Realty Check


Sepertinya sudah saatnya setiap diri merenung, melihat apa yang sedang terjadi di sekeliling kita. Jangan pernah merasa aman dan merasa 'everything ok' dengan setiap keadaan kita.   Pernahkah terpikir bahwa 'setiap kepakan sayap kupu-kupu di New Zealand dapat mengakibatkan tsunami di Haiti?' This is not a joke !!! Setiap keberadaan kita dan langkah-langkah kita akan mempengaruhi sekitar kita dan akan berdampak pada alam sekitar kita...

Misalnya, cara mendidik anda akan mempengaruhi tingkah anak anda kemanapun dia pergi dan berada. Dan segala tindakannya akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Setiap gerakan dan langkah yang kita kerjakan di bumiNYA, akan berdampak pada bumi yang kita pijaki ini. 

Cara pandang yang salah dan berbahaya yang biasa kita lakukan tanpa disadari,  seperti : " saya  akan lakukan sesuka dan sekehendak hati saya , yang penting saya tidak merugikan orang lain. Terdengar fine fine saja statement seperti itu, tetapi sesungguhnya sangat tidak bertanggung jawab dan berdampak buruk pada lingkungan sekitarnya dan juga untuk dirinya sendiri.

Oleh karenanya Sang Pengatur Alam Semesta yang memberikan segala keperluan untuk makhluk-makhlukNYA di bumi ini , pada saat yang sama memberikan Undang-Undang untuk menempati bumiNYA yang termaktub dalam kitab-kitab suciNYA yang di amanatkan pada para utusan agungNYA Sang Nabi Allah. Setiap ketidak tahuan akan undang-undangNYA, akan berakibat fatal pada diri dan alam sekitarnya.

Jadi, kita diwajibkan untuk mengetahui dan mempelajari dan mematuhi segala apa yang termaktub dalam kitab suciNYA yang terakhir yang dibawa oleh nabi penutupNYA Muhammad saww untuk memelihara bumi ini sebagai amanatNYA yang di bebankan pada umat Muhammad saww, yakni kita semua yang sekarang masih hidup di bumiNYA.

Tetapi , yang terjadi di bumiNYA sekarang ini, adalah jelas sekali bahwa makhluk-makhlukNYA banyak sekali yang tidak amanah pada apa yang telah di bebankan pada mereka. Mereka dengan terang-terangan membangkang dan menjadikan diri-diri mereka sebagai tuhan-tuhan kecil. Merasa memiliki , merasa berkuasa, merasa menjadi 'seseorang '....( padahal mereka hanyalah makhluk2NYA yang diberikan amanah, karena diri kita tak mungkin dapat eksis tanpa kehendakNYA ). 

Lihatlah segala kekacauan dunia ini, dari mulai bencana alam , kelaparan, pelanggaran akan hak-hak azasi manusia, penjajahan atas bangsa lain baik itu berupa ekonomi, budaya dan perampasan aset2 negara suatu bangsa, apartheid- diskriminasi, merasa bangsanya lebih unggul dari bangsa lain, pembunuhan masal, penahanan dan penculikan aktivis2 politik dan semacamnya. 


Semua itu akarnya dari ketidak tahuan akan tujuannya di ciptakan dirinya di dunia ini. Manusia yang beragama bisa bilang mereka mengakui adanya Tuhan sebagai Sang Pencipta, dan ini belum berarti mereka berTAUHID atau sebagai PengESA Tuhan, karena selama dirinya masih di kuasai oleh ego dirinya , keinginan dan kehendak pribadinya dan perintah dari makhluk lainnya yang menguasai dirinya, secara tidak sadar dia telah menduakan Tuhan, karena telah menjadikan diri-diri mereka sebagai Penentu dan masih dan selalu mengharap pada selainNYA....sementara pada waktu yang sama ironisnya apabila dia melaksanakan ibadah salat atau berdoa selalu menyebut dengan kalimat Laa ilaha ilallah... 


Imam Ja'far Shadiq a.s :" Barang siapa yang mengatakan ' Laa ilaha illallah ' tidak akan menembus malakut langit sampai ia menyempurnakan ucapannya dengan amal saleh. " 

Sering sekali kita melakukan kebaikan tetapi ujung-ujungnya apabila tak ada yang mengakui kebaikan kita kita seperti marah dan ingin di akui bahwa pekerjaan itu adalah dari dirinya....Ya Allah, kita beristigfar dan berlindung akan hal-hal yang demikian yang sering terjadi pada kita dan memohon ampunan dari kesyirikan yang terlihat kecil tetapi apabila sudah menjadi kebiasaan akan menjerumuskan kita pada dosa yang tak terampuni...

