrian nation.Turkey offers bases for training,all weapons are channeled through Turkey to the terrorist.

5)Mercenaries And Professional Killers:

Since the petro-dollars nations are actively involved,there are lots of money in circulation.There are agents that recruits these mercenaries and we hear in Yemen of a family been given as much as 20,000 USD to release a fighter.Prisoners on death row were released and trained and send to Syria to fight by Saudi Arabia.These mercenaries are paid to fight in Syria and they come and go as the payment progresses.Some of them are retired military personnel from other nations across the world.

6)Western Puppets:

These includes countries such as Jordan and most countries of the Arab world.These are the countries that gave the sit of the Syrian government to the armed-terrorist in the Arab League.They are semi-independed nations since their rulers are lackeys of Western imperialist nations.They take orders from Washington,London and Paris on what to do and not to do.

They mostly provides political support to the armed-terrorist though we see in recent months Jordan is increasingly become a base where these terrorist are been trained.

These are the six(6) wolves surrounding the Syrian nation today


By Harun Elbinawi - Ahmadu Bello University , Zaria

Kisah teladan seorang pengikut FATIMAH Az-Zahra a.s putri Rasulullah saww


Farank Ebrahimi lahir di Arak, Iran tengah pada tahun 1971. Perempuan teladan Iran ini sarjana bahasa dan sastra Inggris ini menyelesaikan studinya di fakultas Ilmu Perhubungan Universitas New South Wales, Australia. Dengan pengalaman 13 tahun mengajar, dia aktif dalam berbagai riset. Dalam festival Sheikh Bahaee yang diselenggarakan tahun 2010, Farank Ebrahimi meraih penghargaan peneliti terbaik, perempuan teladan dan ibu inventor terkecil. Gelar terakhir ini diberikan kepadanya karena bebagai penemuan ilmiah yang dibuat putrinya, Bita Parinejad, yang baru berusia 10 tahun.

Nyonya Ebrahimi yang saat ini duduk sebagai Direktur rumah budaya ‘Mother' juga menjabat sebagai Direktur Bimbingan Belajar ‘Padideh Ertebat'. Dia sudah mematenkan tiga penemuan. Di Australia dia berhasil mematenkan penemuan teknik pendidikan bahasa. Penemuannya menempati rangking ketiga dari 300 karya yang diajukan para peserta. Patut dicatat bahwa penemuan Farank Ebrahimi ini juga dikukuhkan oleh sejumlah pakar di berbagai negara Eropa. Dia juga telah mematenkan penemuan mesin perkebunan dan formula analis kimia. Ebrahimi berhasil meraih penghargaan medali emas dan perunggu untuk penemuan tingkat dunia.

Mengenai penemuannya yaitu teknik terbaru pengajaran bahasa, Farank Ebrahimi mengatakan, "Penemuan ini adalah sejenis teknik dalam dunia pengajaran bahasa seperti bahasa Perancis, Italia, Jerman, dan Arab, dan tidak ada batasannya. Untuk mematenkan penemuan ini di Australia diperlukan waktu empat tahun. Selama masa itu, penemuan ini sudah dikaji dan dikukuhkan oleh para pakar dan ahli bahasa di Australia. Dengan metode ini bahasa diajarkan melalui bahasa ibu atau bahasa asal. Misalnya, orang Italia yang bahasa ibunya adalah bahasa Italia, jika ingin belajar bahasa Perancis maka ia mesti mempelajarinya dari bahasa ibunya yaitu bahasa Italia. Setelah mematenkan penemuan ini di Australia pada tahun 2003, saya kembali ke Iran. Sekarang, setelah mendapat pengukuhan dari Departemen Sains saya sedang menerapkan teknik ini di Iran."