Kebanyakan kita masih naif dan masih belum berkembang pengetahuan tentang TAUHID kita, dan masih merasa bahwa syirik itu hanyalah menyembah berhala2 sebagaimana yang diceritakan pada kasus Nabi Allah Ibrahim as. Oleh karenanya sangatlah penting setiap kita selalu terus mencek dan mericek kembali cara pandang dunia kita tentang segala hal yang berhubungan dengan hubungan kita dengan Tuhan & sesama makhluk. Dampaknya sangatlah dahsyat, karena dengan keluguan kita akan cara pandang kita yang sama seperti masa kecil kita , secara tidak sengaja kita telah menghambat perkembangan perjalanan ruh kita yang seharusnya harus terus menanjak dan menuju ke kesempurnaan untuk dapat kembali padaNYA dengan selamat , menjadi stagnan jalan di tempat ( treadmil effect )

Ok...apa hubungannya sekarang dengan kekacauan yang terjadi di dunia ini. Pertama,  kita harus sadar dan mengetahui dengan penuh keyakinan akan tujuan penciptaan kita di dunia ini dan ini termaktub pada
Al Quran surat 51 : 56 : " Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka 'mengenal' KU " ( kebanyakan terjemahan hanya menulis menyembahKU ) . Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi yang berkembang disekitar kita, dan karena tidak di sertai dengan pengetahuan yang sepadan tentang diri manusia itu sendiri. Sebagaiman dalam diri manusia terdapat dua dimensi : lahir ( jasad/fisik ) dan batin ( ruh/spirit/jiwa) . Ketidak seimbangan diantara keduanya ini lah yang menyebabkan manusia tidak mengenal siapa dirinya (" Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya " - Imam Ali a.s) . Syahid Murthada Muthahari pun menyatakan bahwa manusia-manusia abad modern sekarang itu bukan hanya terkena krisis ekonomi, krisis sosial dan krisis budaya tetapi akar permasalahan krisis meraka adalah krisis spiritual, kekosongan jiwa. Dan ini akibat dari tidak mengenal dirinya yang sesungguhnya.

Ungkapan Maulana Jalaludin Rumi, ketika menerangkan tentang marifah al nafs, sangat indah sekali, beliau menceritakan bahwa dalam suatu perlombaan melukis, di suatu ruangan, peserta lomba ada yang sibuk melukis dengan kanvas dihiasi dengan warna2 yang menawan, tetapi ada yang sibuk hanya membersihkan kaca yang di pantulkan pada lukisan indah peserta yang lain. Disini singkat cerita saya hanya ingin menceritakan bahwa membersihkan cermin dengan bersih dapat memantulkan lukisan yang indah itu. Begitu juga manusia sebagai pantulan cerminan Tuhan, tidak mungkin si cermin itu mengaku bahwa dialah yang melukis lukisan yang indah itu....begitu juga dengan seorang yang sedang memuji lukisan indah tsb, sesungguhnya dia sedang memuji sang Pelukis lukisan indah itu. Jadi disini, apabila ada orang yang memuji anda, berarti secara tidak sadar orang itu sedang memuji yang mencipta anda. Alangkah lucunya apabila anda merasa diri anda yang dipuji tanpa mengingat bahwa yang sesungguhnya sedang di puji adalah Tuhan Sang Pencipta anda.

Apabila kita terus berusaha mengetahui untuk mengenal siapa sesungguhnya diri kita...kita tidak akan dapat mengklaim bahwa segala yang kita perbuat adalah murni perbuatan kita . Tuhan telah memberikan kebebasan untuk memilih....apapun yang di pilih manusia yang sesuai dengan kehendakNYA adalah untuk kepentingan dirinya sendiri dan keuntungan tentunya ada pada diri kita, tetapi apabila kita memilih hanya pada  kehendak-kehendak kita saja tanpa mempedulikan undang-undang ( hukumNYA - syar'i - fiqih ) tentu akan ada konsekuensinya yang ujung-ujungnya akan merugikan diri kita dan orang disekitar kita.

Dan inilah yang terjadi di sekitar kita, karena manusia pada dasarnya tidak ingin di nasihati , mereka merasa sudah tahu. Mungkin mereka mengetahui tetapi tidak memahami dan malas untuk mendalami . Di tambah dengan cara pandang dunia yang tidak pernah di 'up date' masih menganut cara pandang ketika dia masih di zaman jahiliyah atau pandangan import yang jauh dari Syariat Islam.

Tahukah anda, Allah akan memaafkan segala perbuatan kita yang melanggar ketentuanNYA , apabila kita kembali bertaubat, tetapi Allah TIDAK akan memaafkan cara pandang dunia kita yang salah tentangNYA, tentang, KeadilanNYA, Kenabian, Kepemimpinan, Hari Akhir ( Ma'ad).  Merugilah kita apabila telah di panggilNYA kembali kepadaNYA dalam keadaan 'syirik'  ( akibat dari salah memahami TAUHID ).

Semoga kita di bulan nan mulia Syaban ini , di bulan kelahiran Sang Hujjah terakhir Allah ini dapat meningkatkan spiritual kita dengan pemahaman yang benar sehingga dapat mengenal Imam Zaman atfs kita dan mengetahui visi dan misi beliau atfs agar kita dapat siap menjadi para penolong-penolong Sang Hujjah atfs inshaAllah.....dan berdiri bangkit bersama beliau atfs ( Smoga Allah SWT mempercepat kemendatangannya)

Semoga Allah memaafkan dosa-dosa ( syirik )  kita baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja , baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat ,  dan semoga Allah menerima dan meridhai amalan sedikit kita di bulan suci mulia ini dengan terus beristigfar dan bersalawat pada Nabi Terkasih Muhammad saww dan keluarga nya yang suci dan disucikan...wallahualam bishawab

Allahumma shali ala Muhammad wa ali Muhammad wa ajil farajahum ....ADRIKNA YA MAHDI






The Importance of Brushing the Teeth in ISLAM

Brushing the teeth not only helps one look better and feel healthier, but also it pleases God. The religious leaders of Islam emphasized on this fact and suggested their followers to brush their teeth too. According to Prophet Muhammad, “If you brush your teeth before saying your prayers, that prayer is better than seventy five prayers one says without brushing his teeth.”‌ Imam Sadiq said, “When you wake up at night to say your prayers, brush your teeth. Because an angel comes down and puts its mouth on yours and takes with it every word you say to the heavens. Therefore, it is better if your breath and words smell nice.”‌ In the Mesbah Al-Shari’a book, Imam Sadegh quoted from Prophet Muhammad, “Brushing the teeth not only cleans the mouth, but also pleases God.”‌ One of the things that Prophet Muhammad never forgot to do was brushing his teeth. If you think about it, you will find out that brushing the teeth has many different advantages. Still, a sane person knows that brushing teeth is a physical act and improves the health in one’s body only and in order to purify the soul too, they need to pray to God, to worship Him, and to ask Him to forgive the sins they have committed. Prophet Muhammad said that brushing the teeth was like a means that awakened the souls; teeth are made clear and white with the aim of chewing the food and helping the digestion, but they become dirty and damaged by chewing the food. When people clean their teeth with a toothbrush, it is like they are sending away the sins from their heart by thinking about God. Once one’s heart loses its clearance because of the sins, they should repent and clean it just like they brush their teeth. Imam Sadiq said, “Brushing the teeth has 12 characteristics. It’s the tradition of Prophet Muhammad, it clears the mouth, improves the eye sight, pleases God, purifies the mouth, cures oral diseases, strengthens the gums, increases the appetite, sends away the phlegm, improves the memory, adds to the virtues, and pleases the angels.”‌ Prophet Muhammad also recommended people to brush their teeth, while he actually meant that they should purify their soul. Those who are wise enough to understand these words, are rewarded by the knowledge of God, and no punishment is more severe than being distanced from God. Brushing the teeth is one of the pleasant things a Muslim could do and it has been talked about in many different sayings. Prophet Muhammad said that he would have made it obligatory for the people to brush their teeth if it had not been difficult for them. It has been recommended to Muslims to brush their teeth especially before they say their prayers, as such a prayer is rewarded much more than one that is said without brushing the teeth. Translated by: Sadroddin Musawi @ Tebyan.net

Indahnya perbedaan...

Masalah manusia yang mengaku diri mereka modern dan independent , adalah mereka lupa satu hal yang paling fundamental yaitu mereka itu hidup di tengah masyarakat, dan suatu masyarakat itu sangat heterogen.