Menurut wanita muslimah yang sukses ini, keimanan dan kepercayaan punya andil yang sangat besar dalam keberhasilannya. Ebrahimi mengatakan, "Kita percaya, jika Allah tidak menghendaki, selembar daunpun tidak akan jatuh dari pohon. Keimanan dan kepercayaan agama punya pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Dengan iman, orang akan meyakini bahwa dalam setiap langkahnya, ada Yang mengawasi dan Yang membimbingnya. Dialah yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan di atas segala kekuatan materi. Mungkin fenomena materi punya posisi dan signifikansinya sendiri. Tapi kekuasaan Allah yang tak terbataslah yang menuntun manusia. Saya sekeluarga tidak mengaku sebagai keluarga yang sangat sukses. Tapi keberhasilan yang relatif kami dapatkan adalah berkat tawakal kepada Allah dan memohon tawasul dengan para imam Ahlul Bait as. Dan tentunya, ada faktor-faktor lain yang membantu keberhasilan termasuk hubungan dengan sesama manusia."

Mengenai kesulitan dalam meraih sukses, Farank Ebrahimi mengungkapkan, "Sejak tahun 2007 saya melakukan penelitian 12 program rancangan, dan tiga penemuan diantaranya berhasil saya patenkan. Saya hijrah ke Australia bersama keluarga. Sangat sulit untuk menanggung ongkos kepergian ke sana dan biaya hidup di negara dengan bahasa dan budaya yang asing apalagi dengan membawa anak yang masih kecil. Untuk membantu program kami, kami juga terpaksa menyewa jasa pengacara. Biaya untuk pengacara dam berbagai urusan hukum tentu punya msalah tersendiri. Saya hanya bisa memohon kepada Allah untuk membantu kami menanggung segala kesulitan yang ada. Sebab, saya hanya memikirkan keberhasilan dan prestasi untuk Iran. Saya ingin negara saya maju di bidang keilmuan. Setelah mematenkan penemuan, peringkat negara kita dari sisi teknik pengajaran bahasa meningkat cukup signifikan. Sekarang saya sedang berusaha agar rakyat di negara kita bisa memanfaatkan temuan ini."

Saat ditanya apakah dia menemukan kendala untuk terlibat dalam kegiatan masyarakat? Ebrahimi menjawab, "Dalam menjalankan aktivitas, saya tidak menemukan kesulitan apapun. Tentunya, ketika orang punya tujuan dam ketekunan dalam kegiatan kemasyarakatan, sekalipun gagal, dia akan bangkit kembali dengan tekad yang lebih besar untuk bergerak dan meraih sukses."

Ebrahimi menyinggung soal jilbab dan menyebutnya sebagai kehormatan dan norma kesusilaan bagi perempuan yang harus diperhatikan saat berada di tengah masyarakat. Menurutnya, perempuan ibarat mutiara dalam kerang sementara jilbab tak ubahnya bagai kerang yang menutupinya. Ketika memiliki berlian atau barang berharga tentunya kita akan melindungi dan menjaganya dengan baik supaya tidak dicuri atau dirusak oleh musuh. Jilbab bagi perempuan ibarat penjaga dan memberinya keamanan dan perlindungan di tengah masyarakat.

Bita Parinejad, putri Farank Ebrahimi lahir di kota Ahvaz, Khozestan, Iran pada tahun 2000. Sejak usia enam tahun, gadis cilik dengan kecerdasan luar biasa ini sudah mulai melakukan berbagai penelitian dengan bantuan ibunya. Dia bercita-cita menjadi ahli di bidang ilmu tanamanatau botani. Sampai saat ini, dengan usianya yang 10 tahun, Bita sudah mempatenkan empat penemuan yang meliputi alat petik buah, kursi roda pintar, vegetasi dan gardu polisi. Dia mengatakan sedang menyempurnakan ide pembuatan pesawat yang tidak memerlukan lapangan terbang. Gadis cilik ini juga sedang memikirkan membuat robot yang bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Bita Parinejad sudah mengantongi empat medali tingkat dunia. Satu medali emas satu medali perunggu didapatkannya dari pameran penemuan dunia di London tahun 2009. Di tahun yang sama, dia juga menyabet peringkat ketiga nasional dalam festival nasional inovasi yang diadakan kantor kepresidenan Iran. Saat ini, Bita mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak usia 4-6 tahun.(IRIB Indonesia)

Sebuah Renungan


Jika kita menoleh ke belakang atau mencari titik akhir dari alam material, maka kita akan menemukan benda pertama dan terkecil di dalamnya, yang disebut dengan partikel atom, energi, atau apa pun namanya. Yang pasti, terdapat sebuah entitas material yang merupakan asal-muasal alam yang kompleks ini. Ia sangat kecil dan kuat sekali.