Menyamakan suatu pendapat pada masyarakat yang mempunyai latar belakang yang masing-masing berbeda, adalah suatu mimpi buruk. Filosofi negara kita tercinta Indonesia, yaitu " BHINEKKA TUNGGAL IKA " , adalah suatu turunan dari ajaran agama Islam yang sangat Universal. Tidak ada tempat di dunia ini, dimanapun kita berada yang dapat kita temukan sesuatu yang sama.

Oleh karenanya sidik jari setiap manusia tidak ada yang sama, bahkan pada si kembar sekalipun. Dan Apabila Tuhan Sang Pencipta Seluruh Makhluk Alam Semesta ini ingin membuat suatu kaum sama, itu sangatlah mudah, tetapi DIA Sang Maha Kuasa menginginkan lain, menginginkan kita satu sama lain untuk saling mengenali setiap perbedaan dan pada saat yang sama menghargai perbedaan tersebut dengan kasih sayang. Allah dalam kitab suciNYA selalu mengatakan bahwa, DIA ciptakan semua makhluk dan cipttaanNYA selalu berpasang-pasangan bahkan untuk buah-buah, tumbuh-tumbuhan.

Manusia dari berbagai bangsa untuk saling mengenal. Dengan sendirinya, hasilnya pasti suatu yang baru dan bentuk yang baru walau itu dari jenis yang sama. Jadi sangatlah aneh, apabila manusia-manusia yang menamakan dirinya modern, tiba-tiba ingin memaksakan pendapatnya untuk bergaya hidup seperti yang mereka rancang. Manusia yang lemah ini , sepandai-pandainya yang di ciptakannya tidak akan abadi. Satu-satunya yang abadi di alam ciptaanNYA adalah Sang Ultimatum Alam Semesta ini, apapun keputusanNYA adalah untuk menjaga kelestarian bumiNYA yang diciptakanNYA untuk makhluk-makhlukNYA.

 Perkawinan satu jenis misalnya adalah jelas-jelas melawan hukum Alam ( hukum Bumi Tuhan yang telah DIA ciptakan dengan perencanaan yang sangat matang dan sempurna ). Tuhan ciptakan makhluknya berpasang-pasangan untuk berkembang biak, bukan hanya untuk melakukan hubungan sesaat dan tanpa hasil apapun. Karena Tuhan menciptakan sesuatu dengan tujuan yang jelas dan tegas. Hal lain seperti, menghakimi manusia lain dengan pendapat sempit nya ( yang hanya di ketahuinya ) adalah suatu kejahatan dan ini adalah tindakan fitnah yang Allah SWT telah katakan bahwa 'fitnah itu adalah lebih jahat dari pembunuhan '.

Tetapi entah kenapa manusia-manusia di abad kini ini menjadi buta hati dan buta mata, tak dapat merasakan yang Benar dan yang Salah. Mereka begitu permisif dengan nilai-nilai yang di hasilkan oleh sesama makhluknya yang jelas-jelas hanya untuk kepentingan segelintir manusia itu untuk mengejar keuntungan dirinya dan kelompoknya. Lihatlah sekarang yang terjadi di negara-negara Barat dengan nilai-nilai yang mereka anut. Apa yang terjadi, krisis sosial? , krisis ekonomi ? ya terlihat demikian tetapi yang sesungguhnya akarnya berasal dari krisis spritual. Mereka tidak mempunyai iman, kepercayaan pada Sang Ultim, mereka hanya percaya pada sang penguasa mereka, yang ujung-ujungnya mengecewakan mereka.

Karena mereka pada akhirnya mengetahui bahwa mereka tengah menjadi kelinci-kelinci percobaan sang penguasa mereka. Terus menerus dalam kebohongan, kepura-pura an. Akumulasi kejahatan perilaku mereka dari mulai membohongi rakyat untuk kepentingan segelintir kelompok yang menguasai peraturan negara, hingga berujung pada kriminalitas kemanusian, pembunuhan, penyiksaan. Demokrasi yang mereka usung itu hanya tipu daya mereka untuk mengambil simpati rakyatnya. Keyakinan pada Tuhan pun terkikis dengan pertumbuhan zaman ini, karena sekali lagi si penguasa negeri yang mendikte rakyat untuk hanya patuh pada penguasa negeri saja dan melupakan semua yang ada dan pernah di ajarkan dalam fitrah mereka.