Di antara atom, ada yang beruntung menjadi benda dan entitas fisikal (molekul) serta menyandang ciri-ciri esensial: cair, padat, atau gas. Air, batu, dan udara pun menempati level berikutnya, yang meninggalkan partikel pada level atomiknya.

Ada sekelompok benda yang berevolusi hingga mampu berkembang. Ia menjadi benda yang berkembang (tetumbuhan), mulai dari akar, bunga, tangkai, putik, buah, biji, dan daun. Ia bukan sekadar benda tetapi berkembang, mekar, dan layu. Ia bahkan dapat bernafas: menghirup udara dan menghembuskannya.

Di antara tetumbuhan, ada sekelompok maujud yang naik ke level berikutnya dan menyandang sejumlah identitas pelengkap seperti “berpenginderaan” dan “berperasaan”. Ia bukan hanya benda yang berkembang dan dinamis tetapi juga memiliki naluri dan emosi. Ia bisa merasakan benci, cinta, sayang, sedih, dan bahagia. Ia bahkan memiliki keterikatan untuk melakukan kontak seksual dan bereproduksi.

Di tengah hewan-hewan, ada yang beruntung menyandang identitas tambahan dan menjadi “berakal”. Ia tidak hanya entitas yang berperasaan dan melakukan penginderaan, tetapi mempunyai alat untuk membedakan benar dan salah; baik dan buruk; indah dan kacau. Ia pun mampu menentukan kesempurnaan dan kepatutan.

Ia adalah maujud unik (satu-satunya) yang menjadi miniatur dari semua makhluk alam ini. Semua representasi kebendaan ada di dalamnya. Ia bahkan terdiri dari tiga lapis: ruh, jiwa, dan raga. Ia merdeka dalam berkehendak bila dibandingkan dengan entitas-entitas pada level di bawahnya: binatang dan tetumbuhan. Dibanding makhluk-makhluk lainnya, ia telah menikmati kebebasan berkehendak secara lebih sempurna meskipun sarananya kadang lemah. Dialah manusia. Allah berfirman, Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah (QS. an-Nisa:27).

Ironisnya, ada saja manusia yang secara sukarela terjun bebas ke level terendah sembari melepas semua identitas-identitas kesempurnaannya. Ia puas dengan identitas ‘atomman’. Ia lebih keras daripada batu karena mengabaikan hati nurani, memakzulkan logika, serta mencerabut ciri-ciri kesempurnaannya. Dalam al-Quran, ia disebutkan, laksana batu, bahkan lebih keras.

Ada pula yang memilih untuk menjadi batu atau pasir seraya menanggalkan identitas hewani dan insaninya. Ia puas menyandang predikat ‘stoneman’ atau ‘sandman’ yang tidak bisa tegak tanpa perekat. Ia bagai debu yang berhamburan diterpa badai. Mereka bagaikan batu-batu. Ia tidak punya indera, tuli, buta, dan mati rasa. Ia hanya mengisi ruang, statis, dan jumud (padat).

Ada yang memutuskan untuk menjadi penghuni level tetumbuhan. Ia hanya peduli dengan ‘pertumbuhan’. Ia sangat merisaukan penampilan fisik serta mengkhawatirkan kelayuan, kerutan di wajah, dan lemak di tubuh. Ia seringkali menyesali bentuk-bentuk fisiknya: hidung yang terlalu mancung atau terlalu pesek, sehingga berpikir untuk ‘mempermaknya’. Ia sangat merisaukan ukuran tubuh atau siluet di perutnya karena bersalin. Ia bagaikan ‘vegetableman’, ‘woodman’ atau ‘jengkolman’ karena, baginya, pertumbuhan adalah puncak kesempurnaan. Ada pula yang tumbuh superagresif sehingga menjadi ‘parasitman’ yang merusak apa pun yang di sekitarnya.

Ada pula yang memilih bertahan di ‘kebun binatang’ dan puas dengan menjadi ‘spiderman’, ‘batman’, ‘elephantman’, atau lainnya karena, baginya, yang terpenting adalah birahi, kepuasan, keliaran, dan kebebasan. Sebagian dari mereka mengalami mutasi menjadi lalat yang berpesta dalam tong sampah, mendistrubiskan fitnah, menebar dusta, dan bahkan merawat kebencian. Sebagian lagi menjadi an’âm (hewan rumahan) yang tidak memiliki kemandirian sikap dan pendapat. Ada pula yang menjadi liar dan buas bagai aligator atau piranha. Ia tidak merisaukan soal benar dan salah, patut dan tidak patut, apalagi legal dan ilegal. Baginya, yang terpenting adalah kepuasan yang memanjakan perut dan kelamin, dan al-Quran menyebutnya sebagai “lebih keras (buas).”

Manusia sejati adalah ia yang tidak hanya puas sebagai makhluk berakal, tetapi bergerak ke atas menjadi pengiman Tuhan, agama, dan hari kebangkitan. Karena keyakinan inilah, Ali bin Abi Thalib berani memanaskan sepotong besi lalu mendekatkannya ke tubuh saudaranya, Aqil bin Abi Thalib setelah Aqil memohon untuk diberi dana “non-bugeter” dari baitulmal. Saat Aqil merintih kesakitan, Ali berkata, “Wahai Aqil, saudaraku! Apakah kau menangis karena besi ini, padahal ia dibuat oleh manusia? Lalu, mengapakah engkau suruh aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu terbakar oleh besi panas yang disiapkan Allah di akhirat?”

Rupanya di era microchip ini, manusia sejati (tanpa embel-embel ‘kebinatangan’) sudah dianggap ‘kurang manusiawi’. Karena itulah, kini yang mulai dipandang sebagai idola dan tumpuan harapan (sekaligus jurus meraih keuntungan) adalah para kelelawar, laba-laba, pinguin, dan mungkin masih banyak lagi. 

So, welcome to the jungle


( Renungan ' Spiderman ' by Dr. Muhsin Labib )

Imam Khomeini & Xmas


French physician, Dr. Louie, who was in his teens in the closing months of 1978, when the Imam made the Paris suburb of Neuphal Le Chatoux  as his temporary residence prior to his historic return form exile to Tehran, says, "That day when my father returned home from work he angrily took off his coat, sat on the sofa and said, “This year I have been stalked by misfortune. On one hand the company is facing bankruptcy and on the other, our suburb has lost its peace." My mother consoled him saying, "Don’t worry, it is said that Ayatollah Khomeini will leave within some days to Iran, so this place will become tranquil soon.”

Louie adds, "I was curious to see this great religious leader of Iran who was in our neighbourhood. I joined reporters who were daily converging on the area and went to the edge of the orchard where Imam Khomeini was staying. I saw an old but enlightened man in robes sitting cross-legged under a shady tree and talking in cool and calm voice. An aura of spirituality oozed from him. I did not realise how quickly that hour passed. I returned home in state of ecstasy and enthusiasm on having seen this divine person."

Dr Louie continues, "I told my father that if he wanted to see a personality, who inspired the same feelings as Jesus (PBUH), than he should come and hear Ayatollah Khomeini." My father was at first indifferent and said there was no difference since all priests have the same resemblance. I finally managed to convince my father and the next day we went together to see this great spiritual leader from Iran.

Ayatollah Khomeini's punctuality very much impressed me. He came on time and sat at the usual place where he used to meet the press. All stood up as a sign of respect to this great Ayatollah. He soon started speaking. Translators were on hand to render his speech into French. Minutes later, I looked at my father’s face. He was listening carefully. There was a glint in his eyes and it was apparent that he was very much impressed by Ayatollah Khomeini.

A few days later it was Christmas. We sat for the celebrations, when the doorbell suddenly rang. My father went towards the door and I followed him. A man with a bouquet of flowers and package of confectionery was standing at the door. He greeted us cheerfully and handed to my father the bouquet and the confectionery, saying, "This is a present from Ayatollah Khomeini." He congratulated us on the birthday of Jesus (PBUH) and asked forgiveness in a courteous manner if he had disturbed our Christmas celebration. My father thanked the man and stood amazed at all this love and affection from a Muslim divine."