Kekosongan spiritual sungguh sangat berakibat fatal. Tidak hanya merugikan diri-diri mereka tetapi seluruh masyarakat dan umat semua. Puji Tuhan, sekarang semua lambat laun terbongkor, dan Kebangkitan rakyat terjadi dimana-mana di belahan bumiNYA. Justru ternyata, semakin manusia merasa modern ( serba canggih dgn gadget-gadget yang dpt di gunakannya ) semakin semua itu menjelimet, dan disitulah manusia memerlukan YANG MAHA TAHU, SANG ULTIM .

 Kebutuhan manusia akan agama akan sangat di dambakan bagi mereka-mereka yang jujur. Manusia tidak dapat mengatasi masalah-masalah yang njelimet yang ada manusia lainnya karena manusia sendiri dengan segala kelebihan & kekurangannya juga punya banyak masalah yang di bawanya. Meminta pertolongan sesama makhluk terkadang hanya membuat masalah baru. Keimanan seseorang pada Sang Ultim adalah sebuah keniscayaan begitu juga beriman pada Sang PerantaraNYA, yang dapat menghantarkan kita padaNYA, pada Sang Pengatur & Penentu Alam Semesta ini.

Selamat memasuki bulanNYA Sang Ultim dimana Sang PerantaraNYA pun lahir & syahid di bulan Rajab nan mulia ini. Semoga kesalahan-kesalahan dan kenaifan kita akan hakikat penciptaan alam semesta ini mendapat magfirahNYA. Salawat dan salam tercurah kepada para PerantaraNYA di bumiNYA dengan mendamba terus taufik dan hidayahNYA dalam menjalani tantangan2 yang akan di hadapi di kehidupan yang fana ini.

Salam terkhusus untuk Sang Hujjah terakhirNYA dengan mengharap segala bantuan dan kasih sayangnya untuk membantu diri yang mendamba kebaikan di dunia dan akhirat. Wallahualam bishawab

Rotschilds wants Iran Bank

By Pete Papaherakles
Could gaining control of the Central Bank of the Islamic Republic of Iran (CBI) be one of the main reasons that Iran is being targeted by Western and Israeli powers? As tensions are building up for an unthinkable war with Iran, it is worth exploring Iran’s banking system compared to its U.S., British and Israeli counterparts.

Some researchers are pointing out that Iran is one of only three countries left in the world whose central bank is not under Rothschild control. Before 9-11 there were reportedly seven: Afghanistan, Iraq, Sudan, Libya, Cuba, North Korea and Iran. By 2003, however, Afghanistan and Iraq were swallowed up by the Rothschild octopus, and by 2011 Sudan and Libya were also gone. In Libya, a Rothschild bank was established in Benghazi while the country was still at war.

Islam forbids the charging of interest, a major problem for the Rothschild banking system. Until a few hundred years ago, charging interest was also forbidden in the Christian world and was even punishable by death. It was considered exploitation and enslavement.
Since the Rothschilds took over the Bank of England around 1815, they have been expanding their banking control over all the countries of the world. Their method has been to get a country’s corrupt politicians to accept massive loans, which they can never repay, and thus go into debt to the Rothschild banking powers. If a leader refuses to accept the loan, he is oftentimes either ousted or assassinated. And if that fails, invasions can follow, and a Rothschild usury-based bank is established.
The Rothschilds exert powerful influence over the world’s major news agencies. By repetition, the masses are duped into believing horror stories about evil villains.

The Rothschilds control the Bank of England, the Federal Reserve, the European Central Bank, the IMF, the World Bank and the Bank of International Settlements. Also they own most of the gold in the world as well as the London Gold Exchange, which sets the price of gold every day. It is said the family owns over half the wealth of the planet—estimated by Credit Suisse to be $231 trillion—and is controlled by Evelyn Rothschild, the current head of the family
Objective researchers contend that Iran is not being demonized because they are a nuclear threat, just as the Taliban, Iraq’s Saddam Hussein and Libya’s Muammar Qadaffi were not a threat.

What then is the real reason? Is it the trillions to be made in oil profits, or the trillions in war profits? Is it to bankrupt the U.S. economy, or is it to start World War III? Is it to destroy Israel’s enemies, or to destroy the Iranian central bank so that no one is left to defy Rothschild’s money racket?
It might be any one of those reasons or, worse—it might be all of them.

Pete Papaherakles, a U.S. citizen since 1986, was born in Greece. He is AFP’s outreach director. If you would like to see AFP speakers at your rally, contact Pete at 202-544-5977.

From Knowledge to Activism

It is not enough for us to be people of love and emotion; we must be people of conviction, seriousness and action; with ourselves and in the society around us.