Kenalkah kita pada diri kita?


" Barangsiapa yang mengenali dirinya , maka dia menjadi 'imaterial' "   ( Imam Ali a.s )

Mencoba memahami hadis ini, sungguh menggugah hati dan membuka mata hati kita, sehingga diri ini mulai tersadarkan, bahwa sesungguhnya apabila kita sudah dapat mengenal diri kita, kita sudah tidak tertarik lagi dengan hal-hal yang berbau materi. Oleh karenanya di hadis yang lainnya Imam Ali a.s berkata bahwa :

 ' barangsiapa yang mengenal dirinya , maka dia mengenal Tuhannya '.  

Apabila kita mengambil benang merah  dari kedua hadis ini,  terlihat bahwa jika kita telah mengenal diri kita , kita akan dapat mengenal Tuhan, dimana Tuhan itu berada di alam non materi, dan Tuhan itu sendiri adalah sesuatu yang imaterial ( abstrak )

Jadi ini dapat menjadi tolok ukur kita untuk mengetahui apakah kita sudah mengenal diri kita?, apakah kita sudah mengenal Tuhan? Karena apabila kita sudah mencapai  derajat pengenalan diri atau Tuhan ( Marifat al nafs / Marifatullah ) , kita dengan sendirinya akan menjadi 'immaterial' atau tidak menginginkan sesuatu yang bersifat materi lagi.

Sebagaimana yang pernah dikatakan Imam Ali a.s tentang dunia, seperti beliau a.s  telah menalak dunia sebanyak tiga kali. Dan masih banyak lagi hadis-hadis Imam Ali a.s tentang hinanya dunia di mata beliau a.s. 

Dunia bukan hanya berarti alam yang kita tempati sekarang, ya kita berada di alam dunia , tetapi dunia yang dibenci Imam Ali a.s adalah sifat keduniaannya, sifat kebendaannya, yang tidak abadi dan hanya sementara. Kita tidak membenci alam yang Allah SWT telah ciptakan untuk kita, tetapi dikarenakan akan sifat kebendaannya yang dapat membuat kita terpana dan terikat sehingga kita tidak dapat menanjak ke alam- alam berikutnya , kita tak dapat menjadi seperti yang Tuhan inginkan, yaitu sebagai insan yang sesungguhnya kita berasal dari alamNYA yang non materi , alam ruh. Yang di karenakan kita berada di alam materi bukan berarti kita harus tetap menjadi materi. Tuhan ciptakan kita dengan 2 dimensi yaitu dimensi materi ( fisik/badani dan non materi ( ruh/batiniah ). Manusia itu diciptakan dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan (alam ruh/malakut - alam dunia/materi - alam ruh) yang disebut dalam firmanNYA  " Inna lillahi wa inna ilaihi rajiiun ".

Perjalanan yang manusia harus lalui adalah demikian, dari alamNYa di turunkan ke alam materi ( dunia) lalu akan kembali ke alamNYA, sehingga untuk menyempurnakan dirinya manusia di himbau untuk tidak terikat oleh alam dunia ini agar dengan mudah dapat kembali ke alam asalNYA yang non materi. Ini adalah penyempurnaan wujud agar manusia dapat menyerupai wujud mutlakNYA, menjadi insan, manusia yang di inginkanNYA, yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, sebagai 'manusia', bukan selain insan ( hewan, tumbuh2an ataupun tanah ) .

Selama kita masih berkutat dengan 'hanya' memenuhi kebutuhan2 duniawi, maka jelaslah bahwa kita sesungguhnya belum mengenal siapa diri kita sebenarnya. Juga apabila kita mengklaim sedang melakukan pemenuhan kebutuhan akhirat, tetapi masih selalu disibukkan dengan segala kebendaan, asesoris dunia, berarti kita masih jauh dari mengenal siapa diriNYA, berarti masih harus terus melakukan penyucian diri ( tazkia al nafs ) dan banyak memohon ampun atas segala dosa2 yang kita ketahui maupun yang tdk ketahui ( utk hal ini perlu kiranya kita mengetahui 'ahkam'/ fiqih' yang karena tak mengetahuinya dapat menjauhkan tujuan kita dari mendekatiNYA ) .

Yang akan menjauhkan kita dengan Sang Pencipta kita adalah keasyikan mencintai dunia, sehingga kita menjadi 'addicted to ' dunia, sehingga melupakan segalanya, bahkan Tuhan yang menciptakan dunia dan diri kita. 

Kita tidak pernah dilarang memiliki dunia ( benda-benda materi) , malah kita diharuskan untuk keberlangsungan kehidupan kita di alam ini, yang di larang dan di benci Tuhan adalah mencintai dan terikat oleh dunia sehingga kita dapat lupa diri. 

Lupa diri , hanya di perbudak oleh mencari sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan duniawi semata yang sangat tidak kekal dan mudah hilang. Hanya dibatasi dengan waktu tertentu semua yang kita miliki di dunia ini dapat hilang begitu saja, sedangkan yang tersisa adalah 'diri kita' ( ruh kita ) yang akan nantinya membentuk wujud kita untuk dapat menghadap kembali kepada Sang Pemilik Diri kita.

Banyak dari kita sibuk mencari barang-barang kita yang hilang, tetapi apabila diri kita yang telah hilang kita jarang sekali mencarinya. Dan inilah musibah terbesar dalam hidup ini. Bagaimana kita dapat melakukan perjalanan menujuNYA apabila kita selalu disibukkan dengan alam materi ini, sehingga kita seperti jalan di tempat, sibuk, lelah , tetapi tak pernah akan mencapai tujuan. 

Begitulah gambaran kita yang masih sibuk dengan sesuatu selainNYA, berkutat di alam material yang seperti fatamogana, sejauh manapun kita telah mencapainya, masih saja kita merasa belum terpuaskan, seperti kita meminum air garam, semakin banyak air yang diminum semakin dahaga kita meningkat, dan itulah kita, yang masih belum mengenal diri kita, yang masih harus terus mencari diri kita yang hilang. Sayangnya kita tidak merasa diri kita hilang, karena pengetahuan kita tentang diri adalah badan kita ( yang sangat fragile ini, yang mudah rusak ini ), ruh kita terus menangis tetapi jarang dari kita yang mendengar tangisan ruh kita yang tak pernah kita pedulikan itu, yang tak pernah masuk asupan2 ruhani yang baik. 

Apabila alat pengukur ( spt : spedometer pada setiap mobil - itu telah rusak,  kita tidak pernah tahu kapan harus ganti oli, isi bensin dsb ) sudah tidak berfungsi, maka kita seperti zombi yang masih hidup. Alat pengukur itu dapat kita dapati dan kenali dengan melihat, apakah kita masih heboh dengan dunia materi? karena ukuran dari kita dapat mengenal diri atau Tuhan apabila kita telah menjadi tidak materi menganggap segalanya tdk penting kecuali Allah SWT ( sbgmna hadis diatas ) , tidak tertarik lagi pada yang berbau kebendaan, kesementaraan.

" Ya Allah, perkenalkanlah Engkau kepadaku , karena apabila tak KAU kenalkan MU pada ku, akan tak akan dapat mengenal NabiMU. Ya Allah , perkenalkanlah aku pada NabiMU, karena apabila tak KAU kenalkan aku pada NabiMU, akan tak akan mengenal HujjahMU ( argumenMU - waliMU). Ya Allah, perkenalkanlah aku pada HujjahMU, karena apabila tak KAU kenalkan aku pada HujjahMU, aku akan tersesat dari agamaku "

Smoga dengan segala keikhlasan kita dalam membaca doa tsb, kita mengharap Allah akan membantu kita menemukan diri-diri kita yang telah hilang dan dapat menemukan kembali sehingga kita dapat mengenalNYA dan berjalan di jalanNYA, sehingga dapat kembali padaNYA dalam keadaan yang di inginkanNYA inshaAllah.

Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajil farajahum. Adrikna YA MAHDI